Dunia penerbangan Amerika Serikat kembali disorot setelah dua insiden pendaratan pesawat dalam waktu berdekatan memicu kekhawatiran dan penyelidikan mendalam oleh otoritas terkait. Yang terbaru, sebuah pesawat United Airlines mendarat darurat di Bandara Internasional Orlando, Florida, dengan salah satu roda pendaratan depannya patah dan terlepas, sementara sebelumnya, pesawat Latam mengalami pecah ban saat mendarat di Atlanta, menggarisbawahi kompleksitas dan tantangan inheren dalam operasional penerbangan modern. Kedua peristiwa ini, meskipun tidak menimbulkan korban jiwa, telah memicu analisis serius terhadap prosedur keselamatan, pemeliharaan pesawat, dan respons darurat.
sulutnetwork.com – Insiden yang paling menyita perhatian adalah peristiwa yang menimpa penerbangan United 2323 pada Minggu, 18 Januari 2024, di mana sebuah pesawat Boeing yang tiba dari Bandara Chicago O’Hare mengalami masalah mekanis serius saat mendarat di Bandara Internasional Orlando (MCO). Peristiwa ini terekam dalam video yang viral di media sosial, menunjukkan momen dramatis ketika salah satu roda pendaratan depan pesawat terlepas dan menggelinding di landasan pacu, memicu kepanikan namun untungnya tidak menimbulkan korban jiwa. Insiden ini dengan cepat menarik perhatian publik dan otoritas penerbangan, menyoroti kerentanan yang mungkin terjadi bahkan pada komponen vital seperti sistem roda pendaratan.
Penerbangan United 2323, yang telah menempuh perjalanan sekitar dua jam dari Chicago O’Hare (ORD), seharusnya menjadi pendaratan rutin di MCO, salah satu bandara tersibuk di Florida. Namun, rekaman visual yang beredar luas di platform X (sebelumnya Twitter) menggambarkan sekuens pendaratan yang tidak biasa dan menegangkan. Pesawat awalnya menyentuh landasan dengan roda pendaratan belakang, sebuah prosedur standar dalam penerbangan yang dirancang untuk meredam dampak awal. Namun, ketika roda pendaratan depan kemudian menyentuh permukaan landasan, terjadi goncangan hebat yang tak terduga, jauh melampaui getaran normal yang dirasakan penumpang.
Dalam hitungan detik setelah roda depan menyentuh, salah satu dari roda pendaratan depan tersebut terlihat patah secara mengejutkan. Tidak hanya patah, roda itu kemudian terlepas sepenuhnya dari porosnya dan menggelinding bebas melintasi landasan pacu, sebelum akhirnya berhenti di area rumput di sisi landasan. Pemandangan ini sontak menimbulkan spekulasi mengenai penyebab insiden, mulai dari kegagalan material, masalah struktural pada sistem pendaratan, hingga potensi kelelahan logam yang tidak terdeteksi selama pemeriksaan rutin. Kejadian ini juga memperlihatkan betapa cepatnya sebuah insiden dapat berkembang di lingkungan penerbangan yang berkecepatan tinggi.
Sistem roda pendaratan adalah salah satu komponen paling kompleks dan vital pada pesawat terbang. Fungsinya tidak hanya untuk menopang berat pesawat yang masif saat berada di darat, tetapi juga untuk menyerap guncangan yang luar biasa saat pendaratan dan lepas landas, serta menyediakan kemampuan manuver yang presisi di darat. Kerusakan pada roda pendaratan, seperti yang terjadi pada penerbangan United 2323, dapat mengancam integritas struktural pesawat, mempengaruhi sistem pengereman, dan berpotensi menyebabkan hilangnya kendali. Kegagalan mekanis pada komponen ini dapat berasal dari berbagai sumber, termasuk masalah hidrolik, keausan bantalan, kerusakan poros, atau bahkan kegagalan sensor yang mengganggu sistem penopang.
Menanggapi insiden ini, perwakilan United Airlines segera mengeluarkan pernyataan. Mereka mengonfirmasi bahwa insiden tersebut diduga kuat disebabkan oleh masalah mekanis pada saat pendaratan. Pihak maskapai juga dengan tegas memastikan bahwa seluruh penumpang dan awak pesawat selamat dan tidak ada yang mengalami cedera fisik, sebuah kabar yang sangat melegakan di tengah situasi yang genting tersebut. Penekanan pada keselamatan penumpang menjadi prioritas utama maskapai dalam komunikasi krisis, bertujuan untuk meredakan kekhawatiran publik.
Setelah pesawat berhasil berhenti total dan dinyatakan aman, para penumpang dievakuasi menggunakan bus dan diangkut menuju terminal bandara. Proses evakuasi berlangsung tertib dan efisien, dengan tim United Airlines dan personel bandara memberikan bantuan yang diperlukan, termasuk penyediaan makanan dan minuman serta informasi lanjutan mengenai penerbangan lanjutan mereka. Sementara itu, tim teknis United Airlines segera berupaya memindahkan pesawat yang rusak dari landasan pacu untuk memungkinkan penyelidikan lebih lanjut dan memulihkan operasional bandara yang sempat terganggu. Proses pemindahan pesawat berukuran besar yang rusak adalah tugas yang rumit, membutuhkan peralatan khusus dan keahlian teknis.
Administrasi Penerbangan Federal Amerika Serikat (FAA), sebagai otoritas pengatur penerbangan sipil, memberikan pernyataan awal mengenai insiden ini. Mereka menyebutkan bahwa pesawat mengalami kerusakan setelah melakukan ‘pendaratan keras’ (hard landing). Istilah ‘pendaratan keras’ merujuk pada pendaratan di mana pesawat menyentuh landasan dengan gaya vertikal yang lebih besar dari standar operasional yang telah ditetapkan. Kondisi ini berpotensi menyebabkan tekanan berlebihan pada struktur pesawat, termasuk roda pendaratan, badan pesawat, dan sayap, yang dapat mengakibatkan kerusakan internal yang tidak terlihat secara langsung. Pilot dilatih secara ekstensif untuk melakukan pendaratan yang mulus dalam berbagai kondisi, namun faktor-faktor seperti cuaca ekstrem, angin kencang, atau masalah teknis mendadak dapat mempersulit proses tersebut.
Dampak langsung dari insiden ini adalah penghentian sementara operasional penerbangan di Bandara Internasional Orlando. Meskipun pembatasan tersebut tidak berlangsung lama, Otoritas Penerbangan Greater Orlando (Greater Orlando Aviation Authority) yang mengelola bandara tersebut mengonfirmasi adanya keterlambatan penerbangan yang signifikan. Penundaan ini terjadi saat proses pemindahan pesawat yang rusak dari landasan pacu sedang berlangsung, memengaruhi jadwal ratusan penerbangan dan ribuan penumpang yang terhubung melalui salah satu bandara tersibuk di Florida tersebut. Keterlambatan semacam ini tidak hanya menyebabkan ketidaknyamanan bagi penumpang tetapi juga menimbulkan kerugian ekonomi yang substansial bagi maskapai dan industri pariwisata.
FAA menegaskan komitmennya untuk melakukan penyelidikan menyeluruh guna mengetahui penyebab pasti kejadian ini. Penyelidikan semacam ini biasanya melibatkan analisis data ekstensif dari perekam data penerbangan (flight data recorder – FDR) dan perekam suara kokpit (cockpit voice recorder – CVR), yang sering disebut sebagai "kotak hitam". Selain itu, pemeriksaan menyeluruh terhadap puing-puing pesawat, wawancara dengan pilot, awak pesawat, dan petugas pengatur lalu lintas udara, serta analisis kondisi cuaca, prosedur operasional, dan riwayat pemeliharaan pesawat akan dilakukan. Hasil penyelidikan ini sangat penting untuk mengidentifikasi akar masalah, menetapkan rekomendasi keselamatan yang spesifik, dan mencegah terulangnya insiden serupa di masa mendatang, sehingga berkontribusi pada peningkatan keselamatan penerbangan global.
Insiden di Orlando ini menambah daftar gangguan pendaratan pesawat yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir, menggarisbawahi tantangan dan kompleksitas dalam operasional penerbangan modern. Hanya beberapa hari sebelumnya, tepatnya pada 6 Januari 2024, sebuah insiden serupa namun dengan karakteristik berbeda juga terjadi di Amerika Serikat, yang semakin menambah kekhawatiran di kalangan pengamat industri dan penumpang.
Kali ini, sebuah pesawat Boeing 767 yang dioperasikan oleh maskapai nasional Peru, Latam, mengalami pecah ban saat mendarat di Bandara Internasional Hartsfield-Jackson Atlanta (ATL). Pesawat ini, seperti insiden di Orlando, berhasil mendarat tanpa laporan cedera serius pada penumpang atau awak, meskipun potensi bahaya yang ditimbulkan oleh kegagalan ban saat pendaratan sangat signifikan.
Detail insiden Latam mengungkapkan bahwa seluruh roda pendaratan belakang pesawat dilaporkan mengalami kerusakan parah. Dari total sepuluh ban yang terpasang pada roda pendaratan belakang, delapan di antaranya diyakini pecah atau meleleh akibat gesekan berlebihan atau tekanan yang tidak normal saat pendaratan. Kondisi ini bisa disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk pendaratan yang terlalu keras, masalah pada sistem pengereman yang menyebabkan ban terkunci, cacat material pada ban itu sendiri, atau bahkan benda asing di landasan pacu. Kegagalan ban dalam jumlah besar seperti ini dapat menyebabkan pesawat meluncur tak terkendali, merusak sistem hidrolik atau kabel kontrol, dan bahkan memicu kebakaran akibat panas berlebih.
Bandara Hartsfield-Jackson Atlanta dikenal sebagai salah satu bandara tersibuk di dunia, menangani jutaan penumpang dan ribuan penerbangan setiap tahun. Insiden pecah ban pesawat Latam ini, meskipun tidak menyebabkan penutupan total landasan pacu untuk waktu yang lama, tetap memicu gangguan operasional dan penundaan di bandara yang vital tersebut. Tim darurat dan teknisi bekerja cepat untuk memindahkan pesawat dari landasan pacu dan membersihkan puing-puing ban yang berserakan, meminimalkan dampak terhadap jadwal penerbangan yang padat dan memastikan keamanan operasional.
Kedua insiden ini, meskipun berbeda dalam detail teknisnya, secara kolektif menyoroti pentingnya standar keselamatan penerbangan yang ketat dan proses pemeliharaan yang cermat. Industri penerbangan global telah mencapai tingkat keselamatan yang luar biasa dalam beberapa dekade terakhir, dengan insiden fatal yang menjadi sangat langka berkat inovasi teknologi, regulasi ketat, dan budaya keselamatan yang mendalam. Namun, setiap kejadian, sekecil apa pun, tetap menjadi pembelajaran berharga untuk terus meningkatkan prosedur, teknologi, dan pelatihan bagi seluruh personel penerbangan.
Otoritas seperti FAA di Amerika Serikat, bersama dengan badan investigasi independen seperti National Transportation Safety Board (NTSB) yang seringkali turut membantu dalam kasus-kasus serius, memainkan peran krusial dalam memastikan keselamatan penerbangan. Mereka tidak hanya menyelidiki insiden secara mendalam, tetapi juga menetapkan regulasi, mengawasi kepatuhan maskapai terhadap standar keselamatan, dan mengeluarkan rekomendasi keselamatan yang berdampak global. Sistem pemeliharaan pesawat, yang melibatkan pemeriksaan rutin, perawatan terjadwal, dan penggantian komponen berdasarkan jam terbang atau siklus, adalah garis pertahanan pertama terhadap kegagalan mekanis.
Kejadian-kejadian seperti ini, yang terekam dan tersebar luas di media sosial, juga dapat memengaruhi persepsi publik terhadap keamanan perjalanan udara. Oleh karena itu, transparansi dalam penyelidikan dan komunikasi yang jelas dari maskapai serta otoritas sangat penting untuk menjaga kepercayaan publik terhadap integritas dan keandalan sistem penerbangan. Membangun kembali dan mempertahankan kepercayaan ini adalah aspek krusial dalam menjaga vitalitas industri penerbangan.
Dengan penyelidikan yang masih berlangsung untuk kedua insiden ini, fokus utama adalah mengidentifikasi akar masalah dan menerapkan langkah-langkah perbaikan yang diperlukan. Baik United Airlines maupun Latam, serta seluruh ekosistem penerbangan, diharapkan dapat mengambil pelajaran berharga dari setiap peristiwa ini untuk terus memperkuat komitmen terhadap keselamatan dan efisiensi operasional, memastikan bahwa setiap penerbangan tetap menjadi pengalaman yang aman bagi jutaan orang di seluruh dunia. Upaya berkelanjutan dalam riset dan pengembangan, pelatihan pilot, serta inovasi dalam material dan desain pesawat akan terus menjadi pilar utama dalam menjaga rekor keselamatan penerbangan yang impresif.




