Senyum sumringah tak dapat disembunyikan dari wajah ratusan warga Desa Sriwulan, Kecamatan Limbangan, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah. Di tengah hiruk-pikuk persiapan Lebaran, desa mereka kembali menorehkan prestasi gemilang dengan membagikan Tunjangan Hari Raya (THR) sebesar Rp 1 juta kepada setiap Kepala Keluarga (KK). Dana fantastis ini bukan berasal dari alokasi pemerintah pusat atau daerah, melainkan murni dari keuntungan yang dihasilkan oleh sektor pariwisata lokal yang dikelola secara mandiri oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Sriwulan Makmur, khususnya dari destinasi wisata unggulan mereka, Arenan Kalikesek. Sebuah model pembangunan ekonomi kerakyatan yang berhasil mengubah potensi alam menjadi sumber kesejahteraan nyata bagi seluruh penduduk desa.
sulutnetwork.com – Inisiatif luar biasa dari Pemerintah Desa Sriwulan ini telah menarik perhatian banyak pihak sebagai contoh nyata bagaimana otonomi desa dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakatnya secara signifikan. Pembagian THR yang rutin setiap tahunnya ini bukan hanya sekadar pemberian uang tunai, melainkan simbol keberhasilan kolektif dalam mengelola potensi desa. Pada Rabu, 11 Maret 2026, suasana di gedung serbaguna Desa Sriwulan sudah ramai sejak pagi. Perangkat desa tampak sibuk menata kursi dan meja, mempersiapkan segala kebutuhan untuk acara penting tersebut. Spanduk besar bertuliskan "Penyerahan THR Kepada Masyarakat Desa Sriwulan Dari PADes Yang Bersumber Dari BUMDes Sriwulan Makmur" terpampang jelas, menjadi saksi bisu kebanggaan warga atas pencapaian desa mereka.
Antusiasme warga Desa Sriwulan terlihat begitu tinggi. Sejak pukul 12.45 WIB, mereka mulai berdatangan berbondong-bondong, membawa serta undangan resmi, fotokopi Kartu Keluarga (KK), dan Kartu Tanda Penduduk (KTP) sebagai syarat pengambilan THR. Raut wajah penuh harap dan kebahagiaan terpancar jelas di setiap individu yang hadir, menunjukkan betapa berarti bantuan ini bagi mereka, terutama menjelang perayaan Hari Raya Idulfitri yang penuh kebutuhan. Total 255 Kepala Keluarga yang berdomisili sah dan terdaftar di Desa Sriwulan berhak menerima THR penuh sebesar Rp 1 juta. Namun, terdapat pengecualian bagi tujuh warga yang, meskipun telah berdomisili lebih dari enam bulan di desa tersebut, belum mengurus administrasi KK mereka. Bagi mereka, pemerintah desa tetap memberikan apresiasi berupa THR sebesar Rp 500 ribu, separuh dari jumlah yang diterima warga lainnya, sebagai bentuk kepedulian dan dorongan untuk segera melengkapi dokumen kependudukan.
Kepala Desa Sriwulan, Sulistyo, menjelaskan bahwa program pembagian THR ini merupakan buah manis dari pengelolaan destinasi wisata Arenan Kalikesek sepanjang tahun 2025. "Hari ini kami berikan THR kepada 255 KK Desa Sriwulan. THR tersebut merupakan hasil dari pengelolaan wisata Arenan Kalikesek selama kurun waktu 2025," terang Sulistyo pada hari pembagian. Ia menegaskan komitmen pemerintah desa untuk memastikan seluruh lapisan masyarakat merasakan manfaat dari kemajuan desa. "Seluruh KK di sini, saya pastikan dapat semua termasuk yang belum ber-KK tapi sudah 6 bulan lebih berdomisili di sini. Kalau yang belum ber-KK ada 7 warga dan dapatnya Rp 500 ribu," tambahnya, menunjukkan inklusivitas program tersebut.
Program pembagian THR ini bukanlah hal baru bagi Desa Sriwulan. Sulistyo mengungkapkan bahwa inisiatif ini telah berjalan selama tiga tahun terakhir, dan yang lebih menggembirakan, besaran nominal THR yang diterima warga terus mengalami peningkatan setiap tahunnya. Pada tahun 2024, setiap KK menerima Rp 500 ribu. Setahun kemudian, di tahun 2025, nominalnya naik menjadi Rp 750 ribu. Dan kini, di tahun 2026, warga berhak atas Rp 1 juta. "Jadi pembagian THR ini sudah berjalan 3 tahun ini, dari tahun 2024 hingga saat ini dan nilainya juga setiap tahunnya meningkat Rp 250 ribu," jelas Sulistyo. Peningkatan yang konsisten ini mencerminkan pertumbuhan ekonomi desa yang stabil dan berkelanjutan, serta manajemen keuangan yang transparan dan akuntabel oleh BUMDes.
Tujuan utama dari pembagian THR ini, menurut Sulistyo, adalah untuk membantu masyarakat Desa Sriwulan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari, terutama kebutuhan menjelang Lebaran yang cenderung meningkat. "THR ini untuk membantu masyarakat dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari terutama kebutuhan menjelang Lebaran. Bantuan ini semoga bermanfaat bagi warga Desa Sriwulan," harapnya. Bantuan ini tidak hanya meringankan beban finansial, tetapi juga menumbuhkan rasa kebersamaan dan kebanggaan sebagai bagian dari komunitas yang maju. THR ini dapat digunakan untuk membeli kebutuhan pokok, pakaian baru untuk keluarga, atau bahkan untuk modal usaha kecil-kecilan, memberikan dampak ekonomi berganda di tingkat lokal.
Peningkatan nominal THR setiap tahunnya tidak lepas dari lonjakan pendapatan sektor pariwisata desa. Sulistyo memaparkan bahwa pendapatan dari wisata Arenan Kalikesek menunjukkan grafik peningkatan yang signifikan. Pada tahun 2024, pendapatan destinasi wisata ini mencapai sekitar Rp 1 miliar. Namun, di tahun 2025, angka tersebut melonjak drastis menjadi Rp 1,4 miliar. Peningkatan sebesar 40% dalam satu tahun ini menunjukkan efektivitas strategi pengelolaan dan promosi yang dilakukan oleh BUMDes. Sebagian dari pendapatan ini, selain untuk THR, juga dialokasikan untuk perbaikan fasilitas wisata agar tetap menarik pengunjung, serta untuk kegiatan sosial seperti bantuan bagi warga yang sakit dan dukungan pendidikan bagi siswa berprestasi. Ini adalah investasi jangka panjang yang memastikan keberlanjutan dan dampak positif yang lebih luas bagi masyarakat.
Kesuksesan Desa Sriwulan tidak hanya bertumpu pada satu sektor saja. Sulistyo mengungkapkan bahwa desa ini telah memiliki enam unit usaha yang dikelola secara profesional melalui BUMDes Sriwulan Makmur. Selain wisata Arenan Kalikesek sebagai primadona, unit usaha lainnya meliputi koperasi simpan pinjam, pengelolaan sampah, dan jasa persewaan. Koperasi simpan pinjam berperan vital dalam menyediakan akses permodalan bagi usaha mikro kecil di desa, sementara unit pengelolaan sampah tidak hanya menjaga kebersihan lingkungan tetapi juga menciptakan lapangan kerja baru dan potensi daur ulang. Jasa persewaan, seperti persewaan tenda, alat pesta, atau kendaraan, juga memberikan kontribusi pendapatan yang stabil, melengkapi ekosistem ekonomi desa yang kokoh. Diversifikasi usaha ini menjadi kunci stabilitas finansial BUMDes, sehingga tidak hanya bergantung pada satu sumber pendapatan.
Melihat keberhasilan yang telah dicapai, Kepala Desa Sulistyo memiliki target ambisius untuk tahun-tahun mendatang. Salah satu harapan besar adalah desa dapat menanggung iuran BPJS Kesehatan bagi seluruh warganya. "Target dan keinginan kami yakni ingin menanggung iuran BPJS kesehatan untuk warga. Dan kami berharap itu bisa terwujud di tahun depan," ucapnya penuh optimisme. Jika terwujud, inisiatif ini akan menjadi jaring pengaman sosial yang luar biasa bagi warga, memastikan akses kesehatan yang merata dan mengurangi beban finansial saat sakit. Ini adalah visi jangka panjang yang menunjukkan komitmen pemerintah desa terhadap kesejahteraan holistik masyarakatnya.
Warga Desa Sriwulan menyambut program ini dengan penuh kegembiraan dan rasa syukur. Mohammad Roni, salah satu penerima THR, mengaku sangat senang dengan bantuan sebesar Rp 1 juta yang diterimanya. "Alhamdulilah hari ini dapat THR Rp 1 juta dan saya senang. Saya akan belikan kebutuhan untuk Lebaran," kata Roni dengan wajah sumringah. Ia juga menyoroti konsistensi program ini. "Saya dan warga lainnya dapat THR sudah 3 tahun ini. Dan ini sungguh luar biasa buat kami dari Pemdes dan BUMDes Sriwulan," jelasnya, menggarisbawahi dampak jangka panjang dari inisiatif ini terhadap kualitas hidupnya dan tetangga-tetangganya.
Senada dengan Roni, Atik, warga lainnya, juga mengungkapkan perasaannya. Baginya, THR Rp 1 juta ini merupakan berkah yang luar biasa di bulan Ramadan. "Kalau ditanya perasaannya ya tentunya haru dan senang bisa dapat THR setiap tahun di bulan Ramadan dari Pemdes dan BUMDes Sriwulan. Ini berkah buat saya dan keluarga," ujarnya. Atik berencana menggunakan uang tersebut untuk membeli kebutuhan pokok sehari-hari, dan sisanya untuk keperluan Lebaran. Harapan Atik tak hanya berhenti pada kebutuhan pribadi, ia juga berharap agar wisata Arenan Kalikesek bisa terus maju dan pendapatannya meningkat. "Harapan saya tentunya Arenan Kalikesek maju lagi, the best dan pendapatannya meningkat. Jadi tahun depan THR-nya bisa naik lagi," harapnya, menunjukkan kesadaran warga akan pentingnya menjaga dan mengembangkan sumber pendapatan desa.
Mukh Aminatur Rohman, Direktur BUMDes Sriwulan Makmur, memberikan gambaran lebih detail mengenai kinerja finansial BUMDes. Ia mengungkapkan bahwa pendapatan kotor yang dicapai BUMDes dari pengelolaan keenam unit usaha selama tahun 2025 mencapai angka fantastis, yaitu Rp 5,90 miliar. Dari jumlah tersebut, laba bersih yang berhasil dikantongi adalah Rp 1,4 miliar, dengan pendapatan terbanyak berasal dari pengelolaan wisata Arenan Kalikesek. "Pendapatan terbanyak dari pengelolaan wisata Arenan Kalikesek. Untuk pendapatan kotor yang dicapai BUMDes dari pengelolaan enam unit usaha selama tahun 2025 sebesar Rp 5,90 miliar dan laba bersihnya Rp 1,4 miliar," jelas Rohman. Angka ini menegaskan posisi Arenan Kalikesek sebagai tulang punggung ekonomi desa, namun juga menunjukkan kontribusi signifikan dari unit usaha lainnya.
Rohman menegaskan bahwa pemberian THR kepada warga desa Sriwulan telah menjadi kesepakatan bersama dan tradisi tahunan BUMDes. "Pemberian THR ini setiap tahun sudah jadi agenda dan tradisi rutin kami sebagai BUMDes untuk memberikan THR kepada warga desa Sriwulan. Ini kan bulan Ramadan dan momen yang pas buat kami," tuturnya. Tradisi ini bukan hanya sekadar kewajiban, tetapi juga wujud nyata dari filosofi BUMDes sebagai entitas ekonomi yang berorientasi pada kesejahteraan masyarakat.
Ke depan, Rohman berharap potensi wisata Arenan Kalikesek dapat terus dikembangkan agar semakin maju dan mampu meningkatkan Pendapatan Asli Desa (PADes) secara berkelanjutan. "Harapan kami ingin terus mengembangkan potensi wisata Arenan Kalikesek agar lebih maju lagi sehingga bisa terus meningkatkan PADesa," pungkasnya. Pengembangan yang dimaksud bisa berupa penambahan wahana, peningkatan fasilitas, atau diversifikasi atraksi wisata untuk menarik lebih banyak pengunjung dari berbagai daerah. Kisah sukses Desa Sriwulan ini menjadi inspirasi bagi banyak desa lain di Indonesia, menunjukkan bahwa dengan pengelolaan yang baik, partisipasi masyarakat, dan visi kepemimpinan yang kuat, desa dapat menjadi motor penggerak ekonomi dan kesejahteraan warganya.
