Perjalanan wisata ke Korea Selatan kini mengalami pergeseran signifikan, menandai berakhirnya dominasi Seoul sebagai satu-satunya magnet bagi wisatawan. Destinasi-destinasi di luar ibu kota metropolitan semakin menarik minat pengunjung, sebuah tren yang tidak hanya memperkaya pengalaman wisatawan tetapi juga memberikan dorongan ekonomi substansial bagi daerah-daerah provinsi. Fenomena ini tercermin dari peningkatan tajam kedatangan wisatawan asing melalui bandara regional, melonjaknya penggunaan transportasi umum untuk menjelajah, dan peningkatan durasi tinggal serta pengeluaran di luar wilayah metropolitan, sebuah indikasi kuat bahwa pariwisata di Korea Selatan tengah memasuki babak baru yang lebih tersebar dan berkelanjutan.
sulutnetwork.com – Data terbaru yang dirilis oleh Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata Korea Selatan mengkonfirmasi perubahan pola ini secara gamblang. Sepanjang periode Januari hingga Maret tahun ini, tercatat sebanyak 853.905 wisatawan asing memilih untuk masuk melalui bandara-bandara regional, yakni bandara di luar Bandara Internasional Incheon dan Gimpo yang selama ini menjadi pintu gerbang utama. Angka ini mencerminkan peningkatan yang luar biasa, mencapai 49,7% dibandingkan dengan jumlah wisatawan yang masuk melalui jalur serupa pada periode yang sama di tahun sebelumnya. Peningkatan drastis ini mengindikasikan bahwa semakin banyak pelancong yang secara sengaja memilih untuk langsung menuju destinasi di provinsi, menghindari kepadatan Seoul, atau mungkin memanfaatkan konektivitas langsung yang semakin baik dari negara asal mereka ke kota-kota regional Korea Selatan. Tren ini tidak hanya berlaku untuk jalur udara, melainkan juga jalur laut. Tercatat sekitar 335.161 wisatawan asing tiba melalui jalur laut, menunjukkan peningkatan sebesar 6,1% secara tahunan. Kedatangan melalui pelabuhan-pelabuhan regional, baik melalui kapal feri maupun kapal pesiar, semakin memperkaya opsi aksesibilitas bagi para turis yang ingin menjelajahi pesisir atau pulau-pulau di Korea Selatan.
Pergerakan wisatawan di dalam negeri juga menunjukkan pola yang serupa, menandakan preferensi untuk menjelajah lebih jauh dari ibu kota. Perusahaan Kereta Api Korea (Korail) melaporkan data yang sangat signifikan terkait mobilitas wisatawan asing. Mengutip laporan dari Korea JoongAng Daily pada Kamis (16/4/2026), sekitar 1,69 juta wisatawan asing tercatat menggunakan layanan kereta api Korail sepanjang kuartal pertama tahun ini. Angka ini melonjak 46,4% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, menggarisbawahi peran krusial infrastruktur kereta api dalam memfasilitasi perjalanan antar kota dan provinsi. Layanan kereta api berkecepatan tinggi seperti KTX (Korea Train eXpress) dan berbagai jalur kereta regional lainnya kini menjadi pilihan populer bagi turis yang mencari efisiensi waktu dan kenyamanan untuk mencapai destinasi-destinasi di luar Seoul, seperti Busan, Daegu, Gyeongju, atau Gangwon-do. Peningkatan penggunaan kereta api ini tidak hanya memperlihatkan adanya kemudahan akses, tetapi juga keinginan kuat dari para wisatawan untuk merasakan keragaman budaya dan lanskap alam yang ditawarkan oleh setiap daerah.
Survei yang dilakukan oleh Institut Kebudayaan & Pariwisata Korea (KCTI) lebih lanjut memperkuat temuan ini, memberikan gambaran kualitatif dari perubahan pola perjalanan. Dari 1.300 wisatawan mancanegara yang disurvei setiap bulan di bandara-bandara seluruh negeri, sebanyak 34,5% menyatakan bahwa mereka mengunjungi destinasi di luar wilayah metropolitan Seoul. Persentase ini mengalami peningkatan sebesar 3,2 poin persentase dibandingkan dengan tahun sebelumnya, sebuah indikator jelas bahwa tren eksplorasi regional bukanlah kebetulan, melainkan preferensi yang semakin mengakar di kalangan wisatawan internasional. Hasil survei ini mengindikasikan bahwa para pelancong kini mencari pengalaman yang lebih autentik, beragam, dan mendalam yang melampaui ikon-ikon pariwisata yang telah dikenal luas di Seoul. Mereka mungkin tertarik pada warisan sejarah di Gyeongju, keindahan alam Pulau Jeju, festival-festival budaya di berbagai provinsi, atau keunikan kuliner di setiap daerah.
Dampak dari pergeseran pola ini tidak hanya terbatas pada jumlah kunjungan dan mobilitas, tetapi juga pada durasi tinggal wisatawan. Total akumulasi hari kunjungan melalui bandara regional mencapai 5,28 juta hari pada kuartal pertama, naik secara signifikan dari 3,88 juta hari pada periode yang sama tahun lalu. Peningkatan durasi tinggal ini merupakan berita baik bagi industri pariwisata regional, karena semakin lama wisatawan menginap di suatu daerah, semakin besar pula potensi pengeluaran mereka untuk akomodasi, makanan, transportasi lokal, belanja suvenir, dan berbagai aktivitas lainnya. Durasi tinggal yang lebih panjang juga memungkinkan wisatawan untuk merasakan pengalaman yang lebih mendalam, berinteraksi dengan komunitas lokal, dan menjelajahi lebih banyak atraksi yang mungkin terlewat jika hanya melakukan kunjungan singkat.
Dari sisi ekonomi, dampak positif dari tren ini mulai terasa secara konkret di daerah-daerah provinsi. Pengeluaran wisatawan asing di wilayah provinsi tercatat mengalami peningkatan sebesar 17,2%, melonjak dari 750 juta USD (sekitar Rp 12 triliun) menjadi 880 juta USD (sekitar Rp 15 triliun). Kenaikan signifikan ini menunjukkan bahwa semakin banyak uang yang dibelanjakan oleh turis di luar Seoul, yang secara langsung menguntungkan ekonomi lokal. Peningkatan pengeluaran ini mendukung berbagai sektor usaha di daerah, mulai dari hotel dan restoran kecil, toko-toko kerajinan tangan, penyedia jasa tur lokal, hingga pasar tradisional. Data dari Organisasi Pariwisata Korea (KTO) lebih lanjut memperkuat temuan ini, menunjukkan bahwa transaksi kartu wisatawan asing di luar Seoul mencapai 466,7 miliar won (sekitar Rp 5 triliun). Angka ini mencerminkan volume transaksi yang substansial dan mengindikasikan aktivitas ekonomi yang hidup di luar wilayah metropolitan, mendorong pertumbuhan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta menciptakan lapangan kerja baru di daerah.
Fenomena serupa juga terjadi di kalangan wisatawan domestik, yang semakin memperkuat argumentasi bahwa preferensi untuk menjelajah ke luar wilayah metropolitan adalah tren yang menyeluruh di Korea Selatan. Perjalanan warga Korea ke luar wilayah metropolitan Seoul mencapai 39,31 juta perjalanan pada Januari hingga Februari, meningkat sebesar 6,9% dibandingkan dengan tahun lalu. Peningkatan ini menunjukkan bahwa warga lokal juga semakin tertarik untuk menjelajahi kekayaan budaya dan alam di provinsi mereka sendiri, mungkin karena promosi pariwisata domestik yang gencar, atau keinginan untuk mencari ketenangan dan pengalaman baru di luar hiruk pikuk kota besar. Sejalan dengan peningkatan jumlah perjalanan, pengeluaran wisatawan domestik di daerah juga mengalami kenaikan. Diperkirakan pengeluaran mereka mencapai 5,4 triliun won (sekitar Rp 62 triliun), naik 3% secara tahunan. Kontribusi wisatawan domestik ini sangat penting, terutama untuk menjaga stabilitas dan pertumbuhan ekonomi pariwisata daerah sepanjang tahun, melengkapi kontribusi dari wisatawan internasional.
Melihat potensi besar ini, Pemerintah Korea Selatan telah secara proaktif menempatkan sektor pariwisata sebagai salah satu fokus utama dalam strategi pertumbuhan ekonomi sejak Februari. Pengakuan terhadap peran strategis pariwisata ini menandakan komitmen pemerintah untuk memanfaatkan sektor ini sebagai mesin penggerak ekonomi yang berkelanjutan. Salah satu langkah konkret yang diambil adalah revisi Undang-Undang Kerangka Kerja Pariwisata, yang telah disahkan oleh parlemen. Revisi undang-undang ini memiliki implikasi besar, karena menempatkan strategi pariwisata nasional langsung di bawah pengawasan presiden. Ini berarti bahwa kebijakan dan inisiatif pariwisata akan mendapatkan prioritas tinggi dan koordinasi yang lebih kuat di tingkat tertinggi pemerintahan, memastikan implementasi yang efektif dan alokasi sumber daya yang memadai untuk pengembangan sektor ini.
Kementerian Pariwisata menilai bahwa langkah-langkah ini akan secara signifikan memperkuat pengembangan daerah melalui sektor wisata. Penempatan strategi pariwisata di bawah pengawasan presiden akan memungkinkan pendekatan yang lebih terpadu dan komprehensif dalam merancang dan melaksanakan kebijakan pariwisata yang mendukung pertumbuhan regional. Ini termasuk investasi dalam infrastruktur pariwisata di daerah, pengembangan produk-produk wisata unik yang mencerminkan identitas lokal, serta kampanye pemasaran yang ditargetkan untuk menarik wisatawan ke provinsi-provinsi. Kang Jung-won, Kepala Kebijakan Pariwisata Kementerian, menyambut baik perkembangan ini dengan optimisme. "Kami melihat perkembangan yang menggembirakan. Pariwisata yang sebelumnya terpusat di wilayah metropolitan Seoul kini mulai menyebar ke seluruh negeri, dengan data yang membuktikan fenomena tersebut," ujarnya. Pernyataan ini menegaskan bahwa pemerintah tidak hanya menyadari, tetapi juga merangkul dan mendorong tren desentralisasi pariwisata ini. Kang Jung-won juga menambahkan bahwa pemerintah akan terus memperkuat dan menjaga pertumbuhan pariwisata regional ke depan, mengindikasikan adanya rencana jangka panjang untuk memastikan keberlanjutan dan peningkatan kualitas pengalaman wisata di seluruh Korea Selatan.
Pergeseran paradigma pariwisata di Korea Selatan dari model yang sangat terpusat di Seoul menjadi lebih tersebar ke daerah-daerah provinsi membawa angin segar bagi perekonomian nasional dan memberikan peluang besar bagi pengembangan komunitas lokal. Dengan dukungan pemerintah yang kuat, investasi berkelanjutan dalam infrastruktur, dan promosi yang efektif, pariwisata regional di Korea Selatan diharapkan akan terus berkembang, menawarkan pengalaman yang lebih kaya dan beragam bagi wisatawan, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif di seluruh negeri. Tren ini menandai era baru bagi industri pariwisata Korea Selatan, di mana setiap sudut negeri memiliki potensi untuk bersinar sebagai destinasi yang menarik.
