Penangkapan seorang tersangka kasus dugaan kekerasan seksual terhadap sejumlah santriwati di sebuah pondok pesantren di Pati, Jawa Tengah, berhasil dilakukan di wilayah Wonogiri. Tersangka berinisial AS, yang menjadi buronan setelah mangkir dari panggilan pemeriksaan kepolisian, ditemukan bersembunyi di dekat kompleks Makam Raden Gunungsari, Desa Bakalan, Kecamatan Purwantoro, Wonogiri. Saat ditangkap, AS mengklaim sedang menjalani laku spiritual atau ritual keagamaan di lokasi tersebut, sebuah pengakuan yang menambah lapisan kompleksitas pada kasus yang mengguncang publik ini.

sulutnetwork.com – Tim gabungan dari Polda Jawa Tengah dan Polresta Pati berhasil meringkus AS, sosok yang dicari-cari atas serangkaian dugaan pemerkosaan terhadap para santriwati di Pati. Penangkapan dramatis ini terjadi di Wonogiri, daerah yang dipilih AS sebagai tempat pelarian, di mana ia bersembunyi di antara masyarakat setempat dengan dalih menjalankan ritual. Kasus ini sebelumnya telah memicu keresahan luas di kalangan masyarakat dan otoritas agama, mengingat sensitivitas dan keseriusan tuduhan yang melibatkan lingkungan pendidikan keagamaan.

AS, yang diduga kuat merupakan predator seks yang menyasar para santriwati di bawah bimbingannya, menjadi target utama pengejaran aparat setelah sejumlah laporan dugaan kekerasan seksual mencuat ke permukaan. Laporan-laporan tersebut mengindikasikan adanya penyalahgunaan wewenang dan kepercayaan yang dilakukan AS terhadap para korban yang rentan. Kasus ini sontak menarik perhatian publik dan memicu desakan kuat agar aparat segera menangkap pelaku demi keadilan bagi para korban dan untuk menjaga integritas institusi pendidikan keagamaan. Setelah beberapa kali panggilan pemeriksaan dari kepolisian di Pati tidak diindahkan, AS akhirnya ditetapkan sebagai buronan, memicu operasi pencarian besar-besaran oleh aparat penegak hukum.

Pelarian AS membawanya dari Pati menuju Wonogiri, sebuah perjalanan yang mengindikasikan upaya sistematis untuk menghindari jerat hukum. Wonogiri, dengan topografi yang didominasi pegunungan dan daerah pedesaan yang relatif terpencil, kemungkinan besar dipilih AS sebagai tempat persembunyian karena dianggap kurang terjamah oleh pantauan intensif dan memiliki komunitas yang lebih longgar dalam memverifikasi identitas pendatang. Berdasarkan keterangan Kepala Desa Bakalan, Sutanto, AS tiba di Desa Bakalan pada Rabu (6/5) pagi. Perjalanannya menuju lokasi persembunyian pun dilakukan secara bertahap dan hati-hati, dimulai dengan naik ojek dari Kecamatan Purwantoro, kemudian berganti ojek lagi untuk mencapai puncak bukit tempat kompleks Makam Raden Gunungsari berada. Jarak dari permukiman warga yang ramai ke lokasi tersebut diperkirakan sekitar satu kilometer, memberikan AS isolasi yang ia butuhkan untuk bersembunyi.

Setibanya di Desa Bakalan, AS tidak langsung mencari tempat persembunyian yang mencurigakan. Ia memilih untuk menumpang di salah satu rumah warga yang berdekatan dengan area Gedong Giong, bagian dari kompleks Makam Raden Gunungsari. Pemilihan rumah ini bukanlah tanpa alasan; menurut Sutanto, rumah warga tersebut memang kerap dijadikan tempat singgah bagi para peziarah yang datang dari luar kota untuk berziarah ke makam keramat tersebut. Kondisi ini secara tidak langsung membantu AS menyamarkan keberadaannya sebagai peziarah biasa, bukan seorang buronan yang tengah melarikan diri dari kejaran polisi.

Kepada pemilik rumah dan warga sekitar, AS mengajukan sebuah narasi yang dirancang untuk meredakan kecurigaan. Ia mengaku sedang menjalani laku spiritual atau ritual keagamaan. Secara spesifik, AS mengklaim bahwa ia telah diperintahkan oleh gurunya untuk berpuasa selama tiga tahun dan saat ini baru memasuki bulan ketiga dari puasa tersebut. Kedatangannya ke Makam Raden Gunungsari di Wonogiri adalah bagian dari rangkaian instruksi spiritual dari sang guru. "Ceritanya yang bersangkutan mengaku disuruh gurunya berpuasa tiga tahun. Saat ini baru dapat tiga bulan, terus disuruh ke sini," kata Sutanto, mengutip pengakuan AS kepada warganya.

Pengakuan AS ini berhasil mengelabui warga setempat. Masyarakat Desa Bakalan, yang terbiasa dengan kedatangan peziarah dari berbagai daerah dengan berbagai tujuan spiritual, tidak menaruh curiga sedikit pun. Lingkungan yang kental dengan nuansa religius dan kepercayaan terhadap praktik-praktik spiritual membuat cerita AS terdengar wajar di telinga mereka. Warga tidak mengenal AS sebelumnya dan tidak ada yang mengetahui latar belakangnya sebagai buronan kasus pemerkosaan santriwati di Pati. "Warga tidak curiga, tidak ada yang tahu. Tempatnya itu juga jauh dari permukiman. Memang biasa datang orang luar kota yang berziarah, jadi tidak ada yang curiga," imbuh Sutanto, menjelaskan mengapa AS bisa bersembunyi begitu lama tanpa terdeteksi oleh warga. Keterbukaan dan keramahan masyarakat pedesaan, ditambah dengan lokasi yang terpencil, menjadi faktor krusial yang memungkinkan AS untuk menyembunyikan identitas aslinya.

Namun, upaya AS untuk mengelabui aparat akhirnya menemui jalan buntu. Tim gabungan dari Polda Jawa Tengah dan Polresta Pati, yang telah melakukan pelacakan intensif, berhasil mengidentifikasi lokasi persembunyian AS. Koordinasi yang erat dengan Polres Wonogiri pun dilakukan untuk memastikan operasi penangkapan berjalan lancar dan aman. Kasat Reskrim Polres Wonogiri, Iptu Agung Sadewo, membenarkan bahwa pihaknya hanya memberikan dukungan dan mem-back up tim utama dari Polda Jateng dan Polresta Pati. "Kita hanya mem-back up saja dari Polda (Jateng) dan Polresta Pati. Locus kejadiannya di Pati, di sini hanya tempat pelarian saja," tegas Agung, menekankan bahwa Wonogiri adalah lokasi pelarian, sementara inti kasus tetap berada di Pati.

Proses penangkapan AS tidak disaksikan langsung oleh sebagian besar warga desa, sebab dilakukan pada pagi hari dengan strategi yang terencana. Menurut keterangan Kades Sutanto, warga tidak mengetahui secara pasti momen penangkapan tersebut. Namun, ada warga yang berdekatan dengan lokasi mendengar suara tembakan satu kali pada pagi itu. "Mungkin cuma peringatan," ujar Sutanto, mengindikasikan bahwa tembakan tersebut kemungkinan besar adalah tembakan peringatan yang dikeluarkan aparat untuk menghentikan AS atau mengamankan situasi. Penangkapan AS sendiri tidak terjadi di dalam rumah warga tempat ia menumpang, melainkan di jalan. "Ditangkapnya sudah bukan di rumah warga. Pagi itu pinjam sepeda motor, ngakunya untuk bertemu temannya. Lha pas keluar dan di jalan itu ditangkapnya," jelas Sutanto, menggambarkan bagaimana AS berhasil dicegat oleh tim gabungan saat ia mencoba meninggalkan lokasi persembunyiannya dengan dalih menemui teman.

Setelah berhasil diringkus, AS langsung diamankan oleh tim gabungan. Bersamaan dengan penangkapan, polisi juga mengamankan sejumlah barang bukti yang relevan dengan kasus dugaan kekerasan seksual yang menjeratnya. Barang bukti tersebut antara lain adalah satu kerudung berwarna hitam dan celana dalam. Keberadaan barang bukti ini diharapkan dapat memperkuat dakwaan terhadap AS dan memberikan petunjuk lebih lanjut dalam proses penyidikan. Penangkapan AS menjadi titik terang dalam upaya penegakan keadilan bagi para santriwati korban kekerasan seksual di Pati, sekaligus menegaskan komitmen aparat untuk memburu pelaku kejahatan hingga ke mana pun mereka bersembunyi. Proses hukum selanjutnya akan bergulir, dengan harapan AS dapat mempertanggungjawabkan perbuatannya di mata hukum.