Peran Lalisa Manoban, atau lebih dikenal sebagai Lisa BLACKPINK, dalam mempromosikan pariwisata Thailand telah mencapai tingkat yang luar biasa, mengubah sebuah danau yang relatif belum dikenal di provinsi Udon Thani menjadi magnet wisatawan internasional. Danau Teratai Merah, atau Talay Bua Daeng, kini mengalami lonjakan pengunjung yang signifikan setelah mendapat sorotan dari bintang K-pop global tersebut, menegaskan kembali kekuatan pengaruh selebriti dalam membentuk tren perjalanan.

sulutnetwork.com – Fenomena ini berpusat pada Danau Nong Han, yang terletak di distrik Kumphawapi, Udon Thani, sekitar 500 kilometer di timur laut ibu kota Bangkok. Danau ini, yang terkenal dengan hamparan luas bunga teratai merah muda dan merah yang bermekaran, telah menjadi contoh nyata bagaimana dukungan dari seorang ikon budaya dapat secara instan mengubah lanskap pariwisata lokal. Sejak Lisa BLACKPINK menyoroti keindahan alam danau ini, jumlah pengunjung melonjak drastis, dengan mayoritas adalah turis mancanegara yang berbondong-bondong datang untuk menyaksikan langsung pemandangan memukau yang sebelumnya hanya dikenal oleh segelintir wisatawan domestik.
Lisa, yang memiliki nama lengkap Lalisa Manoban, bukan hanya seorang superstar global dari grup K-pop BLACKPINK, tetapi juga seorang ikon budaya Thailand dengan akar yang kuat di negara asalnya. Popularitasnya yang masif, ditambah dengan koneksi pribadinya terhadap warisan budaya Thailand, memberinya kemampuan unik untuk mempromosikan destinasi dan tradisi yang mungkin kurang dikenal di panggung global. Ketika Lisa memilih untuk membagikan keindahan Talay Bua Daeng, entah melalui unggahan media sosial pribadi atau dalam kapasitasnya sebagai duta kampanye pariwisata, pesannya segera menyebar ke jutaan penggemar dan pengikut di seluruh dunia. Foto-foto dan video yang menampilkan dirinya di tengah-tengah lautan teratai merah muda diyakini telah memicu gelombang minat yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Kementerian Pariwisata dan Olahraga Thailand serta Otoritas Pariwisata Thailand (TAT) dengan cepat mengonfirmasi dampak positif dari promosi yang dilakukan Lisa. Data menunjukkan bahwa sejak musim mekar teratai dimulai pada bulan Desember lalu, tercatat sekitar 50.000 wisatawan telah berkunjung ke Talay Bua Daeng. Angka ini merupakan lonjakan signifikan, terutama mengingat lokasi danau yang berada di wilayah timur laut Thailand, yang secara tradisional kurang mendapat sorotan dibandingkan destinasi populer seperti Phuket, Chiang Mai, atau Bangkok. Bahkan, lonjakan pengunjung terlihat jelas pada hari kerja, waktu yang biasanya cenderung sepi dari keramaian turis. Ini mengindikasikan bahwa daya tarik danau ini kini melampaui jadwal liburan konvensional, menarik wisatawan yang secara spesifik datang untuk pengalaman yang terinspirasi oleh Lisa.
Danau Nong Han Kumphawapi adalah ekosistem air tawar yang luas, menjadi rumah bagi berbagai jenis kehidupan akuatik dan burung. Namun, daya tarik utamanya adalah jutaan bunga teratai air (Nymphaea lotus), yang di Thailand sering disebut "Bua Daeng" atau teratai merah, meskipun warnanya bervariasi dari merah muda hingga merah gelap. Bunga-bunga ini mekar penuh antara bulan Desember dan Maret setiap tahun, menciptakan pemandangan spektakuler yang mengubah permukaan danau menjadi permadani alami berwarna-warni. Waktu terbaik untuk menyaksikan keindahan ini adalah pada pagi hari, sekitar pukul 06.00 hingga 11.00 WIB, ketika kelopak bunga terbuka sempurna menyambut sinar matahari.

Lonjakan pengunjung ini secara langsung menerjemahkan menjadi peningkatan signifikan dalam aktivitas ekonomi lokal. Operator perahu, yang sebelumnya mungkin menghadapi tantangan musiman, kini melaporkan lebih dari 100 perjalanan setiap hari. Para wisatawan ingin mengabadikan momen di tengah-tengah teratai, seringkali dengan permintaan khusus untuk perahu kayu tradisional yang memiliki gaya serupa dengan yang ditampilkan dalam poster atau foto Lisa. Thapanee Kiatphaibool, salah satu pejabat pariwisata setempat, mengonfirmasi bahwa pemesanan tur kelompok untuk bulan Februari sangat kuat, menunjukkan minat berkelanjutan dari pasar domestik maupun internasional.
Dampak ekonomi meluas melampaui operator perahu. Bisnis-bisnis kecil di sekitar danau, seperti restoran lokal yang menyajikan hidangan Isan (makanan khas Thailand timur laut), warung penjual suvenir, dan penginapan, semuanya merasakan geliat peningkatan pendapatan. Ini tidak hanya menciptakan lapangan kerja baru tetapi juga memberikan dorongan signifikan bagi kesejahteraan masyarakat setempat. Transformasi Talay Bua Daeng menjadi destinasi "wajib kunjung" juga membuka peluang bagi pengembangan infrastruktur pariwisata yang lebih baik, mulai dari fasilitas umum hingga aksesibilitas transportasi.

Fenomena Lisa dan Talay Bua Daeng ini bukan yang pertama kali terjadi di Thailand. Sebelumnya, Lisa juga pernah secara tidak langsung mempromosikan destinasi atau kuliner Thailand lainnya, seperti hidangan bakso khas Buriram, kampung halamannya. Setiap kali Lisa membagikan aspek budaya Thailand, minat publik global langsung melonjak, menciptakan efek domino yang menguntungkan bagi industri pariwisata dan ekonomi lokal. Ini menunjukkan bahwa kekuatan selebriti, terutama yang memiliki ikatan budaya yang kuat dengan negara asalnya, dapat menjadi alat pemasaran pariwisata yang jauh lebih efektif dibandingkan kampanye iklan tradisional yang mahal.
Pemerintah Thailand melalui Otoritas Pariwisata Thailand (TAT) telah lama berupaya untuk mendiversifikasi destinasi wisata di luar tujuan utama yang sudah jenuh. Promosi daerah-daerah seperti Udon Thani, yang menawarkan pengalaman budaya dan alam yang otentik, merupakan bagian integral dari strategi ini. Dukungan dari Lisa BLACKPINK secara efektif mempercepat tujuan tersebut, membawa perhatian global ke "permata tersembunyi" Thailand yang sebelumnya mungkin terlewatkan. Ini juga sejalan dengan upaya untuk mempromosikan "soft power" Thailand melalui budaya pop dan tokoh-tokoh berpengaruh.

Namun, lonjakan popularitas yang mendadak juga membawa tantangan. Pengelolaan jumlah wisatawan yang besar memerlukan perencanaan yang cermat untuk memastikan keberlanjutan lingkungan danau. Peningkatan limbah, potensi kerusakan ekosistem teratai, dan tekanan pada infrastruktur lokal adalah isu-isu yang harus ditangani. Otoritas setempat dan komunitas harus bekerja sama untuk mengembangkan kebijakan pariwisata yang bertanggung jawab, memastikan bahwa keindahan Talay Bua Daeng dapat dinikmati oleh generasi mendatang tanpa mengorbankan integritas alamnya. Ini termasuk pengelolaan rute perahu, pembatasan jumlah pengunjung per hari jika diperlukan, dan edukasi wisatawan tentang pentingnya menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan.
Keberhasilan Talay Bua Daeng sebagai destinasi wisata global yang baru lahir berkat sentuhan Lisa BLACKPINK adalah sebuah studi kasus yang menarik tentang kekuatan selebriti di era digital. Ini membuktikan bahwa sebuah unggahan media sosial atau kampanye yang tepat sasaran dari seorang individu yang memiliki pengaruh luas dapat secara fundamental mengubah nasib sebuah lokasi geografis, menjadikannya pusat perhatian dunia. Bagi Thailand, fenomena ini adalah berkah sekaligus pelajaran berharga tentang bagaimana memanfaatkan pengaruh budaya pop untuk memajukan pariwisata sambil tetap menjaga keseimbangan antara promosi dan pelestarian. Dengan musim mekar teratai yang diperkirakan akan berakhir sekitar bulan Maret, para wisatawan disarankan untuk segera merencanakan kunjungan mereka untuk menyaksikan pemandangan indah yang bagai permadani terapung di atas danau itu, sebelum keindahan ini kembali menunggu siklus tahunan berikutnya.




