Kasus hilangnya seorang remaja di kawasan Gunung Guntur, Garut, yang kemudian ditemukan dalam kondisi linglung tanpa busana, telah memicu kembali perbincangan hangat mengenai mitos sosok penunggu gunung yang dikenal dengan nama Guriang. Insiden yang menimpa MR, warga Garut, ini terjadi pada Minggu (29/3) malam di Kampung Cipepe, Desa Mekargalih, Kecamatan Tarogong Kidul, dan segera menimbulkan berbagai spekulasi di tengah masyarakat, khususnya terkait kepercayaan lokal yang telah mengakar kuat tentang keberadaan entitas gaib di pegunungan.

sulutnetwork.com – Kepercayaan akan keberadaan Guriang, makhluk halus penunggu gunung, telah lama menjadi bagian tak terpisahkan dari khazanah budaya Sunda. Masyarakat Sunda meyakini bahwa setiap gunung memiliki penjaganya, dan Gunung Guntur di Kabupaten Garut adalah salah satunya yang dipercaya dihuni oleh sosok mistis ini. Kisah MR, yang sempat melantur tentang keberadaan hantu sebelum ditemukan dalam kondisi tidak sadar sepenuhnya, secara langsung menghubungkan peristiwa nyata ini dengan narasi-narasi legendaris yang telah diwariskan secara turun-temurun, menghidupkan kembali diskusi tentang batas antara realitas dan dunia gaib.

Gunung Guntur, dengan puncaknya yang menjulang di wilayah Garut, Jawa Barat, tidak hanya dikenal karena keindahan alamnya dan potensi aktivitas vulkaniknya, tetapi juga karena aura mistis yang menyelimutinya. Gunung ini, yang secara geologis merupakan gunung api aktif dengan ketinggian sekitar 2.249 meter di atas permukaan laut, sering menjadi tujuan pendaki dan penjelajah alam. Namun, di balik daya tariknya, tersimpan beragam kisah dan kepercayaan lokal yang menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas budaya masyarakat Sunda di sekitarnya. Salah satu yang paling menonjol adalah mitos Guriang, sosok penunggu gunung yang diyakini menjaga kelestarian alam sekaligus dapat menampakkan diri dalam berbagai wujud.

Insiden yang menimpa MR menjadi titik fokus utama yang memperkuat kembali keyakinan masyarakat terhadap mitos Guriang. Remaja berinisial MR tersebut dilaporkan hilang saat sedang mencari serangga tonggeret di kawasan kaki Gunung Guntur, sebuah aktivitas yang umum dilakukan warga sekitar untuk mengisi waktu luang atau mencari tambahan penghasilan. Ia pergi bersama dua saudaranya, namun entah bagaimana, ia terpisah dari rombongan dan menghilang. Pencarian pun dilakukan oleh keluarga dan warga setempat, namun MR tidak ditemukan di lokasi pencarian awal.

Pencarian MR berlangsung hingga malam hari, dan akhirnya ia ditemukan dalam kondisi yang sangat mengkhawatirkan. Saksi mata yang menemukan MR di permukiman warga Kampung Cipepe, Desa Mekargalih, Kecamatan Tarogong Kidul, pada Minggu (29/3) malam, mendapati remaja tersebut dalam keadaan linglung dan tanpa mengenakan pakaian sehelai pun. Kondisi ini tentu saja mengejutkan dan menimbulkan kekhawatiran mendalam bagi keluarga serta warga yang menemukannya. Tingkah lakunya yang tidak biasa, seperti berbicara melantur dan tampak tidak mengenali lingkungan sekitar, segera dihubungkan dengan pengalaman mistis yang mungkin dialaminya selama menghilang di kaki gunung.

Sebelum insiden hilangnya, keponakan MR, yang merupakan anak dari kakaknya Ai, sempat meminta pulang karena ketakutan. Menurut penuturan saksi mata, MR sempat melantur berbicara tentang hantu dalam perjalanan menuju gunung. Cerita tentang hantu yang diceritakan MR ini tampaknya cukup mengerikan hingga membuat keponakannya merasa takut dan ingin segera meninggalkan area tersebut. Peristiwa ini menjadi petunjuk awal yang mengarah pada kemungkinan adanya pengalaman supranatural yang dialami MR, yang kemudian berujung pada kondisi psikologisnya yang terganggu saat ditemukan.

Melihat kondisi MR yang linglung dan tidak stabil secara emosional, pihak keluarga dan warga segera membawanya ke pusat kesehatan terdekat untuk mendapatkan penanganan medis. Pemeriksaan fisik dan psikis menjadi prioritas untuk mengetahui penyebab pasti kondisi MR. Apakah kondisi linglungnya disebabkan oleh faktor fisik seperti dehidrasi, kelelahan ekstrem, atau hipotermia setelah terpapar suhu dingin pegunungan tanpa busana, ataukah ada faktor psikologis yang lebih dalam, termasuk kemungkinan trauma akibat pengalaman yang menakutkan? Pertanyaan ini masih menjadi teka-teki, namun di benak masyarakat, kemungkinan adanya campur tangan Guriang sebagai sosok hantu yang dibicarakan MR menjadi hipotesis yang kuat.

Untuk memahami lebih jauh tentang sosok Guriang yang dipercaya menjadi penyebab insiden ini, kita perlu menelusuri akar budayanya dalam tradisi Sunda. Nama Guriang bukanlah entitas asing dalam khazanah sastra dan folklore Sunda. Sosok ini telah lama diceritakan dalam berbagai sastra lama, terutama dalam bentuk carita pantun, sebuah bentuk seni pertunjukan oral tradisional Sunda yang menggabungkan narasi, musik, dan nyanyian. Carita pantun berfungsi sebagai media untuk menyampaikan nilai-nilai luhur, sejarah, dan mitos kepada masyarakat. Di zaman modern, Guriang juga tercatat dalam karya-karya maestro karawitan Sunda, Koko Koswara, yang akrab disapa Mang Koko.

Menurut kamus Sundadigi, Guriang didefinisikan sebagai makhluk halus yang kebanyakan diceritakan dalam sastra Sunda lama seperti carita pantun. Kamus tersebut juga menguraikan sifat khas Guriang, yaitu ‘guntayang’, yang berarti bergelantungan dari pohon ke pohon atau gentayangan. Deskripsi ini memberikan gambaran tentang mobilitas dan keberadaan Guriang yang tidak terikat pada satu tempat, melainkan dapat bergerak bebas di antara pepohonan dan area pegunungan. Selain itu, terdapat kedekatan linguistik antara kata Guriang dengan Kuriang, yang merupakan bagian dari nama tokoh legendaris Sang Kuriang dalam legenda Gunung Tangkuban Parahu. Dalam beberapa interpretasi, nama Sang Kuriang dianggap sebagai perubahan atau evolusi dari Sang Guriang, menunjukkan betapa dalamnya akar mitos ini dalam narasi-narasi fundamental Sunda.

Mang Koko, seniman karawitan legendaris, turut mengabadikan sosok Guriang dalam salah satu karyanya yang terkenal, lagu berjudul ‘Malati di Gunung Guntur’. Dalam lagu ini, Guriang tidak hanya digambarkan sebagai satu entitas, melainkan sebagai ‘Para Guriang’, menunjukkan keberadaan kolektif dari sosok-sosok tersebut. Lagu ini mengisahkan tentang keindahan bunga melati yang tumbuh subur di lereng Gunung Guntur, yang begitu mempesona hingga menarik perhatian siapa pun yang melihatnya. Aku liris dalam lagu tersebut pun merasakan keinginan kuat untuk memetiknya.

Namun, keinginan tersebut tidak terlaksana. Aku liris akhirnya memutuskan untuk tidak memetik melati itu, bukan karena tidak mampu, melainkan karena teringat akan sebuah kabar. Kabar tersebut menyatakan bahwa melati di Gunung Guntur sudah ada yang memiliki, sengaja ditanam oleh ‘Para Guriang’. Kutipan lirik lagu tersebut berbunyi:

"Malati di Gunung Guntur
Hanjakal henteu dipetik
Béja geus aya nu boga
Ngahaja melak di dinya para guriang."

(Melati di Gunung Guntur
Sayang tidak dipetik
Katanya sudah ada yang punya
Sengaja menanam di situ para guriang)

Lirik ini menggambarkan rasa penyesalan sekaligus penghormatan terhadap keberadaan Guriang. Aku liris tidak memetik bunga itu karena menghormati kepemilikan ‘Para Guriang’, yang digambarkan sebagai entitas yang peduli terhadap alam dan bahkan melakukan aktivitas seperti menanam bunga. Kisah ini berakhir dengan aku liris yang menjauh dari gunung, namun kabar tetap sampai kepadanya bahwa melati tersebut masih tetap ada di lereng gunung, tak tersentuh oleh tangan manusia. Lagu Mang Koko ini bukan hanya sebuah melodi indah, tetapi juga sebuah narasi yang memperkuat citra Guriang sebagai penjaga alam yang dihormati dan ditakuti sekaligus.

Penggambaran Guriang yang lebih epik dan konfrontatif dapat ditemukan dalam Carita Mundinglaya Dikusumah, salah satu carita pantun yang tak bisa dilewatkan bagi para peminat Kesundaan. Kisah ini berpusat pada pencarian Lalayang Salaka Domas, yang juga dikenal sebagai Layang-layang Kencana, oleh Prabu Mundinglaya Dikusumah. Lalayang Salaka Domas adalah sebuah jimat sakti yang harus ditemukan berdasarkan mimpi ibu Mundinglaya, yaitu Nyimas Padmawati, salah satu permaisuri Prabu Siliwangi.

Ketika Nyimas Padmawati mengutarakan mimpinya kepada suaminya, Prabu Siliwangi, selir-selir lain yang merasa cemburu dan ingin memojokkan Padmawati memanfaatkan kesempatan ini. Mereka menuntut Padmawati untuk membuktikan kebenaran mimpinya; jika tidak, ia akan dianggap berbohong. Dalam keadaan terdesak, Padmawati meminta bantuan Mundinglaya Dikusumah, putranya yang digambarkan sebagai "lelaki langit lelanang jagat," untuk menemukan jimat tersebut. Dengan doa tulus sang ibu, Mundinglaya memulai petualangan epiknya.

Petualangan Mundinglaya Dikusumah diwarnai dengan berbagai kejadian seru dan tantangan berat. Puncaknya adalah pertempuran melawan Guriang Tujuh, sosok-sosok perkasa yang bertugas menjaga Lalayang Salaka Domas. Guriang Tujuh digambarkan sebagai entitas yang sangat kuat dan tangguh. Hebatnya, Guriang Tujuh memiliki kemampuan untuk menggabungkan diri menjadi satu entitas tunggal yang disebut Guriang Tunggal, dengan kekuatan yang berlipat ganda dan jauh lebih mematikan. Konfrontasi ini menjadi salah satu bagian paling dramatis dalam carita pantun tersebut, menunjukkan kekuatan luar biasa dari Guriang dan keberanian Mundinglaya Dikusumah dalam menghadapi ancaman gaib.

Dalam konteks yang lebih luas, kepercayaan masyarakat Sunda terhadap makhluk halus seperti Guriang merupakan bagian integral dari kosmologi tradisional mereka. Masyarakat Sunda seringkali memiliki sikap hormat dan hati-hati terhadap alam, yang diyakini dihuni oleh berbagai entitas gaib, baik yang bersifat protektif maupun yang dapat mengganggu. Guriang, dalam hal ini, seringkali dipersepsikan sebagai penjaga keseimbangan alam, dan intervensi manusia yang tidak bertanggung jawab dapat memicu kemarahannya. Kisah-kisah seperti MR yang tersesat dan linglung di Gunung Guntur secara tidak langsung memperkuat narasi ini, mengingatkan masyarakat akan pentingnya menjaga etika dan tata krama saat berinteraksi dengan lingkungan pegunungan.

Insiden yang menimpa MR di Gunung Guntur ini tidak hanya menjadi perbincangan di kalangan masyarakat, tetapi juga menarik perhatian pihak berwenang. Setelah ditemukan, MR segera mendapatkan penanganan medis dan psikologis untuk memulihkan kondisinya. Pihak kepolisian dan petugas kesehatan umumnya akan menyelidiki insiden semacam ini dari berbagai sudut pandang, termasuk kemungkinan faktor-faktor fisik seperti kelelahan, dehidrasi, atau bahkan pengaruh zat tertentu. Namun, bagi masyarakat setempat, dimensi spiritual dan mitologis tetap menjadi penjelasan yang kuat, terutama mengingat kondisi MR yang melantur tentang hantu sebelum ditemukan.

Fenomena seperti ini menunjukkan bagaimana kepercayaan tradisional masih memiliki tempat yang kuat di tengah masyarakat modern, terutama di daerah pedesaan yang kental dengan budaya lokal. Mitos Guriang bukan hanya sekadar cerita pengantar tidur, melainkan sebuah narasi yang membentuk cara pandang masyarakat terhadap alam dan keberadaan di luar nalar manusia. Kisah MR di Gunung Guntur menjadi pengingat akan kekuatan cerita-cerita lama ini, yang terus hidup dan berinteraksi dengan realitas kontemporer, menciptakan ruang di mana sains dan supranatural bertemu dalam interpretasi pengalaman manusia.

Dengan demikian, sosok Guriang di Gunung Guntur, sebagaimana tergambar dalam kebudayaan suku Sunda, adalah entitas kompleks yang muncul dalam sastra, lagu, dan cerita rakyat. Ia digambarkan sebagai penjaga alam yang kuat, kadang protektif, kadang menakutkan, dan selalu dihormati. Mengenai kebenaran dan wujud asli sosok tersebut, masih perlu dibuktikan lagi dengan pendekatan yang lebih ilmiah dan rasional. Namun, bagi masyarakat yang meyakininya, Guriang adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya dan spiritual Gunung Guntur.

****

Artikel ini telah naik di detikJabar.