Sebuah studi komprehensif terbaru telah mengidentifikasi negara-negara dengan populasi paling sopan di seluruh dunia, menempatkan Jepang dan Kanada di puncak daftar. Temuan ini menyoroti bagaimana persepsi kesopanan bervariasi secara global dan faktor-faktor budaya yang mendasarinya. Laporan ini juga menarik perhatian pada posisi Indonesia, yang meski dikenal dengan keramahannya, ternyata tidak masuk dalam jajaran 20 besar negara paling sopan menurut survei tersebut.

sulutnetwork.com – Penelitian yang digagas oleh layanan keuangan Remitly, dan informasinya dilansir melalui Time Out pada Sabtu (28/3/2026), mengungkapkan daftar negara yang penduduknya paling sopan di dunia berdasarkan persepsi publik. Survei ini melibatkan 4.600 responden dari 26 negara berbeda, yang diminta untuk mengevaluasi tingkat kesopanan dan keramahan penduduk di berbagai negara, khususnya dalam menyambut turis asing. Metodologi ini dirancang untuk menangkap pandangan global tentang civility, yang seringkali menjadi penentu penting dalam pengalaman perjalanan dan interaksi lintas budaya. Hasilnya memberikan gambaran menarik tentang bagaimana berbagai budaya diinterpretasikan dalam hal etiket sosial.

Definisi kesopanan dalam konteks penelitian ini tidak hanya terbatas pada gestur formal, melainkan mencakup serangkaian perilaku dan interaksi sosial yang lebih luas. Variabel yang diukur melibatkan tindakan-tindakan sederhana namun fundamental, seperti penggunaan bahasa yang baik dan santun, menunjukkan rasa hormat terhadap individu lain, serta membudayakan ucapan ‘maaf’, ‘tolong’, dan ‘terima kasih’ dalam komunikasi sehari-hari. Penggunaan frasa-frasa ini sering dianggap sebagai pilar utama dalam membangun interaksi yang harmonis dan menunjukkan penghargaan terhadap lawan bicara. Lebih dari sekadar formalitas, frasa-frasa ini mencerminkan empati dan kesadaran sosial yang tinggi, yang menjadi indikator kuat dari tingkat kesopanan suatu masyarakat.

Lebih lanjut, penelitian ini juga mempertimbangkan bagaimana standar kesopanan dapat berbeda secara signifikan antara satu negara dengan negara lainnya, sebuah realitas yang sering dirasakan langsung oleh para turis saat menjelajahi destinasi baru. Perbedaan persepsi ini dapat muncul dari norma-norma budaya yang mendalam, tradisi lokal, hingga cara masyarakat berinteraksi dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai ilustrasi, tingkat kesopanan suatu negara turut dievaluasi berdasarkan bagaimana warga lokal berinteraksi dengan turis asing. Ini mencakup kesediaan mereka untuk membantu, khususnya saat turis menghadapi kendala bahasa atau membutuhkan petunjuk arah, serta bagaimana mereka merespons situasi yang mungkin canggung atau tidak terduga. Kemampuan untuk menunjukkan kesabaran, empati, dan sikap proaktif dalam membantu pendatang adalah aspek krusial yang membentuk persepsi global tentang kesopanan suatu bangsa.

Jepang, dengan reputasinya yang tak terbantahkan dalam hal etiket dan tata krama, berhasil menduduki posisi teratas sebagai negara paling sopan di dunia. Dalam survei Remitly, Negeri Sakura memperoleh dukungan luar biasa dari 35,15 persen responden, yang sepakat bahwa tingkat kesopanan penduduknya layak diapresiasi dengan nilai tertinggi. Konsensus yang signifikan ini membuktikan bahwa citra Jepang sebagai masyarakat yang menjunjung tinggi kesantunan bukan sekadar mitos, melainkan realitas yang diakui secara global. Budaya Jepang secara fundamental menekankan rasa hormat, baik melalui bahasa yang digunakan, gestur tubuh, maupun kebiasaan sosial. Konsep ‘wa’ atau harmoni sosial, menjadi landasan utama yang mendorong setiap individu untuk bertindak dengan penuh pertimbangan demi menjaga kedamaian dan kenyamanan bersama.

Penghormatan di Jepang diwujudkan dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari interaksi antar individu, pelayanan publik, hingga cara mereka berinteraksi dengan lingkungan. Salah satu praktik standar yang paling dikenal adalah budaya membungkuk (ojigi), yang berfungsi sebagai bentuk sapaan, ucapan terima kasih, permohonan maaf, atau bahkan sekadar menunjukkan rasa hormat. Tingkat kedalaman dan durasi membungkuk pun memiliki makna tersendiri, mencerminkan hierarki dan situasi sosial. Selain itu, praktik ‘omotenashi’—keramahan tulus yang dilakukan tanpa mengharapkan imbalan—adalah filosofi yang meresap dalam setiap layanan dan interaksi, mulai dari staf hotel hingga penjaga toko. Disiplin dalam mengantre, menjaga kebersihan, dan berbicara dengan volume rendah di tempat umum juga menjadi bagian tak terpisahkan dari kesopanan yang melekat pada masyarakat Jepang. Tak heran jika dengan kekayaan budaya yang mengutamakan tata krama ini, Jepang mampu meraih posisi puncak dalam daftar negara paling sopan di dunia.

Menyusul di peringkat kedua adalah Kanada, yang berhasil mengumpulkan skor kesopanan sebesar 13,5 persen. Angka ini, meskipun jauh di bawah Jepang, menunjukkan pengakuan signifikan terhadap kesantunan penduduknya. Kanada dikenal sebagai negara multikultural yang menjunjung tinggi toleransi dan inklusivitas, nilai-nilai yang secara inheren mendukung terciptanya lingkungan sosial yang sopan dan ramah. Salah satu karakteristik yang menonjol dan sering menjadi stereotip positif bagi orang Kanada adalah kecenderungan mereka untuk meminta maaf, terkadang bahkan secara berlebihan, yang dalam konteks survei ini dapat diinterpretasikan sebagai bentuk empati dan kepekaan sosial. Fenomena "maaf berlebihan" ini bukan semata-mata tanda kelemahan, melainkan seringkali merupakan upaya untuk menjaga keharmonisan dan menghindari potensi konflik, bahkan dalam situasi yang sepele.

Penelitian ini juga menyoroti adanya banyak kesamaan persepsi mengenai kesopanan antara Kanada dan Inggris, yang menempati peringkat ketiga. Kedua negara Anglo-Saxon ini memiliki budaya yang cenderung sering menggunakan kata-kata ajaib seperti ‘maaf’, ‘tolong’, dan ‘terima kasih’. Tingkat frekuensi penggunaan ketiga kata tersebut dalam percakapan sehari-hari seringkali menjadi cerminan dari kesopanan dan penghargaan seseorang terhadap orang lain. Di Kanada, budaya "terima kasih" yang mendalam bahkan terlihat dalam interaksi sehari-hari, mulai dari sopir bus yang mengucapkan terima kasih kepada setiap penumpang yang turun, hingga antrean di toko kelontong. Kesediaan untuk membantu orang asing, memberikan ruang pribadi, dan menjaga ketertiban umum juga menjadi indikator penting yang memperkuat posisi Kanada dalam daftar ini.

Sementara itu, Inggris Raya berhasil mengamankan posisi ketiga dengan meraih skor 6,23 persen. Mirip dengan Kanada, penduduk di Inggris juga terkenal dengan kecenderungan mereka untuk sering menggunakan kata ‘maaf’, ‘tolong’, dan ‘terima kasih’, yang menjadi bagian integral dari etiket sosial mereka. Selain itu, masyarakat Inggris juga dikenal sangat menghormati orang lain dan menjunjung tinggi ketertiban. Salah satu contoh paling klasik adalah budaya mengantre (queueing culture) yang sangat dihargai dan dipatuhi oleh sebagian besar penduduknya. Menghargai antrean bukan hanya sekadar aturan, tetapi sebuah bentuk penghargaan terhadap waktu dan hak orang lain, yang secara luas dianggap sebagai tanda kesopanan yang mengesankan. Ketegasan dalam menjaga jarak pribadi, kesabaran dalam menunggu, dan kecenderungan untuk tidak menginterupsi pembicaraan juga merupakan bagian dari norma sosial yang berkontribusi pada persepsi global tentang kesopanan Inggris.

Meskipun Indonesia kerap disebut sebagai negara yang warganya ramah dan penuh keramahan, fakta menarik dari survei ini adalah bahwa Indonesia tidak masuk dalam urutan 20 besar negara yang paling sopan. Hal ini memunculkan pertanyaan tentang perbedaan antara konsep ‘ramah’ dan ‘sopan’ dalam konteks global dan kriteria yang digunakan oleh penelitian. Keramahan Indonesia seringkali diwujudkan melalui senyuman, sapaan hangat, dan kesediaan untuk berinteraksi secara personal. Namun, definisi kesopanan dalam survei Remitly mungkin lebih condong pada norma-norma etiket formal, ketertiban umum, dan penggunaan bahasa yang sangat terstruktur seperti yang terlihat di Jepang atau negara-negara Barat. Perbedaan budaya dalam menunjukkan rasa hormat, misalnya dalam hal ketepatan waktu, cara berbicara yang tidak langsung, atau ekspresi emosi, mungkin mempengaruhi persepsi responden internasional. Ini bukan berarti masyarakat Indonesia tidak sopan, melainkan bahwa bentuk kesopanan mereka mungkin diinterpretasikan secara berbeda oleh responden dari berbagai latar belakang budaya.

Berikut adalah daftar 20 besar negara yang paling sopan di dunia menurut survei Remitly, yang menunjukkan keragaman budaya dalam mengartikan dan mempraktikkan kesopanan:

  1. Jepang
  2. Kanada
  3. Kerajaan Inggris
  4. Cina
  5. Jerman
  6. Filipina
  7. Swedia
  8. Denmark
  9. Finlandia
  10. Afrika Selatan
  11. Australia dan Swiss (peringkat bersama)
  12. Amerika Serikat
  13. India
  14. Irlandia
  15. Selandia Baru
  16. Norwegia
  17. Belanda
  18. Thailand dan Prancis (peringkat bersama)
  19. Brasil
  20. Spanyol

Posisi Cina di peringkat keempat mungkin mengejutkan bagi sebagian pihak, namun ini bisa mencerminkan nilai-nilai tradisional seperti penghormatan terhadap senioritas dan penekanan pada harmoni sosial yang masih kuat di negara tersebut, serta upaya peningkatan pelayanan dalam sektor pariwisata. Jerman di peringkat kelima menunjukkan bahwa efisiensi, ketertiban, dan ketaatan pada aturan juga dapat diartikan sebagai bentuk kesopanan. Sementara itu, Filipina di peringkat keenam menegaskan reputasinya akan keramahan yang mendalam dan budaya ‘bayanihan’ atau semangat kebersamaan. Negara-negara Nordik seperti Swedia, Denmark, Finlandia, dan Norwegia juga konsisten masuk daftar, mencerminkan masyarakat yang menghargai privasi, ketenangan, dan kesetaraan.

Kehadiran Amerika Serikat di peringkat ke-12 dan India di peringkat ke-13 menunjukkan bahwa meskipun sering ada stereotip yang beragam, ada aspek-aspek kesopanan yang diakui secara global di negara-negara tersebut, mungkin terkait dengan etika layanan pelanggan atau tradisi spiritual yang menekankan rasa hormat. Di sisi lain, negara-negara seperti Brasil dan Spanyol yang berada di ujung daftar (peringkat 19 dan 20) mungkin mencerminkan budaya yang lebih ekspresif, hangat, dan kurang formal dibandingkan negara-negara di posisi teratas, yang bisa diinterpretasikan secara berbeda oleh responden survei.

Secara keseluruhan, penelitian Remitly ini memberikan wawasan berharga tentang bagaimana kesopanan dipersepsikan dan dinilai di seluruh dunia. Ini menyoroti bahwa kesopanan bukanlah konsep universal yang statis, melainkan sebuah spektrum perilaku yang dipengaruhi kuat oleh latar belakang budaya, norma sosial, dan harapan individu. Bagi para pelancong, memahami nuansa ini dapat meningkatkan pengalaman mereka di luar negeri, sementara bagi negara-negara, temuan ini dapat menjadi cerminan tentang bagaimana mereka dipandang di panggung global. Pada akhirnya, studi ini menegaskan bahwa meskipun ekspresinya bervariasi, nilai inti dari rasa hormat, empati, dan komunikasi yang baik tetap menjadi fondasi penting dalam membangun interaksi yang harmonis antarindividu dan antarbudaya.