Banyuwangi mencatat lonjakan signifikan dalam kunjungan wisatawan selama libur panjang Kenaikan Isa Almasih, periode 14 hingga 17 Mei 2026. Sebanyak 47.478 wisatawan domestik dan mancanegara membanjiri berbagai destinasi, menyebabkan tingkat hunian akomodasi mencapai 100 persen dan memberikan dampak ekonomi positif yang besar bagi sektor pariwisata dan masyarakat lokal di ujung timur Pulau Jawa ini.
sulutnetwork.com – Data yang dirilis oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Banyuwangi secara konkret menunjukkan angka 47.478 wisatawan yang memadati wilayah ini dalam kurun waktu empat hari tersebut. Dari total jumlah pengunjung, 46.685 di antaranya merupakan wisatawan domestik yang datang dari berbagai penjuru Indonesia, sementara 793 lainnya adalah wisatawan mancanegara yang tertarik dengan pesona alam dan budaya Banyuwangi. Angka ini menegaskan posisi Banyuwangi sebagai salah satu destinasi favorit di tengah momentum libur panjang nasional.
Libur panjang Kenaikan Isa Almasih, yang secara tradisional ditetapkan sebagai hari libur nasional, menjadi katalisator utama bagi pergerakan wisatawan di seluruh Indonesia. Dengan durasi empat hari yang strategis, mulai dari pertengahan pekan hingga akhir pekan, momen ini memberikan kesempatan ideal bagi masyarakat untuk merencanakan perjalanan singkat maupun panjang. Banyak keluarga dan kelompok wisata yang memanfaatkan periode ini untuk menjelajahi destinasi baru atau kembali ke tempat favorit, dan Banyuwangi berhasil menarik perhatian besar dari segmen pasar ini berkat promosi yang gencar serta infrastruktur pariwisata yang terus berkembang.
Daya tarik Banyuwangi sebagai destinasi wisata memang tak terbantahkan. Kabupaten ini dikenal dengan lanskap alamnya yang sangat beragam, mulai dari pegunungan berapi seperti Kawah Ijen yang mendunia, deretan pantai eksotis dengan ombak yang menantang bagi peselancar dan pemandangan matahari terbenam yang memukau, hingga hutan-hutan yang rimbun dan asri. Selain kekayaan alam, Banyuwangi juga kaya akan budaya lokal yang otentik, mulai dari tradisi, seni tari, musik, hingga kuliner khas yang menjadi daya pikat tersendiri. Pemerintah daerah, melalui berbagai program seperti Banyuwangi Festival dan pengembangan smart tourism, telah secara konsisten mempromosikan potensi ini, menjadikan Banyuwangi sebagai magnet bagi wisatawan dari berbagai latar belakang.
Analisis lebih lanjut terhadap data kunjungan menunjukkan dominasi wisatawan domestik yang mencapai lebih dari 98 persen dari total pengunjung. Hal ini mengindikasikan bahwa pasar domestik adalah tulang punggung utama pariwisata Banyuwangi, sebuah tren yang juga diamati di banyak destinasi lain di Indonesia pasca-pandemi. Kehadiran wisatawan domestik ini tidak hanya mengisi destinasi wisata, tetapi juga menggerakkan roda perekonomian lokal secara signifikan. Mulai dari UMKM, pedagang kaki lima, penyedia jasa transportasi, hingga pelaku industri kreatif, semuanya merasakan dampak positif dari lonjakan kunjungan ini, menciptakan efek berganda yang memperkuat ekonomi daerah.
Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, menyampaikan rasa syukur dan apresiasinya atas keberhasilan ini. "Alhamdulillah, kami bersyukur Banyuwangi tetap menjadi pilihan bagi wisatawan untuk menghabiskan waktu liburannya," ujar Bupati Ipuk pada Minggu (17/5/2026). Ia juga menambahkan, "Terima kasih kepada semua pihak yang terus bahu membahu dalam menjaga dan memajukan pariwisata Banyuwangi. Ini menjadi penyemangat kita bersama untuk terus memberikan pengalaman wisata yang nyaman dan aman bagi semua." Pernyataan ini mencerminkan komitmen pemerintah daerah untuk terus meningkatkan kualitas layanan dan keamanan bagi wisatawan, serta membangun ekosistem pariwisata yang berkelanjutan dengan melibatkan seluruh elemen masyarakat.
Selama momen libur panjang ini, hampir seluruh destinasi wisata di Banyuwangi mencatat peningkatan jumlah pengunjung yang signifikan, menunjukkan pemerataan minat wisatawan terhadap berbagai jenis atraksi yang ditawarkan. Fenomena ini tidak hanya terbatas pada destinasi ikonik, tetapi juga merambah ke tempat-tempat yang mungkin sebelumnya kurang populer, menandakan keberhasilan strategi diversifikasi pariwisata Banyuwangi. Lonjakan ini juga menjadi indikator kuat bahwa promosi dan pengelolaan destinasi telah berjalan efektif dalam menarik perhatian khalayak luas.
Salah satu destinasi yang paling ramai dikunjungi adalah Hutan De Djawatan, yang mencatat 7.266 wisatawan. Objek wisata yang terletak di Kecamatan Purwoharjo ini memang memiliki daya tarik unik dengan deretan pohon trembesi berusia ratusan tahun yang menjulang tinggi, menciptakan suasana magis dan sering disebut-sebut mirip dengan latar film fantasi. Para wisatawan memanfaatkan suasana rindang dan sejuk untuk berfoto, berpiknik, atau sekadar menikmati udara segar yang jauh dari hiruk pikuk perkotaan. Keindahan alaminya yang memukau menjadikannya lokasi favorit untuk rekreasi keluarga dan fotografi, menegaskan posisinya sebagai salah satu ikon alam Banyuwangi.
Selain De Djawatan, Pantai Pulau Merah juga menjadi primadona, dikunjungi oleh 5.636 wisatawan. Terkenal dengan pasirnya yang berwarna kemerahan saat terkena sinar matahari terbenam, pantai ini menawarkan panorama matahari terbenam yang spektakuler. Namun, daya tariknya tidak hanya itu; ombaknya yang ideal juga menarik para peselancar, baik pemula maupun profesional. Fasilitas pendukung seperti warung makan, penginapan sederhana, dan area parkir yang memadai turut menambah kenyamanan pengunjung, menjadikan Pantai Pulau Merah sebagai destinasi serbaguna yang cocok untuk berbagai aktivitas.
Destinasi lain yang tak kalah populer adalah Pantai Marina Boom, yang mencatat 4.965 pengunjung. Pantai ini merupakan salah satu destinasi yang paling mudah dijangkau dari pusat kota Banyuwangi, menjadikannya pilihan ideal bagi wisatawan yang mencari hiburan dekat kota. Dengan fasilitas dermaga modern, area publik yang tertata rapi, dan sering menjadi lokasi berbagai acara budaya dan olahraga, Pantai Marina Boom menawarkan pengalaman wisata urban yang berbeda. Para pengunjung dapat menikmati pemandangan Selat Bali, berlayar singkat, atau sekadar bersantai di tepi pantai sambil menikmati hidangan laut.
Sementara itu, daya tarik Kawah Ijen yang mendunia tetap menjadi magnet kuat dengan 3.297 pengunjung. Meskipun memerlukan upaya fisik yang cukup untuk mendaki, pengalaman menyaksikan fenomena "api biru" (blue fire) yang langka di malam hari, serta pemandangan danau kawah berwarna pirus yang menakjubkan saat matahari terbit, adalah imbalan yang tak ternilai. Kawah Ijen, dengan penambangan belerangnya yang unik, juga menawarkan perspektif tentang kehidupan masyarakat lokal. Pengelola destinasi telah menerapkan berbagai standar keselamatan dan memfasilitasi pemandu lokal untuk memastikan pengalaman yang aman dan berkesan bagi setiap pengunjung.
Pantai Mustika juga turut menyumbang angka kunjungan yang signifikan dengan 2.869 wisatawan. Pantai ini mungkin tidak sepopuler Pulau Merah atau Marina Boom, namun menawarkan pesona tersendiri dengan keasrian dan ketenangannya. Pantai Mustika sering menjadi pilihan bagi mereka yang mencari pengalaman wisata yang lebih intim dan jauh dari keramaian, menawarkan keindahan alam yang masih alami dan suasana yang cocok untuk relaksasi. Potensinya sebagai destinasi ekowisata dan wisata bahari terus dikembangkan dengan melibatkan partisipasi masyarakat sekitar.
Pelaksana Tugas Kepala Disbudpar Banyuwangi, Hartono, menggarisbawahi bahwa destinasi wisata di kawasan perkotaan juga berhasil menarik perhatian. "Seperti Banyuwangi Park yang ada di tengah kota yang ramai diserbu wisatawan," ujarnya. Ia menambahkan, "Tercatat 4.050 telah berkunjung ke sini selama long weekend. Jumlah ini diprediksi masih bisa bertambah mengingat kunjungan masih tetap buka hingga sore nanti." Banyuwangi Park, sebagai taman hiburan keluarga modern, mengisi celah kebutuhan akan atraksi rekreasi buatan di tengah kota. Keberadaannya melengkapi spektrum destinasi Banyuwangi, memberikan pilihan hiburan bagi keluarga dengan anak-anak dan mereka yang mencari aktivitas yang lebih santai tanpa harus jauh dari pusat kota.
Meningkatnya jumlah wisatawan secara otomatis berdampak besar pada sektor akomodasi. Hotel dan penginapan di seluruh Banyuwangi melaporkan tingkat hunian yang luar biasa, dengan banyak yang mencatat okupansi hingga 100 persen selama periode libur panjang tersebut. Fenomena "fully booked" ini tidak hanya terjadi pada hotel-hotel besar, tetapi juga merambah ke penginapan kecil, homestay, dan villa, menunjukkan bahwa permintaan jauh melebihi kapasitas yang tersedia. Situasi ini tentu menjadi berkah bagi para pelaku usaha perhotelan dan memberikan dorongan besar bagi investasi di sektor ini.
Aston Banyuwangi Hotel & Conference Center menjadi salah satu contoh yang merasakan dampak positif ini. Menurut Sales Manager Aston Banyuwangi, Sari, seluruh kamar di hotel tersebut telah penuh terisi sejak jauh hari, terutama pada tanggal 14-15 Mei 2026. "Okupansi naik 100 persen. Semua kamar fully booked di tanggal 14-15 Mei. Mayoritas tamu berasal dari luar kota," jelas Sari. Hal ini mengindikasikan bahwa wisatawan yang berkunjung ke Banyuwangi tidak hanya mencari destinasi, tetapi juga kenyamanan dan fasilitas yang ditawarkan oleh hotel-hotel berbintang. Manajemen hotel tentu telah melakukan persiapan matang, mulai dari penambahan staf hingga peningkatan layanan untuk mengakomodasi lonjakan tamu.
Situasi serupa juga dialami oleh Villa Solong, penginapan yang menawarkan panorama Selat Bali yang menawan. Executive Marketing Villa Solong, Imam Solehan, mengungkapkan, "Tanggal 14-16 kemarin, semua kamar penuh. Dan semua tamu kami dari luar kota, di antaranya Jakarta, Surabaya, Bali. Rata-rata mereka memang mau liburan di Banyuwangi." Keterangan ini memperkuat bahwa Banyuwangi menarik wisatawan dari kota-kota besar yang jauh, termasuk dari pulau tetangga Bali, yang mencari pengalaman liburan yang berbeda atau sebagai perpanjangan dari perjalanan mereka. Villa Solong, dengan keunggulan pemandangannya, menjadi pilihan menarik bagi wisatawan yang menginginkan pengalaman menginap yang eksklusif dan tenang.
Keberhasilan Banyuwangi dalam menarik puluhan ribu wisatawan selama libur panjang ini juga menghadirkan tantangan tersendiri, terutama terkait pengelolaan lingkungan dan keberlanjutan. Peningkatan jumlah pengunjung memerlukan perhatian ekstra terhadap kapasitas daya dukung destinasi, pengelolaan sampah, serta pelestarian keasrian alam dan budaya. Pemerintah daerah dan pelaku pariwisata dituntut untuk terus berinovasi dalam mengembangkan model pariwisata yang tidak hanya menguntungkan secara ekonomi, tetapi juga bertanggung jawab secara lingkungan dan sosial, memastikan bahwa keindahan Banyuwangi dapat dinikmati oleh generasi mendatang.
Melihat antusiasme dan angka kunjungan yang luar biasa ini, masa depan pariwisata Banyuwangi tampak semakin cerah. Pemerintah daerah diharapkan akan terus memperkuat strategi promosi, meningkatkan kualitas infrastruktur dan fasilitas pendukung, serta mengembangkan produk-produk wisata baru yang inovatif. Kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat lokal akan menjadi kunci dalam menjaga momentum positif ini, menjadikan Banyuwangi sebagai destinasi pariwisata yang berkelanjutan, aman, nyaman, dan selalu menjadi pilihan utama bagi wisatawan di setiap kesempatan libur panjang. Keberhasilan ini adalah cerminan dari kerja keras dan sinergi berbagai pihak dalam membangun citra Banyuwangi sebagai permata pariwisata di Indonesia.




