Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai di Bali mengalami gangguan signifikan pada operasional penerbangan internasionalnya setelah lima jadwal keberangkatan dibatalkan, mempengaruhi total 1.631 calon penumpang. Pembatalan ini merupakan dampak langsung dari penutupan ruang udara di sejumlah negara di kawasan Timur Tengah yang dipicu oleh eskalasi konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Maskapai penerbangan terpaksa menyesuaikan atau menangguhkan jadwal penerbangan mereka dari Bali, mengganggu ribuan rencana perjalanan dan menimbulkan ketidakpastian bagi wisatawan.
sulutnetwork.com – Kepala Divisi Komunikasi dan Hukum Bandara I Gusti Ngurah Rai, Gede Eka Sandi, mengonfirmasi situasi ini, menyatakan bahwa data yang diterima menunjukkan adanya lima pembatalan penerbangan keberangkatan yang berdampak pada lebih dari seribu penumpang. "Untuk saat ini kami ada lima penerbangan keberangkatan yang dibatalkan, sesuai dengan data kami terima kurang lebih ada 1.631 penumpang," kata Eka Sandi, sebagaimana dikutip dari Antara, Minggu (1/3/2026). Jumlah penumpang internasional yang terdampak ini merupakan akumulasi sejak hari Sabtu (28/2/2026) hingga Minggu dini hari (1/3/2026), melibatkan maskapai-maskapai besar yang melayani rute ke Timur Tengah seperti Emirates, Qatar Airways, dan Etihad Airways. Insiden ini menyoroti kerentanan konektivitas udara global terhadap gejolak geopolitik, terutama di koridor penerbangan penting yang menghubungkan Asia dengan Eropa dan Afrika.
Konflik di Timur Tengah, yang telah bergejolak selama beberapa waktu, mencapai titik didih baru yang memicu kekhawatiran global. Ketegangan antara Iran dan Israel, dengan intervensi atau dukungan dari Amerika Serikat, telah menciptakan lingkungan yang tidak aman bagi penerbangan sipil. Penutupan ruang udara di negara-negara seperti Iran, Israel, Irak, Yordania, Qatar, Bahrain, Kuwait, Uni Emirat Arab, dan sebagian Suriah, adalah langkah preventif yang diambil oleh otoritas penerbangan untuk menjamin keselamatan penumpang dan awak pesawat. Langkah ini didasarkan pada Notice to Airmen (NOTAM) yang dikeluarkan oleh negara-negara tersebut, memperingatkan potensi bahaya penerbangan di wilayah udara mereka. Keputusan ini, meskipun penting untuk keselamatan, secara otomatis mengganggu rute penerbangan yang melintasi koridor tersebut, memaksa maskapai untuk mencari rute alternatif yang lebih panjang dan mahal, atau dalam kasus ini, membatalkan penerbangan sama sekali.
Bandara I Gusti Ngurah Rai, sebagai salah satu pintu gerbang utama Indonesia bagi wisatawan internasional, secara langsung merasakan imbas dari situasi ini. Rute-rute yang dibatalkan merupakan jalur vital yang menghubungkan Bali dengan kota-kota besar di Timur Tengah, yang seringkali berfungsi sebagai hub transit bagi penumpang yang menuju destinasi lebih lanjut di Eropa, Afrika, dan Amerika. Penerbangan yang terdampak meliputi:
- Maskapai Etihad EY477 STD, yang seharusnya terbang pada pukul 18.45 Wita Sabtu (28/2/2026) dengan rute Denpasar (DPS) menuju Abu Dhabi (AUH).
- Maskapai Emirates EK369 STD, yang dijadwalkan terbang pukul 19.45 Wita Sabtu (28/2/2026) dengan rute Denpasar (DPS) menuju Dubai (DXB).
- Maskapai Qatar Airways QR963 STD, yang seharusnya berangkat pukul 18.50 Wita Sabtu (28/2/2026) dengan rute Denpasar (DPS) menuju Doha (DOH).
- Maskapai Emirates EK399 STD, yang dijadwalkan terbang pukul 00.25 Wita Minggu dini hari (1/3/2026) dengan rute Denpasar (DPS) menuju Dubai (DXB).
- Maskapai Qatar Airways QR961 STD, yang seharusnya berangkat pukul 00.30 Wita Minggu dini hari (1/3/2026) dengan rute Denpasar (DPS) menuju Doha (DOH).
Menariknya, pesawat-pesawat dari maskapai Emirates, Qatar Airways, dan Etihad yang seharusnya sudah terbang, masih terlihat terparkir di apron Bandara I Gusti Ngurah Rai. Kondisi ini tidak hanya menunjukkan pembatalan, tetapi juga mengindikasikan bahwa maskapai belum dapat melanjutkan operasional penerbangan mereka karena situasi ruang udara yang belum kondusif. Hal ini menimbulkan tantangan logistik yang kompleks bagi maskapai, termasuk penjadwalan ulang awak, pemeliharaan pesawat, dan penanganan penumpang yang sudah berada di bandara.
Manajemen Bandara I Gusti Ngurah Rai bersama dengan pihak maskapai telah berkoordinasi secara intensif untuk menangani para penumpang yang terdampak. Eka Sandi memastikan bahwa sebagian penumpang, khususnya mereka yang telah tiba dan menunggu di bandara sejak Sabtu, telah ditempatkan di hotel oleh maskapai masing-masing. Langkah ini merupakan bagian dari tanggung jawab maskapai untuk memberikan kompensasi dan akomodasi kepada penumpang yang perjalanannya terganggu secara signifikan. Sementara itu, sebagian penumpang lainnya dilaporkan belum tiba di bandara karena telah mengetahui situasi konflik di Timur Tengah melalui komunikasi intensif dengan maskapai. Mereka diberikan informasi awal agar tidak perlu datang ke bandara dan dapat merencanakan langkah selanjutnya dari lokasi mereka.
Untuk memastikan pelayanan yang optimal bagi seluruh penumpang terdampak, pihak bandara dan maskapai telah mendirikan help desk. "Kami bekerja sama dengan pihak maskapai untuk memastikan kembali para penumpang yang terdampak itu ada yang dihotelkan dan juga kami dari pihak bandara menyiapkan help desk untuk membantu maskapai memberikan pelayanan kepada penumpang agar saat penumpang mengajukan pengembalian dana, mengubah rute, dan mengubah jadwal itu merasa terlayani dengan baik," jelas Eka Sandi. Help desk ini berfungsi sebagai pusat informasi dan bantuan, memfasilitasi proses pengembalian dana (refund), perubahan rute penerbangan, atau penjadwalan ulang bagi penumpang yang ingin menyesuaikan rencana perjalanan mereka. Komitmen ini penting untuk menjaga kepercayaan penumpang dan meminimalkan ketidaknyamanan yang mereka alami akibat situasi di luar kendali mereka.
Hingga saat laporan ini dibuat, belum ada tanda-tanda bahwa penerbangan yang dibatalkan atau disesuaikan jadwalnya akan kembali normal dalam waktu dekat. Ruang udara di beberapa negara Timur Tengah masih ditutup, dan otoritas penerbangan terus memantau situasi keamanan. Ketidakpastian ini menempatkan maskapai dalam posisi sulit untuk merencanakan operasional mereka. Meskipun demikian, pengelola Bandara I Gusti Ngurah Rai memastikan akan terus memberikan pembaruan informasi secara berkala kepada publik dan para penumpang. Ruang help desk juga akan terus dibuka dan dioperasikan hingga persoalan ini tertangani sepenuhnya dan operasional penerbangan dapat kembali normal.
Eka Sandi juga menekankan pentingnya koordinasi intensif dengan berbagai pemangku kepentingan di bandara, termasuk AirNav Indonesia sebagai penyedia layanan navigasi penerbangan, dan pihak keamanan. Koordinasi ini bertujuan untuk memastikan kelancaran operasional dan penanganan penumpang, terutama bagi mereka yang mungkin belum mendapatkan informasi terbaru. Kolaborasi lintas sektor ini krusial dalam situasi krisis untuk mengelola informasi, sumber daya, dan respons secara efektif.
Secara umum, di luar penerbangan yang melintasi negara-negara yang ruang udaranya ditutup—yakni Iran, Israel, Irak, Yordania, Qatar, Bahrain, Kuwait, Uni Emirat Arab, dan sebagian Suriah—penerbangan dari dan ke Bali dipastikan berjalan normal. Artinya, penerbangan domestik dan internasional yang tidak melewati koridor udara yang terlarang tidak mengalami dampak langsung. Hal ini memberikan sedikit kelegaan bagi operasional bandara secara keseluruhan, meskipun fokus utama tetap pada penanganan dampak pembatalan rute-rute vital ke Timur Tengah. Insiden ini menjadi pengingat nyata tentang bagaimana peristiwa geopolitik di satu wilayah dapat dengan cepat menyebar dan mempengaruhi konektivitas global serta industri pariwisata di belahan dunia lain.
