Magelang kembali menjadi pusat perhatian dunia spiritual dan pariwisata dengan digelarnya Festival Lampion Waisak 2026 di Candi Borobudur. Acara puncak perayaan Hari Raya Tri Suci Waisak 2570 BE ini telah membuka pendaftaran, mengundang umat Buddha dan masyarakat umum untuk turut serta dalam momen magis pelepasan ribuan lentera perdamaian pada hari Minggu, 31 Mei 2026. Festival yang dinanti-nanti ini menjanjikan pengalaman spiritual yang mendalam sekaligus pertunjukan visual yang memukau di salah satu situs warisan dunia paling ikonik di Indonesia.

sulutnetwork.com – Pengelola Candi Borobudur secara resmi mengumumkan pembukaan pendaftaran untuk partisipasi dalam Festival Lampion Waisak 2026, yang dijadwalkan berlangsung dari tanggal 23 hingga 27 Mei 2026. Pengumuman ini disampaikan melalui akun resmi Candi Borobudur, menegaskan kembali komitmen penyelenggara untuk melanjutkan tradisi luhur yang telah menjadi daya tarik utama perayaan Waisak di kompleks candi megah tersebut. "Momen magis Pelepasan Lentera Perdamaian di Candi Borobudur semakin dekat. Sebuah tradisi penuh makna yang menghadirkan harapan, ketenangan, dan kebersamaan," demikian pernyataan dari pihak pengelola, menggarisbawahi esensi spiritual dari acara tersebut yang tidak hanya sekadar tontonan, melainkan juga sebuah ritual sakral yang kaya akan nilai-nilai luhur.

Waisak, yang juga dikenal sebagai Hari Raya Tri Suci Waisak, merupakan perayaan penting bagi umat Buddha di seluruh dunia. Hari raya ini memperingati tiga peristiwa krusial dalam kehidupan Buddha Gautama: kelahirannya di Taman Lumbini, pencerahannya di bawah Pohon Bodhi, dan parinirvananya di Kushinagar. Di Indonesia, perayaan Waisak secara historis dan spiritual dipusatkan di Candi Borobudur, sebuah mahakarya arsitektur Buddhis yang diakui sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO. Kompleks candi ini menjadi saksi bisu dan pusat spiritual bagi ribuan umat Buddha yang datang dari berbagai penjuru untuk mengikuti serangkaian ritual sakral, termasuk pradaksina (berjalan mengelilingi candi searah jarum jam) dan meditasi, yang puncaknya diwarnai dengan pelepasan lentera.

Tradisi pelepasan lentera, yang dikenal sebagai ‘Lentera Perdamaian,’ bukan sekadar atraksi visual, melainkan sebuah ritual sarat makna. Setiap lentera yang dilepaskan ke langit melambangkan harapan, doa, dan keinginan untuk perdamaian universal, baik bagi diri sendiri maupun seluruh makhluk hidup. Cahaya lentera diyakini sebagai simbol pencerahan yang menghilangkan kegelapan ketidaktahuan dan membawa kebijaksanaan. Dalam konteks Waisak, pelepasan lentera ini menjadi manifestasi dari semangat kasih sayang (metta), welas asih (karuna), dan sukacita simpatik (mudita) yang diajarkan oleh Buddha. Keindahan ribuan lentera yang mengangkasa di atas langit Borobudur menciptakan sebuah pemandangan yang tak terlupakan, memadukan keagungan sejarah dengan kedalaman spiritual.

Acara pelepasan lentera ini akan dipusatkan di dua area utama dalam kawasan Taman Wisata Candi Borobudur, yaitu Lapangan Marga Utama dan Taman Lumbini. Pemilihan lokasi ini memungkinkan peserta untuk merasakan kedekatan dengan candi sambil tetap menjaga kelancaran dan kekhusyukan prosesi. Penyelenggara, yang biasanya melibatkan organisasi keagamaan seperti Walubi (Perwakilan Umat Buddha Indonesia) bersama dengan InJourney Destination Management sebagai pengelola destinasi, telah mempersiapkan segala aspek teknis dan spiritual untuk memastikan kelancaran acara. Kolaborasi antara entitas keagamaan dan pengelola pariwisata ini menunjukkan sinergi dalam melestarikan tradisi sekaligus mempromosikan pariwisata budaya dan spiritual.

Bagi masyarakat yang berminat untuk berpartisipasi dalam festival ini, proses pemesanan tiket resmi dilakukan secara daring melalui platform terpercaya seperti InJourney Destination Management dan Traveloka. Pendaftaran yang dibuka dalam rentang waktu singkat, yaitu 23-27 Mei 2026, menekankan pentingnya respons cepat dari calon peserta. Hal ini juga membantu penyelenggara dalam mengelola jumlah peserta dan memastikan pengalaman yang optimal bagi semua yang hadir. Sistem pendaftaran daring ini diharapkan dapat mempermudah akses bagi peserta dari berbagai daerah, bahkan mancanegara, untuk mendapatkan tiket tanpa kendala berarti.

Demi menjaga kekhusyukan ritual serta kenyamanan seluruh pengunjung, prosesi pelepasan lampion tahun ini dibagi menjadi dua sesi terpisah. Pembagian sesi ini merupakan langkah strategis untuk mengurai kepadatan peserta, memungkinkan setiap individu merasakan atmosfer sakral dengan lebih intim, dan memastikan kelancaran logistik. Dengan demikian, penyelenggara berharap dapat memberikan pengalaman yang lebih berkualitas, baik bagi umat Buddha yang menjalankan ritual maupun bagi masyarakat umum yang ingin menyaksikan keindahan dan makna dari tradisi ini. Setiap sesi dirancang untuk menawarkan pengalaman yang unik, disesuaikan dengan waktu dan suasana yang berbeda.

Sesi pertama pelepasan lentera dijadwalkan berlangsung pada sore hingga malam hari, tepatnya pukul 17.30 sampai 19.30 WIB. Pintu masuk untuk sesi ini akan dibuka lebih awal, yakni sejak pukul 16.30 WIB, memberikan waktu yang cukup bagi peserta untuk memasuki area, menemukan posisi yang nyaman, dan mempersiapkan diri untuk prosesi. Sesi ini menawarkan atmosfer yang unik dengan transisi dari senja ke malam, di mana langit perlahan menggelap dan cahaya lentera mulai mendominasi. Momen matahari terbenam di balik siluet Borobudur, berpadu dengan cahaya lentera yang mulai mengangkasa, menciptakan pemandangan yang sangat fotogenik dan penuh kedamaian, seringkali menjadi daya tarik utama bagi banyak pengunjung.

Sementara itu, sesi kedua diselenggarakan pada malam hari mulai pukul 21.30 hingga 23.00 WIB, dengan pintu masuk yang dibuka pukul 20.30 WIB. Sesi ini menawarkan atmosfer yang lebih syahdu dan hening, di mana kegelapan malam semakin mempertegas keindahan cahaya ribuan lentera yang melayang di langit. Sesi kedua ini dirancang untuk memberikan pengalaman yang lebih mendalam dan kontemplatif. Sebagai penutup yang memukau, sesi ini akan diakhiri dengan pertunjukan spektakuler dari 570 armada drone pada pukul 22.30 WIB. Angka 570 pada armada drone tersebut kemungkinan besar mengacu pada tahun perayaan Waisak 2570 BE (Buddhist Era), menjadikannya sentuhan modern yang sarat simbolisme dan relevansi dengan momen sakral yang sedang diperingati, memadukan tradisi kuno dengan teknologi mutakhir.

Bagi pengunjung yang ingin berpartisipasi langsung dalam ritual menerbangkan lampion, tersedia tiket Kategori Pelepas Lentera. Kategori ini mencakup akses masuk ke kawasan candi, sebuah kartu harapan untuk dituliskan doa dan keinginan, serta lampion yang nantinya akan diterbangkan. Penyelenggara menerapkan sistem pelepasan lampion secara berkelompok, dengan minimal empat orang per lampion, mendorong interaksi dan kebersamaan di antara para peserta. Kebijakan ini tidak hanya mengoptimalkan penggunaan lampion tetapi juga memperkuat makna kebersamaan dalam prosesi ritual.

Struktur tarif untuk Kategori Pelepas Lentera bervariasi berdasarkan kewarganegaraan dan tingkat eksklusivitas. Untuk wisatawan nusantara, tiket Kategori Pelepas Lentera reguler dibanderol seharga Rp550.000 per orang. Sementara itu, terdapat penawaran harga spesial IDR 800K/pax dengan minimal pembelian 3 tiket, yang mendorong partisipasi kelompok atau keluarga. Bagi wisatawan mancanegara, tarif yang berlaku adalah Rp1.200.000 per orang untuk kategori reguler. Selain itu, tersedia pula tiket kelas VIP yang ditawarkan dengan harga Rp2.000.000 per orang, baik untuk wisatawan nusantara maupun mancanegara. Tiket VIP ini biasanya menawarkan fasilitas tambahan seperti area khusus, tempat duduk yang lebih nyaman, atau akses yang lebih eksklusif.

Di sisi lain, bagi pengunjung yang hanya ingin menyaksikan keindahan ribuan lentera di langit tanpa ikut menerbangkannya, tersedia Kategori Khusus Penonton. Kategori ini terbagi menjadi dua pilihan area dengan harga yang berbeda. Pilihan pertama adalah menonton di area tribun, yang menawarkan pemandangan optimal dan kenyamanan. Untuk wisatawan nusantara, tiket penonton di area tribun seharga Rp250.000, sementara untuk wisatawan mancanegara dikenakan tarif Rp350.000. Area tribun ini dirancang untuk memberikan pengalaman menonton yang imersif, memungkinkan penonton mengabadikan momen pelepasan lentera dengan sudut pandang yang strategis.

Pilihan lain dalam Kategori Khusus Penonton adalah menonton di kawasan sekitar luar area utama, yang menawarkan tarif yang lebih terjangkau. Untuk wisatawan nusantara, tiket ini seharga Rp65.000, dan untuk wisatawan mancanegara seharga Rp150.000. Meskipun berada di area yang lebih jauh dari pusat pelepasan, penonton di kawasan ini masih dapat menikmati pemandangan ribuan lentera yang menghiasi langit malam Borobudur dari perspektif yang lebih luas. Opsi ini memberikan fleksibilitas bagi berbagai segmen pengunjung untuk tetap dapat menjadi bagian dari kemeriahan festival tanpa harus berpartisipasi langsung dalam pelepasan lampion.

Selain persiapan teknis dan spiritual, penyelenggara juga memperhatikan aspek logistik dan keamanan bagi seluruh peserta. Mengingat tingginya antusiasme, langkah-langkah pengamanan yang ketat akan diberlakukan di seluruh area festival. Peserta disarankan untuk tiba lebih awal dari jam buka pintu masuk yang ditentukan untuk menghindari kemacetan dan antrean panjang. Transportasi menuju Candi Borobudur juga perlu direncanakan dengan matang, mengingat lonjakan pengunjung. Berbagai akomodasi di sekitar Magelang dan Yogyakarta kemungkinan akan terisi penuh, sehingga pemesanan jauh hari sangat dianjurkan. Selain itu, pengunjung disarankan untuk mengenakan pakaian yang sopan dan nyaman, serta membawa perlengkapan pribadi yang diperlukan.

Festival Lampion Waisak di Borobudur tidak hanya memiliki dimensi spiritual dan budaya, tetapi juga memberikan dampak signifikan terhadap perekonomian lokal dan pariwisata nasional. Acara ini menarik ribuan wisatawan, baik domestik maupun internasional, yang pada gilirannya mendorong pertumbuhan sektor perhotelan, kuliner, transportasi, dan kerajinan tangan di sekitar Magelang dan Yogyakarta. Sebagai salah satu event pariwisata utama Indonesia, Festival Lampion Borobudur secara efektif mempromosikan kekayaan budaya dan keindahan alam Indonesia ke mata dunia, memperkuat posisi Borobudur sebagai destinasi wisata spiritual dan budaya kelas dunia.

Secara spiritual dan komunitas, festival ini memperkuat pesan perdamaian dan toleransi. Partisipasi dari berbagai latar belakang, baik umat Buddha maupun masyarakat umum, menunjukkan semangat kebersamaan dan harmoni antarumat beragama. Momen pelepasan lentera menjadi pengingat kolektif akan pentingnya harapan, ketenangan, dan persatuan dalam menghadapi tantangan dunia. Pengalaman unik ini tidak hanya memperkaya spiritualitas individu, tetapi juga mempererat ikatan sosial dan menumbuhkan rasa memiliki terhadap warisan budaya yang tak ternilai.

Dengan segala persiapan yang matang dan makna yang mendalam, Festival Lampion Waisak 2026 di Candi Borobudur diharapkan akan kembali menjadi perayaan yang sukses dan berkesan. Momen magis pelepasan ribuan lentera perdamaian ini akan terus menjadi simbol harapan, ketenangan, dan kebersamaan, menegaskan kembali peran Borobudur sebagai pusat spiritual dan budaya yang tak lekang oleh waktu, mengundang dunia untuk menyaksikan keindahan tradisi yang terus hidup dan berkembang.