Seorang pendaki berkewarganegaraan Malaysia yang mengalami kecelakaan serius di jalur pendakian Gunung Rinjani, Lombok, Nusa Tenggara Barat, kini tengah menjalani perawatan medis intensif di salah satu rumah sakit di Denpasar, Bali. Korban berhasil dievakuasi melalui operasi penyelamatan udara yang kompleks dan penuh tantangan, melibatkan berbagai elemen tim SAR gabungan setelah insiden yang menyebabkan dirinya tak mampu menggerakkan tubuhnya. Proses evakuasi yang memakan waktu dua hari ini menunjukkan koordinasi luar biasa antara Basarnas, Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR), pemerintah daerah, dan potensi SAR setempat untuk menyelamatkan nyawa di medan ekstrem.
sulutnetwork.com – Deputi Operasi Basarnas, Edy Prakoso, mengkonfirmasi bahwa pendaki tersebut telah ditangani secara medis di Bali. "Korban yang terjatuh saat turun di jalur pendakian dari arah puncak menuju ke Pelawangan dievakuasi menggunakan helikopter menuju rumah sakit di Bali untuk mendapatkan perawatan medis intensif," jelas Edy, seperti dikutip dari Antara pada Rabu (27/5/2026). Insiden tragis ini bermula pada Senin (25/5/2026), ketika pendaki tersebut dilaporkan mengalami jatuh dan menderita cedera serius yang membuatnya tidak dapat menggerakkan bagian tubuhnya, memicu respons cepat dari tim penyelamat yang harus menghadapi kondisi geografis Rinjani yang menantang dan perubahan cuaca ekstrem.
Gunung Rinjani, dengan ketinggian 3.726 meter di atas permukaan laut, merupakan salah satu gunung berapi tertinggi kedua di Indonesia dan menjadi destinasi favorit bagi para pendaki dari seluruh dunia. Pemandangannya yang memukau, kawah Segara Anak yang ikonik, serta jalur pendakian yang menantang, menarik ribuan petualang setiap tahunnya. Namun, di balik keindahannya, Rinjani juga menyimpan potensi bahaya yang tidak boleh diremehkan. Jalur-jalurnya yang terjal, bebatuan lepas, cuaca yang tidak menentu, serta perubahan suhu ekstrem, seringkali menjadi ujian berat bagi para pendaki, bahkan yang berpengalaman sekalipun. Insiden kecelakaan, mulai dari cedera ringan hingga fatal, bukanlah hal baru di gunung ini, mengingatkan setiap pendaki akan pentingnya persiapan matang, kewaspadaan, dan kesiapan menghadapi segala kemungkinan.
Menurut laporan awal, pendaki Malaysia tersebut mengalami musibah saat dalam perjalanan turun dari puncak Rinjani, di salah satu segmen jalur yang dikenal sangat menantang menuju area Pelawangan. Lokasi spesifik kejadian berada di jalur yang membutuhkan konsentrasi tinggi dan stamina prima, di mana satu langkah salah dapat berakibat fatal. Jatuhnya pendaki ini mengakibatkan cedera yang cukup parah, ditandai dengan ketidakmampuan untuk menggerakkan tubuhnya, mengindikasikan kemungkinan patah tulang atau cedera serius pada tulang belakang. Kondisi ini secara otomatis mengubah situasi dari sekadar insiden menjadi keadaan darurat medis yang memerlukan penanganan cepat dan terkoordinasi.
Merespons kondisi kritis korban, upaya penyelamatan awal dilakukan secara manual oleh para porter dan pemandu wisata yang berada di sekitar lokasi kejadian. Mereka adalah para ahli medan Rinjani, yang setiap harinya berinteraksi langsung dengan gunung dan memahami setiap lekuk serta bahayanya. Dengan peralatan seadanya namun didukung oleh pengalaman dan tekad kuat, tim ini berjuang keras mengevakuasi korban secara manual menuju titik yang lebih aman dan memungkinkan untuk penanganan medis lebih lanjut, yakni Pelawangan 2 Sembalun. Proses evakuasi manual di medan pegunungan yang terjal dan berbatu ini sangatlah berat, membutuhkan kekuatan fisik, koordinasi tim yang solid, serta kehati-hatian ekstra agar kondisi korban tidak semakin memburuk. Setiap langkah menuruni atau menaiki lereng curam dengan beban manusia adalah pertaruhan nyawa bagi tim penyelamat dan korban.
Pelawangan 2 Sembalun sendiri merupakan salah satu titik persinggahan penting dalam pendakian Rinjani, berfungsi sebagai area perkemahan atau posko darurat. Lokasinya yang relatif lebih landai dibandingkan puncak, namun masih cukup tinggi di lereng gunung, menjadikannya titik strategis untuk stabilisasi korban sebelum evakuasi lebih lanjut. Setibanya di Pelawangan 2 Sembalun, korban segera mendapatkan pertolongan pertama untuk menstabilkan kondisinya. Tim penyelamat yang terdiri dari para porter dan pemandu, berupaya mengurangi rasa sakit dan mencegah cedera semakin parah sambil menunggu bantuan medis profesional dan peralatan evakuasi yang lebih canggih.
Mendapat laporan mengenai insiden ini, tim penyelamat dari Pos SAR Kayangan dan Kantor SAR Mataram segera bergerak cepat. Koordinasi intensif langsung dilakukan untuk merancang strategi evakuasi yang paling efektif, mengingat kondisi korban dan lokasi kejadian yang sulit dijangkau. Salah satu opsi tercepat dan paling efisien untuk menangani kasus cedera serius di gunung adalah evakuasi udara. Oleh karena itu, sebuah helikopter komersial dari Denpasar, Bali, yang memiliki kapabilitas untuk misi SAR, segera diterjunkan untuk mempercepat proses penanganan darurat dan meminimalkan risiko terhadap nyawa korban. Keputusan ini diambil untuk menghemat waktu berharga, karena evakuasi manual dari Pelawangan hingga kaki gunung akan memakan waktu berjam-jam bahkan berhari-hari, yang sangat berisiko bagi korban dengan cedera parah.
Namun, operasi penyelamatan udara tidak selalu berjalan mulus. Setibanya di lokasi pada Senin sore, helikopter penyelamat menghadapi kendala serius berupa kabut tebal yang menyelimuti sebagian besar kawasan Gunung Rinjani. Visibilitas yang sangat rendah menjadi ancaman besar bagi keselamatan penerbangan dan kru, sehingga keputusan sulit harus diambil. Demi keselamatan semua pihak, helikopter terpaksa kembali ke pangkalan di Denpasar. Keputusan ini, meskipun berat, adalah pilihan paling bijaksana dalam menghadapi kondisi cuaca ekstrem yang tidak memungkinkan operasi penerbangan aman. Akibatnya, korban harus bertahan semalam di tenda darurat di Pelawangan 2 Sembalun, di mana tim penyelamat di darat terus memantau dan menstabilkan kondisinya. Mereka menyediakan kehangatan, makanan ringan, dan perawatan medis dasar untuk memastikan korban tetap dalam kondisi stabil hingga cuaca memungkinkan evakuasi udara kembali.
Malam yang panjang dan penuh ketegangan pun berlalu. Kondisi cuaca yang mulai membaik pada Selasa pagi memberikan harapan baru. Dengan visibilitas yang cukup memadai dan angin yang lebih tenang, helikopter penyelamat kembali mengudara dari Lapangan Sembalun pada pukul 08.05 WITA. Tim penerbang, yang telah berpengalaman dalam misi SAR di pegunungan, dengan hati-hati menuju titik jemput di Pelawangan. Setelah mendarat dengan sukses, korban segera diangkat dan diamankan ke dalam helikopter. Seluruh proses pengangkatan dan penempatan korban dilakukan dengan sangat hati-hati untuk menghindari perburukan cedera. Tepat pada pukul 08.17 WITA, helikopter bertolak membawa korban menuju Bali, mengakhiri fase paling krusial dari operasi penyelamatan di gunung.
Perjalanan udara dari Rinjani menuju Bali memakan waktu sekitar satu jam. Kantor SAR Mataram mengkonfirmasi bahwa helikopter dilaporkan mendarat dengan selamat di helipad Benoa, Bali, pada pukul 09.05 WITA. Di Benoa, tim medis darurat telah bersiaga penuh menyambut kedatangan korban. Tanpa membuang waktu, korban segera dirujuk menggunakan ambulans yang telah disiapkan menuju Rumah Sakit Inmedika Sanur di Denpasar Selatan. Pemilihan Rumah Sakit Inmedika Sanur didasarkan pada fasilitas medisnya yang memadai dan tim dokter spesialis yang siap memberikan penanganan terbaik untuk cedera ortopedi atau trauma serius. Transfer korban dari helipad ke rumah sakit berjalan lancar, berkat sinergi terpadu antara tim gabungan yang terdiri dari Basarnas, Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR), Pemerintah daerah, potensi SAR setempat, serta pihak rumah sakit.
Rumah sakit Inmedika Sanur, yang dikenal dengan fasilitas modern dan tim medis profesional, kini menjadi fokus utama bagi pemulihan pendaki Malaysia tersebut. Dokter spesialis dan perawat telah melakukan pemeriksaan menyeluruh untuk mendiagnosis secara akurat jenis dan tingkat keparahan cedera yang dialami. Perawatan medis intensif yang diberikan akan mencakup serangkaian tindakan, mulai dari stabilisasi kondisi umum, penanganan cedera spesifik seperti patah tulang atau trauma internal, hingga rehabilitasi. Proses pemulihan diperkirakan akan memakan waktu, tergantung pada tingkat keparahan cedera dan respons tubuh pasien terhadap pengobatan. Pihak rumah sakit dan keluarga korban akan terus memantau perkembangan kesehatannya dengan seksama.
Insiden ini sekali lagi menyoroti peran vital Basarnas sebagai garda terdepan dalam operasi pencarian dan penyelamatan di Indonesia. Dengan sumber daya terbatas namun semangat juang tinggi, Basarnas bersama seluruh potensi SAR lainnya, secara konsisten menunjukkan profesionalisme dan dedikasi dalam menghadapi tantangan di medan sulit. Kemampuan mereka dalam mengkoordinasikan berbagai pihak, mengambil keputusan cepat di bawah tekanan, dan memanfaatkan teknologi seperti helikopter, menjadi kunci keberhasilan dalam misi-misi penyelamatan nyawa. Edy Prakoso menekankan pentingnya sinergi antara seluruh elemen penyelamat, dari petugas lapangan hingga pusat komando, dalam memastikan setiap operasi berjalan efektif dan efisien.
Selain itu, peristiwa ini juga menjadi pengingat bagi setiap pendaki untuk selalu mengutamakan keselamatan. Persiapan fisik dan mental yang prima, membawa perlengkapan standar yang memadai, mematuhi peraturan dan arahan dari pemandu atau petugas taman nasional, serta selalu memperhatikan kondisi cuaca, adalah kunci untuk meminimalkan risiko kecelakaan di gunung. Gunung Rinjani, dengan segala keindahan dan tantangannya, akan selalu menarik minat pendaki, namun keselamatan harus selalu menjadi prioritas utama. Kejadian ini diharapkan dapat menjadi pelajaran berharga bagi komunitas pendaki dan pihak pengelola taman nasional untuk terus meningkatkan standar keamanan dan kesiapsiagaan dalam menghadapi potensi bahaya di alam bebas.
Saat ini, seluruh perhatian tertuju pada proses pemulihan pendaki Malaysia tersebut. Tim medis di Rumah Sakit Inmedika Sanur terus berupaya memberikan perawatan terbaik, dengan harapan korban dapat segera pulih dan kembali ke keluarganya. Misi penyelamatan yang dramatis ini, dari lereng Rinjani hingga ruang perawatan intensif di Bali, menjadi kisah nyata tentang keberanian, koordinasi, dan semangat kemanusiaan yang tak kenal lelah dalam menghadapi tantangan alam.




