Karnaval Bajada de los Diablos di Uquia, Provinsi Jujuy, Argentina, kembali mengukir pemandangan magis yang memukau dengan ritual penurunan ratusan penari berkostum "setan" dari lereng Cerro Blanco. Perayaan tahunan ini secara resmi membuka musim karnaval yang penuh warna dan energi di wilayah Andes, menarik perhatian ribuan warga lokal dan wisatawan internasional untuk menyaksikan tradisi budaya yang kaya akan makna spiritual dan sejarah. Suasana kegembiraan dan misteri menyelimuti desa kecil di dataran tinggi ini, menandai dimulainya salah satu perayaan paling otentik di Argentina Utara.
sulutnetwork.com – Pada Sabtu, 14 Februari 2026, suasana mistis namun meriah mulai menyelimuti kawasan pegunungan Uquia saat penari-penari bertopeng tersebut memulai prosesi sakral mereka. Dengan dentuman musik yang menggelegar dan tarian enerjik, para "diablos" berarak menuruni bukit, mengawali serangkaian perayaan yang menjadi jantung kebudayaan di Lembah Quebrada de Humahuaca. Reporter Rengga Sancaya dari detikTravel melaporkan, ritual ini bukan sekadar tontonan, melainkan sebuah manifestasi mendalam dari kepercayaan kuno yang berpadu harmonis dengan semangat karnaval modern yang membebaskan. Penurunan ini secara simbolis melepaskan roh-roh kegembiraan dan kekacauan, mengundang seluruh komunitas untuk bergabung dalam euforia kolektif.
Uquia, sebuah desa yang terletak di jantung Quebrada de Humahuaca, sebuah lembah sempit di Provinsi Jujuy, Argentina barat laut, menjadi saksi bisu dari tradisi yang tak lekang oleh waktu ini. Kawasan ini sendiri telah diakui sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO, bukan hanya karena keindahan alamnya yang menakjubkan dengan formasi geologi berwarna-warni, tetapi juga karena nilai budaya dan sejarahnya yang mendalam sebagai koridor peradaban yang telah dihuni selama lebih dari 10.000 tahun. Lereng-lereng gersang Cerro Blanco yang menjadi latar belakang ritual ini, memberikan nuansa dramatis yang kian memperkuat suasana magis perayaan. Kehadiran pegunungan Andes yang megah di sekelilingnya menambah kekhidmatan dan keagungan ritual yang berlangsung di ketinggian.
Para peserta, yang dikenal sebagai "diablos" atau "Pujllay" — roh karnaval dalam bahasa Quechua — tampil dengan topeng berwarna mencolok yang menampilkan ekspresi menyeramkan namun menarik, lengkap dengan tanduk, mata melotot, dan seringkali lidah menjulur. Setiap topeng adalah karya seni unik yang dibuat dengan detail luar biasa, mencerminkan identitas dan kreativitas pemakainya. Kostum mereka yang gemerlap dihiasi dengan cermin kecil, lonceng yang bergemerincing, pita-pita warna-warni, dan ornamen khas Andes yang rumit, menjadikannya sebuah pertunjukan visual yang memukau. Lonceng-lonceng pada kostum dipercaya memiliki kekuatan untuk mengusir roh jahat dan sekaligus menambah kemeriahan suasana dengan suara riuhnya. Pembuatan kostum ini adalah proses yang memakan waktu berbulan-bulan, seringkali menjadi warisan keluarga yang diturunkan dari generasi ke generasi, melambangkan dedikasi, identitas, dan keterikatan mendalam pada warisan budaya. Meskipun berat dan panas di bawah terik matahari Andes, para penari menunjukkan ketahanan luar biasa, menari tanpa henti selama berjam-jam.
Bajada de los Diablos, secara harfiah berarti "Penurunan Para Iblis", adalah ritual puncak yang menandai dimulainya perayaan karnaval yang berlangsung selama berhari-hari, seringkali hingga Ash Wednesday (Rabu Abu), awal dari masa Prapaskah Katolik. Secara simbolis, penurunan "setan-setan" ini melambangkan pembebasan roh-roh jahat atau energi negatif yang dipercaya telah terkumpul sepanjang tahun, memungkinkan komunitas untuk memulai siklus baru dengan kegembiraan, pembersihan, dan harapan. Lebih dari itu, ritual ini juga merupakan ungkapan syukur kepada Pachamama, atau Bunda Bumi, untuk panen yang melimpah dan untuk memohon keberuntungan serta kesuburan di masa depan. Prosesi ini adalah momen krusial yang mengikat masa lalu dengan masa kini, mengingatkan akan akar-akar budaya yang mendalam.
Karnaval di Jujuy merupakan contoh klasik sinkretisme, sebuah perpaduan unik antara kepercayaan pra-Kolumbus dengan pengaruh Katolik yang dibawa oleh penjajah Spanyol. Bagi masyarakat Andes, "diablos" ini bukanlah representasi iblis dalam pengertian Kristen yang murni jahat dan terkutuk. Sebaliknya, mereka lebih menyerupai roh nakal, entitas yang menguasai kesenangan, kelebihan, dan kebebasan yang diizinkan "bebas" selama periode karnaval. Kebebasan ini merupakan periode sementara di mana norma-norma sosial dapat "dilanggar" dan hirarki sosial dibalik, sebelum roh-roh ini kemudian "dikuburkan" kembali pada akhir perayaan dalam ritual yang disebut Entierro del Carnaval, mengembalikan tatanan dan kekhidmatan Prapaskah. Dualitas ini menciptakan dimensi spiritual yang kaya dan kompleks.
Prosesi penurunan ini selalu diiringi oleh musik rakyat yang menghentak dan penuh semangat, dimainkan dengan instrumen tradisional khas Andes seperti charango (sejenis gitar kecil), quena (seruling Andes), siku (pan flute), dan bombo legüero (gendang besar yang menghasilkan suara rendah dan menggema). Ritme yang energik dan melodi yang meriah ini memicu tarian kolektif yang melibatkan seluruh komunitas, dari anak-anak hingga orang dewasa. Tarian ini bukan hanya sekadar hiburan, melainkan juga bagian integral dari ritual, mengekspresikan kegembiraan yang meluap-luap, pelepasan energi, dan koneksi yang mendalam dengan warisan leluhur. Suara lonceng, musik, dan sorakan menjadi simfoni karnaval yang tak terlupakan.
Perayaan Bajada de los Diablos melibatkan persiapan berbulan-bulan dan partisipasi aktif dari seluruh komunitas. Setiap "comparsa" atau kelompok karnaval memiliki identitasnya sendiri, dengan warna, musik, dan tarian khas. Mereka bertanggung jawab atas pembuatan kostum, latihan musik, dan koreografi tarian mereka. Seluruh desa Uquia berpartisipasi aktif, mulai dari menyiapkan makanan dan minuman tradisional seperti empanada dan locro, hingga mendekorasi jalanan dan rumah-rumah dengan ornamen karnaval. Ini adalah waktu bagi keluarga dan teman untuk berkumpul, memperkuat ikatan sosial, dan merayakan identitas budaya mereka yang unik. Semangat komunal menjadi inti dari setiap perayaan.
Karnaval Bajada de los Diablos telah berkembang menjadi daya tarik wisata utama bagi Provinsi Jujuy, menarik ribuan pengunjung nasional dan internasional setiap tahunnya. Peningkatan jumlah wisatawan menyebabkan hotel dan penginapan di Uquia dan sekitarnya penuh, sementara restoran dan toko-toko lokal mengalami peningkatan pendapatan yang signifikan. Ini memberikan dorongan ekonomi yang vital bagi komunitas pedesaan seperti Uquia, sekaligus mempromosikan kekayaan budaya Argentina di kancah internasional. Upaya pariwisata berkelanjutan terus digalakkan untuk memastikan tradisi ini tetap otentik sambil memberikan manfaat ekonomi jangka panjang bagi masyarakat setempat.
Setelah prosesi penurunan "setan-setan" dari Cerro Blanco selesai, pesta tidak berhenti begitu saja. Jalan-jalan desa Uquia berubah menjadi arena perayaan massal dengan "jolgorio" (kegembiraan) yang tak terbatas. Pesta jalanan yang meriah, musik rakyat yang tiada henti mengalun, tarian tradisional yang energik, serta hidangan dan minuman khas lokal yang berlimpah mengisi suasana hingga larut malam. Ini adalah puncak dari pelepasan energi dan kegembiraan yang telah dinantikan sepanjang tahun, sebuah katarsis kolektif yang memungkinkan masyarakat untuk melupakan sejenak rutinitas dan larut dalam euforia sebelum kembali ke kekhidmatan Prapaskah.
Karnaval Bajada de los Diablos pun kembali menegaskan posisi Uquia sebagai salah satu pusat perayaan budaya paling unik dan meriah di Provinsi Jujuy. Bersama dengan kota-kota lain di Quebrada de Humahuaca, seperti Humahuaca itu sendiri dan Tilcara, Uquia menjadi destinasi wajib bagi mereka yang ingin merasakan denyut nadi budaya Andes yang otentik dan tak terlupakan. Perayaan ini adalah bukti nyata dari ketahanan budaya, semangat komunitas yang kuat, dan kemampuan tradisi kuno untuk terus hidup dan berkembang di tengah modernisasi, menjadikannya warisan tak ternilai bagi Argentina dan dunia.
