Kepala Pemandu Bakat PSSI, Simon Tahamata, secara terang-terangan menyoroti kondisi minimnya kompetisi sepak bola usia muda di Indonesia, sebuah situasi yang menurutnya menjadi penghambat serius bagi kinerjanya dalam mencari bibit-bibit unggul. Keluhan ini bukan sekadar observasi biasa, melainkan peringatan mendalam tentang fondasi pembinaan sepak bola nasional yang rapuh, berpotensi mengancam masa depan Timnas Indonesia. Minimnya ajang kompetitif di kelompok usia krusial menyebabkan proses identifikasi dan pengembangan bakat menjadi sangat sulit, jauh berbeda dengan sistem yang telah mapan di negara-negara dengan tradisi sepak bola kuat seperti Belanda.

sulutnetwork.com – Pernyataan Simon Tahamata mengenai ketiadaan kompetisi untuk anak-anak berusia 9 hingga 10 tahun di Indonesia telah memicu kembali diskusi penting tentang urgensi pembinaan usia dini. Mantan bintang Ajax Amsterdam dan Feyenoord ini, yang dikenal memiliki pengalaman panjang dalam pengembangan talenta muda di Eropa, merasakan langsung kesulitan dalam menjalankan tugasnya mencari mutiara terpendam di tengah keterbatasan struktur pembinaan. Ia menegaskan bahwa dasar sepak bola yang kuat harus dibangun sejak usia sangat muda, sebuah prinsip yang tampaknya masih belum terinternalisasi secara optimal dalam ekosistem sepak bola Indonesia.

Simon Tahamata ditunjuk oleh PSSI pada awal tahun 2025, bertepatan dengan periode di mana Tim Nasional Indonesia berada di bawah arahan para pelatih berlatar belakang Belanda. Penunjukannya kala itu merupakan bagian dari strategi PSSI untuk memperkuat sistem pengembangan pemain muda dengan mengadopsi model Eropa, khususnya Belanda yang dikenal memiliki akademi dan program pembinaan usia dini yang sangat maju. Meskipun kemudian terjadi pergantian kepelatihan Timnas dengan dicopotnya Kluivert pada akhir 2025, Simon Tahamata tetap mempertahankan posisinya sebagai Kepala Pemandu Bakat PSSI. Keberadaannya diharapkan dapat membawa perspektif dan standar Eropa ke dalam sistem identifikasi bakat di Indonesia.

Namun, harapan tersebut kini dihadapkan pada realitas yang cukup menantang. Simon Tahamata mendapati bahwa tugas utamanya untuk mencari bibit-bibit pemain muda yang berpotensi diorbitkan ke level profesional, bahkan hingga Timnas, terhambat secara fundamental oleh minimnya wadah kompetisi yang terstruktur. Ia mengeluhkan bahwa selama berada di Indonesia, sangat jarang menemukan kompetisi yang secara khusus ditujukan untuk anak-anak berusia sekitar 9 hingga 10 tahun. Padahal, rentang usia ini merupakan periode emas (golden age) dalam perkembangan motorik dan kognitif anak, di mana mereka paling reseptif terhadap pembelajaran teknik dasar sepak bola.

Menurut Simon, ketiadaan kompetisi di usia-usia krusial tersebut menjadi masalah serius. "Selama saya di sini, saya tidak pernah melihat (kompetisi) untuk anak-anak umur sekitar 9 tahun sampai 10 tahun," ungkap Simon kepada awak media di Jakarta belum lama ini. Ia menambahkan, "Padahal itu yang penting untuk anak-anak kita. Dasar, adalah yang paling penting untuk bangsa ini." Pernyataan ini menegaskan bahwa fondasi sepak bola yang kuat tidak hanya bergantung pada pelatihan teknik semata, tetapi juga pada kesempatan untuk mengaplikasikan dan mengasah kemampuan tersebut dalam situasi pertandingan yang kompetitif dan terorganisir sejak dini.

Pengalaman Simon di Belanda memberikan gambaran kontras yang sangat jelas. Di negara asalnya, tugas seorang pemandu bakat relatif jauh lebih mudah. Ekosistem sepak bola Belanda ditopang oleh menjamurnya kompetisi usia muda yang terstruktur, mulai dari level klub hingga regional, yang mencakup berbagai kelompok umur. Pemandu bakat di sana hanya perlu memantau pertandingan-pertandingan tersebut dan mengidentifikasi pemain yang menunjukkan potensi istimewa untuk kemudian dipromosikan ke jenjang yang lebih tinggi, seperti akademi klub profesional. Sistem ini memungkinkan identifikasi bakat dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan.

Dengan berlatih dan berkompetisi sedari usia sangat muda, teknik dasar para pemain dari Belanda pun jauh lebih baik. Anak-anak di Belanda sudah mulai bermain di klub dan berkompetisi secara teratur sejak usia 7 atau 8 tahun. Bahkan, pada usia 8 tahun, mereka sudah terlibat dalam liga-liga usia dini yang terorganisir. Paparan dini terhadap lingkungan kompetitif ini tidak hanya mengasah kemampuan teknis seperti dribbling, passing, shooting, dan kontrol bola, tetapi juga membangun pemahaman taktis dasar, pengambilan keputusan di lapangan, dan mentalitas kompetitif. Hasilnya, saat memasuki usia remaja, para pemain Belanda umumnya sudah memiliki fondasi teknik yang sangat kokoh.

Berbanding terbalik dengan kondisi di Indonesia, di mana teknik dasar pemain masih sering menjadi sorotan para pelatih, baik di level klub maupun tim nasional. Banyak pelatih mengeluhkan bahwa pemain muda Indonesia, meskipun memiliki talenta alami dan fisik yang baik, seringkali kekurangan dalam aspek teknik dasar yang seharusnya sudah dikuasai sejak usia dini. Kekurangan ini kemudian menjadi PR besar yang harus dikejar di usia yang lebih tua, padahal seharusnya di usia tersebut pemain sudah fokus pada pengembangan taktik, fisik, dan mental yang lebih kompleks. Akibatnya, proses pengembangan pemain menjadi kurang efisien dan seringkali terlambat dibandingkan standar internasional.

Simon Tahamata menekankan bahwa pendekatan di Indonesia harus meniru model yang berhasil. "Dari umur 7 tahun sampai 8 tahun seharusnya anak-anak sudah bermain di klub. Sama seperti di Belanda, bahkan di sana anak-anak umur 8 tahun sudah berkompetisi," ucapnya. Implikasinya jelas: PSSI dan seluruh pemangku kepentingan sepak bola di Indonesia perlu secara serius memikirkan dan mengimplementasikan program kompetisi usia dini yang masif, terstruktur, dan berkelanjutan. Ini bukan hanya tentang mengadakan turnamen sesekali, tetapi membangun sebuah liga atau sistem kompetisi yang rutin, memiliki standar yang jelas, dan menjangkau seluruh wilayah Indonesia.

Kurangnya kompetisi usia dini bukan hanya menghambat kinerja pemandu bakat, tetapi juga memiliki dampak berantai yang lebih luas terhadap ekosistem sepak bola nasional. Pertama, ini membatasi kesempatan bagi anak-anak untuk mengembangkan potensi mereka secara maksimal. Banyak talenta mungkin tidak terdeteksi atau tidak mendapatkan stimulus yang cukup untuk berkembang karena tidak adanya wadah yang tepat. Kedua, ini menyulitkan klub-klub profesional untuk mendapatkan pemain muda dengan kualitas teknik yang mumpuni, memaksa mereka untuk melakukan pembinaan ulang di usia yang lebih tua, yang notabene lebih sulit dan memakan waktu.

Ketiga, kondisi ini secara langsung memengaruhi kualitas Tim Nasional Indonesia di masa depan. Jika fondasi pemain muda tidak kuat, akan sulit untuk membangun tim nasional yang kompetitif di kancah internasional. Para pemain yang terpilih ke tim nasional seringkali harus bekerja keras untuk menutupi kekurangan teknik dasar yang seharusnya sudah mereka kuasai sejak lama. Hal ini menempatkan beban tambahan pada pelatih tim nasional dan mengurangi fokus pada aspek taktis dan strategi yang lebih tinggi.

Untuk mengatasi permasalahan ini, diperlukan upaya kolaboratif dari berbagai pihak. PSSI sebagai federasi tertinggi memiliki peran sentral dalam merumuskan kebijakan, menyusun regulasi, dan menyediakan kerangka kerja untuk kompetisi usia dini. Ini termasuk menetapkan standar usia, format kompetisi, dan bahkan kurikulum pelatihan dasar yang seragam untuk semua klub atau akademi. Selain itu, PSSI perlu bekerja sama erat dengan Asosiasi Provinsi (Asprov) dan Asosiasi Kabupaten/Kota (Askab/Askot) untuk memastikan implementasi program ini hingga ke tingkat paling bawah.

Pemerintah daerah juga memiliki peran penting dalam menyediakan infrastruktur yang memadai, seperti lapangan sepak bola yang layak dan fasilitas pendukung lainnya. Investasi dalam infrastruktur olahraga akan sangat mendukung keberlangsungan kompetisi usia dini. Selain itu, keterlibatan pihak swasta dan sponsor juga krusial untuk mendukung pendanaan kompetisi, pelatihan pelatih, dan pengembangan program-program pembinaan.

Aspek penting lainnya adalah peningkatan kualitas pelatih usia dini. Pelatih yang memiliki pemahaman mendalam tentang metodologi pelatihan anak-anak, psikologi perkembangan, dan teknik dasar sepak bola sangat dibutuhkan. PSSI dapat menyelenggarakan program-program sertifikasi dan pelatihan berkelanjutan untuk pelatih usia dini, memastikan bahwa mereka tidak hanya berfokus pada kemenangan semata, tetapi juga pada pengembangan individu pemain. Filosofi "development over winning" harus menjadi landasan utama dalam pembinaan usia muda.

Sebagai perbandingan, model Belanda tidak hanya unggul dalam jumlah kompetisi, tetapi juga dalam filosofi pembinaan. Mereka menekankan pengembangan individu, kreativitas, dan penguasaan teknik dasar yang kuat sebelum masuk ke taktik yang lebih kompleks. Anak-anak didorong untuk bereksperimen dengan bola, membuat keputusan sendiri, dan bermain dengan kebebasan. Pendekatan ini menghasilkan pemain-pemain yang tidak hanya terampil secara teknis, tetapi juga cerdas secara taktis dan memiliki kepercayaan diri tinggi.

Pernyataan Simon Tahamata ini harus menjadi cambuk bagi PSSI dan seluruh elemen sepak bola Indonesia untuk segera bertindak. Membangun sistem kompetisi usia dini yang kuat dan berkelanjutan adalah investasi jangka panjang yang tidak bisa ditawar lagi. Ini bukan hanya demi memenuhi target-target jangka pendek, tetapi demi menciptakan generasi pemain sepak bola Indonesia yang memiliki fondasi kuat, siap bersaing di level tertinggi, dan mampu membawa kebanggaan bagi bangsa. Tanpa dasar yang kokoh, upaya-upaya lain dalam memajukan sepak bola nasional akan selalu menghadapi tantangan yang sama, berulang kali.