Sebuah foto promosi wisata Thailand yang menampilkan idola global Lisa BLACKPINK tengah berpose anggun di tengah danau teratai merah sontak memicu gelombang perdebatan sengit di kalangan warganet. Alih-alih mendapatkan pujian, gambar tersebut justru menuai olok-olok dan keraguan, dengan banyak pihak menuding bahwa foto tersebut merupakan hasil kecerdasan buatan (AI) atau rekayasa digital semata, bukan representasi dari realitas. Kontroversi ini memaksa Otoritas Pariwisata Thailand (TAT) untuk turun tangan dan memberikan klarifikasi resmi, menegaskan bahwa foto tersebut adalah hasil pemotretan asli yang melalui proses pascaproduksi standar untuk meningkatkan daya tarik visual.

sulutnetwork.com – Perdebatan seputar keaslian foto Lisa BLACKPINK ini bermula dari peredaran luas gambar tersebut secara daring sebagai bagian dari kampanye promosi pariwisata Thailand. Foto tersebut menampilkan Lisa dengan latar belakang Danau Teratai Merah (Talay Bua Daeng) yang ikonik di Provinsi Udon Thani. Namun, alih-alih menginspirasi kunjungan, visual yang dianggap "terlalu sempurna" itu justru memicu kecurigaan. Warganet, yang semakin akrab dengan kemampuan AI dalam menghasilkan gambar fotorealistik, segera mengemukakan keraguan mereka. Gelombang skeptisisme ini semakin memuncak di platform X (sebelumnya Twitter), di mana seorang pengguna secara eksplisit mengklaim bahwa gambar tersebut adalah produk AI. Tuduhan lain juga mencuat, menuduh foto tersebut sebagai hasil dari penggunaan CGI (Computer-Generated Imagery) konvensional dan teknik pengeditan foto yang berlebihan, sehingga menghilangkan kesan naturalitas dan keasliannya.

Menanggapi gejolak opini publik yang masif ini, Otoritas Pariwisata Thailand (TAT) bergerak cepat untuk meluruskan informasi dan membantah tudingan tersebut. Dilansir dari Bangkok Post pada Sabtu, 24 Januari 2026, TAT secara tegas menyatakan bahwa foto Lisa yang menjadi pusat perdebatan tersebut adalah gambar asli yang dihasilkan dari proses pengambilan gambar dan fotografi yang sesungguhnya. Mereka menekankan bahwa tidak ada teknologi kecerdasan buatan yang digunakan untuk menciptakan gambar tersebut dari awal. Penegasan ini bertujuan untuk meredakan kekhawatiran publik dan mengembalikan kepercayaan terhadap integritas kampanye promosi pariwisata mereka.

Dalam pernyataan resminya, TAT menguraikan secara rinci proses di balik produksi foto tersebut. Mereka menjelaskan bahwa gambar tersebut memang melalui tahap pascaproduksi, namun proses tersebut sepenuhnya dilakukan oleh tim kreatif profesional dan berpengalaman. "TAT ingin mengkonfirmasi bahwa gambar yang saat ini beredar adalah foto asli yang dihasilkan dari proses pengambilan gambar dan fotografi. Tidak ada pembuatan gambar AI yang digunakan," demikian bunyi pernyataan dari TAT. Klarifikasi ini menjadi krusial di tengah meningkatnya disinformasi dan kemampuan teknologi yang semakin canggih.

Lebih lanjut, TAT menambahkan bahwa "gambar tersebut dipoles sedikit untuk meningkatkan daya tarik visual sesuai dengan konsep kreatif kampanye." Istilah "dipoles sedikit" ini merujuk pada praktik standar dalam industri fotografi dan periklanan, yang meliputi penyesuaian warna, pencahayaan, kontras, serta mungkin sedikit sentuhan untuk menghilangkan ketidaksempurnaan atau menonjolkan elemen tertentu agar gambar terlihat lebih menawan. Teknik desain grafis standar yang digunakan dalam proses ini meliputi color grading, retouching, dan compositing yang tidak melibatkan penciptaan elemen visual dari nol menggunakan AI. Tujuannya adalah untuk menghadirkan visual yang menarik dan memikat, sekaligus tetap merepresentasikan keindahan asli dari destinasi wisata.

Aspek penting lainnya yang ditekankan oleh TAT adalah kepatuhan terhadap prosedur dan persetujuan dari manajemen artis. Mereka menegaskan bahwa "seluruh proses produksi sesuai dengan ketentuan yang disepakati dengan manajemen artis." Ini berarti bahwa setiap tahap, mulai dari konsep awal, pemotretan, hingga pascaproduksi dan finalisasi materi, telah ditinjau dan disetujui oleh tim Lisa BLACKPINK. Keterlibatan dan persetujuan manajemen artis ini menambah lapisan kredibilitas pada pernyataan TAT, menunjukkan bahwa ada transparansi dan kolaborasi yang ketat dalam proyek ini. Tujuan utama dari kampanye ini, menurut TAT, adalah untuk "menampilkan destinasi wisata Thailand sebaik mungkin" dan menarik perhatian wisatawan global melalui daya tarik seorang ikon seperti Lisa.

Kontroversi ini tidak hanya menyoroti keaslian sebuah foto, tetapi juga memicu diskusi lebih luas tentang kepercayaan publik terhadap materi promosi di era digital. Dengan semakin canggihnya alat AI dan perangkat lunak pengeditan, batas antara kenyataan dan rekayasa menjadi semakin kabur. Warganet menjadi lebih kritis dan skeptis terhadap gambar-gambar yang tampak "terlalu sempurna," mencurigai adanya campur tangan teknologi yang tidak diungkapkan. Insiden ini menjadi studi kasus penting bagi industri pemasaran dan periklanan tentang pentingnya transparansi dan etika dalam penggunaan teknologi digital.

Danau Teratai Merah atau Talay Bua Daeng, yang menjadi latar belakang foto Lisa, adalah salah satu permata tersembunyi Thailand yang terletak di Distrik Kumphawapi, Udon Thani, di timur laut Thailand. Danau ini dikenal dengan pemandangan menakjubkan jutaan bunga teratai merah muda yang mekar dari bulan Desember hingga Februari, menciptakan permadani bunga yang indah di atas permukaan air. Destinasi ini menawarkan pengalaman unik bagi wisatawan, terutama saat matahari terbit, dengan perahu-perahu kecil yang membawa pengunjung untuk menikmati keindahan alam secara langsung. Memilih lokasi seperti Talay Bua Daeng untuk kampanye Lisa menunjukkan upaya TAT untuk mempromosikan destinasi regional yang mungkin belum sepopuler Bangkok atau Phuket, sekaligus mendiversifikasi citra pariwisata Thailand.

Lisa (Lalisa Manoban) sendiri adalah figur yang sangat berpengaruh, tidak hanya di Korea Selatan sebagai anggota BLACKPINK tetapi juga sebagai ikon global, khususnya di Asia Tenggara. Dengan jutaan pengikut di media sosial, setiap gerak-gerik dan dukungan Lisa memiliki dampak yang signifikan. Warisan Thai-nya menjadikannya duta yang ideal untuk mempromosikan negaranya. Sebelumnya, rekomendasi atau referensi Lisa terhadap makanan atau lokasi tertentu di Thailand telah terbukti secara langsung meningkatkan minat wisatawan dan penjualan produk. Oleh karena itu, keterlibatannya dalam kampanye TAT merupakan strategi yang sangat berharga untuk menarik perhatian khalayak global dan membangkitkan minat terhadap keindahan Thailand.

Sebagai tanggapan terhadap diskusi publik yang intens di media sosial, TAT mengucapkan terima kasih atas umpan balik yang diberikan oleh masyarakat. Sikap ini menunjukkan bahwa mereka mendengarkan dan menghargai masukan dari publik. Mereka juga menegaskan komitmen untuk "berusaha lebih baik lagi sambil terus membina citra positif bagi artis dan Thailand di panggung global." Pernyataan ini menyiratkan bahwa TAT akan terus mengevaluasi dan meningkatkan pendekatan mereka dalam kampanye promosi, mungkin dengan mempertimbangkan untuk menyertakan lebih banyak konten di balik layar atau memberikan klarifikasi yang lebih proaktif di masa depan untuk membangun kepercayaan. Terlepas dari kontroversi awal, insiden ini secara tidak langsung juga berhasil menciptakan publisitas besar bagi Udon Thani dan kampanye pariwisata Thailand, menyoroti kekuatan sekaligus tantangan pemasaran di era digital yang serba cepat.