Jakarta – Tottenham Hotspur menghadapi periode tergelap dalam sejarah modern mereka, menjadi satu-satunya tim di Premier League yang belum merasakan kemenangan sepanjang tahun 2026. Dengan rentetan hasil buruk yang terus memanjang, klub asal London Utara ini kini terjerembab di dasar klasemen performa kalender tahunan dan terancam degradasi, sebuah situasi yang diperparah dengan kepergian pelatih Igor Tudor setelah masa jabatan yang sangat singkat. Krisis ini bukan hanya mencoreng reputasi klub sebagai bagian dari "Big Six" Liga Inggris, tetapi juga menimbulkan pertanyaan serius tentang arah dan masa depan The Lilywhites.
sulutnetwork.com – Sejak pergantian tahun, 2026 telah menjadi mimpi buruk yang tak berkesudahan bagi Tottenham Hotspur. Dalam 13 pertandingan Liga Primer yang telah mereka jalani, Son Heung-min dan kawan-kawan gagal mencatatkan satu pun kemenangan. Rincian statistik menunjukkan lima hasil imbang yang kurang memuaskan dan delapan kekalahan menyakitkan, dengan total perolehan hanya lima poin. Angka-angka ini menempatkan Spurs di posisi terbawah dalam tabel performa tim Liga Inggris sepanjang tahun kalender 2026, jauh di bawah tim-tim lain yang setidaknya mampu meraih kemenangan, bahkan klub promosi sekalipun. Situasi ini sangat kontras dengan tim-tim papan atas seperti Arsenal dan Manchester United yang memimpin klasemen performa 2026 dengan 25 poin, menunjukkan jurang performa yang menganga lebar.
Rentetan hasil tanpa kemenangan ini dimulai sejak awal Januari. Setelah mengakhiri tahun 2025 dengan harapan yang meredup di bawah asuhan Thomas Frank, ekspektasi untuk kebangkitan di tahun baru segera pupus. Spurs membuka tahun 2026 dengan hasil imbang 1-1 melawan Brighton & Hove Albion, yang diikuti oleh kekalahan telak 1-3 di tangan rival sekota, Arsenal. Serangkaian kekalahan berlanjut, termasuk saat menjamu Everton dengan skor 1-2 dan dihajar Manchester United 1-3 di kandang sendiri. Tim juga gagal mencetak gol dalam beberapa pertandingan, seperti kekalahan 0-2 dari Fulham dan 0-3 dari Nottingham Forest, yang mengindikasikan masalah serius di lini serang dan pertahanan. Total 13 gol yang dicetak dalam 13 pertandingan (rata-rata satu gol per laga) berbanding terbalik dengan 27 gol yang bersarang di gawang mereka, menghasilkan selisih gol -14, terburuk di antara seluruh kontestan Premier League pada periode tersebut.
Sebelum krisis di tahun 2026 ini, Tottenham Hotspur sebenarnya telah menunjukkan tanda-tanda ketidakstabilan di paruh kedua musim 2025. Di bawah kepemimpinan Thomas Frank, yang diangkat pada pertengahan musim sebelumnya, Spurs kesulitan menemukan konsistensi. Gaya permainan yang cenderung pasif dan kurangnya kreativitas di lini tengah seringkali membuat mereka mudah ditebak lawan. Tekanan dari para penggemar dan manajemen yang semakin meningkat akhirnya mencapai puncaknya setelah serangkaian hasil buruk di awal tahun 2026. Meskipun Frank dikenal dengan kemampuannya membangun tim yang solid, seperti yang ia tunjukkan di klub sebelumnya, adaptasinya di Tottenham tidak berjalan mulus, terutama dengan skuad yang diisi oleh pemain-pemain bintang yang memiliki ekspektasi tinggi.
Puncak dari kekecewaan terhadap kinerja Thomas Frank terjadi setelah kekalahan telak dan serangkaian hasil imbang yang tidak mengangkat posisi tim. Manajemen klub, yang dipimpin oleh Daniel Levy, akhirnya mengambil keputusan sulit untuk memecat Frank pada 13 Februari 2026. Keputusan ini diambil dengan harapan adanya "efek kejut" yang mampu membangkitkan semangat tim dan mengakhiri rentetan hasil negatif. Penggantinya adalah Igor Tudor, pelatih asal Kroasia yang dikenal dengan pendekatan taktisnya yang agresif dan intensitas tinggi. Penunjukan Tudor dianggap sebagai langkah berani untuk mengubah filosofi permainan tim, dari yang cenderung pragmatis menjadi lebih menyerang dan dominan.
Namun, harapan itu hanya bertahan seumur jagung. Igor Tudor, yang tiba dengan reputasi sebagai pelatih yang mampu memberikan semangat baru, ternyata tidak mampu mengubah nasib Tottenham. Dalam masa kepemimpinannya yang sangat singkat, Tudor memimpin Spurs dalam beberapa pertandingan, tetapi tidak satupun berakhir dengan kemenangan. Pertandingan-pertandingan di bawah asuhannya tetap diwarnai dengan hasil imbang yang mengecewakan, seperti 2-2 melawan Brentford, dan kekalahan telak dari tim-tim papan atas maupun tim-tim di papan tengah. Misalnya, di bawah Tudor, Spurs masih kalah 1-2 dari Aston Villa, 1-4 dari Manchester City, dan 0-3 yang paling memilukan dari Nottingham Forest di kandang sendiri. Kekalahan dari Nottingham Forest pada hari Minggu, 29 Maret 2026, menjadi pukulan telak yang membuat manajemen klub kembali mengambil keputusan drastis. Hanya dalam waktu kurang lebih enam minggu setelah penunjukannya, Tottenham mengumumkan perpisahan dengan Igor Tudor, meninggalkan kursi pelatih kembali kosong dan menambah daftar panjang pelatih yang gagal di London Utara.
Kepergian Tudor bukan hanya menunjukkan betapa dalamnya krisis yang melanda klub, tetapi juga memperlihatkan kurangnya visi jangka panjang dalam pengambilan keputusan manajerial. Pergantian pelatih yang begitu cepat seringkali mengganggu stabilitas tim, membingungkan para pemain, dan menghambat perkembangan strategi. Pemain-pemain yang harus beradaptasi dengan dua filosofi yang berbeda dalam waktu singkat cenderung kehilangan fokus dan kepercayaan diri. Ini menciptakan lingkaran setan di mana hasil buruk menyebabkan perubahan pelatih, yang pada gilirannya menyebabkan ketidakstabilan dan hasil buruk lebih lanjut.
Di papan klasemen Liga Inggris secara keseluruhan, dampak dari performa tanpa kemenangan di tahun 2026 ini sangat terasa. Dari 31 pertandingan yang telah dijalani hingga akhir Maret, Tottenham Hotspur hanya mampu mengumpulkan 30 poin. Angka ini menempatkan mereka di posisi ke-17, hanya terpaut dua angka dari zona degradasi terdekat. Zona merah yang dihuni oleh tim-tim seperti Burnley dan Leeds United (yang masing-masing mengumpulkan 8 dan 13 poin dalam performa 2026, namun secara keseluruhan lebih baik dari Spurs) kini menjadi ancaman nyata yang belum pernah terbayangkan oleh para penggemar Spurs dalam beberapa dekade terakhir.
Potensi degradasi adalah skenario terburuk yang bisa menimpa klub sekelas Tottenham. Sebagai salah satu klub dengan nilai pasar tertinggi dan basis penggemar yang besar, terlempar dari Premier League akan membawa konsekuensi finansial dan reputasi yang sangat besar. Pendapatan dari hak siar televisi akan turun drastis, nilai pemain akan merosot, dan daya tarik klub untuk merekrut bakat-bakat baru akan berkurang signifikan. Selain itu, hilangnya status sebagai tim Liga Champions atau bahkan Liga Europa akan sangat merugikan, mengingat Spurs telah menjadi langganan kompetisi Eropa dalam beberapa tahun terakhir.
Krisis ini juga menyoroti performa para pemain kunci. Nama-nama besar seperti Son Heung-min, Harry Kane (jika masih di sana pada 2026, asumsi ia masih), dan para gelandang bintang yang seharusnya menjadi tulang punggung tim, terlihat kesulitan menemukan bentuk terbaik mereka. Ada spekulasi mengenai kurangnya motivasi, konflik internal di ruang ganti, atau bahkan kelelahan fisik dan mental akibat jadwal padat dan tekanan yang tiada henti. Pertahanan yang rapuh dan lini serang yang tumpul menjadi masalah kronis yang belum mampu diatasi oleh dua pelatih berbeda. Para penggemar, yang dikenal dengan loyalitasnya, kini menyuarakan kekecewaan dan frustrasi mereka melalui media sosial dan bahkan protes di sekitar stadion. Tuntutan untuk perubahan radikal di tingkat manajemen dan skuad pemain semakin menguat.
Menjelang sisa musim, Tottenham Hotspur menghadapi jadwal pertandingan yang sangat berat. Dengan hanya beberapa pertandingan tersisa, setiap laga akan menjadi "final" bagi mereka. Pertandingan melawan tim-tim yang berada di posisi serupa di papan bawah, atau bahkan tim-tim papan atas yang masih berjuang untuk gelar atau kualifikasi Eropa, akan sangat menentukan nasib mereka. Klub harus segera menemukan juru taktik baru yang bukan hanya mampu membangkitkan semangat tim, tetapi juga memiliki strategi yang jelas untuk mengamankan poin-poin krusial. Sosok pelatih yang mampu menjadi "pemadam kebakaran" dengan pengalaman di situasi sulit akan menjadi prioritas utama.
Pencarian pelatih baru sedang gencar dilakukan. Berbagai nama mulai disebut-sebut, mulai dari pelatih berpengalaman yang dikenal mampu menyelamatkan tim dari zona degradasi hingga pelatih muda dengan ide-ide segar. Namun, tantangan terbesar bagi pelatih baru adalah waktu yang sangat terbatas dan kondisi psikologis tim yang sedang terpuruk. Siapapun yang datang harus mampu segera menanamkan filosofi baru, membangun kepercayaan diri pemain, dan meracik taktik yang efektif dalam waktu singkat.
Krisis Tottenham Hotspur di tahun 2026 ini akan menjadi salah satu babak terkelam dalam sejarah klub. Dari tim yang beberapa tahun lalu mencapai final Liga Champions dan secara konsisten bersaing di papan atas Premier League, kini mereka harus berjuang mati-matian untuk menghindari jurang degradasi. Masa depan klub yang bermarkas di Tottenham Hotspur Stadium ini kini berada di ujung tanduk, dan keputusan-keputusan yang diambil dalam beberapa minggu ke depan akan sangat menentukan apakah mereka mampu bangkit dari keterpurukan ini atau harus menerima kenyataan pahit bermain di kasta kedua sepak bola Inggris.
