Republik Demokratik Kongo berhasil mengamankan satu tiket ke putaran final Piala Dunia 2026 setelah menumbangkan Jamaika dengan skor tipis 1-0 dalam laga final playoff interkontinental yang berlangsung dramatis. Kemenangan ini menandai partisipasi kedua mereka di ajang sepak bola terakbar di dunia, setelah penantian panjang selama 52 tahun sejak penampilan perdana mereka pada tahun 1974. Gol semata wayang yang dicetak oleh Axel Tuanzebe di menit ke-100 menjadi penentu sejarah bagi bangsa Kongo, memicu euforia di seluruh negeri dan di antara para penggemar sepak bola Afrika.
sulutnetwork.com – Pertandingan krusial yang menentukan nasib kedua negara ini digelar di Estadio Akron, Guadalajara, Meksiko, pada Rabu pagi WIB, 1 April. Duel yang penuh ketegangan tersebut memaksa kedua tim bermain hingga 120 menit waktu tambahan, menunjukkan betapa ketatnya persaingan untuk memperebutkan satu tempat terakhir di panggung global. Gol heroik Tuanzebe, mantan bek Manchester United, yang dicetak melalui situasi sepak pojok, bukan hanya mengunci kemenangan bagi tim berjuluk Leopards, tetapi juga mengakhiri dahaga panjang akan partisipasi di Piala Dunia yang telah dinantikan oleh jutaan rakyat Kongo.
Sejak peluit kick-off dibunyikan, Republik Demokratik Kongo tampil dengan determinasi tinggi, menunjukkan dominasi dalam penguasaan bola dan menciptakan lebih banyak peluang. Statistik pertandingan mencatat, RD Kongo melepaskan total 19 tembakan, jauh melampaui enam tembakan yang dilancarkan oleh Jamaika. Namun, efektivitas serangan menjadi kendala utama bagi Leopards di waktu normal, dengan hanya tiga tembakan yang benar-benar mengarah tepat sasaran. Barisan pertahanan Jamaika yang solid, dipimpin oleh kiper Andre Blake, mampu meredam setiap gelombang serangan yang dilancarkan tim Afrika tersebut, membuat frustrasi para pemain dan pendukung RD Kongo.
Salah satu pemain kunci yang paling merasakan pahitnya ketidakberuntungan adalah penyerang andalan RD Kongo, Cedric Bakambu. Striker berpengalaman ini sebenarnya berhasil dua kali membobol gawang Jamaika di waktu normal, namun kedua gol tersebut dianulir oleh wasit setelah tinjauan Video Assistant Referee (VAR) mengonfirmasi posisi offside. Keputusan wasit tersebut menambah daftar panjang momen-momen menegangkan sepanjang 90 menit pertandingan, di mana gol yang seharusnya bisa menjadi pemecah kebuntuan harus sirna, memperpanjang penantian RD Kongo untuk meraih keunggulan.
Kebuntuan yang melanda RD Kongo baru dapat terpecahkan di babak tambahan waktu, tepatnya pada menit ke-100. Momen krusial itu bermula dari sebuah sepak pojok yang diambil oleh Brian Cipenga. Bola lambung Cipenga sempat membentur bek Jamaika, Joel Latibeaudiere, sebelum kemudian bergerak liar di kotak penalti. Dalam kerumunan pemain, Axel Tuanzebe menunjukkan insting tajamnya. Dengan sigap, ia bereaksi cepat, mendekati bola, dan mendorongnya masuk ke dalam gawang dengan menggunakan bagian tubuhnya, yang kemudian memicu perayaan liar dari bangku cadangan dan para pemain RD Kongo.
Namun, drama belum berakhir. Gol Tuanzebe tidak langsung disahkan. Wasit kembali harus meninjau insiden tersebut melalui VAR, kali ini untuk memastikan tidak adanya potensi handball yang dilakukan oleh Tuanzebe. Setelah peninjauan yang memakan waktu beberapa menit, wasit akhirnya mengesahkan gol tersebut, karena tayangan ulang menunjukkan bahwa bola memang mengenai bagian tubuh Tuanzebe yang lain, bukan tangannya. Keputusan ini menjadi penanda akhir dari penantian panjang dan kerja keras RD Kongo, memastikan kemenangan tipis 1-0 yang membawa mereka terbang tinggi menuju Piala Dunia 2026.
Bagi Republik Demokratik Kongo, kelolosan ini merupakan pencapaian luar biasa yang mengakhiri penantian 52 tahun. Terakhir kali mereka tampil di Piala Dunia adalah pada edisi 1974 yang diselenggarakan di Jerman Barat. Saat itu, mereka masih berkompetisi dengan nama Zaire. Keikutsertaan mereka di tahun 1974, meskipun berakhir tanpa poin dan dengan selisih gol yang besar, tetap menjadi catatan sejarah penting bagi sepak bola Afrika. Kini, dengan nama Republik Demokratik Kongo, mereka siap untuk menulis babak baru dalam sejarah sepak bola nasional mereka, membawa harapan dan kebanggaan bagi seluruh rakyat.
Perjalanan RD Kongo menuju playoff interkontinental ini juga tidak mudah. Mereka harus melewati serangkaian kualifikasi ketat di zona Afrika (CAF), yang dikenal sebagai salah satu yang paling kompetitif di dunia. Meskipun seringkali dianggap sebagai salah satu kekuatan sepak bola di benua hitam, RD Kongo kerap kali kesulitan menembus babak final Piala Dunia. Namun, dengan format baru Piala Dunia 2026 yang melibatkan 48 tim, peluang bagi negara-negara Afrika untuk berpartisipasi semakin terbuka lebar. Keberhasilan ini menunjukkan perkembangan signifikan dalam manajemen tim, strategi pelatih, dan performa pemain, yang semuanya bersatu padu untuk mencapai tujuan tertinggi.
Pelatih tim nasional RD Kongo, yang telah bekerja keras menyatukan talenta-talenta lokal dan diaspora, patut mendapat pujian atas keberanian dan visi strategisnya. Kombinasi pemain berpengalaman seperti Bakambu dan Tuanzebe, bersama dengan darah muda yang energik, telah menciptakan tim yang tangguh dan memiliki mental baja. Kemenangan ini bukan hanya sekadar hasil pertandingan, melainkan juga simbol persatuan dan ketahanan bagi negara yang seringkali menghadapi berbagai tantangan. Sepak bola memiliki kekuatan untuk menyatukan, dan kelolosan ini diharapkan dapat membawa semangat positif dan optimisme di seluruh pelosok Kongo.
Piala Dunia 2026 sendiri akan menjadi edisi yang istimewa. Untuk pertama kalinya, turnamen ini akan diselenggarakan di tiga negara tuan rumah: Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Dengan perluasan format menjadi 48 tim, lebih banyak negara memiliki kesempatan untuk merasakan atmosfer turnamen terbesar ini. Republik Demokratik Kongo akan tergabung dalam Grup K, sebuah grup yang menjanjikan persaingan sengit dan menarik. Mereka akan berhadapan dengan raksasa Eropa, Portugal, yang dipimpin oleh Cristiano Ronaldo (jika masih bermain), serta dua tim tangguh lainnya, Uzbekistan dari Asia dan Kolombia dari Amerika Selatan.
Jadwal pertandingan Grup K untuk Republik Demokratik Kongo telah dirilis. Laga pertama mereka akan menjadi ujian berat, menghadapi Portugal pada tanggal 17 Juni. Ini akan menjadi kesempatan bagi Leopards untuk mengukur kekuatan mereka melawan salah satu tim terbaik di dunia. Kemudian, mereka akan bertemu dengan Kolombia pada tanggal 23 Juni, pertandingan yang diperkirakan akan sangat intens mengingat gaya bermain kedua tim yang agresif. Empat hari berselang, pada tanggal 27 Juni, RD Kongo akan menutup fase grup dengan menghadapi Uzbekistan, sebuah tim yang menunjukkan peningkatan signifikan dalam beberapa tahun terakhir.
Partisipasi di Piala Dunia 2026 akan menjadi panggung besar bagi pemain-pemain RD Kongo untuk menunjukkan bakat mereka kepada dunia. Ini juga akan menjadi kesempatan emas untuk meningkatkan profil sepak bola Kongo di kancah internasional, menarik investasi, dan menginspirasi generasi muda. Ekspektasi tentu akan tinggi, namun yang terpenting adalah semangat juang dan kemampuan untuk bersaing dengan tim-tim terbaik. Republik Demokratik Kongo, dengan bangga membawa nama Leopards, siap untuk menghadapi tantangan di Piala Dunia 2026 dan berharap dapat mencetak sejarah baru yang lebih gemilang daripada partisipasi mereka di tahun 1974.
