Atletico Madrid harus menelan pil pahit setelah gagal meraih kemenangan penting dalam laga tandang mereka melawan Levante, tim penghuni papan bawah Liga Spanyol. Pertandingan yang berlangsung ketat di Estadi Ciutat de València pada Minggu (1/2/2026) malam WIB berakhir tanpa gol, 0-0, menyisakan kekecewaan bagi skuad asuhan Diego Simeone yang berambisi memangkas jarak di puncak klasemen.
sulutnetwork.com – Hasil imbang tanpa gol ini menjadi pukulan telak bagi Los Colchoneros, julukan Atletico Madrid, yang datang dengan target mutlak tiga poin demi menjaga asa persaingan gelar juara La Liga. Menghadapi Levante yang tengah berjuang mati-matian menghindari zona degradasi, Atletico gagal menunjukkan ketajaman di lini serang, sementara pertahanan solid tim tuan rumah dan penampilan gemilang kiper Mat Ryan berhasil mementahkan setiap ancaman yang datang.
Sebelum peluit kick-off dibunyikan, atmosfer di Estadi Ciutat de València sudah terasa tegang. Bagi Atletico Madrid, pertandingan ini bukan hanya tentang tiga poin, tetapi juga tentang menjaga momentum dan tekanan terhadap para pesaing di papan atas, Real Madrid dan Barcelona. Los Rojiblancos, yang saat itu menempati peringkat ketiga dengan 45 poin dari 22 pertandingan, bertekad untuk mendekati dua rival abadi mereka. Di sisi lain, Levante, yang terdampar di posisi ke-19 dengan hanya 18 poin, sangat membutuhkan setiap angka demi keluar dari zona degradasi. Dengan catatan buruk dalam beberapa laga terakhir, bermain di kandang sendiri adalah kesempatan emas bagi mereka untuk menunjukkan perlawanan dan mendapatkan suntikan moral.
Diego Simeone menurunkan skuad terbaiknya dengan formasi yang sedikit dirotasi untuk menjaga kebugaran, namun tetap mengandalkan kekuatan utama di lini tengah dan depan. Jan Oblak tetap di bawah mistar gawang, dilindungi oleh kuartet Molina, Le Normand, Lenglet, dan Ruggeri. Di lini tengah, Llorente, Barrios, dan Cardoso bertugas menyeimbangkan permainan, sementara Nico Gonzalez, Almada, dan Alexander Sorloth diharapkan menjadi tumpuan serangan untuk membongkar pertahanan Levante yang diperkirakan akan bermain rapat. Sementara itu, pelatih Levante memilih formasi yang lebih pragmatis, menumpuk pemain di lini tengah dan belakang untuk meredam serangan Atletico, sambil sesekali melancarkan serangan balik cepat melalui pemain seperti Tunde dan Romero.
Begitu pertandingan dimulai, Atletico Madrid langsung mengambil inisiatif serangan. Mereka mendominasi penguasaan bola dan mencoba menekan pertahanan Levante dari berbagai sisi. Hanya beberapa menit setelah kick-off, Los Colchoneros sudah menciptakan peluang berbahaya pertama. Nico Gonzalez, yang bergerak lincah di area penalti, berhasil menyambut umpan silang akurat dari sisi kanan. Sundulan kerasnya mengarah tepat ke pojok atas gawang, namun kiper Levante, Mat Ryan, menunjukkan refleks gemilang dengan menepis bola tersebut keluar lapangan, menyelamatkan gawangnya dari kebobolan dini. Penyelamatan ini seolah menjadi sinyal awal akan performa impresif Ryan sepanjang laga.
Pertahanan Levante tampil sangat disiplin. Mereka membentuk blokade rapat di sepertiga akhir lapangan, mempersempit ruang gerak para penyerang Atletico. Para gelandang Levante juga bekerja keras untuk memutus aliran bola dan memenangkan perebutan bola di lini tengah. Permainan berjalan sangat fisik, dengan banyak duel udara dan tekel-tekel keras yang menghiasi jalannya pertandingan. Atletico mencoba berbagai cara, mulai dari umpan-umpan pendek yang rapi hingga mencoba penetrasi dari sayap, namun selalu berhasil diredam oleh barisan pertahanan tuan rumah.
Malapetaka kecil menimpa Atletico Madrid pada menit ke-27. Penyerang andalan mereka, Alexander Sorloth, harus ditarik keluar lapangan karena cedera. Sorloth terlihat mengalami masalah pada hamstringnya setelah berduel memperebutkan bola di area tengah. Cedera ini tentu menjadi pukulan telak bagi Simeone, mengingat peran penting Sorloth dalam skema serangan tim. Sebagai penggantinya, Julian Alvarez dimasukkan, diharapkan dapat membawa energi baru dan ketajaman di lini depan. Pergantian ini sedikit mengubah dinamika serangan Atletico, yang membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri dengan kehadiran Alvarez.
Hingga babak pertama berakhir, meskipun Atletico terus menekan dan menciptakan beberapa peluang minor lainnya, mereka tidak mampu memecah kebuntuan. Pertahanan Levante yang solid, ditambah dengan performa apik Mat Ryan di bawah mistar, berhasil menjaga skor tetap 0-0. Frustrasi mulai terlihat di wajah para pemain Atletico saat mereka memasuki ruang ganti.
Memasuki babak kedua, Diego Simeone tampaknya memberikan instruksi untuk meningkatkan intensitas serangan. Atletico keluar dari ruang ganti dengan semangat yang lebih membara, langsung tancap gas untuk mencetak gol pembuka. Penguasaan bola mereka semakin dominan, dan tekanan terhadap pertahanan Levante semakin gencar. Los Colchoneros berusaha memaksimalkan lebar lapangan, dengan Molina dan Ruggeri sesekali maju membantu serangan.
Peluang emas kembali hadir bagi Atletico pada menit ke-64. Nico Gonzalez lagi-lagi menjadi motor serangan, berhasil mendapatkan ruang tembak di dalam kotak penalti setelah melakukan dribel melewati dua pemain bertahan Levante. Ia melepaskan tendangan keras mendatar yang mengarah ke sudut gawang, namun Mat Ryan lagi-lagi menunjukkan kelasnya. Dengan sigap, kiper asal Australia itu berhasil menepis bola tersebut dengan ujung jarinya, menjaga gawangnya tetap perawan. Aksi heroik Ryan ini sontak mendapatkan aplaus dari para pendukung Levante.
Lima menit berselang, giliran Julian Alvarez yang memiliki kans bagus untuk membuka keunggulan. Menerima umpan terobosan cerdik dari Barrios, Alvarez berhasil melakukan penetrasi ke kotak penalti dan melepaskan sepakan kaki kanannya. Namun, lagi-lagi Mat Ryan berdiri di posisi yang tepat dan berhasil menggagalkan peluang tersebut, hanya menghasilkan sepak pojok yang tidak membuahkan hasil. Serangan bertubi-tubi dari Atletico seolah mentalah di tangan Ryan.
Meskipun terus diserang, Levante sesekali mencoba keluar dari tekanan dengan melancarkan serangan balik cepat. Pada menit ke-76, tim tuan rumah sempat membahayakan gawang Atletico. Adrian de la Fuente, yang baru masuk sebagai pemain pengganti, berhasil menyambut umpan silang dari sisi kanan dan melakukan sundulan bertenaga ke arah gawang. Namun, Jan Oblak, kiper Atletico Madrid, juga menunjukkan kualitasnya dengan menepis bola tersebut keluar, mengamankan gawang tim tamu dari ancaman. Momen ini menjadi peringatan bagi Atletico bahwa Levante masih memiliki taring.
Menjelang akhir pertandingan, tekanan Atletico Madrid semakin menggila. Mereka mencoba segala cara, mulai dari tendangan spekulasi dari luar kotak penalti, umpan-umpan silang yang tidak menemui sasaran, hingga percobaan penetrasi individu. Para pemain Levante, yang mulai kelelahan, memilih untuk bermain lebih defensif dan sesekali mengulur waktu untuk mengamankan satu poin berharga. Mereka bertahan dengan segenap kekuatan, menahan gempuran terakhir dari Los Colchoneros.
Ketika peluit panjang wasit dibunyikan, skor 0-0 tetap tidak berubah. Ekspresi kekecewaan terpampang jelas di wajah para pemain dan staf pelatih Atletico Madrid. Mereka tahu bahwa dua poin penting telah melayang begitu saja di markas tim penghuni zona degradasi. Sebaliknya, para pemain Levante merayakan hasil imbang ini layaknya sebuah kemenangan, sebuah poin yang sangat berarti dalam perjuangan mereka untuk bertahan di kasta tertinggi sepak bola Spanyol.
Secara taktik, kegagalan Atletico mencetak gol dapat dianalisis dari beberapa sudut pandang. Pertama, pertahanan berlapis Levante yang sangat disiplin dan terorganisir dengan baik berhasil meredam kreativitas lini serang Atletico. Mereka berhasil memblokir jalur umpan dan menutup ruang tembak. Kedua, penyelesaian akhir para pemain Atletico yang kurang klinis menjadi masalah utama. Meskipun menciptakan sejumlah peluang, tidak ada yang berhasil dikonversi menjadi gol. Cedera Sorloth juga mungkin sedikit mengganggu ritme serangan mereka. Ketiga, performa luar biasa Mat Ryan yang layak dinobatkan sebagai pemain terbaik pertandingan, dengan serangkaian penyelamatan krusial yang menjaga gawangnya tetap perawan.
Hasil imbang ini memiliki implikasi signifikan bagi kedua tim di tabel klasemen. Bagi Atletico Madrid, mereka memang berhasil mempertahankan posisi ketiga dengan 45 poin dari 22 laga. Namun, hasil ini membuat jarak mereka dengan pemuncak klasemen berpotensi melebar, tergantung pada hasil pertandingan Real Madrid dan Barcelona. Tekanan untuk tetap bersaing di empat besar juga semakin meningkat, mengingat tim-tim di bawah mereka seperti Girona dan Real Betis terus memberikan ancaman serius. Jika Atletico ingin serius memperebutkan gelar atau setidaknya mengamankan tiket Liga Champions, mereka harus segera menemukan kembali ketajaman dan konsistensi.
Di sisi lain, bagi Levante, satu poin ini adalah hasil yang sangat berharga. Meskipun masih berada di posisi ke-19 dengan 18 poin, hasil imbang melawan tim sekelas Atletico Madrid memberikan suntikan moral yang besar bagi skuad. Poin ini menunjukkan bahwa mereka memiliki kapasitas untuk memberikan perlawanan sengit, bahkan kepada tim-tim papan atas. Ini bisa menjadi momentum kebangkitan bagi Levante dalam upaya mereka untuk keluar dari zona degradasi dan bertahan di Liga Spanyol.
Pasca pertandingan, pelatih Diego Simeone kemungkinan besar akan mengungkapkan kekecewaannya. "Kami menciptakan banyak peluang, kami mendominasi pertandingan, tetapi kami gagal menyelesaikannya," ujarnya, atau sejenisnya. "Levante bermain sangat baik dalam bertahan, dan kiper mereka melakukan pekerjaan fantastis. Kami harus belajar dari ini dan bekerja lebih keras." Sementara itu, pelatih Levante akan memuji semangat juang timnya. "Saya sangat bangga dengan para pemain. Mereka berjuang sebagai satu kesatuan, dan poin ini adalah hasil kerja keras mereka. Ini memberikan kami kepercayaan diri yang besar untuk pertandingan-pertandingan berikutnya."
Ke depan, Atletico Madrid akan menghadapi jadwal yang padat dan menantang, termasuk pertandingan penting di Liga Champions dan laga-laga krusial di La Liga. Mereka harus segera bangkit dan menemukan solusi untuk masalah penyelesaian akhir jika ingin mencapai target mereka musim ini. Sementara itu, Levante akan berusaha membangun momentum dari hasil positif ini untuk mengumpulkan poin demi poin dalam perjuangan mereka menghindari degradasi. Pertandingan berikutnya akan menjadi ujian sejati bagi kedua tim untuk menunjukkan karakter dan ambisi mereka.
Hasil imbang ini menjadi pengingat bagi Atletico Madrid akan kerasnya persaingan di La Liga dan bahwa tidak ada pertandingan yang mudah, terutama saat berhadapan dengan tim yang berjuang untuk bertahan hidup. Sementara bagi Levante, satu poin ini adalah bukti bahwa mereka masih memiliki semangat dan kapasitas untuk memberikan perlawanan sengit, modal penting dalam upaya mereka menghindari jurang degradasi.
