Desa Wisata Penglipuran di Kabupaten Bangli, Bali, mencatat lonjakan signifikan kunjungan wisatawan domestik selama periode libur Lebaran dan Hari Raya Nyepi tahun 2026. Data terbaru menunjukkan bahwa wisatawan nusantara mendominasi secara mutlak, mengungguli jumlah turis mancanegara, menandai pergeseran pola kunjungan yang menarik perhatian pengelola dan pemangku kepentingan pariwisata di Pulau Dewata. Fenomena ini tidak hanya memperlihatkan daya tarik abadi Penglipuran sebagai destinasi budaya, tetapi juga menyoroti potensi besar pasar domestik dalam menopang sektor pariwisata Bali.

sulutnetwork.com – Kepala Pengelola Desa Wisata Penglipuran, I Wayan Sumiarsa, mengungkapkan bahwa dominasi wisatawan domestik terlihat jelas selama libur panjang Lebaran 2026. Lonjakan pengunjung yang paling mencolok terjadi pada tanggal 20 hingga 22 Maret 2026, yang bertepatan dengan momentum Hari Besar Nyepi dan Idul Fitri. Kombinasi dua hari raya besar ini menciptakan periode libur panjang yang dimanfaatkan secara maksimal oleh masyarakat Indonesia untuk berlibur, dengan Bali, khususnya Desa Penglipuran, menjadi salah satu pilihan utama.

Menurut Sumiarsa, pada Jumat, 20 Maret 2026, jumlah kunjungan wisatawan ke Desa Penglipuran mencapai 2.644 orang. Angka ini terus merangkak naik secara drastis pada hari-hari berikutnya. Pada Sabtu, 21 Maret 2026, total pengunjung tercatat sebanyak 4.111 orang, dan puncaknya terjadi pada Minggu, 22 Maret 2026, dengan 4.387 orang memadati area desa adat tersebut. Data ini menggarisbawahi antusiasme luar biasa dari wisatawan, terutama dari dalam negeri, untuk merasakan pengalaman berlibur di salah satu desa terbersih di dunia ini.

Lonjakan kunjungan pada dua hari terakhir periode puncak tersebut, yakni Sabtu dan Minggu, didominasi oleh wisatawan domestik yang jumlahnya mencapai lebih dari 3.000 orang per hari. "Untuk wisatawan domestik, dominan berasal dari kota-kota besar seperti Surabaya, Jakarta, Bekasi, dan Bandung," kata Sumiarsa, seperti dikutip dari Antara, pada Rabu, 1 April 2026. Hal ini menunjukkan bahwa konektivitas udara dan darat dari kota-kota metropolitan di Jawa ke Bali memainkan peran krusial dalam menggerakkan mobilitas wisatawan domestik.

Secara akumulatif, dari tanggal 1 hingga 22 Maret 2026, Desa Penglipuran mencatat total kunjungan wisatawan sebanyak 23.811 orang. Dari jumlah tersebut, sebanyak 5.098 orang merupakan wisatawan mancanegara (wisman), sementara mayoritas, yakni 18.713 orang, adalah wisatawan domestik (wisdom). Angka-angka ini secara gamblang menunjukkan kekuatan pasar domestik dalam mengisi kekosongan atau bahkan melampaui kontribusi pasar internasional pada periode tertentu.

Rata-rata kunjungan harian wisatawan ke Desa Wisata Penglipuran selama periode 1 hingga 22 Maret 2026 mencapai 1.082 orang. Perhitungan ini semakin menegaskan bahwa wisatawan domestik memegang peranan vital dalam menyumbang angka kunjungan harian. Secara persentase, sekitar 78,6 persen dari total kunjungan ke Penglipuran adalah wisatawan domestik, sementara wisatawan mancanegara hanya menyumbang sekitar 21,4 persen. Perbandingan yang timpang ini mencerminkan tren kuat yang terbentuk selama musim liburan.

Desa Penglipuran sendiri telah lama dikenal sebagai salah satu destinasi wisata budaya yang unik di Bali. Keistimewaannya terletak pada arsitektur tradisional rumah adat Bali yang seragam dan tertata rapi, lingkungan yang sangat bersih, serta komitmen masyarakatnya dalam menjaga adat dan tradisi leluhur. Desa ini bahkan telah meraih berbagai penghargaan internasional, termasuk pengakuan sebagai salah satu desa terbersih di dunia dan masuk dalam daftar Green Destinations Foundation, sebuah lembaga yang berfokus pada pariwisata berkelanjutan.

Daya tarik utama Penglipuran tidak hanya pada keindahan visualnya, tetapi juga pada pengalaman otentik yang ditawarkannya. Wisatawan dapat berjalan-jalan menyusuri jalan setapak yang bersih, mengagumi rumah-rumah tradisional dengan pekarangan asri, dan berinteraksi langsung dengan penduduk setempat yang ramah. Struktur desa yang berundak dari utara ke selatan, dengan Pura Penataran di bagian paling atas dan hutan bambu yang luas di bagian bawah, menciptakan lanskap yang memukau dan menenangkan. Hutan bambu ini sendiri merupakan salah satu ikon penting yang dijaga kelestariannya oleh masyarakat adat.

Periode libur Lebaran dan Nyepi 2026 yang jatuh berdekatan menciptakan "libur panjang" yang istimewa. Hari Raya Nyepi, hari raya umat Hindu Bali, ditandai dengan keheningan total di seluruh pulau, yang kemudian dilanjutkan dengan perayaan Idul Fitri bagi umat Muslim. Kombinasi ini memberikan kesempatan bagi masyarakat dari berbagai latar belakang untuk merencanakan perjalanan wisata. Bagi wisatawan domestik, khususnya keluarga, Bali seringkali menjadi pilihan favorit karena menawarkan kombinasi keindahan alam, budaya yang kaya, dan fasilitas yang memadai.

Ketersediaan infrastruktur pariwisata yang baik, mulai dari akomodasi hingga transportasi, juga turut mendukung tingginya minat wisatawan domestik. Aksesibilitas Bali dari berbagai kota besar di Indonesia semakin mudah dengan banyaknya penerbangan domestik dan konektivitas jalur darat-laut melalui penyeberangan. Hal ini memungkinkan wisatawan untuk merencanakan perjalanan yang fleksibel, baik untuk liburan singkat maupun panjang, sesuai dengan durasi libur Lebaran dan Nyepi.

Dalam upaya untuk memperkaya pengalaman berwisata di Desa Penglipuran, pengelola juga secara aktif mengadakan berbagai pertunjukan budaya. Sumiarsa menjelaskan bahwa selama libur panjang tersebut, pihaknya menyelenggarakan pertunjukan budaya yang bertempat di Hutan Bambu. "Kami di libur panjang ini ada pertunjukan budaya yang bertempat di Hutan Bambu yang berjudul Macan Gading bertema harmonisasi manusia dan alam," katanya. Pertunjukan semacam ini tidak hanya menghibur tetapi juga memberikan edukasi mengenai kearifan lokal dan filosofi hidup masyarakat Bali yang sangat menghargai keseimbangan antara manusia, alam, dan Tuhan (Tri Hita Karana).

Pertunjukan "Macan Gading" yang berlokasi di Hutan Bambu Desa Penglipuran menawarkan suasana yang magis dan berbeda. Hutan bambu yang rimbun dan sejuk menjadi panggung alami yang sempurna untuk mementaskan cerita-cerita yang mengusung tema harmonisasi. Konsep ini sangat relevan dengan nilai-nilai Desa Penglipuran yang selalu menjaga kelestarian lingkungan dan adat istiadat. Keberadaan pertunjukan budaya ini menjadi nilai tambah bagi wisatawan, memberikan mereka kesempatan untuk menyelami lebih dalam kekayaan budaya Bali, melampaui sekadar melihat-lihat arsitektur desa.

Dampak ekonomi dari lonjakan kunjungan ini tentu sangat terasa bagi masyarakat lokal. Berbagai usaha kecil menengah (UKM) yang beroperasi di dalam dan sekitar Desa Penglipuran, seperti pedagang suvenir, pengelola warung makan, penyedia jasa pemandu wisata, hingga pemilik penginapan, merasakan langsung manfaatnya. Pendapatan mereka meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah wisatawan. Ini menjadi contoh nyata bagaimana pariwisata berbasis komunitas dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap kesejahteraan ekonomi lokal, sekaligus menjaga keberlanjutan budaya dan lingkungan.

Pengelola Desa Wisata Penglipuran juga dihadapkan pada tantangan untuk menjaga keseimbangan antara jumlah kunjungan yang tinggi dan pelestarian nilai-nilai adat serta lingkungan. Manajemen keramaian, pengelolaan sampah, serta pemeliharaan infrastruktur menjadi prioritas. Dengan dukungan penuh dari masyarakat adat yang memiliki komitmen kuat untuk menjaga desanya, Penglipuran terus berupaya menjadi model destinasi pariwisata berkelanjutan yang mampu mengakomodasi kebutuhan wisatawan tanpa mengorbankan identitas dan kelestarian alamnya.

Keberhasilan Desa Wisata Penglipuran dalam menarik minat wisatawan domestik yang masif selama libur Lebaran dan Nyepi 2026 menunjukkan bahwa destinasi berbasis budaya dan alam memiliki daya tarik kuat bagi pasar dalam negeri. Ini juga menjadi indikasi bahwa pariwisata domestik akan terus menjadi tulang punggung sektor pariwisata Indonesia, terutama di tengah dinamika global yang terus berubah. Desa Penglipuran, dengan segala keunikan dan kearifan lokalnya, berhasil membuktikan dirinya sebagai magnet yang tak lekang oleh waktu bagi para pencari pengalaman wisata yang otentik dan bermakna.