Jakarta – Masa depan Phil Foden di skuad Tim Nasional Inggris untuk Piala Dunia 2026 mendadak menjadi perbincangan hangat dan menimbulkan keraguan di kalangan penggemar serta pengamat sepak bola. Meskipun baru saja menikmati musim yang fenomenal bersama Manchester City, Foden dianggap belum mampu mereplikasi performa impresifnya tersebut saat mengenakan seragam The Three Lions, terutama dalam serangkaian laga uji coba internasional terbaru. Situasi ini memicu kekhawatiran serius dari manajer tim, Gareth Southgate, yang secara terbuka menyoroti kurangnya dampak signifikan yang diberikan oleh sang gelandang serang dalam pertandingan-pertandingan penting.
sulutnetwork.com – Keraguan terhadap posisi Foden di skuad inti Timnas Inggris muncul setelah penampilan tim yang kurang memuaskan dalam dua pertandingan persahabatan menjelang kualifikasi dan persiapan menuju Piala Dunia 2026. Inggris tidak berhasil meraih hasil maksimal, dengan salah satu laga berakhir imbang 1-1 dan pertandingan lainnya menelan kekalahan tipis 0-1. Ironisnya, Phil Foden, pemain berusia 24 tahun yang digadang-gadang sebagai salah satu talenta paling menjanjikan di generasinya, menjadi satu-satunya pemain yang dipercaya menjadi starter dalam kedua pertandingan tersebut. Namun, kesempatan besar ini justru gagal dimanfaatkan Foden untuk menunjukkan kualitas terbaiknya, dan performanya dinilai jauh dari ekspektasi tinggi yang disematkan kepadanya.
Manajer Gareth Southgate tidak menutupi kekecewaannya terhadap penampilan Foden. Dalam wawancara yang dikutip dari berbagai media olahraga internasional, Southgate menyatakan, "Dia mencoba segalanya. Saya akan mengatakan dia sangat bagus di kamp pelatihan, tetapi ya, dia kesulitan menunjukkannya di lapangan." Pernyataan ini menggarisbawahi paradoks yang dialami Foden: kemampuan luar biasa dalam sesi latihan, namun kesulitan menerjemahkannya ke dalam performa pertandingan yang kompetitif di level internasional. Sebuah dilema klasik yang sering menghantui banyak pemain berbakat.
Southgate lebih lanjut menyoroti bagaimana Foden, yang baru saja meraih penghargaan Pemain Terbaik FWA (Football Writers’ Association) di Liga Primer Inggris, menunjukkan semangat dan antusiasme tinggi setiap kali bergabung dengan kamp pelatihan timnas. "Jelas dia mendapat banyak menit bermain untuk City baru-baru ini dan sangat berpengaruh, lalu dia datang ke kamp dengan senyum paling cerah dan sangat bagus dalam latihan," jelas Southgate, mengacu pada musim 2023/2024 Foden yang penuh gemilang. "Dan saya pikir dia akan mengejutkan kami dan bermain dengan semangat dan antusiasme yang sama, tetapi, ya, dia kesulitan untuk memberikan dampak penuh." Perubahan nada dari "tidak banyak mendapat menit bermain" menjadi "mendapat banyak menit bermain" ini adalah penyesuaian krusial, mengingat Foden adalah pilar utama Man City musim lalu, yang justru membuat kegagalannya di timnas semakin membingungkan.
Kontras antara performa Foden di level klub dan internasional memang sangat mencolok. Sepanjang musim 2023/2024, Phil Foden tampil sebagai salah satu pemain kunci bagi Manchester City di bawah asuhan Pep Guardiola. Ia menjadi motor serangan tim, mencetak gol-gol krusial, memberikan assist-assist penting, dan secara konsisten menunjukkan kematangan dalam pengambilan keputusan serta eksekusi di lapangan. Total 19 gol dan 8 assist di Liga Primer, serta peran vital dalam membawa City meraih gelar liga keempat berturut-turut, adalah bukti nyata dominasinya. Fleksibilitasnya untuk bermain di berbagai posisi menyerang – baik sebagai sayap, gelandang serang sentral, maupun penyerang palsu – menjadikannya aset tak ternilai bagi The Citizens. Performanya yang konsisten dan gemilang tersebut bahkan membuatnya diganjar penghargaan Pemain Terbaik Liga Primer Inggris dan Pemain Terbaik FWA, sebuah pengakuan atas kontribusinya yang luar biasa.
Namun, ketika mengenakan seragam Tiga Singa, Foden seolah kehilangan sentuhan magisnya. Peran dan posisinya di Timnas Inggris kerap menjadi perdebatan. Di Manchester City, Foden diberikan kebebasan taktis yang luas dan seringkali beroperasi di area sentral sebagai playmaker, tempat ia bisa memaksimalkan visi, dribbling, dan penyelesaian akhirnya. Di Timnas Inggris, dengan kehadiran bintang-bintang lain seperti Jude Bellingham, Bukayo Saka, dan Declan Rice, Southgate sering menempatkan Foden di posisi sayap, baik kiri maupun kanan. Meskipun Foden mampu bermain di sana, peran ini mungkin tidak sepenuhnya memungkinkan dirinya untuk mengekspresikan seluruh potensi kreatif dan penetrasinya seperti saat di klub. Ketergantungan pada sistem yang lebih terstruktur dan kurangnya koneksi instingtif dengan rekan-rekan setim yang berbeda juga bisa menjadi faktor penghambat.
Perbedaan filosofi permainan antara Pep Guardiola dan Gareth Southgate juga patut menjadi pertimbangan. Guardiola dikenal dengan pendekatan taktisnya yang sangat cair dan posisi pemain yang bisa berubah-ubah, memungkinkan Foden untuk menemukan ruang dan menciptakan peluang. Sementara itu, Southgate cenderung lebih pragmatis dan mengutamakan keseimbangan tim, seringkali dengan fokus pada pertahanan solid dan transisi cepat. Dalam sistem yang lebih berhati-hati ini, pemain kreatif seperti Foden mungkin merasa terbatasi dalam mengambil risiko atau melakukan manuver individu yang berani.
Selain itu, persaingan di lini serang Timnas Inggris sangat ketat. Southgate memiliki banyak opsi pemain sayap dan gelandang serang berkualitas tinggi, termasuk Saka, Jack Grealish, Jarrod Bowen, Cole Palmer, dan Eberechi Eze. Setiap pemain membawa karakteristik uniknya masing-masing, dan Southgate harus memilih kombinasi yang paling efektif untuk setiap pertandingan. Untuk Foden, ini berarti tekanan yang lebih besar untuk tampil impresif setiap kali diberi kesempatan, karena satu penampilan buruk bisa berarti kehilangan tempatnya di starting XI.
Foden sendiri telah menjadi bagian dari skuad senior Inggris sejak debutnya pada tahun 2020. Ia telah berpartisipasi dalam Piala Eropa 2020 (yang digelar 2021) dan Piala Dunia 2022 di Qatar. Meskipun ia menunjukkan beberapa kilasan kecemerlangan, ia belum sepenuhnya mampu mengukir namanya sebagai pemain tak tergantikan di panggung internasional layaknya di klubnya. Ekspektasi publik Inggris terhadap Foden sangat tinggi, mengingat ia adalah lulusan akademi City yang berhasil menembus tim utama dan kini menjadi salah satu bintang paling terang di Liga Primer. Beban harapan ini, ditambah dengan tekanan untuk membuktikan diri di level internasional, bisa jadi memengaruhi performanya.
Situasi ini menempatkan Foden di persimpangan jalan krusial dalam karier internasionalnya. Untuk mengamankan tempatnya di skuad Piala Dunia 2026, ia harus menemukan cara untuk beradaptasi dengan tuntutan taktis Southgate dan menunjukkan bahwa ia bisa menjadi pembeda bagi Inggris, tidak hanya di sesi latihan tetapi juga di pertandingan yang sebenarnya. Southgate, di sisi lain, juga memiliki tugas berat untuk mencari solusi. Apakah ia harus mengubah sistem untuk mengakomodasi Foden, atau akankah Foden yang harus beradaptasi lebih jauh dengan peran yang diberikan?
Bagi Southgate, tantangan utamanya adalah mengintegrasikan bakat-bakat individu yang luar biasa ini ke dalam satu kesatuan tim yang kohesif dan efektif. Foden adalah salah satu aset terbesar Inggris, dan jika Southgate bisa mengeluarkan potensi terbaiknya di panggung internasional, itu akan menjadi dorongan besar bagi ambisi Inggris di turnamen besar mendatang. Piala Dunia 2026 yang akan diselenggarakan di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, menjanjikan panggung global yang masif, dan Inggris tentu berharap bisa tampil sebagai salah satu kandidat juara.
Foden sendiri harus merenungkan komentar Southgate sebagai motivasi untuk meningkatkan permainannya. Mentalitas seorang juara yang telah ia tunjukkan di City perlu dibawa ke level timnas. Ini bukan hanya tentang kemampuan teknis, tetapi juga tentang adaptasi taktis, kematangan emosional, dan kemampuan untuk tampil di bawah tekanan yang berbeda. Jika ia berhasil mengatasi tantangan ini, Foden akan menjadi kekuatan yang tak terbendung bagi Inggris. Namun, jika tidak, maka ia berisiko melihat peluangnya untuk menjadi bagian integral dari sejarah sepak bola Inggris di Piala Dunia 2026 memudar. Tantangan berat menanti sang bintang muda.
