Warga di lereng Gunung Merapi, Boyolali, merayakan puncak Hari Raya Idulfitri dengan menggelar tradisi unik dan penuh makna, yakni angon hewan ternak dalam rangkaian Syawalan. Ratusan ekor sapi dan kambing menjadi bintang utama dalam arak-arakan meriah yang diselenggarakan pada Sabtu, 28 Maret 2026, di tengah suasana pedesaan yang asri dan kental dengan nuansa kekeluargaan. Peristiwa ini bukan sekadar parade hewan ternak, melainkan manifestasi syukur, pelestarian warisan leluhur, serta simbol kemakmuran bagi masyarakat setempat.

sulutnetwork.com – Tradisi yang telah berakar kuat dalam sendi kehidupan masyarakat ini dipusatkan di Dukuh Mlambong, dan melibatkan seluruh warga dari lingkup RW 04 Desa Sruni, Kecamatan Musuk, Kabupaten Boyolali. Area yang turut serta dalam kemeriahan ini meliputi Dukuh Mlambong itu sendiri, Rejosari, Gedongsari, Wonodadi, dan Tegalsari. Setiap tahun, ritual tahunan ini menjadi magnet yang menarik perhatian tidak hanya warga lokal, tetapi juga pengunjung dari berbagai daerah, menegaskan posisinya sebagai salah satu agenda budaya yang paling dinantikan pasca-Lebaran.

Jaman, seorang tokoh masyarakat setempat yang juga menjabat sebagai Ketua RW 04 Desa Sruni, menjelaskan bahwa tradisi ini merupakan acara tahunan yang rutin dilaksanakan setiap Syawalan. Menurutnya, arak-arakan sapi ini adalah warisan turun-temurun yang telah dilestarikan sejak zaman nenek moyang mereka. Kehadiran tradisi ini bukan hanya sekadar tontonan, tetapi juga cerminan dari identitas budaya dan kearifan lokal yang dijaga erat oleh komunitas. Seiring berjalannya waktu, antusiasme dan kemeriahan pelaksanaannya justru semakin meningkat, menunjukkan vitalitas budaya yang tak lekang oleh zaman.

Lebih dari sekadar sebuah parade, tradisi ini memegang peranan penting dalam mengikat tali persaudaraan antarwarga. Ratusan warga dari berbagai pelosok daerah membanjiri Desa Sruni, tumpah ruah menyaksikan perayaan yang hanya berlangsung sekali dalam setahun ini. Kehadiran mereka menambah semarak suasana, menciptakan interaksi sosial yang hangat dan memperkuat rasa kebersamaan. Tak hanya masyarakat, tamu undangan dari berbagai dinas terkait Pemerintah Kabupaten Boyolali juga turut hadir, menandakan pengakuan resmi terhadap nilai penting tradisi ini dalam kancah kebudayaan daerah. Kehadiran para pejabat juga seringkali diinterpretasikan sebagai dukungan pemerintah terhadap upaya pelestarian budaya lokal, sekaligus promosi potensi wisata budaya yang dimiliki Boyolali.

Rangkaian acara diawali dengan sebuah ritual yang sarat makna, yaitu kenduri ketupat. Seluruh warga dari lingkungan RW 04 berpartisipasi aktif dalam kegiatan ini. Mereka membawa berbagai jenis ketupat, mulai dari ketupat sayur, ketupat opor, hingga ketupat janur yang dihias apik, lengkap dengan aneka lauk pauk khas Lebaran. Setelah seluruh hidangan terkumpul, sebuah doa bersama dipanjatkan, memohon keberkahan dan keselamatan bagi seluruh warga. Usai doa, hidangan-hidangan tersebut disantap bersama-sama dalam suasana kebersamaan yang hangat. Para pengunjung yang hadir pun tidak ketinggalan diajak untuk bergabung dan menikmati hidangan lezat tersebut, merasakan langsung keramahan dan kebersamaan masyarakat Desa Sruni. Kenduri ketupat ini bukan hanya ajang makan bersama, melainkan juga simbolisasi dari kebersamaan, saling memaafkan, dan rasa syukur atas nikmat yang telah dilimpahkan. Ketupat sendiri, dengan bentuknya yang unik, sering diartikan sebagai simbol "ngaku lepat" atau pengakuan atas kesalahan, yang sangat relevan dengan semangat Idulfitri.

Setelah kenduri ketupat usai, warga kembali ke rumah masing-masing untuk bersiap menghadapi acara puncak. Tak lama kemudian, mereka mulai mengeluarkan sapi-sapi peliharaan mereka dari kandang, mempersiapkan untuk diarak keliling kampung. Prosesi arak-arakan ini dirancang dengan sangat teratur dan meriah, menampilkan beragam elemen budaya yang memukau. Barisan paling depan diisi oleh sejumlah pemudi desa yang anggun, mengenakan pakaian tradisional dan membawa spanduk besar bertuliskan tema acara, mengumumkan dimulainya parade. Di belakang mereka, sebuah gunungan hasil bumi dan ketupat yang megah diusung, melambangkan kemakmuran dan kesuburan tanah pertanian mereka. Gunungan ini, yang dihiasi dengan sayur-mayur segar, buah-buahan, dan aneka ketupat, adalah wujud syukur atas hasil panen yang melimpah.

Kemeriahan parade semakin terasa dengan kehadiran kelompok kesenian reog dan warok dari Desa Sruni. Para penari reog dengan topeng singa barong raksasa dan iringan musik gamelan yang menggelegar menciptakan suasana yang energik dan penuh semangat. Gerakan tarian yang dinamis dan atraktif memukau setiap mata yang memandang. Di belakang rombongan kesenian, barisan ibu-ibu anggun dengan mengenakan seragam kebaya tradisional berwarna-warni turut memeriahkan, melambangkan peran serta kaum perempuan dalam pelestarian budaya.

Barulah kemudian, ratusan sapi dan kambing milik warga menjadi pusat perhatian. Hewan-hewan ternak ini, yang telah dirawat dengan penuh kasih sayang, tampak gagah dan sehat. Beberapa di antaranya bahkan diberi hiasan khusus berupa kalung ketupat yang digantungkan di lehernya, menambah kesan meriah dan simbolis. Sejumlah warga juga tampak mengendarai sapi tunggang mereka, menampilkan keterampilan dan kedekatan mereka dengan hewan peliharaan. Suara lenguhan sapi dan embikan kambing berpadu dengan alunan musik tradisional dan sorak sorai penonton, menciptakan simfoni unik yang hanya bisa ditemukan dalam tradisi ini. Sepanjang rute arak-arakan, warga dan pengunjung berjejer rapi di pinggir jalan, mengabadikan momen langka ini dengan kamera mereka, serta memberikan tepuk tangan dan senyuman hangat kepada para peserta. Aroma khas pedesaan bercampur dengan wangi ketupat dan keringat, menciptakan pengalaman multisensori yang tak terlupakan.

Jaman menjelaskan lebih lanjut bahwa tradisi arak-arakan sapi ini biasa digelar di akhir perayaan Lebaran, tepatnya pada H+7 Lebaran, yang bertepatan dengan perayaan kupatan atau syawalan. Oleh karena itu, masyarakat setempat juga akrab menyebutnya sebagai "Bakdo Kupat" dan "Bakdo Sapi", atau secara harfiah berarti Lebaran Kupat dan Lebaran Sapi. Sebutan "Bakdo Kupat" diberikan karena pada hari itu warga secara serentak menggelar kenduri ketupat, sebuah tradisi yang juga sangat melekat dengan perayaan Idulfitri di Jawa. Sementara itu, "Bakdo Sapi" merujuk pada momen istimewa di mana warga membawa ternak sapi mereka keluar dari kandang, digembalakan keliling kampung dalam sebuah prosesi besar.

Lebih dalam lagi, Ketua RW 04 Desa Sruni tersebut mengungkapkan filosofi di balik tradisi ini. "Tradisi ini juga sebagai wujud syukur kepada Allah SWT, yang telah melimpahkan rezeki kepada masyarakat di sini, baik melalui hewan-hewan ternak yang dipelihara warga maupun hasil pertanian warga," tuturnya. Pernyataan ini menegaskan bahwa tradisi Bakdo Sapi bukan hanya sekadar hiburan, melainkan sebuah ritual spiritual yang mendalam, mencerminkan hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. Bagi masyarakat agraris seperti di Boyolali, hewan ternak dan hasil pertanian adalah tulang punggung kehidupan, sehingga rasa syukur atas anugerah tersebut diungkapkan melalui perayaan ini.

Kemeriahan acara terasa begitu nyata, memancarkan energi positif ke seluruh penjuru desa. Para pengunjung, mulai dari anak-anak yang polos hingga orang dewasa yang bijaksana, tampak antusias menonton di pinggir jalan, menyaksikan setiap detail prosesi dengan seksama. Senyum dan tawa riang terpancar dari wajah mereka, menunjukkan betapa tradisi ini berhasil menyatukan dan membahagiakan banyak orang. Selain sebagai wujud syukur, ada pula kepercayaan kuno yang melandasi tradisi ini. Menurut Jaman, kepercayaan warga pada tradisi syawalan ini adalah karena pada hari itu diyakini Kanjeng Nabi Sulaiman AS memeriksa hewan-hewan ternak milik warga. Oleh karena itu, warga pun merasa perlu untuk mengeluarkan sapi mereka dari kandang dan membawanya berkeliling kampung, seolah-olah mempersembahkan hewan-hewan terbaik mereka kepada Nabi Sulaiman. Kepercayaan ini menambahkan dimensi mistis dan spiritual yang unik pada perayaan Bakdo Sapi.

Sebagai penutup rangkaian perayaan yang meriah, para pengunjung dan warga kembali dihibur dengan pertunjukan kesenian tarian tradisional reog. Pertunjukan ini menjadi ajang bagi para seniman lokal untuk menunjukkan bakat mereka, sekaligus memberikan hiburan yang berkesan bagi seluruh hadirin. Dentuman musik gamelan yang ritmis, gerakan penari yang lincah, serta kostum yang mencolok, berhasil menciptakan atmosfer pesta yang tak terlupakan. Tradisi Bakdo Sapi di Boyolali ini, dengan segala elemennya, adalah perpaduan harmonis antara ritual keagamaan, ekspresi syukur, pelestarian budaya, dan hiburan rakyat. Ini adalah bukti nyata bagaimana sebuah komunitas mampu menjaga dan merayakan identitasnya melalui warisan leluhur yang tak ternilai harganya.