Tokyo digemparkan oleh sebuah insiden yang menyoroti etika perjalanan internasional, ketika seorang staf hotel membagikan pengalamannya membersihkan kamar hotel yang ditinggalkan dalam kondisi sangat berantakan dan kotor oleh dua turis wanita asal China. Kejadian ini, yang kemudian menjadi viral di media sosial, memicu perdebatan luas mengenai tanggung jawab tamu hotel dan dampak perilaku individu terhadap citra suatu bangsa.

sulutnetwork.com – Insiden ini pertama kali mencuat ke publik melalui unggahan akun Threads @akki_kiku pada Senin, 26 Januari 2026, yang segera menarik perhatian ribuan pengguna internet dan berbagai media. Dalam postingannya, staf hotel tersebut melampirkan serangkaian foto yang secara gamblang menunjukkan kondisi kamar yang jauh dari kata layak setelah ditinggalkan oleh penghuninya. Foto-foto tersebut memperlihatkan sampah berserakan di hampir setiap sudut ruangan, mulai dari lantai hingga permukaan meja. Bekas wadah mie instan yang belum dibuang, botol-botol minuman kosong, sisa-sisa makanan ringan, hingga kemasan produk pribadi terlihat menumpuk tanpa aturan, menciptakan pemandangan yang tidak sedap dipandang mata.

Tidak hanya di area kamar tidur, kekacauan juga meluas hingga ke kamar mandi. Gambar lain menunjukkan handuk bekas yang tergeletak sembarangan, tisu toilet yang berserakan, serta cangkir dan sikat gigi bekas yang dibiarkan begitu saja di wastafel dan lantai kamar mandi. Salah satu detail yang paling mencolok adalah penutup dudukan toilet yang ditemukan masih terbungkus lembaran plastik, mengindikasikan bahwa para tamu tersebut bahkan tidak repot-repot melepasnya selama menginap. Kondisi ini secara implisit menimbulkan pertanyaan besar mengenai tingkat kebersihan dan kenyamanan yang mereka rasakan selama menginap, atau justru menunjukkan sikap abai terhadap fasilitas yang digunakan.

Staf hotel tersebut, yang identitasnya tidak disebutkan secara rinci, menyertai unggahannya dengan sebuah pertanyaan retoris yang sarat kekecewaan, "Bukankah Anda akan merasa jijik tinggal di kamar seperti ini?" Pertanyaan ini tidak hanya ditujukan kepada para tamu yang bersangkutan, tetapi juga kepada publik yang melihat, seolah-olah mengundang empati dan pemahaman akan tantangan yang dihadapi oleh para pekerja di industri perhotelan. Unggahan tersebut dengan cepat menyebar, menjadi topik hangat yang memicu berbagai reaksi dari netizen di seluruh dunia.

Reaksi netizen terpecah menjadi beberapa kubu. Mayoritas mengecam tindakan para turis tersebut, melabeli mereka sebagai "jorok" atau "tidak beradab", dan mengkritik kurangnya rasa hormat terhadap properti orang lain serta standar kebersihan umum. Komentar-komentar pedas membanjiri kolom balasan, menyuarakan kemarahan atas perilaku yang dianggap merendahkan profesi staf kebersihan hotel. Namun, ada pula sebagian netizen yang mengingatkan untuk tidak menggeneralisasi seluruh kebangsaan berdasarkan tindakan individu. Mereka menekankan pentingnya memisahkan perilaku buruk yang dilakukan oleh segelintir orang dari citra keseluruhan sebuah kelompok etnis atau nasionalitas, mengingat setiap negara memiliki individu dengan beragam tingkat kesadaran akan kebersihan dan etika.

Menanggapi kondisi kamar yang parah, staf hotel mencoba menagih biaya pembersihan tambahan kepada kedua turis wanita tersebut. Namun, upaya ini menemui jalan buntu karena mereka menolak untuk membayar kompensasi atas kekacauan yang telah mereka ciptakan. Staf tersebut menyatakan bahwa situasi tersebut akhirnya terselesaikan, meskipun detail mengenai bagaimana penyelesaian tersebut dicapai tidak dijelaskan secara rinci dalam postingannya. Ketidakjelasan ini menimbulkan spekulasi di kalangan publik mengenai apakah pihak hotel akhirnya harus menanggung sendiri biaya dan upaya ekstra untuk membersihkan kamar, ataukah ada bentuk penyelesaian lain yang disepakati.

Insiden ini bukan hanya sekadar cerita tentang kamar hotel yang kotor, melainkan sebuah cerminan dari isu yang lebih besar dalam industri pariwisata global: tanggung jawab tamu hotel. Meskipun para tamu membayar untuk fasilitas yang mereka gunakan, pembayaran tersebut tidak serta merta memberikan hak untuk merusak atau meninggalkan properti dalam kondisi yang sangat tidak layak. Hotel-hotel beroperasi dengan standar kebersihan dan pemeliharaan tertentu, dan setiap penyimpangan signifikan dari standar tersebut dapat menimbulkan konsekuensi serius.

Salah satu dampak paling langsung adalah peningkatan beban kerja bagi staf kebersihan. Kamar yang ditinggalkan dalam kondisi sangat berantakan memerlukan waktu pembersihan yang jauh lebih lama dan intensif dibandingkan kamar pada umumnya. Ini berarti staf harus bekerja lebih keras, mungkin melewatkan istirahat, atau bahkan memerlukan bantuan tambahan, yang semuanya berujung pada peningkatan biaya operasional bagi pihak hotel. Selain itu, keterlambatan dalam proses pembersihan dapat menunda ketersediaan kamar untuk tamu berikutnya, yang pada akhirnya dapat merugikan pendapatan hotel dan reputasi layanan.

Dari segi material, kekacauan yang ekstrem juga dapat menyebabkan kerusakan pada properti hotel. Tumpahan makanan atau minuman yang lengket bisa meninggalkan noda permanen pada sprei, bed cover, karpet, atau perabot lainnya yang sulit, bahkan mustahil, untuk dihilangkan. Penggunaan handuk dan tisu secara berlebihan dan pembuangan yang tidak tepat juga dapat mempercepat keausan barang-barang tersebut. Dalam kasus yang lebih parah, perilaku sembrono bahkan dapat merusak fasilitas kamar mandi atau perabotan lainnya, yang memerlukan biaya perbaikan atau penggantian yang tidak sedikit.

Penting bagi setiap traveler untuk memahami bahwa tindakan mereka selama menginap memiliki dampak nyata. Hotel menyediakan fasilitas tempat sampah di dalam kamar, dan penggunaan fasilitas ini adalah bentuk dasar dari tanggung jawab tamu. Membuang sampah pada tempatnya, merapikan barang-barang pribadi, dan menjaga kebersihan umum kamar adalah tindakan sederhana yang sangat dihargai oleh staf hotel dan membantu menjaga kelancaran operasional.

Banyak hotel memiliki kebijakan yang jelas mengenai kondisi kamar saat check-out. Jika staf hotel mendapati kamar ditinggalkan dalam kondisi yang sangat kotor atau terdapat kerusakan signifikan, tamu dapat dikenakan denda atau biaya tambahan untuk pembersihan ekstra dan perbaikan. Biaya ini bervariasi tergantung pada tingkat kekacauan atau kerusakan, dan dapat menjadi jumlah yang tidak sedikit. Meskipun dalam kasus insiden di Tokyo ini turis menolak membayar dan penyelesaiannya tidak dijelaskan, ini menunjukkan bahwa hotel memiliki hak untuk menuntut kompensasi atas kerugian yang ditimbulkan.

Insiden seperti ini juga membuka diskusi mengenai peran edukasi dalam pariwisata. Baik melalui panduan etiket perjalanan, informasi yang jelas dari pihak hotel, maupun kampanye kesadaran publik, upaya untuk mengedukasi wisatawan tentang pentingnya menjaga kebersihan dan menghormati fasilitas yang digunakan sangatlah krusial. Etiket perjalanan yang baik tidak hanya mencakup interaksi dengan masyarakat lokal atau menjaga lingkungan, tetapi juga bagaimana seseorang memperlakukan akomodasi yang mereka pilih.

Pada akhirnya, pariwisata adalah industri yang dibangun di atas dasar saling menghormati antara penyedia layanan dan konsumen. Tamu memiliki hak untuk mendapatkan pelayanan terbaik dan fasilitas yang bersih, sementara staf hotel dan properti juga berhak mendapatkan perlakuan yang hormat. Kejadian di Tokyo ini berfungsi sebagai pengingat penting bagi seluruh komunitas pelancong: tanggung jawab pribadi adalah kunci untuk menciptakan pengalaman perjalanan yang positif dan berkelanjutan bagi semua pihak. Memastikan kamar hotel ditinggalkan dalam kondisi yang wajar dan bersih bukan hanya masalah etiket, tetapi juga bentuk apresiasi terhadap kerja keras staf dan kontribusi terhadap lingkungan yang lebih baik dalam industri perhotelan.