Fenomena backpacker telah menjadi dambaan banyak anak muda di era modern, mewakili kebebasan, petualangan, dan eksplorasi budaya dengan anggaran terbatas. Namun, jauh sebelum istilah ini populer, seorang pria asal Italia pada abad ke-17 telah merintis gaya perjalanan yang kini menjadi inspirasi jutaan orang. Siapakah pelopor tak terduga ini? Ia adalah Giovanni Francesco Gemelli Careri, seorang petualang yang dengan berani menantang konvensi perjalanan di zamannya.
sulutnetwork.com – Kisah Giovanni Francesco Gemelli Careri adalah narasi tentang keberanian dan rasa ingin tahu yang tak terbatas. Pria ini, yang semula berprofesi sebagai pengacara, memutuskan untuk menanggalkan jubah hukumnya demi menjelajahi dunia hanya dengan ransel di punggungnya. Perjalanannya yang monumental, yang dimulai pada tahun 1693 dan berlangsung selama lima tahun, bukan hanya sebuah ekspedisi fisik melainkan juga sebuah perjalanan revolusioner yang mendefinisikan ulang batas-batas eksplorasi pribadi. Definisi backpacker menurut Urban Dictionary sebagai "subkultur pelancong yang sangat longgar yang membawa semua barang mereka di dalam ransel," didorong oleh rasa petualangan dan keinginan untuk menemukan tempat-tempat terpencil, secara mengejutkan sangat relevan dengan semangat Careri.
Semangat backpacker modern mencerminkan keinginan kuat untuk merasakan dunia secara autentik. Mereka adalah individu yang mencari pengalaman, bukan kemewahan. Prinsip mereka adalah bepergian sehemat mungkin, memaksimalkan waktu di jalan, dan tidak ragu menerima akomodasi sederhana atau berbagi kamar demi menghemat biaya. Filosofi ini memungkinkan mereka untuk berinteraksi lebih dalam dengan budaya lokal, menemukan permata tersembunyi yang jauh dari keramaian turis, dan membangun koneksi yang bermakna. Namun, gaya perjalanan yang kini dianggap biasa ini adalah sebuah anomali besar pada abad ke-17.
Pada era Careri, perjalanan jarak jauh adalah sebuah kemewahan yang hanya mampu dijangkau oleh segelintir orang. Umumnya, perjalanan dilakukan oleh para bangsawan yang didampingi rombongan besar, para pedagang yang membawa karavan barang dagangan, misionaris yang menyebarkan agama, atau diplomat yang mengemban misi kenegaraan. Perjalanan mereka sering kali didanai oleh kerajaan, gereja, atau lembaga dagang, dengan logistik yang terencana dan didukung oleh jaringan yang kuat. Oleh karena itu, keputusan Careri untuk berkeliling dunia sebagai individu biasa, tanpa sponsor atau dukungan institusional, adalah tindakan yang sangat tidak lazim dan mencengangkan.
Giovanni Francesco Gemelli Careri lahir di Taurianova, Calabria, Italia, pada tahun 1651. Ia menempuh pendidikan hukum dan sempat menjajaki karier sebagai pengacara, sebuah profesi yang menjanjikan stabilitas dan status sosial di masanya. Namun, jiwa petualang dalam dirinya tampaknya lebih kuat dari tuntutan profesi. Sekitar usia 40-an, ia membuat keputusan drastis yang mengubah jalan hidupnya: meninggalkan karier hukumnya untuk memenuhi panggilan eksplorasi. Motivasi personalnya mungkin berakar pada rasa ingin tahu yang mendalam akan dunia, keinginan untuk melihat peradaban lain, atau mungkin juga untuk mencari pelarian dari rutinitas hidup yang monoton.
Perjalanan Careri hanya mengandalkan sebuah ransel, atau tas punggung sederhana dengan dua tali bahu, yang jauh berbeda dengan ransel ergonomis modern yang dilengkapi berbagai kompartemen dan teknologi. Di masa itu, sebuah "ransel" lebih menyerupai karung kain kasar atau tas kulit yang dirancang untuk membawa barang-barang esensial secara praktis. Konsep perjalanan yang hanya membawa sedikit barang ini, tanpa gerobak, kuda, atau pelayan, adalah cerminan dari kemandirian dan kesederhanaan yang luar biasa. Ia membiayai sendiri seluruh perjalanannya, mengandalkan tabungan pribadinya dan mungkin juga kecerdikan untuk bertahan hidup, sebuah konsep yang mendasari semangat backpacker sejati.
Abad ke-17 adalah masa yang penuh tantangan bagi para pelancong. Infrastruktur jalan sangat minim, sarana transportasi masih primitif, dan bahaya mengintai di setiap sudut. Penyakit, perampok, konflik politik, dan hambatan bahasa adalah bagian tak terpisahkan dari setiap perjalanan. Peta-peta masih belum akurat sepenuhnya, dan komunikasi antarbenua membutuhkan waktu berbulan-bulan. Careri harus berhadapan dengan berbagai kerajaan dan kekuasaan yang berbeda di sepanjang rutenya, mulai dari Kesultanan Utsmaniyah yang luas, Kekaisaran Safawi di Persia, Kekaisaran Mughal di India, Dinasti Qing di Tiongkok, hingga koloni Spanyol di Filipina dan Meksiko.
Perjalanan Careri dimulai pada tahun 1693. Dari Italia, ia melintasi wilayah Kekaisaran Utsmaniyah, yang saat itu merupakan salah satu kekuatan terbesar di dunia. Ia mungkin menyaksikan kemegahan Istanbul, pusat kekuasaan Kesultanan Utsmaniyah, serta kehidupan sehari-hari di berbagai kota dan desa di Anatolia. Dari sana, ia melanjutkan perjalanan ke Persia, yang saat itu berada di bawah kekuasaan Dinasti Safawi. Di Persia, ia kemungkinan besar terpukau oleh arsitektur megah Isfahan, pusat budaya dan seni Safawi, serta merasakan keunikan budaya Persia yang kaya.
Ekspedisinya berlanjut ke anak benua India, di mana ia memasuki wilayah Kekaisaran Mughal. Pada akhir abad ke-17, Kekaisaran Mughal masih merupakan kekuatan dominan yang menguasai sebagian besar India, terkenal dengan kekayaan, kemegahan istana, dan arsitektur yang memukau. Careri pasti menyaksikan keanekaragaman budaya, agama, dan masyarakat India yang kompleks. Selanjutnya, ia berlayar menuju Tiongkok, sebuah negeri yang saat itu diperintah oleh Dinasti Qing yang baru menguasai sebagian besar wilayah. Tiongkok adalah peradaban yang sangat berbeda dengan yang ia temui sebelumnya, dengan tradisi, bahasa, dan sistem sosial yang unik.
Dari Tiongkok, Careri meneruskan perjalanannya ke Filipina, sebuah kepulauan yang pada waktu itu merupakan koloni penting Spanyol di Asia Tenggara. Filipina memiliki peran krusial sebagai titik transit dalam perdagangan Galleon Manila yang terkenal, menghubungkan Asia dengan Amerika. Jalur perdagangan ini adalah salah satu rute maritim paling penting di dunia pada abad ke-17, mengangkut sutra dan rempah-rempah dari Asia ke Meksiko, dan perak dari Meksiko ke Asia. Pengalamannya di Filipina memberinya wawasan langsung tentang dinamika kolonialisme dan perdagangan global.
Setelah menghabiskan waktu di Filipina, Careri menumpang kapal Galleon Spanyol yang melintasi Samudra Pasifik menuju Acapulco di Meksiko, yang saat itu dikenal sebagai "New Spain" atau Spanyol Baru. Perjalanan laut yang panjang dan berbahaya ini adalah salah satu segmen paling menantang dari ekspedisinya. Di Meksiko, ia menyaksikan perpaduan budaya pribumi dan kolonial Spanyol yang unik, serta memahami sistem administrasi dan ekonomi kolonial. Dari Meksiko, ia melanjutkan perjalanan kembali ke Eropa, berlayar melintasi Atlantik menuju Cadiz, Spanyol. Dari Cadiz, ia melakukan perjalanan darat melintasi Eropa untuk akhirnya kembali ke kota kelahirannya di Napoli, Italia, pada tahun 1699. Dengan demikian, ia berhasil menyelesaikan sebuah perjalanan keliling dunia yang luar biasa.
Setelah kembali ke Napoli, Careri tidak berlama-lama beristirahat. Selama enam bulan berikutnya, ia mencurahkan seluruh energinya untuk menulis catatan perjalanannya. Hasilnya adalah sebuah karya monumental setebal enam jilid yang berjudul Giro del Mondo dalam bahasa Italia, yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dengan judul Voyage Around the World. Kecepatan penulisan enam jilid dalam waktu sesingkat itu menunjukkan betapa detail dan rapinya ia menyimpan catatan selama perjalanannya, atau mungkin juga karena ingatan tajamnya tentang setiap peristiwa dan pengamatan.
Buku Voyage Around the World ini bukan sekadar catatan perjalanan biasa. Careri mendokumentasikan dengan cermat berbagai aspek kehidupan di setiap tempat yang ia kunjungi, mulai dari geografi, iklim, flora dan fauna, hingga adat istimewa, sistem politik, ekonomi, dan kepercayaan masyarakat lokal. Ia menggambarkan kota-kota, istana, pasar, kuil, dan lanskap alam dengan detail yang kaya. Observasinya memberikan gambaran langka dan berharga tentang dunia pada akhir abad ke-17, sebuah periode yang kurang terwakili dalam literatur perjalanan dari sudut pandang seorang individu biasa.
Buku Careri kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Prancis pada tahun 1719 dengan judul Voyage du Tour du Monde, dan segera menjadi sangat populer di kalangan pembaca Eropa. Beberapa edisi diterbitkan ulang, menunjukkan minat besar publik terhadap kisah-kisah petualangan dari dunia yang jauh. Namun, popularitasnya juga diiringi dengan keraguan. Tidak semua orang percaya bahwa seorang individu bisa melakukan perjalanan sejauh dan seluas itu, apalagi dengan cara yang begitu sederhana. Banyak yang mencurigai bahwa ia mungkin membesar-besarkan atau bahkan mengarang sebagian dari kisahnya.
Meskipun ada keraguan, selama berabad-abad, Voyage Around the World tetap dipandang sebagai salah satu sumber paling autentik dan terperinci tentang kehidupan di berbagai belahan dunia pada tahun 1690-an. Para sejarawan, antropolog, dan geograf mengandalkan catatannya untuk memahami kondisi sosial, politik, dan budaya pada masa itu. Detail yang ia berikan, meskipun mungkin tidak selalu sempurna, memberikan jendela berharga ke masa lalu yang jarang tercatat dari perspektif seorang "pengamat" yang tidak memiliki agenda politik atau misionaris.
Yang menarik, kisah petualangan Giovanni Francesco Gemelli Careri kemudian menjadi inspirasi utama bagi salah satu karya sastra petualangan paling terkenal sepanjang masa: Around the World in Eighty Days karya Jules Verne. Verne, seorang penulis fiksi ilmiah dan petualangan asal Prancis, kemungkinan besar menemukan gagasan tentang perjalanan keliling dunia yang menantang waktu dari catatan Careri. Meskipun karakter Phileas Fogg dalam novel Verne adalah fiksi, semangat keberanian, eksplorasi, dan tantangan yang ia hadapi dalam mengelilingi dunia mencerminkan esensi petualangan Careri yang nyata.
Giovanni Francesco Gemelli Careri bukan hanya seorang pelancong biasa; ia adalah seorang pionir. Ia adalah orang biasa pertama yang berpetualang dengan ransel di zaman ketika perjalanan luar Eropa sebagian besar adalah domain misionaris, pedagang, atau mereka yang melakukan misi diplomatik. Perjalanannya membuktikan bahwa semangat petualangan tidak mengenal batas status sosial atau dukungan finansial yang besar. Ia menunjukkan bahwa dengan keberanian dan kemandirian, seorang individu bisa menjelajahi dan mendokumentasikan dunia dengan caranya sendiri.
Warisan Careri melampaui sekadar catatan perjalanan. Ia adalah simbol dari keinginan abadi manusia untuk menjelajahi, memahami, dan menghubungkan diri dengan dunia di luar batas-batas yang dikenal. Kisahnya menyoroti evolusi perjalanan dari sebuah kebutuhan fungsional (perdagangan, misi) menjadi sebuah bentuk eksplorasi pribadi, pencarian jati diri, dan penemuan budaya. Dengan demikian, Giovanni Francesco Gemelli Careri bukan hanya "backpacker pertama", tetapi juga arsitek spiritual dari jutaan petualangan yang telah terjadi dan akan terus terjadi di seluruh dunia, membuktikan bahwa jiwa petualang sejati tak lekang oleh waktu.
Artikel ini ditulis oleh Hari Suroto. Penulis bekerja di Balai Pelestarian Kebudayaan Sulawesi Utara.
(wsw/wsw)




