Wakil Presiden Republik Indonesia, Gibran Rakabuming Raka, menunjukkan komitmennya terhadap toleransi dan persatuan bangsa dengan turut serta memikul salib dalam prosesi Festival Pawai Paskah di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT). Kehadiran orang nomor dua di Indonesia ini tidak hanya menjadi sorotan utama, tetapi juga mengukuhkan pentingnya kerukunan antarumat beragama di tengah keberagaman Indonesia. Festival ini tak hanya menjadi perayaan keagamaan, melainkan juga platform untuk menyuarakan pesan damai dan persaudaraan yang kuat dari Nusa Tenggara Timur bagi seluruh penjuru Tanah Air.
sulutnetwork.com – Gibran Rakabuming Raka tiba di titik awal (start) festival yang dipadati ribuan warga Kupang dengan mengenakan kemeja lengan panjang berwarna biru muda yang kasual namun rapi, dipadukan celana hitam. Kedatangannya, yang telah dinanti-nantikan sejak pagi hari, disambut dengan antusiasme yang luar biasa. Sorak sorai dan lambaian tangan masyarakat mengiringi langkahnya, menciptakan atmosfer kehangatan dan kebersamaan yang mendalam. Pengamanan yang sigap dari Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres) dan aparat kepolisian turut mengawal jalannya acara, memastikan kelancaran dan keamanan selama kunjungan Wakil Presiden. Sebelum prosesi pawai dimulai, Gibran menyempatkan diri untuk berinteraksi langsung dengan masyarakat. Ia dengan ramah melayani permintaan swafoto dari warga yang berebut ingin mengabadikan momen langka tersebut, menunjukkan kedekatan pemimpin dengan rakyatnya.
Keikutsertaan Gibran dalam memikul salib menjadi simbol toleransi yang kuat, mengingat salib merupakan lambang sentral dalam perayaan Paskah umat Kristiani. Ia tidak sendiri, melainkan didampingi oleh Penjabat Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena, serta sejumlah pemuda-pemudi setempat yang mewakili generasi penerus bangsa. Salib yang dipikul Gibran, meskipun tidak terlalu besar, memiliki makna spiritual dan simbolis yang mendalam, menunjukkan penghormatan terhadap tradisi keagamaan masyarakat setempat. Momen ini menjadi representasi nyata dari semangat Bhinneka Tunggal Ika, di mana seorang pemimpin negara dengan latar belakang agama yang berbeda, tanpa ragu, turut serta dalam perayaan keagamaan umat lain, memperkuat jalinan persaudaraan dan saling menghargai. Ini adalah pesan visual yang sangat kuat tentang bagaimana keberagaman harus dirayakan dan dipelihara dalam bingkai persatuan nasional.
Selama kunjungannya, Gibran juga menerima beberapa cinderamata dan kehormatan lokal yang sarat makna. Ia diberikan selendang tenun khas NTT oleh Ketua Sinode Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT), Semuel Pandie, sebagai simbol penerimaan dan penghormatan. Tak hanya itu, sebuah topi rajutan tangan yang indah juga disematkan kepadanya oleh perwakilan kelompok disabilitas, menunjukkan kepedulian terhadap kelompok rentan dan inklusivitas. Puncak dari partisipasi Gibran adalah ketika ia dipercaya untuk secara simbolis melepas para peserta Pawai Paskah Sinode GMIT. Dengan aba-aba dari Wakil Presiden, ribuan peserta pawai yang terdiri dari berbagai elemen gereja, pemuda, dan komunitas lokal mulai bergerak, membawa semangat Paskah dan pesan perdamaian mengelilingi Kota Kupang. Prosesi pawai ini tidak hanya menampilkan simbol-simbol keagamaan, tetapi juga kerap diwarnai dengan atraksi budaya, musik rohani, dan spanduk-spanduk yang menyuarakan harapan dan doa.
Festival Pawai Paskah di Kupang sendiri merupakan agenda tahunan yang sangat dinantikan oleh umat Kristiani di NTT. Acara ini bukan sekadar prosesi keagamaan, melainkan juga ekspresi iman dan solidaritas komunitas. Rute pawai yang melewati beberapa jalan protokol Kota Kupang selalu menarik perhatian warga, baik yang turut serta maupun yang sekadar menyaksikan dari pinggir jalan. Partisipasi berbagai denominasi gereja dan kelompok pemuda dalam festival ini memperlihatkan kekuatan persatuan dalam keberagaman internal umat Kristiani, sekaligus menjadi cerminan dari harmoni yang lebih luas di tengah masyarakat NTT. Pawai ini juga seringkali menjadi ajang untuk menampilkan kekayaan budaya NTT melalui pakaian adat, tarian, dan lagu-lagu daerah yang diintegrasikan dalam nuansa perayaan Paskah.
Sorotan lain dari Festival Pawai Paskah ini adalah pesan damai yang disampaikan oleh Romo Gerardus Duka, seorang tokoh agama yang akrab disapa Romo Dus. Dalam pidatonya yang menginspirasi, Romo Dus menyampaikan seruan perdamaian dari NTT untuk seluruh Indonesia, sebuah pesan yang resonansinya melampaui batas-batas keagamaan. Ia menegaskan bahwa NTT adalah "Nusa Terindah Toleransi," sebuah julukan yang bukan sekadar retorika, melainkan cerminan dari kehidupan nyata masyarakatnya. "Masyarakat NTT adalah komunitas yang terus merawat perdamaian, persaudaraan, dan kemanusiaan yang setara, sebagaimana diajarkan oleh setiap agama," ujar Romo Dus pada Senin (6/4/2026), menggarisbawahi fondasi nilai-nilai luhur yang telah mengakar kuat di tanah Flobamora. Pesan ini semakin relevan di tengah dinamika sosial dan politik yang kerap menguji persatuan bangsa.
Romo Dus melanjutkan, bahwa dalam setiap kegiatan prosesi Paskah Pemuda GMIT di Kota Kupang, para pimpinan dan tokoh agama di NTT selalu bersepakat untuk menyampaikan pesan damai bagi Indonesia. Konsensus antar tokoh agama ini menunjukkan komitmen kolektif mereka untuk menjaga dan mempromosikan kerukunan. "Perbedaan adalah anugerah Allah, perbedaan tidak boleh memisahkan kita sebab kita adalah sesama saudara. Dalam situasi apapun, persaudaraan adalah kekuatan untuk membangun Nusa Tenggara Timur dan Indonesia," terangnya dengan penuh keyakinan. Pernyataan ini menjadi pengingat bahwa keberagaman agama, suku, dan budaya bukanlah penghalang, melainkan kekayaan yang harus disyukuri dan menjadi modal utama dalam membangun bangsa yang kokoh. Di NTT, praktik toleransi sering terlihat dalam perayaan hari besar keagamaan yang saling dihadiri, atau dalam kehidupan bertetangga yang rukun lintas agama, menjadikan daerah ini sebagai miniatur kebhinekaan Indonesia.
Lebih lanjut, Romo Dus juga menyoroti bagaimana kehidupan yang damai dapat menjadi solusi bagi berbagai persoalan fundamental. Dengan hidup rukun, masyarakat akan lebih mudah bersatu padu mengatasi tantangan ekonomi, meningkatkan kualitas pendidikan, menyelesaikan masalah sosial, dan memerangi kekerasan seksual demi terwujudnya masyarakat yang maju, mandiri, dan berkeadaban. Ini adalah visi holistik yang menghubungkan perdamaian spiritual dengan kemajuan material dan sosial. Perdamaian, dalam konteks ini, bukan hanya absennya konflik, tetapi juga kondisi positif yang memungkinkan pertumbuhan dan perkembangan manusia secara utuh. Sebuah masyarakat yang damai akan menciptakan lingkungan yang kondusif bagi investasi, inovasi, dan peningkatan kualitas hidup secara menyeluruh.
Dalam menghadapi ancaman krisis global dan krisis pangan yang semakin nyata, Romo Dus mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menumbuhkan semangat solidaritas dan kepedulian. "Hanya dengan kepedulian bersama kita dapat menolong sesama keluar dari kemiskinan dan penderitaan," katanya, menekankan pentingnya empati dan aksi nyata. Krisis global, baik itu ekonomi, iklim, maupun pangan, menuntut respons kolektif yang didasari oleh rasa kemanusiaan. Di tengah situasi yang tidak menentu, sikap saling peka, saling berbagi, dan saling melayani menjadi pilar utama untuk membangun ketahanan sosial dan ekonomi. Ajakan ini relevan bagi semua lapisan masyarakat, mulai dari individu hingga lembaga pemerintah dan swasta, untuk berkontribusi dalam meringankan beban sesama yang membutuhkan.
Terakhir, Romo Dus menghimbau agar persatuan dan toleransi umat beragama terus dipelihara sebagai fondasi kekuatan bangsa. "Jaga persatuan dan toleransi, kesatuan bangsa Indonesia sebagai bangsa yang majemuk, harus terus dipelihara dalam semangat Bhineka Tunggal Ika, Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945," tambahnya. Ini adalah penegasan kembali terhadap empat pilar kebangsaan yang menjadi landasan kehidupan bernegara di Indonesia. Ia juga secara tegas mengajak untuk menghindari segala bentuk intoleransi yang dapat memecah belah persatuan, dan sebaliknya, menggalakkan moderasi beragama. Moderasi beragama, menurut Romo Dus, adalah kunci untuk membangun Indonesia yang religius, damai, dan berkeadaban, di mana setiap warga negara dapat menjalankan keyakinannya dengan nyaman dan saling menghormati, tanpa mengorbankan nilai-nilai kemanusiaan universal. Pesan ini menjadi penutup yang kuat, menegaskan bahwa Festival Pawai Paskah di Kupang bukan hanya perayaan lokal, tetapi juga manifestasi nyata dari cita-cita luhur bangsa Indonesia.
