Di jantung hiruk-pikuk metropolitan Jakarta, tersembunyi sebuah kisah kelam yang terus menghantui ingatan kolektif. Kisah ini adalah tentang Jalan Dupa di kawasan Kalibata, Pancoran, Jakarta Selatan, yang kini tampak biasa dengan deretan taksi yang tertata rapi, namun pernah menjadi saksi bisu sebuah peristiwa tragis yang mengguncang Indonesia di era Orde Baru: pembunuhan misterius peragawati kenamaan, Ditje Budiarsih. Peristiwa yang terjadi lebih dari tiga dekade lalu ini meninggalkan jejak tanya yang mendalam, sebuah noda gelap dalam sejarah ibu kota yang hingga kini belum menemukan jawaban pasti.

sulutnetwork.com – Narasi tentang kematian Ditje Budiarsih, yang dijuluki Ratu Kebaya dan model paling bersinar di era 1980-an, kembali diangkat ke permukaan dalam sebuah tur sejarah yang diselenggarakan oleh Step Into Jakarta. Dipandu oleh Endang Teguh Pramono, yang akrab disapa Pampam, kisah kelam ini diuraikan kepada peserta tur yang sebagian besar bahkan belum lahir saat tragedi itu terjadi. Melalui penelusuran jejak di lokasi kejadian, Pampam berusaha menghidupkan kembali memori tentang sosok yang tewas secara brutal dan menyisakan rahasia besar di balik tirai kekuasaan dan intrik.

Jalan Dupa, nama yang merujuk pada keberadaan pabrik dupa di masa lalu, kini menjelma menjadi bagian dari denyut nadi Jakarta yang modern. Namun, di balik modernitas itu, tersembunyi bayangan masa lalu yang kelam. Pada malam 8 September 1986, ketenangan jalan ini terkoyak oleh penemuan yang mengerikan. Sebuah mobil Honda Accord putih bernomor plat B-1911-ZW terparkir di tepi jalan, dan di dalamnya, tergeletak tak bernyawa, Ditje Budiarsih. Ia adalah perempuan yang dikenal luas dengan nama lengkap Ditje Budiarsih, lahir pada 20 Desember 1950. Ditje bukan sekadar model biasa; ia adalah ikon mode pada masanya, sering menghiasi sampul majalah terkemuka, dan berhasil meraih gelar prestisius seperti Ratu Kebaya pada tahun 1976 serta Ratu Kacamata pada tahun 1977. Kecantikannya yang memukau dan statusnya sebagai keturunan bangsawan menjadikannya sosok yang dikagumi sekaligus menjadi pusat perhatian publik. Kehidupannya yang gemerlap, seolah tanpa cela, harus berakhir tragis secara mendadak, menyisakan luka yang dalam bagi keluarga dan tanda tanya besar bagi masyarakat.

Menurut catatan kepolisian yang dikutip dari detikX pada 27 Januari 2022, sekitar pukul 22.00 WIB pada Senin malam itu, warga sekitar Jalan Dupa, yang kini berdekatan dengan kompleks DPR, dikejutkan oleh pemandangan mobil Ditje. Di dalam kendaraan, jasad Ditje ditemukan dengan kondisi yang mengindikasikan kekejaman luar biasa. Ia menderita lima luka tembak yang sangat presisi: di belakang telinga kanan, dada, bahu, ketiak kanan, dan punggung kanan. Detail luka tembak yang fatal dan terarah ini segera memicu spekulasi luas di kalangan masyarakat dan penegak hukum. "Pembunuhnya pasti profesional," tegas Pampam saat memandu tur, merekonstruksi lokasi penemuan jasad sang model di dekat sebuah tiang abu-abu. Ia menambahkan bahwa detail area luka tembak tersebut hanya dapat dilakukan oleh orang-orang tertentu yang memahami cara melakukan pembunuhan yang efektif dan mematikan. Kecermatan dalam eksekusi ini menjadi salah satu pemicu utama keraguan publik terhadap narasi resmi yang kemudian berkembang.

Dalam upaya mengungkap tabir misteri ini, aparat penegak hukum mengarahkan penyelidikan kepada seorang pria paruh baya bernama Muhammad Siradjudin, yang akrab disapa Pak De. Pak De dikenal sebagai seorang dukun atau pembimbing spiritual, sosok yang sering menjadi tempat Ditje mencurahkan isi hatinya dan mencari nasihat. Pihak berwenang secara resmi menyatakan bahwa motif di balik pembunuhan ini adalah keinginan Pak De untuk mendapatkan keuntungan finansial dari korban. Namun, sejak awal, teori ini telah diwarnai dengan berbagai kontradiksi dan keraguan yang kuat dari publik serta pengamat. Skeptisisme terhadap narasi resmi semakin menguat mengingat profil Pak De yang dianggap tidak sesuai dengan profesionalisme yang terlihat dari eksekusi pembunuhan.

Pampam, dalam penjelasannya, dengan tegas menyatakan keraguannya terhadap kemampuan Pak De sebagai pelaku tunggal. "Nggak mungkin seorang Pak De memiliki senjata-senjata khusus yang dimiliki oleh militer atau polisi," papar Pampam, menyoroti jenis luka tembak yang presisi. Keraguan ini beralasan, mengingat senjata api dengan kemampuan eksekusi seperti itu tidak mudah diakses oleh warga sipil biasa, apalagi seorang dukun. Lebih lanjut, meskipun Pak De mengakui perbuatannya dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP) yang disusun oleh kepolisian, ia secara mengejutkan menarik kembali pengakuannya selama persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Di hadapan majelis hakim, Pak De dengan lantang menyatakan bahwa pengakuan bersalahnya diperoleh di bawah tekanan dan siksaan yang tak tertahankan selama proses pemeriksaan. Pengakuan Pak De di persidangan ini semakin memperumit kasus dan memperkuat dugaan adanya rekayasa atau tekanan di balik layar. Meskipun demikian, pengadilan menjatuhkan hukuman seumur hidup kepada Pak De. Ironisnya, bertahun-tahun kemudian, Pak De merasakan kebebasan setelah menerima grasi pada masa pemerintahan Presiden B.J. Habibie, sebuah langkah yang kembali memicu pertanyaan tentang kebenaran di balik kasus ini.

Kematian Ditje Budiarsih tidak hanya menjadi berita sensasional, tetapi juga memicu gelombang spekulasi yang luas, terutama di tengah iklim politik dan sosial era Orde Baru yang dikenal dengan kekuasaan sentralistik dan campur tangan elit. Pertanyaan besar yang mengemuka adalah: siapa sebenarnya dalang di balik pembunuhan keji ini? Apa yang membuat kasus ini begitu buram dan sarat misteri? Di sinilah berbagai teori konspirasi mulai berkembang dan menjadi sorotan utama. Gaya hidup Ditje yang mewah dan glamor pada masa itu diduga kuat telah menarik perhatian kalangan elit pejabat berpengaruh serta pengusaha besar yang memiliki kedekatan dengan lingkaran kekuasaan Cendana. Desas-desus yang beredar kencang di masyarakat mengaitkan Ditje dengan beberapa tokoh berpengaruh pada masa itu. Nama-nama seperti pensiunan Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal Suwoto, serta pengusaha terkemuka dalam lingkaran Cendana, seperti Sudwikatmono dan Indra Rukmana, disebut-sebut dalam spekulasi publik.

Pampam, dalam penuturannya, juga mengungkap beberapa versi teori konspirasi yang paling kuat. "Ada versi yang mengatakan Ditje sedang hamil," ungkapnya, sebuah detail yang jika benar, bisa menjadi motif yang sangat kuat bagi pihak-pihak tertentu untuk membungkamnya. Teori lain yang tak kalah santer adalah bahwa pelaku pembunuhan kemungkinan adalah salah satu dari "orang-orang kuat" yang memiliki hubungan dengan Ditje, atau bahkan istri-istri mereka yang dilanda cemburu. Kecemburuan ini, menurut spekulasi, bisa mendorong mereka untuk menyewa pembunuh bayaran guna menyingkirkan Ditje. Dalam penelusuran sejarah oleh detikTravel, teori-teori konspirasi semacam ini memang terus melegenda dan menjadi bagian tak terpisahkan dari narasi kasus Ditje. Publik pada masa itu, dan bahkan hingga kini, merasa sangat tidak yakin bahwa Pak De adalah pembunuh tunggal tanpa adanya "aktor intelektual" atau otak di balik "eksekusi" mematikan tersebut.

Dugaan kuat mengarah pada intervensi kekuasaan yang teramat besar, yang disinyalir menjadi tameng pelindung bagi pihak-pihak yang sebenarnya terlibat. Kekuatan ini, menurut keyakinan publik, berhasil membuat kasus ini "menguap begitu saja," ditutup dengan menjadikan seorang dukun tua sebagai tumbal atau kambing hitam. "Gak akan dimasuki pengadilan kalau nggak ada bukti yang kuat," ujar Pampam, menyoroti bagaimana sistem hukum pada masa itu mungkin kesulitan atau enggan menindaklanjuti kasus yang melibatkan individu-individu berkuasa. Pada akhirnya, kebenaran sejati di balik kematian Ditje Budiarsih tidak pernah terungkap secara transparan di meja hijau, dan kasus ini pun ditutup tanpa kejelasan, hanya menyisakan artikel sejarah yang penuh tanda tanya. Sosok misterius yang berada di balik pembunuhan model ternama ini terus menjadi topik utama dalam deretan misteri tak terpecahkan yang melekat dalam sejarah Indonesia.

Melalui inisiatif wisata sejarah seperti tur jalan kaki yang diselenggarakan oleh Step Into Jakarta, ingatan kolektif masyarakat akan sisi lain Jakarta tetap terjaga. Kisah-kisah seperti pembunuhan Ditje Budiarsih menjadi pengingat pahit tentang masa lalu yang belum terselesaikan, tentang keadilan yang mungkin masih menanti di bawah aspal ibu kota yang terus berkembang. Jalan Dupa, dengan segala kesunyiannya kini, tetap menjadi monumen bisu bagi sebuah tragedi yang tak terlupakan, sebuah simpul sejarah yang mengajarkan bahwa di balik kemegahan sebuah kota, selalu ada kisah-kisah kelam yang menunggu untuk diurai, demi sebuah kebenaran yang tak lekang oleh waktu.