SULUTNETWORK.COM – Paparan abu vulkanik akibat aktivitas Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda perlu diwaspadai karena dapat berdampak pada kesehatan, terutama sistem pernapasan.
Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau sejak awal September 2026 menyebabkan abu vulkanik tersebar ke sejumlah wilayah. Partikel abu yang sangat halus berisiko terhirup dan masuk ke saluran pernapasan hingga mencapai bagian paru-paru.
Dokter Spesialis Paru dan Pernapasan Rumah Sakit Akademik Universitas Gadjah Mada menjelaskan, paparan abu vulkanik dapat memicu berbagai gangguan kesehatan. Keluhan yang muncul antara lain batuk, iritasi tenggorokan, hidung tersumbat atau berair, produksi dahak meningkat, sesak napas, hingga mengi.
Dampak abu vulkanik tidak hanya menyerang saluran pernapasan. Partikel abu juga dapat menyebabkan iritasi pada mata serta mencemari makanan dan sumber air. Karena itu, masyarakat yang berada di wilayah terdampak perlu meningkatkan perlindungan diri.
Masyarakat dianjurkan mengurangi aktivitas di luar ruangan. Jika harus keluar rumah, gunakan masker yang memiliki kemampuan menyaring partikel halus untuk mengurangi risiko abu terhirup.
Untuk mencegah abu masuk ke dalam rumah, pintu, jendela, serta ventilasi sebaiknya ditutup. Makanan dan sumber air juga perlu terlindungi dari paparan abu agar tidak terkontaminasi.
Setelah kembali dari luar rumah, masyarakat disarankan segera membersihkan tubuh dan mengganti pakaian untuk menghilangkan partikel abu yang menempel.
Jika muncul gejala seperti sesak napas berat, nyeri dada, batuk yang terus berlangsung, atau iritasi mata yang semakin parah, segera periksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat.


