Dua individu telah ditangkap di kawasan Don Mueang, Bangkok, Thailand, menyusul dugaan keterlibatan mereka dalam aksi pencurian tiga satwa langka dari dua kebun binatang yang berbeda pada awal Mei lalu. Kejahatan ini terjadi saat kebun binatang dipadati pengunjung yang memanfaatkan libur nasional, memunculkan pertanyaan serius tentang keamanan fasilitas konservasi dan maraknya perdagangan satwa ilegal. Penangkapan ini menjadi sorotan publik setelah Pata Zoo, salah satu lokasi kejadian, secara proaktif menyebarkan informasi dan sketsa pelaku melalui media sosial, memicu respons luas dari masyarakat.
sulutnetwork.com – Kasus pencurian satwa yang mengguncang Thailand ini pertama kali mencuat ke permukaan melalui unggahan resmi Pata Zoo di akun Facebook mereka pada tanggal 6 Mei. Unggahan tersebut, yang turut menyertakan sketsa wajah seorang pria dan seorang wanita yang diduga sebagai pelaku, segera menjadi viral dan menarik perhatian media massa. Mengutip laporan dari Thaiger pada Selasa (12/5/2026), manajemen Pata Zoo dalam laporannya merinci kronologi kejadian yang terjadi di fasilitas mereka. Menurut catatan kebun binatang, pasangan pelaku tiba di lokasi sekitar pukul 10.40 waktu setempat, sebuah waktu yang menunjukkan keberanian mereka beraksi di tengah keramaian pengunjung.
Modus operandi yang digunakan oleh pasangan pencuri ini tergolong cermat dan terencana. Setibanya di Pata Zoo, mereka membawa sebuah ransel berwarna biru yang di dalamnya terdapat seekor monyet tupai. Mengingat peraturan ketat yang melarang pengunjung membawa hewan peliharaan ke dalam area kebun binatang, monyet tupai tersebut terpaksa dititipkan di loket tiket sebelum pasangan itu memasuki gerbang utama. Penitipan hewan ini kemudian menjadi salah satu petunjuk penting bagi pihak berwenang. Petugas loket yang berinteraksi dengan keduanya memberikan deskripsi detail mengenai ciri-ciri fisik para pelaku. Pelaku perempuan digambarkan memiliki rambut pendek, mengenakan kacamata, memakai tank top berwarna hitam, dan memiliki tato berukuran besar di lengan kanannya. Sementara itu, pelaku pria memiliki kumis, rambut belah tengah yang juga pendek, dan memiliki kedutan yang mencolok di area matanya. Deskripsi yang rinci ini kemudian menjadi dasar pembuatan sketsa yang disebarluaskan oleh Pata Zoo.
Setelah berhasil masuk ke dalam area kebun binatang, pasangan ini diduga melakukan perubahan penampilan untuk menghindari identifikasi lebih lanjut. Mereka terlihat mengenakan jaket berwarna hitam yang mencolok dengan logo McDonald’s di bagian depan. Dengan penampilan baru ini, mereka kemudian bergerak menuju zona satwa eksotis, yang menjadi target utama aksi pencurian mereka. Rekaman kamera pengawas (CCTV) yang terpasang di berbagai sudut kebun binatang menjadi bukti tak terbantahkan. Dalam rekaman tersebut, terlihat jelas pelaku pria berupaya membuka paksa kandang reptil, menunjukkan niat jahat dan persiapan matang yang telah mereka lakukan. Sementara pelaku pria sibuk dengan kandang, pelaku perempuan dengan sigap mengambil dua satwa langka: seekor kadal buaya China (Shinisaurus crocodilurus) dan seekor salamander harimau (Ambystoma tigrinum). Kedua hewan tersebut kemudian disembunyikan dengan tergesa-gesa di balik jaket mereka, menunjukkan kecepatan dan koordinasi dalam menjalankan kejahatan.
Sekitar pukul 11.00, atau hanya sekitar 20 menit setelah mereka masuk dan beraksi, kedua pelaku segera keluar dari area kebun binatang. Dengan terburu-buru, mereka mengambil kembali monyet tupai yang sebelumnya dititipkan di loket pintu masuk, seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Setelah itu, mereka langsung kabur meninggalkan lokasi kejadian dengan cepat. Namun, kecurigaan manajemen kebun binatang tidak berhenti di situ. Pengelola Pata Zoo menduga kuat bahwa monyet tupai yang dibawa oleh pasangan tersebut saat masuk ke kebun binatang juga merupakan hasil curian dari tempat lain, mengindikasikan bahwa pasangan ini mungkin merupakan bagian dari sindikat pencurian satwa yang lebih besar atau telah melakukan serangkaian kejahatan serupa di lokasi lain.
Pencurian kadal buaya China dan salamander harimau bukan sekadar insiden biasa. Kedua spesies ini memiliki nilai konservasi yang tinggi dan sering menjadi target perdagangan satwa ilegal karena kelangkaan dan keunikannya. Kadal buaya China, misalnya, adalah spesies reptil semi-akuatik yang terancam punah, asli dari wilayah pegunungan di China selatan dan Vietnam. Mereka dikenal dengan penampilannya yang menyerupai buaya kecil, dengan deretan sisik tulang di sepanjang punggungnya. Status konservasinya yang rentan menjadikan mereka sangat diminati di pasar gelap, baik untuk koleksi pribadi eksotis maupun untuk tujuan pembiakan ilegal. Penjualan individu kadal buaya China di pasar gelap dapat mencapai harga fantastis, menjadikannya target menggiurkan bagi para pelaku kejahatan satwa.
Sementara itu, salamander harimau adalah spesies salamander darat terbesar di Amerika Utara, meskipun spesies serupa atau terkait juga dapat ditemukan di Asia. Mereka dikenal dengan pola warna-warni yang khas, menyerupai belang harimau, dan memainkan peran penting dalam ekosistem tempat mereka hidup. Meskipun tidak se-terancam punah seperti kadal buaya China secara global, populasi lokal mereka dapat terancam oleh hilangnya habitat dan perdagangan ilegal. Kehadiran dua spesies ini dalam daftar curian menunjukkan bahwa para pelaku memiliki pengetahuan tentang satwa-satwa bernilai tinggi di pasar gelap, dan bukan sekadar pencurian acak.
Dugaan keterlibatan pasangan ini dalam pencurian dari "dua kebun binatang" mengindikasikan adanya pola kejahatan yang lebih luas. Pihak berwenang menduga bahwa pasangan ini mungkin menggunakan modus operandi serupa di fasilitas lain, atau bahwa monyet tupai yang mereka bawa memang dicuri dari kebun binatang atau penangkaran lain sebelum insiden di Pata Zoo. Penyelidikan intensif kini tengah dilakukan untuk mengungkap jaringan di balik kejahatan ini. Polisi Thailand, bekerja sama dengan unit perlindungan satwa liar, kemungkinan besar memanfaatkan rekaman CCTV dari Pata Zoo, deskripsi saksi, dan informasi dari unggahan Facebook yang viral untuk melacak jejak para pelaku. Penangkapan mereka di kawasan Don Mueang menunjukkan keberhasilan upaya pelacakan dan respons cepat dari aparat keamanan.
Insiden ini menyoroti kerentanan kebun binatang, terutama selama periode ramai seperti libur nasional, ketika pengawasan mungkin sedikit lebih longgar dibandingkan hari biasa. Kebun binatang di seluruh dunia, termasuk di Thailand, berjuang untuk menyeimbangkan aksesibilitas publik dengan kebutuhan untuk melindungi satwa mereka dari ancaman eksternal, termasuk pencurian. Kejahatan satwa liar merupakan masalah serius di Thailand, sebuah negara yang dikenal sebagai titik transit dan terkadang sumber untuk perdagangan satwa liar ilegal yang menguntungkan. Satwa-satwa yang diperdagangkan secara ilegal sering kali berakhir di pasar hewan peliharaan eksotis, restoran, atau bahkan untuk tujuan pengobatan tradisional yang tidak terbukti khasiatnya.
Hukum di Thailand mengenai perlindungan satwa liar cukup ketat, dengan Undang-Undang Konservasi dan Perlindungan Satwa Liar (Wild Animal Reservation and Protection Act) yang melarang penangkapan, perburuan, pemilikan, dan perdagangan satwa liar yang dilindungi tanpa izin. Para pelaku yang terbukti bersalah atas pencurian satwa liar dan perdagangan ilegal dapat menghadapi hukuman penjara yang berat dan denda yang besar. Kasus ini diharapkan dapat menjadi peringatan bagi para pelaku kejahatan satwa liar lainnya, sekaligus mendorong peningkatan keamanan di fasilitas-fasilitas konservasi di seluruh negeri.
Penangkapan dua individu ini, meskipun merupakan langkah maju yang signifikan, hanyalah bagian dari perjuangan yang lebih besar melawan perdagangan satwa liar ilegal. Penting bagi masyarakat untuk tetap waspada dan melaporkan aktivitas mencurigakan yang melibatkan satwa liar. Pata Zoo, dengan keberaniannya menyebarkan informasi dan sketsa pelaku, telah menunjukkan peran penting yang dapat dimainkan oleh lembaga konservasi dalam memerangi kejahatan ini. Peran serta publik dan kerja sama antarlembaga menjadi kunci untuk memastikan bahwa satwa-satwa langka ini tetap aman di habitat alami mereka atau di fasilitas yang bertanggung jawab, jauh dari tangan-tangan jahat para penyelundup. Investigasi lebih lanjut diharapkan dapat mengungkap motif sebenarnya di balik pencurian ini dan apakah ada jaringan yang lebih besar yang beroperasi di balik layar.




