Naples – Ketegangan abadi antara Antonio Conte dan mantan striker andalannya di Chelsea, Diego Costa, kembali memanas setelah Conte, yang kini melatih Napoli, menanggapi tudingan pedas Costa. Eks penyerang timnas Spanyol itu sebelumnya menyebut Conte sebagai pribadi yang tidak menyenangkan dan tidak disukai selama masa kepelatihannya di Stamford Bridge. Respons Conte kali ini menunjukkan bahwa luka lama perseteruan mereka masih belum sepenuhnya sembuh, memicu kembali perdebatan tentang dinamika hubungan antara pelatih dan pemain di level tertinggi sepak bola.
sulutnetwork.com – Konflik antara Antonio Conte dan Diego Costa bukanlah hal baru dalam dunia sepak bola. Perseteruan mereka telah menjadi salah satu babak paling dramatis dalam sejarah Chelsea, yang mencapai puncaknya setelah musim gemilang 2016-2017 di mana mereka bersama-sama mempersembahkan gelar Premier League. Namun, di balik kesuksesan tersebut, hubungan personal keduanya memburuk drastis, hingga berujung pada kepergian Costa dari klub London Barat itu. Sekitar sepekan sebelum Conte memberikan tanggapannya yang terbaru ini, kembali muncul komentar miring dari Diego Costa mengenai kesannya bekerja sama dengan Conte. Costa secara terang-terangan menyebut Antonio Conte sebagai pribadi yang sulit mempercayai orang lain, sok tahu, dan secara umum tidak menyenangkan. Ia bahkan mengklaim bahwa Conte hanya sebentar menangani The Blues karena tidak disukai oleh banyak pihak di sana, mengindikasikan adanya masalah interpersonal yang lebih dalam di balik layar.
Komentar-komentar tersebut tentu saja menarik perhatian media dan para penggemar sepak bola, terutama mengingat reputasi Conte sebagai pelatih yang intens dan sangat menuntut. Mendengar kembali cemoohan dari mantan anak didiknya, Conte memutuskan untuk tidak lagi berdiam diri. Menjelang duel hipotetis antara Napoli dan Chelsea di fase liga terakhir Liga Champions, Antonio Conte merespons tudingan Diego Costa dengan pernyataan yang tak kalah tajam. Ia tidak hanya menolak untuk membuang energinya untuk drama tersebut, tetapi juga mengungkapkan fakta mengejutkan bahwa Costa, di musim yang sama saat mereka memenangkan liga, telah mencoba hengkang dari Stamford Bridge sebanyak tiga kali.
"Terus terang, saya tidak mau membuang energi atau mengikuti apapun yang dikatakan di koran-koran," ujar pelatih asal Italia yang kini menukangi Napoli itu, dengan nada tegas. "Di sepakbola itu, ada orang cerdas dan orang bodoh. Jadi saya tidak mau membuang waktu saya dengan membaca apa yang mereka katakan." Pernyataan ini secara implisit menempatkan Costa dalam kategori "orang bodoh" yang perkataannya tidak layak untuk ditanggapi secara serius. Sebuah respons yang khas Conte, yang sering menggunakan retorika serupa untuk meredam kritik atau provokasi.
Conte kemudian melanjutkan penjelasannya, memberikan versinya tentang apa yang terjadi selama periode mereka bersama di Chelsea. "Costa kan bersama saya untuk satu alasan. Saya bisa membicarakan tentang sepakbola: Kami memenangi liganya, dan kemudian dia mencoba pergi sebanyak tiga kali di musim yang sama," ungkap Conte. "Setelah itu, saya tidak tahu apa yang sudah terjadi." Klaim ini memberikan dimensi baru pada narasi perpisahan mereka. Selama ini, narasi yang dominan adalah bahwa Conte secara sepihak mengirim pesan teks kepada Costa yang memberitahukan bahwa sang striker tidak lagi masuk dalam rencananya. Namun, pernyataan Conte kali ini mengisyaratkan bahwa keinginan Costa untuk meninggalkan Chelsea sudah ada jauh sebelum pesan teks kontroversial itu dikirim, mungkin menjadi salah satu pemicu keretakan hubungan mereka.
Hubungan antara Antonio Conte dan Diego Costa memang merupakan salah satu kisah paling menarik dan penuh gejolak dalam sejarah Premier League. Conte tiba di Chelsea pada musim panas 2016, membawa filosofi taktis 3-4-3 yang revolusioner. Di bawah asuhannya, Diego Costa menemukan kembali ketajamannya, menjadi ujung tombak yang mematikan dengan 20 gol liga yang krusial, membawa Chelsea meraih gelar Premier League. Namun, di balik gemerlap trofi, benih-benih konflik mulai tumbuh. Costa, yang dikenal dengan temperamennya yang meledak-ledak dan keinginannya untuk selalu menjadi pusat perhatian, sering kali berselisih paham dengan metode pelatihan Conte yang sangat disiplin dan menuntut.
Puncaknya terjadi pada Januari 2017, ketika spekulasi tentang transfer Costa ke Liga Super Tiongkok mencuat. Sebuah tawaran menggiurkan dari Tianjin Quanjian dilaporkan telah tiba, dan Costa menunjukkan ketertarikan. Conte menanggapi hal ini dengan keras, mencoret Costa dari skuad untuk pertandingan penting melawan Leicester City. Insiden ini, meskipun kemudian diredakan untuk sementara waktu, menjadi titik balik yang tak terhindarkan. Pertengahan tahun 2017, pesan teks singkat dari Conte yang menyatakan "You are not in my plans" (Anda tidak ada dalam rencana saya) kepada Costa menjadi berita utama dunia. Pesan ini secara efektif mengakhiri karier Costa di Chelsea dan memicu kemarahan sang pemain, yang merasa diperlakukan tidak adil dan tidak hormat.
Dari sudut pandang Costa, perlakuan Conte terasa sangat personal dan merendahkan. Ia merasa diasingkan setelah memberikan segalanya untuk klub dan pelatih. Komentarnya yang menyebut Conte "tidak menyenangkan" dan "sulit mempercayai orang lain" kemungkinan besar berakar dari pengalaman pahit tersebut. Sebagai seorang striker yang mengandalkan insting dan kebebasan di lapangan, Costa mungkin merasa terkekang oleh sistem Conte yang kaku dan tuntutan disiplin taktis yang tinggi. Ini adalah benturan dua kepribadian yang sangat kuat: seorang pelatih dengan visi yang jelas dan tuntutan mutlak, dan seorang pemain bintang dengan ego besar serta gaya bermain yang spontan.
Di sisi lain, Conte, sebagai seorang manajer, memiliki tanggung jawab untuk menjaga disiplin dan integritas tim. Bagi seorang pelatih seperti Conte, yang dikenal dengan intensitas dan dedikasinya terhadap detail, setiap tindakan yang dianggap merusak fokus tim atau menunjukkan ketidaksetiaan akan ditindak tegas. Klaimnya bahwa Costa mencoba hengkang tiga kali dalam satu musim mengindikasikan adanya masalah komitmen dari pihak pemain, yang mungkin menjadi dasar keputusan Conte untuk menyingkirkannya. Bagi Conte, profesionalisme dan komitmen adalah segalanya, dan setiap keraguan terhadap hal tersebut dapat berujung pada konsekuensi serius.
Setelah kepergiannya dari Chelsea, Diego Costa kembali ke Atletico Madrid, klub yang membesarkan namanya. Namun, ia tidak pernah benar-benar mampu mengulang performa puncak yang ia tunjukkan di Chelsea. Kariernya kemudian berlanjut ke klub-klub seperti Atlético Mineiro, Wolverhampton Wanderers, dan Botafogo, dengan performa yang fluktuatif. Sementara itu, Antonio Conte melanjutkan karier kepelatihannya dengan melatih Inter Milan, di mana ia juga memenangkan Serie A, sebelum kemudian melatih Tottenham Hotspur dan kini Napoli. Reputasinya sebagai pelatih yang membawa kesuksesan namun juga sering terlibat konflik dengan pemain atau manajemen tetap melekat.
Perseteruan Conte-Costa bukan hanya sekadar drama pribadi, melainkan juga cerminan dari dinamika kompleks dalam sepak bola modern. Di mana ego, ambisi, dan tekanan untuk meraih kemenangan sering kali menciptakan gesekan antara individu-individu berbakat. Kisah mereka menyoroti batas tipis antara otoritas manajerial dan otonomi pemain, serta bagaimana komunikasi yang buruk dapat merusak hubungan profesional yang paling menjanjikan sekalipun. Konflik semacam ini juga sering kali diperbesar oleh media, yang haus akan cerita-cerita dramatis di balik lapangan hijau, sehingga komentar-komentar lama pun dapat dengan mudah diangkat kembali ke permukaan.
Dalam sejarah sepak bola, banyak contoh lain dari perseteruan pelatih-pemain yang terkenal. Sebut saja konflik antara Jose Mourinho dan Iker Casillas di Real Madrid, atau perselisihan Sir Alex Ferguson dengan David Beckham di Manchester United. Masing-masing konflik memiliki keunikan dan konteksnya sendiri, tetapi benang merahnya adalah benturan kepribadian, perbedaan filosofi, dan tekanan performa di puncak karier. Kasus Conte dan Costa akan selalu dikenang sebagai salah satu contoh paling jelas bagaimana kesuksesan di lapangan tidak selalu berarti keharmonisan di luar lapangan, dan bagaimana kata-kata yang diucapkan di masa lalu dapat terus menghantui dan memicu kembali perdebatan di masa depan. Antonio Conte, dengan responsnya dari Napoli, sekali lagi menunjukkan bahwa ia tidak akan gentar menghadapi kritik, terutama dari mereka yang ia anggap "bodoh" dan tidak relevan.



