Dua pendaki muda, Moh Agil (21) dan Moh Rifal (18), sempat dinyatakan hilang di Gunung Dako, Kabupaten Tolitoli, Sulawesi Tengah, setelah ditinggalkan oleh rekan mereka yang melanjutkan perjalanan ke puncak. Insiden yang memicu operasi pencarian besar-besaran oleh tim SAR gabungan ini bermula pada Senin sore, 23 Maret, ketika kedua korban dilaporkan tidak ditemukan di Pos 3 tempat mereka beristirahat. Setelah upaya pencarian intensif selama dua hari, kedua pendaki akhirnya ditemukan dalam kondisi selamat namun lemas pada Rabu siang, 25 Maret, setelah tersesat dan menyusuri hutan semalaman.

sulutnetwork.com – Laporan hilangnya dua pendaki ini segera menggerakkan Unit Siaga SAR Tolitoli untuk mengkoordinasikan upaya pencarian dan penyelamatan. Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Palu, Muh Rizal, mengonfirmasi bahwa tim SAR gabungan yang terdiri dari unsur Basarnas, TNI, Polri, serta relawan masyarakat dan pecinta alam, telah diterjunkan ke lokasi untuk menyisir setiap sudut area pencarian di Gunung Dako. Peristiwa ini menyoroti pentingnya kehati-hatian dan tanggung jawab dalam aktivitas pendakian gunung, terutama saat melibatkan rekan yang membutuhkan dukungan dan koordinasi yang solid antaranggota kelompok.

Gunung Dako, yang menjulang di wilayah Kabupaten Tolitoli, Sulawesi Tengah, dikenal sebagai salah satu destinasi favorit bagi para pendaki lokal maupun regional. Dengan ketinggian yang menantang dan vegetasi hutan tropis yang lebat, gunung ini menawarkan pemandangan alam yang memukau namun juga menyimpan potensi bahaya bagi mereka yang kurang persiapan atau tidak mengikuti prosedur keselamatan. Jalur pendakian yang umumnya dilalui oleh para pendaki kerap ditandai dengan pos-pos peristirahatan, termasuk Pos 3 yang menjadi titik kritis dalam insiden ini. Kondisi geografis yang berbukit-bukit, lembah-lembah curam, serta tutupan hutan yang rapat, seringkali menjadi tantangan utama bagi tim pencari ketika terjadi kasus orang hilang.

Perjalanan pendakian kelompok yang beranggotakan empat orang ini dimulai pada Senin, 23 Maret, sekitar pukul 11.00 Wita. Mereka memulai pendakian dari titik awal di Desa Lakatan, Kecamatan Galang, dengan tujuan menaklukkan puncak Gunung Dako. Semula, perjalanan mereka berlangsung lancar di bawah terik matahari pagi yang cerah. Namun, saat mencapai Pos 3, sebuah titik yang biasanya digunakan para pendaki untuk beristirahat dan mengisi ulang energi, Moh Agil dan Moh Rifal mulai menunjukkan tanda-tanda kelelahan yang signifikan. Kondisi fisik mereka yang menurun membuat keduanya memutuskan untuk berhenti sejenak, sementara dua rekan mereka memilih untuk melanjutkan perjalanan menuju puncak dengan harapan dapat kembali dan menjemput kedua temannya.

Keputusan untuk memisahkan diri di tengah jalur pendakian, terutama saat salah satu anggota kelompok mengalami kelelahan, merupakan pelanggaran mendasar terhadap protokol keselamatan pendakian gunung. Dalam prinsip pendakian yang bertanggung jawab, kelompok harus selalu bergerak bersama, terutama jika ada anggota yang membutuhkan bantuan atau berisiko tertinggal. Kepercayaan bahwa mereka akan segera kembali dari puncak, atau bahwa Agil dan Rifal dapat menunggu dengan aman di Pos 3, ternyata menjadi sebuah kesalahan fatal yang berujung pada insiden hilangnya kedua pendaki tersebut. Rekan-rekan mereka melanjutkan perjalanan ke puncak Gunung Dako, sementara Agil dan Rifal ditinggalkan dengan perbekalan seadanya dan tanpa pengawasan langsung.

Dua jam kemudian, sekitar pukul 13.00 Wita, rekan-rekan Agil dan Rifal kembali dari puncak menuju Pos 3. Mereka berharap dapat menemukan kedua temannya masih beristirahat di lokasi yang sama. Namun, sesampainya di Pos 3, mereka tidak menemukan Moh Agil dan Moh Rifal. Kedua pendaki muda itu telah lenyap tanpa jejak. Sebuah kekhawatiran besar mulai menyelimuti, menyadari bahwa kondisi di gunung bisa berubah dengan cepat dan bahaya selalu mengintai. Rekan-rekan korban segera melakukan pencarian awal di sekitar lokasi kejadian perkara (LKP) dan di jalur-jalur terdekat, namun upaya mereka tidak membuahkan hasil. Agil dan Rifal tidak ditemukan di mana pun.

Setelah menyadari bahwa pencarian mandiri tidak membuahkan hasil, rekan-rekan korban segera turun gunung dan melaporkan kejadian ini kepada pihak berwenang. Laporan tersebut diterima oleh Unit Siaga SAR Tolitoli pada Senin sore. Menanggapi laporan serius ini, Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Palu, Muh Rizal, segera menginstruksikan pembentukan tim SAR gabungan. Tim yang solid ini terdiri dari personel Basarnas, anggota TNI dan Polri setempat, serta relawan dari komunitas pecinta alam dan warga masyarakat yang memiliki pengalaman di medan pegunungan. Mobilisasi cepat ini merupakan respons vital mengingat waktu adalah faktor krusial dalam operasi pencarian dan penyelamatan orang hilang di hutan belantara.

Operasi SAR resmi dimulai pada Selasa pagi, 24 Maret. Tim pertama segera bergerak menuju titik awal pendakian di Desa Lakatan dan memulai penyisiran dari Pos 1 hingga Pos 3, tempat terakhir kedua korban terlihat. Medan yang sulit, berupa hutan lebat dengan vegetasi rapat dan lereng-lereng terjal, menjadi tantangan utama bagi tim pencari. Kondisi cuaca yang tidak menentu di pegunungan, dengan potensi hujan dan kabut tebal, juga menambah kesulitan dalam upaya visualisasi dan komunikasi. Tim dibagi menjadi beberapa sektor pencarian, masing-masing dengan tugas menyisir area spesifik berdasarkan analisis kemungkinan arah pergerakan korban. Peralatan navigasi, komunikasi, dan pertolongan pertama dibawa lengkap untuk menghadapi segala kemungkinan.

Selama hari pertama pencarian, tim SAR fokus menyisir jalur-jalur utama dan area sekitar Pos 3. Mereka juga mencoba memanggil nama korban secara berkala, berharap ada respons. Informasi dari rekan korban mengenai kondisi kelelahan Agil dan Rifal menjadi petunjuk penting, mengarahkan tim untuk memperkirakan bahwa kedua korban mungkin tidak bergerak terlalu jauh atau mungkin mencari sumber air terdekat. Namun, hingga Selasa malam, hasil pencarian masih nihil. Keluarga korban yang menunggu dengan cemas di posko utama semakin diliputi kekhawatiran, sementara tim SAR terus bekerja tanpa henti, bahkan hingga larut malam dengan bantuan penerangan seadanya.

Pada hari kedua operasi SAR, Rabu, 25 Maret, fokus pencarian diperluas ke area yang lebih jauh dari jalur pendakian utama, termasuk lembah-lembah dan aliran sungai yang seringkali menjadi rute alternatif bagi orang yang tersesat mencari jalan keluar atau sumber air. Tim SAR meningkatkan intensitas penyisiran, menyadari bahwa setiap jam sangat berharga. Semangat juang tim pencari tetap tinggi, didukung oleh koordinasi yang baik dan harapan untuk menemukan kedua pendaki dalam kondisi selamat. Mereka menyusuri setiap celah hutan, membelah semak belukar, dan menuruni lereng-lereng terjal dengan hati-hati.

Keajaiban akhirnya datang pada Rabu siang, sekitar pukul 13.50 Wita. Di tengah keputusasaan yang mulai menyelimuti, teriakan minta tolong sayup-sayup terdengar oleh seorang petani lokal yang sedang beraktivitas di kebunnya, tidak jauh dari kawasan hutan Gunung Dako. Petani tersebut, yang memiliki pengalaman dan pemahaman tentang medan hutan, segera mendatangi sumber suara. Betapa terkejutnya ia saat menemukan dua pemuda dalam kondisi lemas dan sangat kelelahan. Mereka adalah Moh Agil dan Moh Rifal, dua pendaki yang selama ini dicari.

Menurut penjelasan Muh Rizal, kedua pendaki itu ditemukan dalam kondisi lemas akibat kelelahan dan kehabisan perbekalan. Mereka menceritakan bahwa setelah ditinggalkan oleh rekan-rekannya, mereka merasa kebingungan dan mungkin mencoba mencari jalan keluar sendiri. Dengan sisa tenaga yang ada, mereka memutuskan untuk menyusuri aliran sungai semalaman, sebuah strategi umum bagi orang yang tersesat di hutan untuk menemukan pemukiman atau jalan. Namun, perjalanan malam di hutan yang gelap dan tidak dikenal adalah pengalaman yang sangat mengerikan dan menguras fisik serta mental. Mereka kehilangan arah dan hanya bisa berharap menemukan pertolongan.

Petani yang menemukan mereka segera memberikan pertolongan pertama, termasuk air minum dan sedikit makanan yang ia bawa. Setelah kondisi mereka sedikit membaik, keduanya kemudian dibawa ke rumah warga terdekat untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut. Kabar penemuan ini segera disampaikan kepada tim SAR gabungan, yang kemudian bergegas menuju lokasi untuk mengevakuasi Agil dan Rifal. Setibanya di pemukiman, tim medis segera memeriksa kondisi kesehatan kedua pendaki. Meskipun lemas dan dehidrasi, keduanya dinyatakan dalam kondisi stabil dan tidak mengalami cedera serius, hanya membutuhkan istirahat dan asupan nutrisi.

Dengan ditemukannya Moh Agil dan Moh Rifal dalam kondisi selamat, operasi pencarian dan penyelamatan yang telah berlangsung selama dua hari secara resmi dinyatakan ditutup oleh Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Palu, Muh Rizal. Peristiwa ini menjadi pengingat penting bagi seluruh komunitas pendaki gunung mengenai esensi keselamatan, perencanaan yang matang, dan tanggung jawab kolektif. Setiap anggota kelompok harus selalu memastikan keselamatan rekan-rekannya, menghindari pemisahan diri, dan membawa perlengkapan darurat yang memadai. Kejadian ini menegaskan bahwa keindahan alam pegunungan selalu datang dengan risiko yang harus diantisipasi dan dihormati.