Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan di Jakarta Selatan kembali menjadi pusat perhatian dengan diselenggarakannya pergelaran seni tradisional Betawi yang memukau. Acara ini bukan sekadar tontonan hiburan akhir pekan, melainkan sebuah manifestasi konkret dari upaya berkelanjutan untuk menjaga dan melestarikan warisan adiluhung budaya Betawi di tengah hiruk-pikuk modernisasi ibu kota. Dengan menampilkan beragam kesenian khas yang sarat makna, pergelaran ini berhasil menarik ribuan pengunjung dari berbagai kalangan, menegaskan kembali relevansi dan daya tarik budaya lokal yang otentik.

sulutnetwork.com – Pergelaran yang berlangsung pada Sabtu, 11 April 2026, tersebut merupakan bagian dari inisiatif strategis pemerintah daerah dan komunitas adat untuk menghidupkan kembali semangat kebudayaan Betawi, sekaligus menyediakannya sebagai ruang edukasi dan rekreasi bagi masyarakat luas. DetikTravel melaporkan bahwa acara ini menampilkan deretan pertunjukan ikonik seperti ondel-ondel, gambang kromong, dan tari Betawi, yang semuanya disajikan dengan penuh semangat dan profesionalisme oleh para seniman lokal. Kehadiran berbagai elemen seni ini secara simultan tidak hanya menghibur, tetapi juga mengukuhkan Setu Babakan sebagai benteng pertahanan budaya Betawi yang otentik dan dinamis, khususnya dalam menarik perhatian generasi muda.

Setu Babakan, sebuah kawasan cagar budaya yang terletak di Jagakarsa, Jakarta Selatan, memang telah lama dikenal sebagai pusat pelestarian kebudayaan Betawi. Didirikan dengan tujuan melestarikan nilai-nilai luhur dan tradisi masyarakat Betawi, Setu Babakan bukan hanya sebuah destinasi wisata, tetapi juga sebuah "laboratorium hidup" bagi seni, adat, dan gaya hidup asli Betawi. Kawasan ini mencakup danau buatan (setu), rumah-rumah adat Betawi yang terawat, museum, area kuliner, serta panggung terbuka untuk pertunjukan seni. Keberadaannya menjadi sangat krusial di tengah pesatnya pembangunan dan urbanisasi Jakarta, yang kerap mengancam keberlangsungan tradisi lokal. Pergelaran seni ini, dengan demikian, berfungsi sebagai magnet yang menarik warga kembali ke akar budaya mereka, sekaligus memperkenalkan kekayaan Betawi kepada pengunjung dari luar.

Salah satu pertunjukan yang paling dinanti dan menjadi ikon tak terpisahkan dari kebudayaan Betawi adalah ondel-ondel. Dalam pergelaran di Setu Babakan, sepasang ondel-ondel berukuran raksasa dengan wajah merah dan putih yang mencolok, serta busana warna-warni yang meriah, berjalan anggun mengelilingi area pertunjukan. Kehadiran mereka selalu berhasil menyulut senyum dan decak kagum, terutama dari anak-anak yang terpesona oleh tingginya figur dan gerak-geriknya. Secara tradisional, ondel-ondel dipercaya memiliki kekuatan penolak bala atau pengusir roh jahat, serta menjadi simbol sukacita dan penyambutan tamu kehormatan. Musik tanjidor atau gambang kromong yang mengiringi ondel-ondel dengan ritme yang riang semakin menambah semarak suasana, menciptakan pengalaman budaya yang tak terlupakan bagi setiap mata yang memandang. Keunikan ondel-ondel sebagai warisan tak benda dari Betawi terus dijaga melalui pertunjukan semacam ini, memastikan bahwa simbol khas Jakarta ini tidak luntur ditelan zaman.

Tidak kalah memukau adalah penampilan gambang kromong, orkes musik tradisional Betawi yang kaya akan perpaduan budaya. Gambang kromong merupakan refleksi nyata akulturasi budaya Tionghoa dan pribumi, terlihat dari instrumen-instrumennya seperti gambang (sejenis saron), kromong (seperangkat gong kecil), kongahyan, tehyan, dan sukong (alat musik gesek Tionghoa), serta gendang, gong, dan kempul khas Melayu. Harmonisasi suara dari berbagai instrumen ini menghasilkan melodi yang unik, dinamis, dan penuh semangat, seringkali mengiringi lagu-lagu Betawi, tari-tarian, atau pertunjukan lenong. Di Setu Babakan, alunan gambang kromong tidak hanya menjadi latar belakang, tetapi juga pertunjukan utama yang menampilkan keahlian para musisi dalam membawakan repertoar klasik hingga kontemporer Betawi. Kehadiran gambang kromong menegaskan identitas musikal Betawi yang kaya dan terbuka terhadap pengaruh luar, namun tetap menjaga ciri khasnya.

Selain ondel-ondel dan gambang kromong, pergelaran ini juga menampilkan berbagai tari Betawi yang memukau. Salah satu yang mungkin ditampilkan adalah Tari Yapong, sebuah tarian kontemporer yang terinspirasi dari folklor Betawi, yang terkenal dengan gerakan lincah, ekspresif, dan dinamis. Atau bisa jadi Tari Topeng, yang lebih bersifat teatrikal dan ritualistik, di mana penari mengenakan topeng untuk menceritakan kisah-kisah tradisional dengan gerakan yang anggun dan penuh makna. Ada pula Tari Lenggang Nyai, tarian yang menggambarkan perjuangan seorang perempuan Betawi dengan gerak-gerik yang luwes dan kostum yang indah. Setiap tarian yang ditampilkan tidak hanya memanjakan mata, tetapi juga menyampaikan narasi budaya, sejarah, dan nilai-nilai Betawi kepada penonton. Para penari, yang mayoritas adalah anggota sanggar seni lokal dan generasi muda Betawi, menunjukkan dedikasi tinggi dalam melestarikan setiap gerak dan filosofi tarian leluhur mereka.

Pergelaran seni di Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan ini memegang peranan vital dalam konteks pelestarian budaya. Jakarta sebagai megapolitan global menghadapi tantangan besar dalam mempertahankan identitas lokalnya. Laju modernisasi yang cepat, infiltrasi budaya asing, serta kurangnya minat generasi muda terhadap tradisi seringkali menjadi ancaman serius bagi kelangsungan warisan budaya. Oleh karena itu, inisiatif seperti ini menjadi sangat penting untuk menciptakan ruang di mana budaya Betawi dapat terus hidup, bernafas, dan berkembang. Ini adalah upaya nyata untuk memastikan bahwa Betawi tidak hanya menjadi sebuah nama dalam sejarah, melainkan tetap menjadi bagian integral dari kehidupan masyarakat Jakarta. Dengan menyelenggarakan acara secara rutin, pemerintah daerah dan komunitas berharap dapat menanamkan rasa cinta dan bangga terhadap budaya sendiri pada setiap individu, khususnya pada anak-anak dan remaja yang menjadi pewaris masa depan.

Keberhasilan acara ini juga terlihat dari antusiasme masyarakat yang memadati area pertunjukan. Suasana di lokasi tampak ramai oleh warga yang datang bersama keluarga, menikmati akhir pekan yang berbeda. Anak-anak hingga orang dewasa terlihat antusias menyaksikan setiap pertunjukan, dari ondel-ondel yang melenggang hingga alunan gambang kromong yang merdu dan gerakan tari yang memukau. Banyak di antara mereka yang turut mengabadikan momen dengan berfoto, menunjukkan interaksi positif dan kebanggaan akan budaya sendiri. Bagi sebagian pengunjung, ini adalah pengalaman pertama mereka menyaksikan langsung kesenian Betawi yang otentik, sementara bagi yang lain, ini adalah pengingat akan keindahan warisan leluhur yang harus terus dijaga. Interaksi langsung antara seniman dan penonton ini menciptakan ikatan emosional yang kuat, memperkuat tujuan pelestarian budaya.

Lebih dari sekadar hiburan, pergelaran ini juga memiliki dimensi edukasi yang kuat. Dengan menyaksikan langsung pertunjukan seni tradisional, pengunjung, terutama generasi muda, dapat belajar dan memahami lebih dalam tentang akar budaya mereka. Para seniman seringkali memberikan penjelasan singkat mengenai makna di balik setiap pertunjukan, menambah nilai pengetahuan bagi penonton. Selain itu, Setu Babakan sendiri menawarkan berbagai fasilitas edukasi seperti museum mini yang memamerkan artefak Betawi, rumah-rumah adat yang bisa dikunjungi, dan area kuliner yang menyajikan hidangan khas Betawi. Semua ini bersinergi untuk membentuk ekosistem budaya yang komprehensif, memungkinkan pengunjung untuk tidak hanya melihat, tetapi juga merasakan dan mempelajari budaya Betawi secara holistik.

Dampak positif dari pergelaran seni seperti ini tidak hanya terbatas pada aspek budaya dan edukasi. Secara ekonomi, acara ini turut mendukung perekonomian lokal. Para pedagang makanan khas Betawi, penjual suvenir, dan pengelola fasilitas di Setu Babakan merasakan peningkatan kunjungan dan transaksi. Ini menciptakan multiplier effect yang menguntungkan masyarakat sekitar. Pariwisata budaya, khususnya domestik, juga mendapatkan dorongan signifikan. Dengan menjadikan Setu Babakan sebagai destinasi yang hidup dan dinamis, diharapkan lebih banyak wisatawan, baik lokal maupun internasional, tertarik untuk berkunjung dan merasakan langsung kekayaan budaya Betawi.

Keberlanjutan inisiatif semacam ini sangat krusial untuk masa depan budaya Betawi. Dukungan dari pemerintah, partisipasi aktif dari komunitas seni, serta minat yang terus tumbuh dari masyarakat adalah kunci utama. Pergelaran seni di Setu Babakan pada akhir pekan lalu adalah bukti nyata bahwa warisan budaya Betawi masih memiliki daya tarik kuat dan mampu menyatukan berbagai lapisan masyarakat. Ini adalah panggilan untuk terus menghargai, menjaga, dan mengembangkan keunikan budaya Betawi agar tetap lestari dan menjadi kebanggaan bangsa di tengah arus globalisasi yang tak terhindarkan. Setu Babakan, dengan segala kekayaan budayanya, akan terus menjadi mercusuar yang memancarkan cahaya kebudayaan Betawi untuk generasi mendatang.