Sulutnetwork.com – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2025 mencapai 5,11 persen secara tahunan (year on year/YoY), melampaui ekspektasi konsensus pasar. Pada kuartal IV 2025, ekonomi bahkan tumbuh lebih tinggi di level 5,39 persen YoY, menjadi yang terbaik sejak 2022.
Pengamat ekonomi Dr. Noviardi Ferzi menilai capaian tersebut menunjukkan fundamental ekonomi nasional masih solid, terutama ditopang oleh penguatan konsumsi domestik dan investasi. Namun demikian, ia mengingatkan bahwa perbaikan ekonomi riil tersebut belum sepenuhnya tercermin di pasar modal.
“Secara makro ini kabar baik. Konsumsi rumah tangga kembali menguat dan pembentukan modal tetap bruto tumbuh di atas 6 persen pada kuartal IV. Artinya dunia usaha mulai ekspansif. Tapi IHSG belum merespons optimal karena pasar masih berada dalam fase uji kepercayaan,” ujar Noviardi, Jumat, 6 Februari 2026.
Selanjutnya ia menjelaskan, pertumbuhan investasi yang ditandai dengan meningkatnya impor mesin produksi serta belanja pemerintah untuk peralatan dan mesin menjadi sinyal positif bagi kapasitas industri ke depan. Di sisi lain, stimulus fiskal dinilai efektif menjaga daya beli masyarakat sehingga konsumsi rumah tangga mampu tumbuh hampir 5 persen sepanjang 2025.
Namun ia menyoroti melemahnya kontribusi ekspor bersih akibat perlambatan ekspor dan kenaikan impor. Menurutnya, kondisi ini menegaskan urgensi percepatan hilirisasi agar struktur ekspor Indonesia tidak lagi bertumpu pada komoditas mentah.
“Kalau ingin pertumbuhan lebih berkualitas, hilirisasi harus dipercepat supaya ekspor bernilai tambah benar-benar terasa,” tegasnya.
Terkait pasar saham, Noviardi menyebut arus dana asing yang masih mencatatkan tekanan keluar serta revisi outlook Indonesia menjadi negatif oleh lembaga pemeringkat internasional menjadi faktor utama tertahannya penguatan IHSG.
Dalam hal ini ia menilai rendahnya porsi saham beredar di publik (free float) pada sejumlah emiten besar membuat volatilitas pasar mudah terjadi. Karena itu, rencana Bursa Efek Indonesia menaikkan minimum free float menjadi 15 persen dinilai sebagai langkah reformasi struktural yang penting.
“Ini bukan sekadar aturan teknis, tapi bagian dari upaya memperbaiki kualitas pasar dan mengembalikan kepercayaan investor,” ujarnya.
Ke depan, Noviardi melihat sektor perbankan dan konsumsi tetap berpotensi menjadi motor pemulihan IHSG, seiring akselerasi pertumbuhan kredit dan terjaganya daya beli masyarakat.
“Investor global sangat memperhatikan konsistensi kebijakan. Kalau kepastian regulasi dijaga dan reformasi pasar modal berjalan, target pertumbuhan ekonomi 2026 di atas 5,4 persen realistis, dan foreign inflow berpeluang kembali,” pungkasnya.
