Bulan suci Ramadan senantiasa menyelimuti umat Islam di seluruh dunia dengan suasana spiritual yang mendalam dan penuh makna. Lebih dari sekadar menahan lapar dan dahaga, Ramadan adalah periode refleksi, introspeksi, peningkatan ibadah, serta penguatan tali silaturahmi dan kebersamaan. Setiap negara, dengan kekayaan budaya dan warisan sejarahnya, memiliki cara tersendiri dalam menyambut dan menjalani bulan yang penuh berkah ini, menciptakan mozaik tradisi yang unik dan mempesona. Keragaman praktik ini tidak hanya memperkaya pengalaman Ramadan, tetapi juga menegaskan bahwa esensi ibadah dapat diekspresikan melalui berbagai bentuk budaya yang berbeda, namun tetap berlandaskan pada nilai-nilai universal Islam.

sulutnetwork.com – Perbedaan geografis dan kultural telah melahirkan serangkaian tradisi Ramadan yang memikat, mulai dari metode membangunkan sahur yang khas hingga ritual kebersamaan menjelang berbuka puasa. Tradisi-tradisi ini menjadi penanda identitas budaya dan sosial di komunitas Muslim, diwariskan dari generasi ke generasi, dan terus dilestarikan di tengah arus modernisasi. Kehadiran tradisi-tradisi ini membuktikan bahwa semangat Ramadan tidak hanya terpaku pada ritual individu, melainkan juga merangkul dimensi komunal yang kuat, di mana kebersamaan dan solidaritas menjadi pilar utama. Simak lima tradisi unik saat Ramadan di berbagai negara yang menyoroti betapa beragamnya perayaan bulan suci ini:

1. Davulcu, Turki: Gema Drum Pembangun Sahur dari Era Ottoman

Di Turki, suasana Ramadan terasa semakin hidup dan autentik dengan kehadiran tradisi penabuh drum sahur yang telah berakar kuat sejak masa Kekaisaran Ottoman. Tradisi ini dikenal dengan sebutan davulcu, yakni para penabuh drum yang berkeliling kampung, menerobos keheningan dini hari untuk membangunkan warga agar bersiap menyantap hidangan sahur. Setiap menjelang subuh, lebih dari ribuan davulcu mengenakan pakaian tradisional khas Ottoman, menyusuri jalanan dan lorong-lorong kota sambil menabuh drum berkepala dua (davul) dengan irama yang khas dan membangkitkan semangat.

Tradisi davulcu bukan sekadar metode praktis untuk membangunkan sahur, melainkan juga sebuah warisan budaya yang dijunjung tinggi. Suara drum yang bergemuruh di pagi buta menjadi simbol kebersamaan dan penanda dimulainya hari puasa. Para davulcu ini seringkali dihormati sebagai penjaga tradisi, dan keberadaan mereka menambah kehangatan serta nostalgia pada bulan Ramadan. Meski teknologi modern dengan alarm ponsel telah merajalela, tradisi davulcu tetap bertahan, menunjukkan resistensi budaya lokal terhadap globalisasi dan komitmen masyarakat Turki untuk melestarikan identitas unik mereka. Anak-anak dan orang dewasa seringkali menanti-nanti kedatangan para davulcu, yang tak jarang juga menyanyikan lagu-lagu Ramadan tradisional, memperkaya pengalaman sahur dengan nuansa budaya yang kental. Melansir informasi Khaleej Times, Sabtu (7/3/2026), tradisi ini terus hidup dan menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang ingin merasakan Ramadan yang otentik di Turki.

2. Nafar, Maroko: Terompet Kuno Pembangun Sahur yang Tak Lekang Waktu

Mirip dengan tradisi davulcu di Turki, Maroko memiliki tradisi membangunkan sahur yang tak kalah unik dan bersejarah, dikenal sebagai nafar. Di tengah suasana hening menjelang fajar di Maroko, terdengar rombongan nafar dengan suara terompet tradisional yang melengking, memecah keheningan malam. Sosok utusan sahur ini, yang dikenal sebagai nafar, bertugas khusus untuk membangunkan warga setempat agar tidak ketinggalan waktu sahur. Mereka biasanya mengenakan pakaian khas tradisional, menambah kekhasan visual pada peran mereka yang sudah ikonik.

Tradisi nafar dipercaya telah ada sejak abad ketujuh Masehi dan terus dilestarikan hingga kini, membuktikan ketahanannya melintasi zaman. Meskipun di era modern ini penggunaan alarm dan perangkat teknologi sudah menjadi hal yang umum, tradisi meniup terompet untuk membangunkan sahur tetap bertahan, terutama di kota-kota tua dan pedesaan Maroko. Para nafar tidak hanya berfungsi sebagai "alarm" hidup, tetapi juga menjadi bagian integral dari identitas komunitas selama Ramadan. Mereka dihormati dan seringkali diberi hadiah atau sumbangan oleh warga sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi mereka dalam menjaga tradisi ini. Suara terompet nafar bukan hanya panggilan untuk sahur, melainkan juga resonansi dari sejarah panjang dan kentalnya budaya Islam di Maroko, mengingatkan akan pentingnya kebersamaan dan ketaatan dalam menjalankan ibadah puasa.

3. Ngabuburit, Indonesia: Menanti Waktu Berbuka dengan Penuh Gaya

Di Indonesia, bulan Ramadan selalu diwarnai dengan kebiasaan yang sangat populer dan menjadi bagian tak terpisahkan dari pengalaman berpuasa: ngabuburit. Ngabuburit merupakan kebiasaan umum masyarakat Indonesia untuk menunggu waktu iftar atau berbuka puasa. Melansir detiknews, Sabtu (7/3), istilah ngabuburit berasal dari bahasa Sunda, yang merupakan singkatan dari frasa "ngalantung ngadagoan burit", yang secara harfiah berarti bersantai atau menghabiskan waktu sambil menunggu sore hari.

Ngabuburit biasanya dilakukan pada sore hari, beberapa jam menjelang azan magrib berkumandang sebagai pertanda waktu berbuka puasa tiba. Aktivitas yang dilakukan selama ngabuburit sangat beragam dan mencerminkan kekayaan budaya serta gaya hidup masyarakat Indonesia. Masyarakat biasanya memanfaatkan waktu ini untuk jalan-jalan sore, baik di taman kota, pusat perbelanjaan, maupun sekadar berkeliling permukiman. Duduk bersantai di kafe atau di tepi jalan sambil menikmati suasana sore juga menjadi pilihan. Namun, salah satu kegiatan ngabuburit yang paling digemari adalah berburu takjil dan berbagai kuliner khas Ramadan. Pasar takjil dadakan bermunculan di setiap sudut kota, menawarkan aneka makanan dan minuman untuk berbuka puasa, mulai dari kolak, es buah, gorengan, hingga hidangan tradisional lainnya. Selain itu, banyak juga yang mengisi waktu ngabuburit dengan kegiatan positif seperti membaca Al-Quran di masjid, mengikuti kajian agama (kultum), atau bahkan berolahraga ringan. Ngabuburit bukan hanya sekadar mengisi waktu luang, tetapi juga menjadi momen kebersamaan yang hangat bagi keluarga dan teman-teman, menciptakan atmosfer Ramadan yang penuh kegembiraan dan keakraban.

4. Mheibes, Irak: Pertarungan Cerdik Cincin di Malam Ramadan

Suasana malam Ramadan di Irak tidak berhenti hanya pada momen berbuka puasa. Setelah iftar, kaum pria di Irak memiliki tradisi unik untuk berkumpul dan memainkan permainan tradisional yang disebut Mheibes. Permainan ini adalah sebuah hiburan komunal yang sarat akan kecerdikan, intuisi, dan interaksi sosial yang intens, menjadikannya salah satu puncak kebersamaan selama bulan suci. Mheibes dimainkan oleh dua kelompok besar yang saling berhadapan, seringkali dengan puluhan atau bahkan ratusan peserta di setiap tim.

Mekanisme permainannya cukup sederhana namun menantang. Salah satu tim bertugas menyembunyikan sebuah cincin kecil (mheibes) di antara tangan-tangan anggotanya yang mengepal. Sementara itu, tim lawan harus menebak di tangan siapa cincin tersebut berada. Pemimpin tim yang menyembunyikan cincin, yang dikenal sebagai al-pawang, akan berusaha mengecoh tim lawan dengan berbagai ekspresi dan gerak-gerik. Sebaliknya, pemimpin tim penebak harus mengandalkan pengamatan tajam, intuisi, dan sedikit tipuan psikologis untuk menemukan cincin tersebut. Permainan ini bisa berlangsung berjam-jam, diiringi dengan tawa, teriakan semangat, dan ketegangan yang membuat suasana malam Ramadan di Irak semakin hidup. Mheibes menjadi simbol kebersamaan dan tradisi sosial yang mempererat hubungan antarwarga, menciptakan ikatan yang kuat di antara komunitas. Permainan ini bukan hanya hiburan, tetapi juga sarana untuk melatih ketajaman pikiran dan memperkuat persahabatan dalam suasana Ramadan yang penuh berkah.

5. Roza Kushai, Pakistan: Perayaan Puasa Pertama Anak yang Penuh Sukacita

Pakistan memiliki tradisi yang sangat menyentuh dan unik saat Ramadan, khususnya di kota-kota seperti Karachi, yang dikenal dengan sebutan Roza Kushai. Tradisi ini adalah perayaan puasa pertama bagi anak-anak, sebuah momen penting dalam kehidupan spiritual mereka yang menandai langkah awal dalam menjalankan salah satu rukun Islam. Momen saat seorang anak berhasil menunaikan ibadah puasa Ramadan untuk pertama kali, meskipun seringkali hanya beberapa jam atau setengah hari, dirayakan dengan penuh sukacita oleh keluarga dan teman-teman.

Acara Roza Kushai biasanya diselenggarakan dengan persiapan yang istimewa. Anak yang berpuasa pertama kali akan menjadi pusat perhatian. Keluarga akan menyiapkan makanan istimewa untuk berbuka puasa, seringkali hidangan favorit anak tersebut, dan mengundang kerabat serta teman dekat untuk turut merayakan. Anak yang berpuasa juga akan menerima hadiah-hadiah dari keluarga dan teman-teman sebagai bentuk penghargaan atas keberhasilan dan ketekunan mereka. Hadiah-hadiah ini bisa berupa mainan, pakaian baru, buku, atau sejumlah uang tunai. Lebih dari sekadar perayaan materi, Roza Kushai adalah momen untuk menanamkan nilai-nilai agama dan kebanggaan pada anak-anak. Ini adalah cara komunitas mendukung dan memotivasi generasi muda untuk mulai memahami dan menjalankan ibadah puasa, menumbuhkan rasa tanggung jawab spiritual sejak dini. Kebanggaan yang dirasakan anak karena berhasil menunaikan ibadah puasa, bahkan untuk sehari penuh, menjadi kenangan manis yang akan selalu mereka ingat, mendorong mereka untuk terus berpuasa di tahun-tahun berikutnya. Melansir Arab News, Rabu (25/2), tradisi ini menyoroti betapa pentingnya pendidikan agama dan dukungan komunitas dalam membentuk karakter dan keimanan anak di Pakistan.

Melalui keberagaman tradisi-tradisi unik ini, Ramadan di berbagai belahan dunia tidak hanya menjadi bulan ibadah, tetapi juga perayaan kekayaan budaya dan persatuan umat. Setiap tradisi, dengan caranya sendiri, memperkaya pengalaman spiritual dan sosial, menegaskan bahwa meskipun praktik berbeda, semangat kebersamaan, ketaatan, dan rasa syukur tetap menjadi inti dari bulan suci ini.