Kawasan Kalibata di Jakarta Selatan, yang kini identik dengan kompleks apartemen bertingkat tinggi, menyimpan sebuah narasi sejarah yang kaya dan penting dalam geliat industri Indonesia. Sebelum menjadi lanskap hunian vertikal yang modern, wilayah ini pernah menjadi denyut nadi produksi sepatu, khususnya merek Bata yang legendaris, memainkan peran krusial dalam memenuhi kebutuhan alas kaki masyarakat dan militer Hindia Belanda. Transformasi Kalibata mencerminkan dinamika urbanisasi Jakarta, dari pusat manufaktur menjadi ikon perumahan padat yang terus beradaptasi dengan tuntutan zaman.
sulutnetwork.com – Jejak sejarah sebuah kota seringkali tersembunyi di balik bangunan-bangunan baru dan keramaian aktivitas modern. Mengungkap lapisan-lapisan masa lalu ini adalah upaya yang dilakukan oleh komunitas seperti Walking Tour ‘Step Into Jakarta’, yang baru-baru ini mengajak tim detikTravel menjelajahi rute Rawajati. Perjalanan ini bukan sekadar aktivitas fisik, melainkan sebuah ekspedisi intelektual yang menyingkap kisah transformasi Kalibata, dari area industri yang luas menjadi salah satu kompleks hunian terbesar di ibu kota, menyoroti peran pentingnya dalam evolusi ekonomi dan sosial Jakarta.
Kalibata: Jendela ke Masa Lalu Industri Sepatu
Dipandu oleh Endang Teguh Pramono, yang akrab disapa Pampam, rombongan ‘Step Into Jakarta’ dan detikTravel diajak menelusuri sejarah kawasan Kalibata. Nama Rawajati sendiri, yang kemungkinan besar berasal dari "rawa jati" atau "hutan jati", mengindikasikan bahwa wilayah ini dulunya mungkin merupakan area hijau atau rawa yang ditumbuhi pepohonan jati, sebelum diubah menjadi pusat industri dan kemudian permukiman modern. Penelusuran ini membuka wawasan tentang bagaimana Kalibata, sebuah wilayah yang strategis dekat dengan pusat kota Batavia, menjadi lokasi ideal bagi pabrik berskala besar yang membutuhkan akses logistik dan tenaga kerja.
Kebangkitan Industri Sepatu Bata di Hindia Belanda
Sejarah kawasan ini sebagai pusat industri sepatu Bata bermula jauh sebelum gedung-gedung apartemen menjulang. Endang Teguh Pramono menjelaskan bahwa masuknya merek sepatu Bata ke Hindia Belanda dipicu oleh lonjakan permintaan alas kaki yang signifikan. Pada tahun 1928, produksi Bata tercatat hanya sekitar 5.000 pasang, namun hanya dalam empat tahun, angka itu melonjak drastis hingga mencapai 390.000 pasang pada tahun 1932. Peningkatan eksponensial ini menunjukkan betapa cepatnya pasar merespons inovasi dan ketersediaan produk Bata.
Permintaan yang tinggi tersebut tidak terlepas dari kebutuhan militer yang mendesak. Pada masa itu, para prajurit sering mengalami luka lecet yang parah akibat mengenakan alas kaki kulit yang kaku dan kurang ergonomis, terutama dalam iklim tropis yang lembap. Thomas Anna dan Antonin Bata, dua visioner dari Cekoslowakia, melihat celah pasar ini. Mereka memperkenalkan sepatu dengan sol karet lembut yang dirancang khusus untuk mencegah lecet, memberikan bantalan, dan kenyamanan saat melakukan aktivitas fisik berat. Inovasi ini menjadi game changer dalam industri alas kaki, tidak hanya untuk militer tetapi juga untuk masyarakat umum yang mencari alas kaki yang lebih nyaman dan terjangkau.
Ekspansi Bata di Nusantara
Perjalanan Bata di Indonesia dimulai pada tahun 1931 dengan pembukaan toko dan gerai distributor di Tanjung Priok, sebuah pelabuhan penting yang menjadi gerbang utama perdagangan di Batavia. Langkah strategis ini membuka jalan bagi ekspansi lebih lanjut ke pusat-pusat kota besar lainnya seperti Batavia (sekarang Kota Tua), Bandung, Surabaya, dan berbagai kota di seluruh nusantara. Kehadiran toko-toko Bata di berbagai lokasi ini menandai dimulainya dominasi merek tersebut dalam pasar alas kaki lokal.
Menanggapi permintaan yang terus meningkat dan strategi ekspansi yang agresif, Bata akhirnya memutuskan untuk mendirikan pabrik berskala besar di Batavia. Pada tahun 1937, lahan seluas puluhan hektar di kawasan Kalibata dibeli. Pemilihan lokasi ini sangat strategis, mempertimbangkan akses ke bahan baku, tenaga kerja, serta jalur distribusi. Setahun kemudian, pada tahun 1938, pabrik di Kalibata mulai beroperasi penuh, memproduksi dua jenis alas kaki utama: sepatu berbahan kulit (Leather) dan sepatu beralas karet (Rubber).
Keberhasilan produksi di Kalibata terbukti dengan angka yang mengesankan. Endang menjelaskan bahwa pada tahun 1941, pabrik ini tercatat memproduksi 2,1 juta pasang sepatu beralas karet dan 406 ribu pasang sepatu beralas kulit. Angka ini mencerminkan kapasitas produksi yang luar biasa pada masanya, menjadikan Bata sebagai salah satu pemain industri terkemuka di Hindia Belanda. Pabrik ini tidak hanya memenuhi kebutuhan lokal tetapi juga berkontribusi pada ekonomi kolonial, menciptakan ribuan lapangan kerja dan mendorong pertumbuhan infrastruktur di sekitarnya.
Dinamika Nama dan Perusahaan
Seiring dengan perubahan zaman dan kondisi politik, nama perusahaan Bata di Indonesia juga mengalami beberapa kali pergantian. Mengutip CNBC Indonesia (2023), pada masa penjajahan Belanda, perusahaan ini dikenal dengan nama Naamloze Vennootschap Nederlandsch-Indische Schoenhandel Maatschappij Bata. Naamloze Vennootschap (NV) adalah bentuk badan hukum perseroan terbatas pada era kolonial, yang menunjukkan status resmi perusahaan di mata hukum Belanda.
Setelah kemerdekaan Indonesia, perusahaan ini sempat dikenal sebagai Maskapai Sun, sebuah nama yang mungkin merefleksikan upaya adaptasi terhadap identitas nasional yang baru. Kemudian, pada tahun 1962, namanya kembali berubah menjadi Bata Shoe Company Limited. Perubahan nama ini menunjukkan evolusi perusahaan dalam beradaptasi dengan regulasi dan identitas bisnis di Indonesia yang merdeka. Pada dekade 1990-an, Bata telah berkembang pesat dan memiliki tiga pabrik utama yang strategis di Indonesia, yaitu di Kalibata, Surabaya, dan Medan, menegaskan posisinya sebagai raksasa industri sepatu di tanah air.
Roda Zaman Berputar: Penutupan Pabrik dan Transformasi Kawasan
Namun, roda zaman terus berputar, membawa perubahan yang tak terhindarkan. Seiring dengan pertumbuhan pesat Jakarta sebagai kota metropolitan, ketersediaan lahan menjadi semakin terbatas dan harganya melambung tinggi. Kawasan-kawasan industri yang dulunya berada di pinggiran kota perlahan terdesak oleh kebutuhan permukiman dan komersial.
Berdasarkan catatan detikFinance (24/4/2008), PT Sepatu Bata Tbk (BATA) akhirnya secara resmi menutup pabrik dan gerai penjualannya di Kalibata pada tahun 2008. Keputusan ini menandai berakhirnya era panjang Kalibata sebagai pusat produksi sepatu Bata yang legendaris. Penutupan pabrik bersejarah ini bukan hanya karena alasan geografis semata, tetapi juga bagian dari strategi konsolidasi dan efisiensi perusahaan.
Perseroan memutuskan untuk menjual tanah dan asetnya di Kalibata kepada PT Pradani Sukses Abadi (PTPSA). Seluruh kegiatan produksi yang memiliki kapasitas fantastis, yakni 10 juta pasang sepatu per tahun di Kalibata, kemudian dikonsolidasikan dan dipindahkan ke pabrik raksasa mereka yang lebih modern dan luas di Purwakarta, Jawa Barat. Langkah ini memungkinkan Bata untuk mengoptimalkan operasional produksi dan mengurangi biaya operasional yang terus meningkat di Jakarta.
Area Kalibata yang dulunya merupakan kompleks pabrik horizontal dengan bangunan-bangunan luas dan fasilitas produksi, kemudian dibersihkan dan diubah total menjadi bangunan hunian vertikal. Transformasi ini menjadi simbol dari perubahan lanskap perkotaan Jakarta yang bergerak dari era industri ke era jasa dan permukiman padat.
Dari Rusunami Menuju Kalibata City
Endang Teguh Pramono mengenang bahwa pada awalnya, area ini direncanakan akan menjadi Rumah Susun Sederhana Milik (Rusunami) pada tahun 2009. Konsep Rusunami ini diusung oleh pemerintah dengan tujuan mulia, yaitu menyediakan hunian terjangkau bagi pegawai negeri sipil (ASN) agar mereka tidak perlu tinggal terlalu jauh di daerah penyangga seperti Depok dan mengurangi beban komuter ibu kota. Ini adalah bagian dari upaya pemerintah untuk mengatasi krisis perumahan dan kepadatan lalu lintas di Jakarta.
Namun, dalam perjalanannya, pengelolaan kawasan ini beralih ke sektor swasta. Perpindahan kepemilikan dan pengelolaan ini memicu transformasi yang lebih besar, mengubah visi awal Rusunami menjadi kompleks apartemen bertingkat tinggi yang luas, yang kini dikenal dengan nama Kalibata City. Pengembangan oleh pihak swasta ini membawa serta konsep hunian vertikal modern dengan berbagai fasilitas, yang ditujukan untuk pasar yang lebih luas, tidak hanya ASN.
Kalibata City kini berdiri sebagai salah satu kompleks apartemen terbesar di Asia Tenggara, menampung puluhan ribu penghuni dalam puluhan menara. Setiap menara dan unit hunian memiliki tingkatan akses yang berbeda-beda, di mana penghuni dengan akses "emas" dapat menikmati fasilitas eksklusif, termasuk kolam renang yang luas, pusat kebugaran, dan area komersial terpadu. Kompleks ini dirancang sebagai kota mandiri di dalam kota, dengan segala kebutuhan sehari-hari yang dapat diakses di dalam area apartemen.
Namun, di balik kemegahan dan fasilitasnya, luasnya kompleks perumahan ini juga mengungkap aspek yang mengkhawatirkan dari dinamika kota besar. Pantauan detikTravel menunjukkan adanya prasasti Nota Kesepahaman tentang Pencegahan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika dan Prekursor Narkotika di area tersebut. Hal ini mengindikasikan bahwa Kalibata City, seperti banyak permukiman padat lainnya di kota besar, tidak lepas dari tantangan sosial. Beberapa pihak masih menyebut kawasan ini sering menjadi sorotan Badan Narkotika Nasional (BNN) karena masalah peredaran narkoba ilegal dan aktivitas prostitusi terselubung yang terus berlanjut. Isu-isu ini menjadi cerminan kompleksitas kehidupan urban dan tantangan dalam mengelola komunitas sebesar Kalibata City.
Bangunan-bangunan ini, yang ditandai dengan dinding dan pintunya yang ramping, menjadi saksi bisu atas transformasi dan identitas Jakarta yang terus berkembang. Dari pabrik sepatu yang menggerakkan roda ekonomi dan memenuhi kebutuhan dasar, menjadi kompleks hunian vertikal yang mencoba menjawab tantangan kepadatan penduduk dan gaya hidup modern, Kalibata adalah miniatur dari sejarah dan masa depan Jakarta yang tak henti bergerak dan berubah. Kawasan ini bukan hanya sekadar deretan gedung, melainkan sebuah living museum yang merekam jejak sejarah, inovasi, dan kompleksitas kehidupan sebuah ibu kota.
