Bhaktapur, Nepal – Festival Biska Jatra kembali memukau ribuan warga dan wisatawan dengan perayaan meriah yang menandai datangnya Tahun Baru Nepal. Sebuah arak-arakan kereta raksasa Dewa Bhairab menjadi puncak tradisi kuno yang telah diwariskan turun-temurun, menghidupkan kembali jantung kebudayaan Lembah Kathmandu dengan semangat kebersamaan dan ritual sakral yang kaya.

sulutnetwork.com – Kemeriahan Festival Biska Jatra 2026 dimulai pada 10 April, secara resmi mengawali hitungan mundur untuk perayaan Tahun Baru Nepal yang berlangsung selama delapan malam dan sembilan hari. Sebagai salah satu festival keagamaan paling populer di Lembah Kathmandu, acara ini ditandai dengan pengangkatan patung Dewa Bhairab ke atas kereta kayu megah yang dibangun tepat di depan Kuil Nyatapola, kuil tertinggi di Nepal. Ribuan warga berkumpul, antusias menyaksikan setiap tahapan ritual yang penuh makna, menegaskan kembali ikatan kuat antara masyarakat Nepal dengan warisan spiritual dan budaya mereka.

Biska Jatra, yang secara harfiah berarti "setelah kematian ular," memiliki akar sejarah dan mitologi yang mendalam, terutama bagi komunitas Newar di Bhaktapur. Meskipun namanya mengacu pada mitos kuno tentang pembunuhan ular yang menindas, esensinya kini berpusat pada perayaan pergantian tahun, musim semi, dan kesuburan. Festival ini bukan sekadar penanda kalender, melainkan sebuah ritual kolektif untuk membersihkan diri dari hal-hal buruk di masa lalu dan menyambut keberuntungan serta kemakmuran di tahun yang baru. Sejak berabad-abad lalu, perayaan ini telah menjadi pilar identitas budaya Bhaktapur, kota yang dikenal dengan kekayaan arsitektur dan tradisi kuno yang terjaga.

Inti dari Biska Jatra adalah penghormatan kepada Dewa Bhairav, manifestasi kemarahan Dewa Siwa, yang dipuja sebagai dewa pelindung yang kuat. Dalam mitologi Hindu dan Buddha Vajrayana Nepal, Bhairav sering digambarkan dengan wajah yang menakutkan, melambangkan kemampuannya untuk menghancurkan kejahatan dan melindungi umatnya. Kehadirannya dalam festival ini tidak hanya sebagai simbol kekuatan ilahi, tetapi juga sebagai representasi siklus kehidupan dan kematian, pembaharuan, serta kesuburan tanah. Patung-patung lain seperti Betal, sosok mitologis yang sering dikaitkan dengan Bhairav, juga turut diarak, menambah dimensi spiritual dan naratif pada prosesi.

Kuil Nyatapola, yang menjadi titik awal festival, adalah sebuah mahakarya arsitektur yang menakjubkan. Dibangun pada tahun 1702 oleh Raja Bhupatindra Malla, kuil berlantai lima ini menjulang gagah di tengah alun-alun Taumadhi di Bhaktapur. Setiap tingkat kuil dihiasi dengan patung-patung penjaga yang semakin kuat dari bawah ke atas, melambangkan perlindungan dan kekuatan. Di puncak kuil, bersemayam Dewi Siddhi Lakshmi, manifestasi dewi kemakmuran. Kehadiran kuil tertinggi ini sebagai latar belakang utama arak-arakan kereta Dewa Bhairav semakin memperkuat aura sakral dan keagungan festival, menghubungkan tradisi manusia dengan dimensi ilahi dan keindahan arsitektur masa lalu.

Pembuatan kereta (rath) Dewa Bhairav adalah sebuah proses yang membutuhkan keahlian dan dedikasi tinggi. Setiap tahun, kereta ini dibangun ulang dari kayu-kayu pilihan dengan gaya pagoda tradisional yang rumit, mencerminkan keterampilan pengrajin Newar yang luar biasa. Kereta berlantai tiga ini tidak hanya berfungsi sebagai kendaraan bagi patung dewa, tetapi juga sebagai sebuah struktur simbolis yang merepresentasikan alam semesta dan hierarki spiritual. Proses pembangunannya sendiri merupakan bagian integral dari ritual festival, melibatkan doa-doa dan persembahan untuk memastikan keselamatan dan keberkahan. Setelah selesai, patung Dewa Bhairav dan Betal dengan hati-hati diangkat dan ditempatkan di atas kereta, menandai dimulainya prosesi agung yang dinanti-nantikan.

Prosesi arak-arakan (jatra) adalah jantung dari Festival Biska Jatra. Setelah patung Dewa Bhairav ditempatkan di atas kereta, ribuan warga, terutama kaum pria, berbondong-bondong untuk menarik dan mendorong kereta raksasa tersebut mengelilingi permukiman kuno Bhaktapur. Jalur arak-arakan melewati jalan-jalan sempit dan alun-alun bersejarah, di mana setiap sudut kota seakan hidup dengan energi yang tak tertandingi. Selama prosesi ini, suasana menjadi sangat dinamis dan penuh semangat, dengan iringan musik tradisional Dhime Baja dan Naumati Baja yang membahana, sorak sorai penonton yang memadati setiap sisi jalan, serta aroma dupa yang semerbak di udara.

Salah satu momen paling ikonik dan mendebarkan dalam perayaan ini adalah ritual tarik tambang kereta (Rassi Tanna) yang melibatkan dua kelompok warga lokal. Secara tradisional, satu kelompok mewakili warga dari bagian atas kota (Thanel) dan kelompok lainnya mewakili bagian bawah kota (Kone). Mereka secara simbolis saling tarik menarik kereta ke arah berlawanan, sebuah adu kekuatan yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari ritual sejak ratusan tahun lalu. Ritual ini bukan hanya sekadar kompetisi fisik; ia mencerminkan dinamika sosial, persaingan sehat antar komunitas, dan kepercayaan bahwa kelompok yang berhasil menarik kereta ke wilayahnya akan mendapatkan keberuntungan dan kemakmuran di tahun yang baru. Ketegangan dan kegembiraan selama ritual ini mencapai puncaknya, menunjukkan semangat kebersamaan sekaligus kekuatan kolektif masyarakat setempat.

Di sepanjang rute arak-arakan, warga memadati jalanan, naik ke atap-atap rumah, dan memenuhi balkon untuk menyaksikan prosesi tersebut. Suasana semakin semarak dengan iringan musik tradisional yang ritmis, sorak sorai penonton yang menggema, serta berbagai aktivitas budaya yang digelar selama festival berlangsung. Anak-anak kecil dengan wajah ceria berlarian, para wanita mengenakan pakaian tradisional berwarna-warni, dan para tetua berbagi kisah-kisah festival dari masa lalu. Persembahan bunga, buah, dan lilin diletakkan di sepanjang jalan sebagai bentuk penghormatan kepada para dewa, menciptakan pemandangan yang tak hanya visual tetapi juga spiritual yang mendalam.

Festival Biska Jatra adalah contoh nyata dari upaya pelestarian budaya yang luar biasa di Nepal. Meskipun menghadapi tantangan modernisasi dan perubahan sosial, masyarakat Bhaktapur tetap teguh menjaga tradisi ini agar tetap hidup. Generasi muda dilibatkan dalam setiap aspek perayaan, mulai dari pembangunan kereta hingga partisipasi dalam arak-arakan, memastikan bahwa pengetahuan dan semangat festival terus diwariskan. Pemerintah daerah dan organisasi budaya juga berperan aktif dalam mendukung penyelenggaraan acara ini, menyadari nilai historis dan budaya yang tak ternilai.

Selain arak-arakan kereta Dewa Bhairav, Festival Biska Jatra juga mencakup berbagai ritual lain selama sembilan hari delapan malam. Salah satu ritual penting lainnya adalah Lyo Sin Dyo, yaitu pengangkatan tiang lingam (Yoshing Dyo) setinggi sekitar 25 meter di Taumadhi Square pada hari terakhir festival. Tiang ini diyakini melambangkan kesuburan dan dihiasi dengan bendera-bendera berwarna-warni. Penurunannya yang dramatis pada malam Tahun Baru menandai berakhirnya festival dan dimulainya tahun baru secara resmi. Selama festival, keluarga-keluarga juga berkumpul untuk melakukan ritual puja, berbagi makanan tradisional seperti Sel Roti dan Yomari, serta mengunjungi kuil-kuil lokal untuk mencari berkah.

Biska Jatra tidak hanya menarik perhatian warga lokal, tetapi juga menjadi daya tarik utama bagi wisatawan internasional yang ingin merasakan kekayaan budaya Nepal secara langsung. Festival ini menawarkan pengalaman yang mendalam tentang tradisi, spiritualitas, dan kehidupan masyarakat Newar. Para fotografer dan jurnalis dari seluruh dunia datang untuk mengabadikan momen-momen spektakuler ini, membawa kisah-kisah Bhaktapur dan Biska Jatra ke panggung global, sekaligus turut berkontribusi pada ekonomi lokal melalui pariwisata.

Melalui perayaan Biska Jatra, masyarakat Nepal tidak hanya menyambut datangnya tahun baru dengan sukacita, tetapi juga secara aktif memperkuat ikatan sosial antar individu dan komunitas. Festival ini adalah pengingat akan warisan leluhur, nilai-nilai kebersamaan, dan pentingnya menjaga tradisi yang telah membentuk identitas mereka selama berabad-abad. Ia adalah jembatan yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini, memastikan bahwa kekayaan budaya Nepal akan terus bersinar bagi generasi mendatang.