Sulutnetwork.com – Jumlah korban akibat banjir bandang yang menerjang Pulau Siau, Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro), Sulawesi Utara, kembali bertambah. Hingga Selasa, 6 Januari 2026, pukul 08.00 WITA, data sementara Pemerintah Kabupaten Sitaro mencatat sebanyak 14 orang meninggal dunia, puluhan warga mengalami luka-luka, serta beberapa lainnya masih dalam pencarian.

Peristiwa banjir bandang ini melanda sejumlah kampung dan kelurahan, di antaranya Kelurahan Bahu, Kampung Peling, Kampung Laghaeng, Batusenggo, Kampung Bumbiha, Kelurahan Paseng, dan Kampung Bandil. Dampaknya cukup luas, menyebabkan kerusakan permukiman dan memaksa ratusan warga mengungsi ke tempat yang lebih aman.

Di Kelurahan Bahu, tercatat sebanyak 82 kepala keluarga atau sekitar 260 jiwa terdampak langsung. Dari jumlah tersebut, delapan orang dilaporkan meninggal dunia, 15 orang mengalami luka-luka, dan tiga warga masih dinyatakan hilang. Saat ini, warga Kelurahan Bahu yang terdampak mengungsi di Museum setempat.

Sementara itu, di Kampung Peling dilaporkan dua warga meninggal dunia. Warga yang selamat sementara mengungsi di Gereja GKAI Peling. Di Kampung Laghaeng, bencana ini menyebabkan tiga orang meninggal dunia, tiga lainnya luka-luka, serta satu orang masih belum ditemukan. Adapun di wilayah Batusenggo, tercatat satu korban meninggal dunia akibat banjir bandang tersebut.

Selain menelan korban jiwa, banjir bandang juga mengakibatkan ratusan warga harus meninggalkan rumah mereka karena bangunan rusak parah dan akses jalan tertutup material banjir berupa batu, kayu, serta lumpur, sehingga menyulitkan mobilitas dan distribusi bantuan.

Kepala Kantor Basarnas Sulawesi Utara, George Randang, menyampaikan bahwa pihaknya telah menurunkan satu tim rescue lengkap dengan berbagai peralatan SAR untuk melaksanakan operasi pencarian dan pertolongan di wilayah terdampak banjir bandang.

“Berdasarkan laporan dari Pemkab Sitaro, data korban terus kami perbarui. Basarnas Sulawesi Utara telah mengerahkan satu tim rescue lengkap dengan peralatan SAR untuk mendukung operasi pencarian dan pertolongan di lokasi kejadian,” ujar George Randang.

Dalam operasi tersebut, Basarnas Sulut membawa sejumlah peralatan utama, antara lain kendaraan rescue, perangkat komunikasi, peralatan medis, perlengkapan mountaineering, tenda posko, serta berbagai peralatan pendukung lainnya guna menunjang kelancaran operasi di lapangan.

George menegaskan, fokus utama tim SAR saat ini adalah melakukan pencarian terhadap warga yang masih dilaporkan hilang, sekaligus membantu proses evakuasi dan penanganan darurat bagi masyarakat terdampak banjir bandang.

“Kami terus berkoordinasi dengan BPBD serta pemerintah daerah agar seluruh korban dapat tertangani dengan cepat, tepat, dan aman,” tambahnya.

Hingga kini, operasi SAR dan pendataan korban masih terus berlangsung. Masyarakat di wilayah terdampak dan sekitarnya diimbau tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem serta kemungkinan terjadinya bencana susulan.