Ratusan wisatawan asal Korea Selatan terdampar di Dubai, Uni Emirat Arab, menyusul pembatalan penerbangan dan situasi ketegangan yang meningkat di Timur Tengah, menciptakan ketidakpastian bagi lebih dari 330 pelancong yang masih menantikan kepastian jadwal kepulangan mereka. Insiden ini menyoroti kerentanan perjalanan internasional di tengah gejolak geopolitik, memaksa agen perjalanan dan pemerintah untuk bergegas mencari solusi alternatif demi memulangkan warga negaranya.
sulutnetwork.com – Situasi genting ini berawal dari pembatalan penerbangan langsung Emirates dari Dubai menuju Incheon yang seharusnya berangkat pada Rabu pagi, 4 Maret 2026. Pembatalan tersebut, yang secara luas diyakini terkait dengan eskalasi ketegangan di kawasan Timur Tengah, secara efektif memutus jalur pulang bagi ratusan wisatawan Korea Selatan yang sedang menikmati liburan atau perjalanan bisnis di Uni Emirat Arab. Meskipun 79 wisatawan dijadwalkan kembali ke tanah air pada Kamis, sebagian besar dari mereka harus melalui rute alternatif yang memakan waktu dan biaya tambahan, sementara sebagian besar lainnya masih terkatung-katung tanpa kepastian.
Gelombang pertama wisatawan yang berhasil dievakuasi menunjukkan kompleksitas dan tantangan logistik yang dihadapi oleh agen perjalanan. Dari grup paket Hanatour, sebanyak 40 orang berhasil diterbangkan melalui Taipei, Taiwan, dan diperkirakan tiba di Korea Selatan pada Kamis sore. Proses ini melibatkan koordinasi yang rumit dengan maskapai penerbangan dan otoritas bandara di beberapa negara untuk memastikan kelancaran transit. Demikian pula, Modetour, agen perjalanan lainnya, juga berhasil mengatur perjalanan alternatif bagi 39 pelanggannya, mengarahkan mereka melalui Taipei sebelum melanjutkan penerbangan malam dengan Korean Air menuju Incheon. Upaya-upaya ini, meskipun berhasil bagi sebagian kecil, hanyalah sebagian kecil dari solusi yang diperlukan untuk mengatasi masalah yang lebih besar.
Dikutip dari The Korea Herald, Jumat (6/3/2026), tantangan yang lebih besar masih membayangi, dengan lebih dari 330 wisatawan diperkirakan tetap berada di Dubai tanpa kepastian penerbangan pulang. Jumlah ini terbagi di antara beberapa agen perjalanan utama: sekitar 110 pelanggan dari Hanatour, 150 dari Modetour, dan 70 lainnya dari Yellow Balloon Tour. Angka-angka ini tidak hanya mencerminkan jumlah individu yang terdampak, tetapi juga beban operasional dan reputasi yang harus ditanggung oleh industri pariwisata Korea Selatan. Para wisatawan yang terjebak menghadapi berbagai kesulitan, mulai dari perpanjangan masa tinggal yang tidak terencana, biaya akomodasi dan makan yang membengkak, hingga kecemasan dan ketidakpastian mengenai kapan mereka bisa kembali ke rumah dan berkumpul kembali dengan keluarga mereka. Kondisi psikologis para pelancong yang terdampar juga menjadi perhatian serius, mengingat mereka berada jauh dari rumah di tengah situasi regional yang tidak stabil.
Pembatalan penerbangan langsung Emirates dari Dubai ke Incheon menjadi pemicu utama krisis ini. Bandara Internasional Dubai, salah satu pusat penerbangan tersibuk di dunia, saat ini hanya melayani penerbangan terbatas, terutama pesawat Emirates dan beberapa maskapai lain yang berhasil mempertahankan jadwal mereka di tengah ketidakpastian. Pembatasan ini secara signifikan mengurangi pilihan penerbangan yang tersedia, membuat agen perjalanan kesulitan untuk menemukan slot penerbangan yang cukup untuk jumlah wisatawan yang besar. Situasi ini diperparah oleh tekanan pada kapasitas maskapai penerbangan lain yang beroperasi di wilayah tersebut, yang juga harus menyesuaikan jadwal dan rute mereka karena meningkatnya ketegangan. Dampak domino dari pembatalan satu penerbangan besar ini menunjukkan betapa rapuhnya sistem perjalanan global terhadap gejolak geopolitik.
Menyadari urgensi situasi, Kementerian Luar Negeri Korea Selatan telah bergerak cepat untuk mencari solusi komprehensif. Seorang pejabat Hanatour menyatakan, "Kami memahami bahwa Kementerian Luar Negeri sedang berupaya mengatur penerbangan charter, dan saat ini kami menjajaki opsi tercepat yang memungkinkan." Upaya untuk mengatur penerbangan charter adalah langkah signifikan yang menunjukkan tingkat keparahan situasi dan komitmen pemerintah untuk memulangkan warganya. Namun, proses pengaturan penerbangan charter tidaklah mudah; melibatkan negosiasi dengan maskapai penerbangan, perolehan izin pendaratan di berbagai negara, dan koordinasi logistik yang kompleks. Selain itu, biaya yang terlibat dalam pengoperasian penerbangan charter juga menjadi pertimbangan, meskipun prioritas utama adalah keselamatan dan kepulangan warga negara.
Pejabat Hanatour menambahkan, "Penerbangan melalui Taiwan atau Asia Tenggara tampaknya menawarkan alternatif terbanyak, tetapi situasi berubah setiap jam saat kami mencari cara tercepat membawa turis pulang." Pernyataan ini menggarisbawahi dinamika dan ketidakpastian yang terus-menerus dalam mencari rute alternatif. Rute melalui Taiwan atau negara-negara Asia Tenggara lainnya, seperti Singapura atau Thailand, seringkali menjadi pilihan karena bandara-bandara tersebut berfungsi sebagai hub utama yang menghubungkan penerbangan dari Timur Tengah ke Asia Timur. Namun, ketersediaan kursi dan slot penerbangan di rute-rute ini juga terbatas, terutama ketika ada lonjakan permintaan mendadak akibat krisis. Agen perjalanan harus terus-menerus memantau perubahan jadwal dan kapasitas, membuat keputusan cepat untuk mengamankan tempat bagi para pelanggan mereka. Ketidakpastian ini tidak hanya membebani agen, tetapi juga menambah stres bagi para wisatawan yang menunggu.
Sementara wisatawan di Dubai menghadapi kesulitan, warga Korea di negara Timur Tengah lain, termasuk Kairo, dilaporkan kembali tanpa kendala berarti. Perbedaan ini menunjukkan bahwa dampak ketegangan regional tidak seragam di seluruh wilayah, dan beberapa lokasi mungkin memiliki rute penerbangan yang lebih stabil atau tidak terlalu terpengaruh oleh pembatasan. Namun, situasi di Dubai yang menjadi hub penerbangan utama, menjadikannya titik fokus krisis ini.
Menteri Luar Negeri Korea Selatan, Cho Hyun, secara terbuka menyatakan bahwa pemerintah sedang mempertimbangkan berbagai opsi untuk memulangkan warga negara yang terdampak, termasuk kemungkinan penggunaan pesawat charter. Pernyataan ini menggarisbawahi keseriusan pemerintah dalam menangani krisis. "Berbagai opsi sedang dipertimbangkan, termasuk penggunaan pesawat angkut militer. Kami meninjau pendekatan mana yang paling cepat dan efektif secara praktis," ungkap Cho Hyun. Penggunaan pesawat angkut militer adalah langkah luar biasa yang biasanya diambil dalam situasi darurat nasional atau evakuasi besar-besaran, menandakan tingkat urgensi yang tinggi. Ini juga menunjukkan bahwa pemerintah siap menggunakan semua sumber daya yang tersedia untuk memastikan keselamatan dan kepulangan warganya, bahkan jika itu berarti menggunakan aset militer untuk misi kemanusiaan. Pertimbangan ini juga mungkin didasarkan pada pengalaman sebelumnya dalam menghadapi krisis di luar negeri atau pada praktik internasional dalam penanganan warga negara yang terdampar.
Kementerian Luar Negeri juga mengungkapkan bahwa sekitar 20.000 warga Korea Selatan berada di lebih dari 10 negara Timur Tengah. Dari jumlah tersebut, sekitar 3.000 adalah wisatawan dan pelancong bisnis jangka pendek, sementara sisanya kemungkinan adalah ekspatriat, pekerja migran, atau personel yang bekerja di berbagai proyek di kawasan tersebut. Angka ini menunjukkan skala tanggung jawab pemerintah terhadap warganya di luar negeri dan pentingnya menjaga jalur komunikasi serta rencana darurat yang efektif. Meningkatnya ketegangan di Timur Tengah secara otomatis memicu tingkat kewaspadaan yang lebih tinggi bagi semua warga Korea Selatan di wilayah tersebut, tidak hanya di Dubai. Kedutaan Besar Korea Selatan di berbagai negara Timur Tengah kemungkinan besar telah diinstruksikan untuk meningkatkan layanan konsuler dan kesiapan tanggap darurat.
Krisis ini juga menyoroti dampak yang lebih luas terhadap industri pariwisata Korea Selatan. Agen perjalanan seperti Hanatour, Modetour, dan Yellow Balloon Tour menghadapi kerugian finansial yang signifikan akibat pembatalan, biaya rebooking, kompensasi, dan kerusakan reputasi. Kepercayaan konsumen terhadap perjalanan internasional, terutama ke wilayah yang dianggap berisiko, dapat menurun drastis. Industri pariwisata harus beradaptasi dengan realitas baru ini, mungkin dengan menawarkan asuransi perjalanan yang lebih komprehensif atau rencana kontingensi yang lebih jelas untuk menghadapi situasi serupa di masa depan.
Upaya kolaboratif antara pemerintah dan sektor swasta, dalam hal ini Kementerian Luar Negeri dan agen perjalanan, menjadi kunci dalam penanganan krisis seperti ini. Komunikasi yang efektif dan koordinasi yang erat diperlukan untuk memastikan bahwa informasi yang akurat disampaikan kepada para wisatawan yang terdampar, dan bahwa solusi yang paling efisien dapat diimplementasikan. Meskipun 79 wisatawan telah berhasil memulai perjalanan pulang mereka melalui rute alternatif, fokus utama tetap pada 330 lebih warga Korea Selatan yang masih menunggu di Dubai. Pemerintah dan agen perjalanan terus berpacu dengan waktu untuk menemukan cara tercepat dan teraman untuk membawa mereka kembali ke tanah air, dengan harapan krisis ini dapat segera teratasi tanpa insiden lebih lanjut.
