Di tengah hiruk pikuk Pelabuhan Benoa, Denpasar Selatan, sebuah fenomena langka menarik perhatian dan menjadi oase spiritual yang tak lazim. Masjid Bahari, satu-satunya tempat ibadah umat Muslim di kawasan vital ini, menjadi rumah bagi sebatang pohon kurma yang menjulang tinggi hingga tujuh meter, tumbuh kokoh di dalam area salatnya, menciptakan pemandangan yang unik dan penuh makna di tengah lanskap maritim Bali yang kaya budaya.
sulutnetwork.com – Kehadiran pohon kurma yang tumbuh subur di dalam ruang utama Masjid Bahari bukan sekadar kebetulan, melainkan hasil dari perjalanan sejarah panjang dan keputusan pengelola yang ingin menjadikan masjid ini memiliki identitas khas. Keunikan ini telah menjadikan Masjid Bahari sebagai ikon spiritual di tengah hiruk pikuk aktivitas pelabuhan, menarik perhatian jamaah maupun pengunjung yang penasaran akan keajaiban alam di dalam rumah ibadah.
Sebatang pohon kurma dengan tinggi mencapai sekitar tujuh meter ini berdiri tegak dan megah, menembus atap masjid, seolah menjadi pilar alami yang menyangga keagungan arsitektur. Daun-daunnya yang rimbun memberikan sentuhan hijau yang kontras dengan interior masjid, menciptakan suasana teduh dan sejuk di tengah cuaca Denpasar yang cenderung hangat. Posisi pohon yang berada di dekat tempat jamaah melaksanakan salat sehari-hari, bahkan dalam jarak pandang yang begitu dekat, memberikan pengalaman spiritual yang berbeda, seakan-akan jamaah diajak merenungi kebesaran ciptaan Tuhan dalam setiap ibadah.
Keberadaan pohon kurma di dalam masjid ini mengundang pertanyaan: bagaimana bisa sebuah pohon berukuran besar tumbuh di lingkungan yang seharusnya tertutup? Jawaban atas pertanyaan ini melibatkan sejarah dan keputusan visioner dari para pengurus masjid. Ketua Pengurus Masjid Bahari, Sutrisno, menjelaskan bahwa pohon kurma tersebut telah ada sejak tahun 2008. Awalnya, pohon ini tumbuh di luar area bangunan masjid, masih dalam ukuran yang relatif kecil. Namun, seiring berjalannya waktu dan kebutuhan akan perluasan serta renovasi masjid, pengurus dihadapkan pada sebuah pilihan penting.
Pada suatu masa, ketika renovasi besar-besaran dilakukan, area tempat pohon kurma tumbuh di luar masjid direncanakan akan menjadi bagian dari perluasan bangunan. Daripada menebang atau memindahkan pohon kurma ke lokasi yang jauh, yang mungkin akan merusak pertumbuhannya, pihak pengurus masjid mengambil keputusan yang berani dan tak lazim: membiarkan pohon kurma tersebut tetap tumbuh dan mengintegrasikannya ke dalam desain masjid yang baru. Ini adalah langkah yang tidak mudah, memerlukan penyesuaian struktural dan perencanaan yang matang, namun hasilnya kini menjadi sebuah daya tarik yang tak terbantahkan.
Sutrisno menambahkan, keputusan untuk membiarkan pohon kurma tumbuh di dalam masjid adalah untuk menjadikannya sebagai ciri khas atau ikon dari Masjid Bahari. "Kalau untuk lokasi awalnya sebenarnya ada di luar. Karena ada renovasi, jadinya (pohon dipindah) masuk ke dalam masjid," ujar Sutrisno saat ditemui akhir pekan lalu. Ia juga mengungkapkan bahwa sempat muncul rencana untuk menebang atau memindahkan pohon kurma itu sepenuhnya. Namun, setelah pertimbangan matang, pihak pengurus Masjid Bahari di Pelabuhan Benoa memutuskan untuk mempertahankan pohon kurma tersebut, melihat potensi simbolis dan keunikannya. "Ada rencana waktu itu, tapi tidak jadi. Dibiarkan masuk ke dalam masjid. Alhamdulillah, aman dan menjadi ciri khas ya di sini," jelasnya.
Masjid Bahari sendiri memiliki sejarah panjang yang dimulai sejak tahun 1989. Berdiri di atas lahan sekitar enam are, masjid ini awalnya berukuran relatif kecil dengan daya tampung hanya sekitar 40 jamaah. Sebagai satu-satunya masjid di kawasan Pelabuhan Benoa, perannya sangat vital bagi para pekerja pelabuhan, nelayan, dan awak kapal yang singgah. Seiring dengan pertumbuhan aktivitas di pelabuhan dan peningkatan jumlah umat Muslim di sekitarnya, kebutuhan akan tempat ibadah yang lebih besar menjadi mendesak.
Oleh karena itu, Masjid Bahari telah mengalami beberapa kali renovasi signifikan. Pengurus Masjid Bahari lainnya, Didik, menjelaskan bahwa masjid ini telah mengalami tiga kali renovasi besar. Dari kapasitas awal 40 jamaah, kini masjid tersebut mampu menampung sekitar 250 jamaah untuk salat harian. Bahkan, saat pelaksanaan salat Jumat, kapasitasnya bisa meningkat drastis hingga sekitar 600 orang, menunjukkan betapa pentingnya peran masjid ini bagi komunitas Muslim di Benoa. Renovasi-renovasi ini jugalah yang memungkinkan integrasi pohon kurma ke dalam struktur bangunan, sebuah tantangan arsitektur yang berhasil diatasi dengan indah.
Integrasi pohon kurma ini bukan tanpa tantangan. Tim arsitek dan pembangunan harus memastikan bahwa pertumbuhan pohon tidak merusak struktur bangunan, sekaligus menyediakan ruang yang cukup bagi pohon untuk terus tumbuh tinggi. Hal ini kemungkinan melibatkan modifikasi pada struktur atap dan langit-langit, menciptakan bukaan khusus yang memungkinkan batang dan daun pohon menembus ke atas, terpapar sinar matahari dan udara luar. Pengelolaan drainase dan penyiraman juga menjadi perhatian, memastikan pohon tetap sehat tanpa mengganggu kenyamanan jamaah atau kebersihan masjid. Keberadaan pohon di dalam ruangan juga memberikan efek alami yang menyejukkan, seolah membawa sebagian kecil gurun pasir yang identik dengan kurma, ke tengah-tengah lingkungan tropis Bali.
Pohon kurma memiliki makna simbolis yang mendalam dalam tradisi Islam. Buahnya sering disebut dalam Al-Qur’an dan Hadis sebagai makanan yang penuh berkah, kaya nutrisi, dan sering dikonsumsi saat berbuka puasa di bulan Ramadan. Pohon kurma juga melambangkan ketahanan, kesabaran, dan kemakmuran. Oleh karena itu, kehadiran pohon kurma di dalam Masjid Bahari tidak hanya menjadi daya tarik visual, tetapi juga memperkaya dimensi spiritual dan keagamaan bagi para jamaah, mengingatkan mereka pada akar-akar tradisi Islam yang kaya.
Terkait dengan hasil buahnya, Sutrisno mengaku pohon tersebut pernah beberapa kali berbuah. Namun, ia tidak mengingat secara pasti jumlahnya. Buah kurma yang dihasilkan, menurutnya, memiliki rasa yang cenderung sepat atau kelat. Fenomena ini dijelaskan oleh Sutrisno dengan kondisi lingkungan masjid yang berada di area pelabuhan, dekat dengan laut. "Pernah berbuah, tapi saya lupa sudah beberapa kali ya. Pernah saya rasakan, ya agak sepet (sepat). Karena kan di area ini ada di tengah laut, jadi tercampur airnya, agak payau juga," imbuhnya. Air tanah di kawasan pesisir memang cenderung payau atau asin, yang dapat memengaruhi kualitas dan rasa buah kurma, yang umumnya tumbuh subur di iklim gurun dengan air tawar yang melimpah.
Didik menambahkan, meskipun pohon kurma tersebut tumbuh secara alami di kawasan pelabuhan yang kerap diterpa angin kencang, ia tetap kokoh dan subur. Hal ini menunjukkan ketahanan dan adaptasi luar biasa dari pohon tersebut terhadap lingkungannya. Meskipun jarang berbuah, dan buahnya cenderung kecil, berwarna kuning, serta rasanya sepat, pohon kurma tersebut tetap menjadi daya tarik tersendiri bagi jamaah maupun pengunjung. "Kalau untuk berbuah, sudah jarang kami lihat. Kalau pun ada, buahnya nggak besar, kecil. Warnanya kuning dan rasanya ya sepet," pungkasnya.
Kehadiran Masjid Bahari dengan pohon kurma di dalamnya juga menjadi simbol penting keberagaman dan toleransi beragama di Bali. Sebagai pulau dengan mayoritas penduduk beragama Hindu, keberadaan masjid yang aktif dan unik ini menunjukkan harmoni antarumat beragama yang terjaga dengan baik. Masjid ini tidak hanya melayani kebutuhan spiritual umat Muslim setempat, tetapi juga menjadi penanda keragaman budaya dan agama yang memperkaya lanskap sosial Bali secara keseluruhan. Banyak wisatawan domestik maupun mancanegara yang berlabuh di Pelabuhan Benoa, seringkali terkejut dan tertarik dengan keberadaan masjid yang istimewa ini, menjadikannya sebuah landmark spiritual yang menarik.
Pohon kurma di dalam Masjid Bahari bukan hanya sekadar ornamen, melainkan sebuah entitas hidup yang terintegrasi dengan arsitektur dan spiritualitas masjid. Ia menjadi saksi bisu perjalanan waktu, renovasi, dan pertumbuhan komunitas Muslim di Pelabuhan Benoa. Dengan ketinggiannya yang menjulang dan sejarahnya yang unik, pohon ini terus menjadi sumber inspirasi dan kekaguman, mengukuhkan Masjid Bahari sebagai salah satu masjid paling menarik dan berkesan di Indonesia, sebuah perpaduan antara alam, arsitektur, dan iman yang harmonis.
