Solo – Peringatan Tingalan Jumenengan KGPAA Mangkunegara X yang ke-4 di Pura Mangkunegaran, Solo, pada Selasa, 27 Januari 2026, menjadi sorotan utama dalam dinamika kebudayaan Jawa. Acara sakral yang menandai empat tahun kepemimpinan Gusti Bhre Cakrahutomo Wira Sudjiwo sebagai Adipati Mangkunegaran tersebut dihadiri oleh berbagai tokoh penting, termasuk Pangeran Paku Buwono (PB) XIV Mangkubumi dari Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Kehadiran PB XIV Mangkubumi tidak hanya menambah semarak, tetapi juga menjadi simbol eratnya hubungan antarkeraton, menegaskan kembali ikatan kekerabatan dan persatuan trah Mataram di tengah kemajuan zaman. Interaksi hangat antara PB XIV Mangkubumi dan Mangkunegara X, serta para tamu kehormatan lainnya, menandai sebuah momentum penting bagi pelestarian adat dan kebudayaan Jawa.

sulutnetwork.com – Suasana khidmat dan penuh kebanggaan menyelimuti Pura Mangkunegaran saat perayaan Tingalan Jumenengan KGPAA Mangkunegara X digelar. Jumenengan, atau peringatan kenaikan takhta, merupakan salah satu tradisi paling penting dalam lingkaran keraton Jawa, yang tidak hanya merayakan kepemimpinan seorang adipati atau raja, tetapi juga menjadi penanda kesinambungan tradisi, adat, dan identitas budaya. Tahun ini, Mangkunegara X merayakan empat tahun kepemimpinannya, sebuah periode yang telah diwarnai oleh berbagai inisiatif pelestarian budaya, revitalisasi Pura Mangkunegaran, dan upaya adaptasi terhadap tantangan modernitas.

Pangeran Paku Buwono XIV Mangkubumi, salah satu tokoh sentral dari Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, hadir sebagai tamu kehormatan dalam acara tersebut. Kehadiran beliau menjadi perhatian khusus, mengingat posisi dan perannya dalam salah satu keraton tertua di Jawa. Dalam balutan busana adat Jawa yang elegan, berupa beskap berwarna biru dongker yang dipadukan dengan jarik bermotif parang, PB XIV Mangkubumi tampak berwibawa dan penuh karisma. Pakaian adat ini, dengan segala filosofi dan simbolismenya, tidak hanya menunjukkan penghormatan terhadap tradisi, tetapi juga memancarkan identitas luhur kebangsawanan Jawa. Beskap melambangkan sikap sopan dan tertutup, sementara motif parang pada jarik sering diartikan sebagai lambang keberanian, kekuatan, dan kesinambungan perjuangan.

PB XIV Mangkubumi menempati barisan VIP yang berada di Paringgitan, sebuah area khusus di Pura Mangkunegaran yang diperuntukkan bagi tamu-tamu istimewa. Di sana, beliau duduk berdampingan dengan Wakil Presiden Republik Indonesia, Gibran Rakabuming Raka, serta KGPAA Paku Alam X dari Kadipaten Pakualaman, Yogyakarta, dan para tamu undangan penting lainnya. Kehadiran Gibran Rakabuming Raka, yang juga merupakan putra daerah Solo, menegaskan dukungan pemerintah terhadap pelestarian kebudayaan dan tradisi keraton sebagai bagian integral dari identitas bangsa. Sementara itu, kehadiran KGPAA Paku Alam X menggarisbawahi persatuan dan solidaritas di antara empat pilar keraton Mataram – Kasunanan Surakarta, Kasultanan Yogyakarta, Kadipaten Mangkunegaran, dan Kadipaten Pakualaman.

Selama acara berlangsung, PB XIV Mangkubumi terlihat aktif berinteraksi dan berbincang akrab dengan para tamu VIP lainnya. Gestur tubuh yang terbuka, senyum ramah, serta percakapan yang hangat menunjukkan suasana kebersamaan dan kekerabatan yang kuat di antara para pemimpin dan tokoh budaya. Pertemuan ini bukan hanya sekadar formalitas, melainkan sebuah kesempatan untuk mempererat tali silaturahmi, bertukar pandangan, dan bersama-sama merumuskan langkah-langkah strategis dalam menjaga warisan budaya Jawa agar tetap relevan dan lestari di tengah arus globalisasi. Keakraban yang terjalin antara para pemimpin ini menjadi cerminan dari semangat kebersamaan yang senantiasa diupayakan oleh keraton-keraton Jawa.

Setelah seluruh rangkaian upacara Jumenengan usai, PB XIV Mangkubumi menunjukkan kerendahan hati dan keramahannya dengan melayani satu per satu tamu yang ingin mengabadikan momen bersama melalui foto. Antusiasme para tamu untuk berfoto dengannya menunjukkan betapa dihormati dan disegani sosok beliau. Tak ketinggalan, ia juga menyempatkan diri untuk berfoto bersama Mangkunegara X, sang empu hajat. Dalam momen tersebut, keduanya terlihat sangat akrab, saling melempar senyum dan berbincang ringan, menciptakan suasana yang cair dan bersahaja. Potret keakraban ini menjadi bukti nyata bahwa perbedaan posisi dan struktur kepemimpinan tidak menghalangi terjalinnya hubungan persaudaraan yang erat, yang berakar pada kesamaan trah dan komitmen terhadap kebudayaan Jawa.

Dalam kesempatan tersebut, PB XIV Mangkubumi secara langsung menyampaikan ucapan selamat atas Tingalan Jumenengan ke-4 Mangkunegara X. Beliau berharap agar Mangkunegaran senantiasa rukun dan harmonis di bawah kepemimpinan Adipati muda tersebut. "Selamat atas peringatan naik takhta KGPAA Mangkunegara X, semoga selalu selamat dan sejahtera. Semoga seluruh keluarga besar Mangkunegaran senantiasa lestantun," katanya saat ditemui di Pura Mangkunegaran. Kata "lestantun" dalam bahasa Jawa memiliki makna yang mendalam, tidak hanya berarti lestari atau abadi, tetapi juga mengandung harapan akan kesinambungan, keberlanjutan tradisi, serta terjaganya nilai-nilai luhur dari generasi ke generasi. Harapan ini mencerminkan kepedulian PB XIV Mangkubumi terhadap kelangsungan adat dan budaya yang dipegang teguh oleh Mangkunegaran.

Beliau menambahkan bahwa kehadirannya dalam acara Tingalan Jumenengan Mangkunegaran bukanlah yang pertama kali. Menurutnya, undangan untuk acara tersebut diberikan secara personal kepada masing-masing nama, menegaskan bahwa kehadirannya adalah bentuk penghormatan pribadi dan bukan sebagai perwakilan atau pendamping semata. "Bukan yang pertama, dan bukan dalam rangka mendampingi karena semua dapat undangan masing-masing. Kalau beliau (Paku Buwono XIII) hadir ya mendampingi, kalau tidak hadir ya datang sesuai undangan masing-masing," terangnya. Pernyataan ini memberikan klarifikasi mengenai protokol dan etika undangan di lingkungan keraton, di mana setiap tokoh memiliki undangan personal sesuai dengan kapasitas dan kedudukannya. Ini juga menunjukkan bahwa interaksi antar keraton didasari oleh hubungan personal yang kuat, di samping ikatan institusional.

Terpisah, Pengageng Parentah Paku Buwono XIV, KGPA Panembahan Dipokusumo, turut menyampaikan rasa hormat dan terima kasih atas undangan yang diberikan oleh Mangkunegara X. Beliau juga mengungkapkan harapannya agar Pura Mangkunegaran di bawah kepemimpinan Mangkunegara X dapat mewujudkan segala harapan seluruh kerabat dan masyarakat yang bernaung di bawah payung Mangkunegaran. "Kami kerabat Keraton Surakarta merasa terhormat mendapat undangan dari Kanjeng Gusti Adipati Mangkunegara. Jumenengan Dalem yang ke-4 ini, semoga apa yang menjadi harapan semua kerabat Mangkunegaran bisa terwujud," ucapnya. Harapan ini mencakup berbagai aspek, mulai dari pelestarian seni dan budaya, pengembangan pariwisata berbasis tradisi, hingga peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitar keraton.

Dipokusumo juga menjelaskan alasan ketidakhadiran Paku Buwono XIV Purbaya dalam acara tersebut. Menurutnya, Paku Buwono XIV Purbaya tidak dapat hadir karena sedang berada di Jakarta untuk suatu agenda yang tidak dirinci secara detail. Selain itu, beliau juga menyebutkan adanya pembagian tugas di antara kerabat keraton, di mana sebagian lainnya sedang melaksanakan ritual "nyadran" ke Imogiri. "Saya di sini undangan pribadi, beliau (Paku Buwono XIV Purbaya) ke Jakarta. Agendanya beragam. Hari ini juga ada sebagian yang berangkat nyadran ke Imogiri, jadi ada pembagian tugas. Agenda sadranan ini berlangsung sampai akhir bulan," pungkasnya.

Penjelasan mengenai "nyadran" ini memberikan gambaran tentang kompleksitas agenda dan tradisi di lingkungan keraton. Sadranan adalah ritual ziarah kubur massal ke makam leluhur, sebuah tradisi Jawa yang bertujuan untuk menghormati arwah para pendahulu dan memohon berkah. Bagi keluarga keraton, sadranan ke makam raja-raja Mataram di Imogiri adalah sebuah kewajiban spiritual dan budaya yang sangat penting, menunjukkan ketaatan pada leluhur dan menjaga kesinambungan spiritualitas Jawa. Adanya pembagian tugas ini menunjukkan adanya koordinasi internal yang baik dalam Keraton Kasunanan Surakarta untuk memastikan semua agenda kebudayaan dan spiritual dapat terlaksana dengan baik.

Hubungan antara Keraton Kasunanan Surakarta dan Kadipaten Mangkunegaran memiliki akar sejarah yang panjang dan berliku. Meskipun keduanya merupakan pecahan dari Kesultanan Mataram, dengan periode konflik dan persaingan di masa lalu, namun pada akhirnya terikat oleh jalinan kekerabatan dan komitmen bersama terhadap kebudayaan Jawa. Acara seperti Tingalan Jumenengan ini menjadi ajang penting untuk memperbarui dan memperkuat hubungan tersebut, menunjukkan kepada publik bahwa persatuan dan harmoni adalah nilai yang dijunjung tinggi. Kehadiran perwakilan dari Kasunanan Surakarta di Mangkunegaran adalah manifestasi dari semangat rekonsiliasi dan kolaborasi budaya yang telah terbangun selama bertahun-tahun.

Di era modern, peran keraton-keraton Jawa telah bergeser dari pusat kekuasaan politik menjadi pusat pelestarian budaya, adat, dan seni tradisional. Mereka bertindak sebagai penjaga warisan leluhur yang tak ternilai harganya, serta sebagai magnet pariwisata yang menarik minat wisatawan domestik maupun mancanegara. Kepemimpinan Mangkunegara X, yang relatif muda, telah membawa angin segar bagi Pura Mangkunegaran, dengan berbagai inovasi dalam pengelolaan aset budaya, penyelenggaraan acara seni, dan peningkatan keterlibatan masyarakat. Harapan KGPA Panembahan Dipokusumo agar semua harapan kerabat Mangkunegaran terwujud, tampaknya sejalan dengan visi Mangkunegara X untuk menjadikan Pura Mangkunegaran sebagai pusat kebudayaan yang dinamis dan inklusif.

Secara keseluruhan, kehadiran PB XIV Mangkubumi di Tingalan Jumenengan KGPAA Mangkunegara X adalah lebih dari sekadar partisipasi formal. Ini adalah pernyataan simbolis tentang persatuan, kekerabatan, dan komitmen bersama untuk melestarikan kebudayaan Jawa. Di tengah tantangan modernisasi, sinergi antara keraton-keraton Jawa menjadi kunci untuk menjaga agar tradisi dan nilai-nilai luhur tetap hidup dan relevan bagi generasi mendatang. Momen keakraban antara para pemimpin ini tidak hanya membangkitkan semangat kebanggaan akan identitas Jawa, tetapi juga memberikan optimisme akan masa depan kebudayaan yang tetap lestari dan berkembang di bumi Nusantara.