Kepa Arrizabalaga kembali menjadi sorotan utama dunia sepak bola setelah menghadirkan mimpi buruk lainnya di final Carabao Cup. Insiden terbaru ini terjadi saat Arsenal berhadapan dengan Manchester City, di mana blunder fatalnya berkontribusi pada kekalahan timnya dan menambah panjang daftar tragedi pribadinya di ajang tersebut. Kegagalan ini bukan hanya sekadar kesalahan teknis, melainkan sebuah narasi berulang yang tampaknya menghantui karier sang penjaga gawang di kompetisi piala domestik Inggris yang prestisius ini.
sulutnetwork.com – Insiden terbaru ini terjadi dalam pertandingan final Carabao Cup antara Arsenal dan Manchester City yang berlangsung di Stadion Wembley pada Minggu, 22 Maret 2026, malam WIB. Atmosfer di Wembley begitu memanas, dengan puluhan ribu penggemar dari kedua belah pihak memadati tribun, masing-masing berharap tim kesayangan mereka mengangkat trofi pertama musim ini. Arsenal, yang tengah berjuang mengakhiri puasa gelar piala domestik, memasuki pertandingan dengan optimisme tinggi, sementara Manchester City datang sebagai raksasa yang haus akan setiap gelar yang tersedia. Pertandingan berjalan ketat di babak pertama, dengan kedua tim saling melancarkan serangan dan bertahan dengan disiplin. Namun, petaka bagi Arsenal datang di menit ke-60, dan lagi-lagi, Kepa Arrizabalaga menjadi pusat perhatian yang tidak diinginkan.
Momen krusial itu bermula dari serangan balik cepat Manchester City di sisi kiri pertahanan Arsenal. Gelandang serang lincah Rayan Cherki berhasil menusuk ke area berbahaya dan melepaskan umpan silang mendatar yang mengarah ke kotak penalti. Bola melaju dengan kecepatan sedang, tampak mudah untuk diantisipasi oleh penjaga gawang sekelas Kepa. Namun, dalam sebuah keputusan yang keliru, Kepa mencoba menangkap bola tersebut alih-alih menepisnya. Bola yang sejatinya berada dalam jangkauannya, entah mengapa, terlepas dari tangkapannya yang kurang sempurna. Si kulit bundar kemudian memantul bebas di depan gawang yang sudah kosong melompong. Penyerang muda sensasional Manchester City, Nico O’Reilly, yang berada di posisi tepat pada waktu yang tepat, dengan sigap menyundul bola masuk ke gawang yang tak terkawal. Gol tersebut sontak memecah keheningan sebagian besar suporter Arsenal dan memicu sorakan gemuruh dari kubu City. Blunder ini bukan hanya memberikan keunggulan bagi Manchester City, tetapi juga meruntuhkan moral pemain Arsenal yang sebelumnya tampil cukup solid.
Keunggulan Manchester City semakin diperlebar hanya empat menit berselang, di menit ke-64. Nico O’Reilly kembali menunjukkan ketajamannya dengan mencetak gol kedua bagi dirinya dan timnya. Kali ini, ia memanfaatkan umpan silang akurat dari sisi kanan, menyambut bola dengan sundulan terarah yang tak mampu dijangkau Kepa. Gol kedua ini semakin membenamkan Arsenal dalam kekalahan dan menegaskan dominasi Manchester City di final tersebut. Skor akhir pertandingan 3-1 untuk kemenangan Manchester City, mengunci gelar Carabao Cup bagi The Citizens dan memperpanjang rentetan nasib buruk Kepa di final kompetisi ini.
Namun, insiden di Wembley ini bukanlah yang pertama kali Kepa Arrizabalaga menjadi sorotan negatif di panggung final Carabao Cup. Tiga final Carabao Cup yang pernah ia jalani, semuanya berakhir dengan cerita yang menyakitkan dan kontroversial. Dua final sebelumnya terjadi saat ia masih berseragam Chelsea, tim yang memboyongnya dari Athletic Bilbao dengan status penjaga gawang termahal di dunia pada tahun 2018.
Kisah kelam pertama terjadi pada final Carabao Cup musim 2018/2019, ketika Chelsea juga berhadapan dengan Manchester City. Pertandingan kala itu berakhir imbang 0-0 setelah perpanjangan waktu, memaksa pertandingan ditentukan melalui adu penalti. Namun, sebelum babak adu penalti dimulai, sebuah drama tak terlupakan terjadi di pinggir lapangan. Maurizio Sarri, manajer Chelsea saat itu, berniat mengganti Kepa dengan Willy Caballero, yang dikenal memiliki rekor lebih baik dalam menghadapi tendangan penalti. Sarri mengklaim Kepa mengalami kram dan ingin memasukkan Caballero yang lebih segar dan spesialis adu penalti. Namun, secara mengejutkan, Kepa menolak untuk diganti. Ia melambaikan tangan ke arah Sarri, memberi isyarat bahwa ia baik-baik saja dan ingin tetap bermain. Insiden tersebut memicu kemarahan Sarri yang terlihat jelas di televisi, menimbulkan kebingungan di bangku cadangan, dan menjadi perbincangan hangat di seluruh dunia. Meskipun Kepa tetap berada di lapangan, Chelsea akhirnya kalah 3-4 dalam adu penalti. Pasca-laga, Sarri mencoba meredakan situasi dengan menjelaskan bahwa itu adalah "kesalahpahaman" karena ia mengira Kepa mengalami cedera serius. Namun, citra Kepa terlanjur tercoreng, dianggap tidak menghormati keputusan manajer dan merusak hierarki tim. Insiden ini menjadi noda besar dalam kariernya di Chelsea dan meninggalkan pertanyaan besar tentang profesionalismenya.
Dua musim berselang, Kepa kembali tampil di final Carabao Cup musim 2021/2022, kali ini bersama Chelsea melawan Liverpool. Pertandingan yang berlangsung sengit di Wembley tersebut juga berakhir tanpa gol, 0-0, hingga babak perpanjangan waktu, sehingga harus dilanjutkan ke adu penalti. Uniknya, kali ini Kepa justru dimasukkan di menit-menit akhir perpanjangan waktu oleh manajer Thomas Tuchel, khusus untuk menghadapi adu penalti, menggantikan Édouard Mendy yang tampil gemilang sepanjang pertandingan. Keputusan Tuchel ini didasarkan pada reputasi Kepa sebagai "spesialis" adu penalti dan pengalamannya. Adu penalti berlangsung dramatis, dengan kedua tim menunjukkan ketepatan luar biasa. Skor mencapai 10-10, dan giliran Kepa sebagai penendang ke-11. Beban ekspektasi dan tekanan yang sangat besar berada di pundaknya. Namun, alih-alih mencetak gol atau menyelamatkan tendangan, Kepa justru menendang bola jauh melambung di atas mistar gawang. Tendangan penalti yang melenceng itu menjadi penentu kekalahan Chelsea, menyerahkan trofi kepada Liverpool. Ironisnya, Kepa yang dimasukkan untuk menjadi pahlawan di babak adu penalti, justru menjadi biang keladi kekalahan timnya dengan kegagalan yang fatal. Momen itu semakin memperparah "kutukan" Carabao Cup yang tampaknya melekat pada dirinya.
Dengan tiga insiden di tiga final Carabao Cup yang berbeda, Kepa Arrizabalaga benar-benar belum berjodoh dengan kompetisi ini. Dari menolak diganti, membuat blunder fatal, hingga gagal mengeksekusi penalti penentu, setiap final menyisakan luka dan kritik yang mendalam. Rekornya sebagai tiga kali runner-up di Carabao Cup juga diikuti oleh tiga kali menjadi runner-up di Piala FA, semakin menegaskan bahwa trofi domestik Inggris seolah menjauh darinya.
Perjalanan karier Kepa Arrizabalaga, sejak dibeli dengan harga fantastis €80 juta dari Athletic Bilbao, telah menjadi roller coaster emosi. Ia diharapkan menjadi suksesor jangka panjang bagi Petr Cech dan Thibaut Courtois di Chelsea, namun performanya kerap inkonsisten. Setelah beberapa musim penuh tantangan di Chelsea, termasuk periode di mana ia kehilangan posisi kiper utama, Kepa sempat dipinjamkan ke Real Madrid. Di sana, ia berharap menemukan kembali performa terbaiknya, namun juga tidak sepenuhnya berhasil mengamankan tempat sebagai starter.
Kepindahannya ke Arsenal, yang untuk keperluan berita ini diasumsikan terjadi sebelum musim 2025/2026, kemungkinan besar merupakan upaya untuk mencari angin segar dan kesempatan baru di Liga Primer Inggris. Arsenal, yang memiliki sejarah panjang namun sedang dalam fase membangun kembali dominasi, mungkin melihat Kepa sebagai kiper berpengalaman yang bisa memberikan stabilitas. Para penggemar Arsenal mungkin juga berharap Kepa bisa menghidupkan kembali kariernya di bawah asuhan manajer baru dan membantu tim meraih gelar. Namun, insiden di final Carabao Cup 2026 ini kembali menghidupkan kembali bayang-bayang masa lalu dan menempatkan masa depannya di klub London Utara tersebut dalam tanda tanya besar.
Posisi penjaga gawang memang sangat unik dan kejam dalam dunia sepak bola. Berbeda dengan pemain outfield yang kesalahan-kesalahannya bisa dimaafkan atau ditutupi oleh rekan setim, blunder seorang kiper seringkali berakibat fatal dan langsung berujung pada gol. Setiap kesalahan kecil dapat menjadi sorotan besar, mengikis kepercayaan diri, dan membentuk narasi yang sulit dihapuskan. Kepa, dengan rekam jejaknya di final Carabao Cup, kini harus menghadapi tekanan mental yang luar biasa. Ia bukan hanya berjuang melawan lawan di lapangan, tetapi juga melawan "hantu" masa lalunya dan ekspektasi yang tinggi.
Bagi Arsenal, kekalahan ini merupakan pukulan telak. Klub dan para penggemarnya sangat mendambakan trofi, dan kegagalan di final piala domestik selalu terasa pahit. Blunder Kepa tidak hanya merugikan tim di pertandingan tersebut, tetapi juga berpotensi memengaruhi moral dan kepercayaan diri tim untuk sisa musim. Manajer Arsenal kini dihadapkan pada keputusan sulit mengenai posisi Kepa sebagai kiper utama, terutama jika tekanan dari penggemar dan media terus meningkat. Pertanyaan tentang stabilitas pertahanan dan kualitas penjaga gawang akan menjadi perdebatan hangat di kalangan pendukung The Gunners.
Kisah Kepa Arrizabalaga di Carabao Cup adalah sebuah studi kasus yang menyakitkan tentang tekanan dalam sepak bola profesional dan bagaimana satu kompetisi bisa menjadi arena mimpi buruk yang berulang bagi seorang pemain. Dari keangkuhan yang berujung pada penolakan penggantian, hingga kegagalan fatal sebagai penendang penalti, dan kini blunder mematikan di bawah bendera klub yang berbeda, Kepa telah mengalami spektrum penuh tragedi di final Carabao Cup. Masa depan sang kiper Spanyol ini di Arsenal dan di kancah sepak bola profesional akan sangat bergantung pada bagaimana ia mampu bangkit dari serangkaian kemalangan ini dan membuktikan bahwa ia lebih dari sekadar penjaga gawang yang dikutuk di panggung besar.
