Bagi setiap pelancong yang menginjakkan kaki di tanah Papua, khususnya Sorong, Manokwari, atau Jayapura, keripik sukun telah lama dikenal sebagai buah tangan wajib yang tidak boleh terlewatkan. Camilan gurih dan renyah ini, terbuat dari irisan tipis buah sukun yang digoreng hingga garing, bukan sekadar oleh-oleh biasa, melainkan representasi kekayaan budaya dan kuliner dari salah satu tanaman pangan paling penting di kawasan tropis. Namun, di balik kelezatan keripik sukun, tersembunyi sebuah kisah panjang mengenai peradaban, nutrisi, dan potensi yang belum sepenuhnya tergali dari buah yang oleh masyarakat Barat dijuluki "breadfruit" atau buah roti ini.

sulutnetwork.com – Buah sukun, dengan nama ilmiah Artocarpus altilis, merupakan anggota famili Moraceae yang berkerabat dekat dengan nangka dan murbei. Tanaman ini diyakini berasal dari wilayah Melanesia dan Polinesia Barat, dan telah menjadi makanan pokok serta elemen integral dalam kehidupan masyarakat Austronesia selama lebih dari 3.000 tahun. Perannya sebagai sumber pangan utama memungkinkan para penutur Austronesia untuk menjelajahi dan mendiami berbagai pulau di Samudra Pasifik, membawa serta bibit-bibit sukun dalam setiap pelayaran epik mereka. Sejak ribuan tahun silam, sukun telah menjadi tulang punggung ketahanan pangan di kepulauan Pasifik, menyediakan nutrisi esensial dan menjadi simbol keberlanjutan hidup.

Pohon sukun adalah tanaman berukuran sedang hingga besar, mampu tumbuh mencapai ketinggian 20-30 meter dengan kanopi yang rindang. Daunnya besar, berlekuk dalam, berwarna hijau tua mengilap, dan memberikan keteduhan yang menyejukkan. Buah sukun sendiri berbentuk bulat hingga oval, dengan kulit berwarna hijau kekuningan yang kasar dan bergerigi saat masih muda, dan akan berubah menjadi lebih halus serta kekuningan ketika matang. Daging buahnya berwarna putih kekuningan, bertekstur lembut dan padat, menyerupai roti atau kentang. Uniknya, sebagian besar varietas sukun modern tidak memiliki biji, menjadikannya sangat efisien untuk dikonsumsi dan diolah.

Kandungan nutrisi dalam buah sukun sangatlah mengesankan, menjadikannya pilihan pangan yang sangat berharga. Buah ini kaya akan karbohidrat kompleks, menjadikannya sumber energi yang sangat baik dan berkelanjutan. Selain itu, sukun juga mengandung serat pangan yang tinggi, esensial untuk menjaga kesehatan pencernaan, mencegah sembelit, dan membantu regulasi kadar gula darah. Meskipun bukan sumber protein utama, sukun tetap menyumbangkan sejumlah protein dan lemak sehat dalam jumlah kecil, melengkapi profil nutrisinya yang komprehensif.

Lebih dari sekadar makronutrien, sukun juga diperkaya dengan berbagai vitamin dan mineral penting. Buah ini merupakan sumber Vitamin C yang baik, berperan sebagai antioksidan kuat yang mendukung sistem kekebalan tubuh dan kesehatan kulit. Sukun juga mengandung beberapa vitamin B kompleks, seperti tiamin (B1), riboflavin (B2), dan niasin (B3), yang penting untuk metabolisme energi dan fungsi saraf. Di antara mineralnya, kalium menonjol sebagai elektrolit penting untuk menjaga tekanan darah dan fungsi jantung, diikuti oleh magnesium, fosfor, dan zat besi yang esensial untuk berbagai proses fisiologis tubuh.

Berkat profil nutrisinya yang kaya, sukun menawarkan sejumlah manfaat kesehatan yang signifikan. Kandungan seratnya yang tinggi dapat membantu menurunkan kadar kolesterol jahat, sehingga mendukung kesehatan jantung. Serat juga membantu memperlambat penyerapan gula, menjadikannya makanan yang cocok untuk membantu mengelola kadar gula darah. Sifat antioksidan dari Vitamin C dan senyawa fitokimia lainnya dalam sukun membantu melawan radikal bebas, mengurangi risiko penyakit kronis dan peradangan. Dengan semua kebaikan ini, tidak heran jika sukun dianggap sebagai "buah roti tropis" yang tidak hanya mengenyangkan tetapi juga menyehatkan.

Di Papua dan berbagai wilayah Indonesia lainnya, sukun diolah menjadi beragam hidangan yang menggugah selera. Selain keripik, masyarakat lokal sering mengukus, membakar, atau menggoreng irisan sukun sebagai makanan pokok atau camilan. Sukun kukus atau bakar sering disajikan sebagai pengganti nasi, sementara sukun goreng menjadi pendamping teh atau kopi. Dalam masakan Indonesia yang lebih luas, sukun dapat diolah menjadi sayur lodeh, gulai sukun, perkedel sukun, bahkan kolak sukun sebagai hidangan penutup. Fleksibilitasnya dalam berbagai metode masak dan rasa, baik manis maupun gurih, menunjukkan betapa berharganya buah ini dalam khazanah kuliner Nusantara.

Secara global, pemanfaatan sukun jauh lebih bervariasi. Di Kepulauan Pasifik, sukun diolah dengan cara yang unik dan historis, yaitu melalui fermentasi. Saat musim panen tiba dan sukun melimpah ruah, masyarakat mengubur buah-buah sukun di dalam tanah untuk difermentasi. Proses ini tidak hanya mengawetkan buah, tetapi juga menghasilkan pasta yang lembut dan sedikit asam, yang dikenal dengan berbagai nama lokal seperti mahr atau poi. Pasta ini terkadang dicampur dengan santan dan dimasak dalam daun pisang, menjadi makanan pokok yang dapat bertahan lama dan menjadi cadangan pangan penting. Selain itu, sukun juga diolah menjadi tepung untuk membuat roti dan kue, atau diiris tipis untuk keripik modern, bahkan diekstraksi untuk bahan baku industri pangan lainnya.

Sejarah perkenalan sukun ke dunia Barat dimulai pada abad ke-18. Pada tahun 1769, penjelajah Inggris yang legendaris, Kapten James Cook, berlayar ke Tahiti dalam salah satu ekspedisi ilmiahnya. Di sana, ia menemukan buah sukun dan segera menyadari potensi besar tanaman ini sebagai sumber pangan yang melimpah dan bergizi di daerah tropis lainnya. Cook pun menyampaikan temuannya kepada Raja George III, mengusulkan agar sebuah ekspedisi khusus ditugaskan untuk mengangkut bibit sukun dari Tahiti ke koloni-koloni Inggris di Karibia, yang saat itu sangat membutuhkan sumber makanan murah dan berenergi tinggi untuk para budak yang bekerja di perkebunan gula.

Menindaklanjuti usulan tersebut, pada tahun 1787, Angkatan Laut Kerajaan Inggris menunjuk William Bligh sebagai Kapten kapal HMS Bounty. Misi utama Bligh adalah mengangkut lebih dari 1.000 pohon sukun dari Tahiti ke Karibia. Ekspedisi ini, yang dikenal sebagai "Breadfruit Voyage," dirancang untuk mengatasi masalah kelangkaan pangan dan memberikan nutrisi yang cukup bagi para budak. Namun, perjalanan HMS Bounty ini tidak berjalan mulus. Setelah berbulan-bulan di Tahiti menunggu bibit sukun siap untuk diangkut, Bligh dan krunya mengalami ketegangan yang memuncak.

Kondisi kapal yang sempit, prioritas tinggi terhadap bibit sukun yang memenuhi sebagian besar dek, serta disiplin ketat Bligh, menjadi pemicu pemberontakan terkenal yang terjadi pada 28 April 1789. Para pemberontak yang dipimpin oleh Fletcher Christian meninggalkan Bligh dan sejumlah kecil awak kapal di perahu kecil, sementara mereka kembali ke Tahiti dan kemudian menetap di Pulau Pitcairn. Meskipun misi pertama Bligh gagal karena pemberontakan tersebut, ia kemudian berhasil dalam ekspedisi kedua pada tahun 1791-1793 dengan HMS Providence, yang akhirnya berhasil membawa sukun ke Karibia. Tanaman ini pun beradaptasi dengan baik dan menjadi bagian penting dari diet lokal di sana, terutama di Jamaika.

Di Kepulauan Pasifik, sukun tidak hanya sekadar makanan; ia adalah identitas. Pohon sukun seringkali dianggap sebagai pohon suci, yang melambangkan kehidupan, kelimpahan, dan warisan nenek moyang. Buah ini muncul dalam mitos, legenda, dan upacara adat, menandakan kedalaman hubungan antara masyarakat dan lingkungannya. Selain sebagai sumber pangan, setiap bagian dari pohon sukun dimanfaatkan secara maksimal. Kayunya digunakan untuk membangun rumah, membuat kano, dan perkakas. Getahnya digunakan sebagai perekat atau obat, sementara serat dari kulit kayunya dapat diolah menjadi kain kulit kayu (tapa cloth) yang digunakan untuk pakaian dan upacara.

Dari segi budidaya dan ekologi, sukun adalah tanaman yang luar biasa tangguh. Pohon ini dapat tumbuh di berbagai jenis tanah dan iklim tropis, menunjukkan ketahanan terhadap kekeringan dan bahkan banjir. Sukun sering ditanam sebagai bagian dari sistem agroforestri, memberikan naungan bagi tanaman lain, mencegah erosi tanah, dan meningkatkan kesuburan tanah. Kemampuannya untuk menghasilkan panen melimpah selama puluhan tahun dari satu pohon menjadikannya aset jangka panjang bagi petani dan masyarakat. Perbanyakan umumnya dilakukan secara vegetatif melalui stek akar, memastikan karakteristik genetik yang diinginkan tetap terjaga.

Melihat tantangan perubahan iklim dan ketahanan pangan global, sukun muncul sebagai tanaman pangan yang menjanjikan. Potensinya untuk menyediakan sumber karbohidrat berenergi tinggi, serat, vitamin, dan mineral dalam jumlah besar dari satu pohon, menjadikannya kandidat ideal untuk mengatasi kekurangan gizi di banyak wilayah tropis. Berbagai penelitian kini difokuskan pada pengembangan varietas sukun yang lebih produktif, tahan hama penyakit, serta peningkatan metode pengolahan pasca-panen untuk mengurangi limbah dan memperpanjang masa simpan. Upaya global juga dilakukan untuk mempromosikan penanaman sukun secara lebih luas, bukan hanya sebagai makanan pokok tetapi juga sebagai komoditas bernilai ekonomi.

Secara ekonomi, sukun memiliki potensi besar untuk meningkatkan pendapatan petani dan masyarakat lokal. Di Papua, keripik sukun adalah contoh nyata bagaimana produk olahan sederhana dapat menciptakan nilai tambah dan menjadi daya tarik pariwisata. Dengan pengembangan lebih lanjut dalam pengolahan, pengemasan, dan pemasaran, sukun dapat diubah menjadi berbagai produk bernilai tinggi seperti tepung gluten-free, pasta, camilan sehat, bahkan bahan baku industri farmasi atau kosmetik. Hal ini tidak hanya akan memperkaya pilihan pangan tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi komunitas di daerah tropis.

Dari sekadar oleh-oleh populer di Sorong hingga menjadi buah yang diperjuangkan oleh penjelajah dunia, sukun telah menempuh perjalanan panjang yang kaya akan sejarah, budaya, dan potensi. Buah roti tropis ini tidak hanya menawarkan kelezatan dan nutrisi, tetapi juga solusi berkelanjutan untuk ketahanan pangan di era modern. Bagi Papua, sukun adalah warisan nenek moyang yang tak ternilai. Bagi dunia, sukun adalah harapan baru dalam menghadapi krisis pangan dan perubahan iklim, sebuah testimoni akan kekuatan dan kearifan alam tropis.


Artikel ini ditulis Hari Suroto. Penulis bekerja di Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XVII Sulawesi Utara