Fenomena vandalisme turis yang marak menjadi sorotan global ternyata memiliki akar sejarah yang jauh lebih tua dari dugaan banyak orang. Sebuah penemuan arkeologis di Mesir baru-baru ini mengungkap jejak seorang turis bernama Cikai Koran yang meninggalkan namanya di berbagai makam Firaun sekitar 2.000 tahun lalu, membuktikan bahwa perilaku ‘mencoret-coret’ di situs bersejarah bukanlah hal baru, melainkan tradisi kuno yang melintasi peradaban dan waktu.

sulutnetwork.com – Sementara dunia modern disibukkan dengan upaya pelestarian situs warisan budaya dari ulah tangan jahil para pengunjung, temuan luar biasa di Lembah Nil ini justru menyajikan perspektif baru. Kasus-kasus seperti turis yang merusak Colosseum atau piramida mungkin terasa kontemporer, namun investigasi mendalam terhadap prasasti-prasasti kuno di Mesir menguak fakta bahwa fenomena serupa telah terjadi sejak ribuan tahun silam. Adalah Cikai Koran, seorang pengembara dari India, yang tanpa sadar kini menjadi bukti konkret dari sejarah panjang vandalisme turis ini, mengubah pemahaman kita tentang dinamika perjalanan dan interaksi budaya di masa lampau.

Identitas Cikai Koran terungkap melalui delapan prasasti yang tersebar di beberapa makam Mesir yang telah berusia ribuan tahun. Yang menarik dan menjadi kunci utama penemuan ini, prasasti-prasasti tersebut tidak ditulis dalam aksara lokal Mesir, Yunani, atau Latin yang umum ditemukan, melainkan dalam bahasa Tamil Kuno, salah satu bahasa tertua di dunia yang berasal dari wilayah selatan India. Temuan ini pertama kali dipresentasikan oleh para peneliti dalam sebuah konferensi baru-baru ini di Chennai, India, sebuah lokasi yang relevan mengingat asal-usul bahasa prasasti tersebut, sekaligus menegaskan bahwa jejak kaki turis India telah mencapai peradaban Mesir kuno jauh sebelum catatan sejarah modern mengenalnya.

Proses penemuan kembali jejak Cikai Koran ini bermula dari pengamatan tajam seorang ahli studi Asia Selatan dari Universitas Lausanne di Swiss, Ingo Strauch. Pada Januari 2024, ketika Strauch melakukan kunjungan pribadi sebagai turis ke makam-makam firaun yang megah di Mesir, ia menyadari adanya beberapa grafiti yang secara visual berbeda dari coretan-coretan lain yang didominasi oleh bahasa Yunani dan Latin. Bentuk aksara yang ia lihat sekilas itu memicu intuisinya, seolah memiliki kemiripan dengan aksara India. Sebuah firasat ilmiah yang kemudian terbukti sangat berharga, membuka jalan bagi penemuan yang mengubah pandangan sejarah.

Sekembalinya ke rumah, Strauch dengan tekun meninjau kembali foto-foto liburannya. Kecurigaannya semakin kuat bahwa prasasti-prasasti itu mungkin memang dalam bahasa Tamil. Untuk mendapatkan konfirmasi yang valid dan akurat, ia lantas mengirimkan foto-foto tersebut kepada rekannya, Charlotte Schmid, seorang cendekiawan terkemuka dari Sekolah Prancis untuk Timur Jauh, yang memiliki keahlian mendalam dalam bahasa-bahasa kuno India dan Asia Selatan. Schmid dengan cepat mengkonfirmasi kecurigaan Strauch. Ia berhasil mengidentifikasi dan menerjemahkan bagian penting dari coretan tersebut: "Cikai Korran datang ke sini dan melihat." Kalimat sederhana namun monumental ini menjadi bukti tak terbantahkan tentang kehadiran dan tindakan seorang turis India kuno di jantung peradaban Mesir, jauh sebelum era modern.

Penemuan ini menjadi lebih menarik ketika dikaitkan dengan penelitian sebelumnya yang telah lama ada. Jauh sebelum Strauch dan Schmid, pada tahun 1926, seorang cendekiawan Prancis bernama Jules Baillet telah mengkatalogkan lebih dari 2.000 grafiti di makam-makam Mesir. Sebagian besar dari coretan tersebut, menurut Baillet, ditulis dalam bahasa Yunani dan Latin, mengindikasikan bahwa makam-makam firaun sudah menjadi tujuan wisata yang sangat populer sejak era Kekaisaran Romawi. Ini menunjukkan bahwa fenomena meninggalkan ‘tanda’ di situs bersejarah bukanlah kebiasaan baru, melainkan telah menjadi bagian dari pengalaman perjalanan manusia selama berabad-abad, bahkan milenium, mencerminkan dorongan universal untuk meninggalkan jejak.

Ketika Strauch dan Schmid kembali menelusuri teks-teks katalog Baillet yang komprehensif, mereka menemukan sesuatu yang signifikan dan menjadi titik balik dalam penelitian mereka. Baillet sendiri telah mencatat adanya beberapa prasasti yang ditulis dalam bahasa Asia yang tidak dapat ia identifikasi pada masanya. Ini memicu pertanyaan baru yang krusial bagi tim peneliti: "Jika Baillet menemukan satu prasasti yang tidak teridentifikasi, mungkinkah dia menemukan lebih banyak lagi yang luput dari pemahamannya karena keterbatasan pengetahuan linguistik pada saat itu?" Ungkapan ini, seperti yang diungkapkan Strauch dalam presentasinya, menjadi titik tolak bagi investigasi yang lebih mendalam, menyatukan kembali kepingan-kepingan sejarah yang terpisah oleh waktu dan perbedaan bahasa.

Dengan wawasan baru dan metode penelitian yang lebih cermat dan terarah, Strauch dan Schmid memulai penyelidikan baru terhadap seluruh koleksi grafiti yang telah didokumentasikan Baillet. Hasilnya sungguh luar biasa dan memperkaya pemahaman kita tentang interaksi kuno. Tim tersebut berhasil mengidentifikasi tidak hanya prasasti-prasasti Tamil Kuno yang berkaitan dengan Cikai Koran, tetapi juga prasasti lain yang sebelumnya tidak teridentifikasi yang mungkin ditulis dalam bahasa Sansekerta dan Tamil-Brahmi, sebuah versi kuno dari bahasa Tamil modern. Penemuan ini memperluas cakupan jejak pengunjung dari India, menunjukkan bahwa mungkin ada lebih dari satu individu atau kelompok yang melakukan perjalanan jauh ke Mesir pada periode tersebut, meninggalkan jejak linguistik yang kaya dan beragam.

Satu aspek yang sangat menarik dan menjadi ciri khas dari jejak Cikai Koran adalah ‘gaya’ uniknya dalam meninggalkan prasasti. Menurut Schmid, Cikai Koran memiliki kecenderungan yang tidak biasa untuk menempatkan tanda-tandanya cukup tinggi di dalam gua-gua makam. Sebagai contoh, salah satu tanda yang ia buat di makam Ramesses IX, salah satu firaun paling terkenal, ditemukan sekitar 16 hingga 20 kaki (sekitar 5 hingga 6 meter) di atas pintu masuk. Penempatan yang strategis dan menantang ini mengindikasikan niat yang jelas dari Cikai Koran untuk memastikan bahwa pesan yang ia tinggalkan akan terlihat oleh banyak orang dan bertahan lama, tidak tertutup atau terhapus oleh coretan-coretan lain di bawahnya. Ini adalah upaya yang disengaja untuk mencapai keabadian.

Secara keseluruhan, tujuan utama dari grafiti-grafiti yang ditinggalkan oleh Cikai Koran tampaknya adalah untuk memproklamasikan kehadirannya kepada dunia: "Cikai Korran datang ke sini." Schmid berpendapat bahwa sebagai seorang turis dari India Selatan yang mungkin baru pertama kali menyaksikan kemegahan peradaban Mesir, Cikai Koran kemungkinan besar merasa sangat gembira dan terkesan dengan kunjungannya ke situs-situs bersejarah Mesir yang megah. Kegembiraan ini mendorongnya untuk meninggalkan namanya di hampir setiap makam yang dapat ia akses pada saat itu. Pemilihan lokasi yang menonjol, seringkali di atas grafiti lain yang lebih rendah, mencerminkan keinginannya agar prasastinya tetap terlihat, tak tersentuh oleh pengunjung selanjutnya, dan abadi dalam catatan sejarah tak resmi yang ia ciptakan sendiri.

Penemuan prasasti-prasasti ini bukan hanya sekadar kisah tentang vandalisme kuno, melainkan juga membuka jendela baru terhadap sejarah hubungan Indo-Mesir yang lebih kompleks dan bernuansa, yang mungkin selama ini telah terabaikan oleh dunia akademis. Sebelumnya, bukti kuat mengenai kehadiran pengunjung dari India di Lembah Nil pada periode awal ini sangat minim. Steve Harvey, seorang ahli Mesir Kuno dari Universitas Stony Brook, menegaskan signifikansi penemuan ini kepada The Art Newspaper: "Sampai penemuan ini, kami tidak pernah memiliki bukti kuat tentang pengunjung dari India ke Lembah Nil pada periode awal ini." Penemuan Cikai Koran mengisi kekosongan historis yang penting, menunjukkan adanya jalur perdagangan, diplomasi, atau bahkan sekadar petualangan pribadi yang menghubungkan kedua peradaban besar ini, jauh lebih awal dari yang diperkirakan.

Lebih dari sekadar bukti kehadiran fisik, Alexandra von Lieven, seorang ahli Mesir Kuno dari Universitas Münster di Jerman, berpendapat bahwa penemuan ini juga membuktikan bukan hanya adanya orang India di Mesir, tetapi juga adanya minat aktif mereka terhadap budaya negeri itu. Kehadiran prasasti di makam-makam firaun, bukan hanya di tempat-tempat umum atau pasar, mengindikasikan bahwa para pengunjung India ini mungkin tertarik pada aspek-aspek keagamaan, sejarah, atau keajaiban arsitektur Mesir kuno. Ini menyiratkan tingkat keterlibatan budaya yang lebih dalam daripada sekadar perjalanan transit atau perdagangan semata, menunjukkan adanya pertukaran ide dan kekaguman lintas peradaban.

Yang lebih menarik lagi dan menyoroti tingkat interaksi budaya yang tinggi, Schmid menjelaskan dalam presentasinya bahwa beberapa prasasti yang ditinggalkan oleh Cikai Koran merujuk pada grafiti lain di makam tersebut, yang ditulis dalam bahasa Yunani. Ini merupakan petunjuk penting yang menunjukkan bahwa para turis India ini kemungkinan besar mampu membaca dan memahami prasasti lain yang ditulis dalam bahasa asing. Kemampuan ini tidak hanya menyoroti tingkat pendidikan dan literasi mereka, tetapi juga menunjukkan bahwa mereka menganggap diri mereka sebagai bagian dari lingkup budaya yang lebih luas, mampu berinteraksi dan memahami narasi yang ditinggalkan oleh para pelancong dari peradaban lain. "Hal itu menunjukkan bahwa para turis India ini dapat membaca dan memahami prasasti lain tersebut dan bahwa mereka menganggap diri mereka sebagai bagian dari lingkup budaya yang sama," kata Strauch, menekankan adanya konektivitas intelektual.

Penemuan ini secara fundamental mengubah cara kita memandang perjalanan kuno dan interaksi antar peradaban. Ini menyoroti bahwa dunia kuno bukanlah kumpulan entitas terpisah yang terisolasi, melainkan sebuah jaringan yang kompleks dengan arus manusia, ide, dan budaya yang terus bergerak dan saling memengaruhi. Kisah Cikai Koran adalah pengingat bahwa di balik catatan-catatan resmi tentang kerajaan dan perdagangan, ada juga kisah-kisah individu, para penjelajah, dan turis yang dengan cara mereka sendiri, turut membentuk dan meninggalkan jejak dalam kanvas sejarah global. Temuan ini mendorong para sejarawan dan arkeolog untuk lebih cermat dalam meninjau kembali artefak dan catatan yang ada, mencari petunjuk-petunjuk tersembunyi yang mungkin selama ini terlewatkan atau salah diinterpretasikan.

Pada akhirnya, fenomena ‘vandalisme’ kuno yang dilakukan oleh Cikai Koran ini menjadi cerminan abadi dari naluri manusia untuk meninggalkan jejak, untuk membuktikan keberadaan, dan untuk menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar dari diri mereka sendiri. Baik itu coretan modern di dinding kota atau prasasti kuno di makam firaun yang berusia ribuan tahun, dorongan untuk mengukir nama di tempat-tempat penting tampaknya merupakan sifat universal yang melampaui zaman dan budaya. Penemuan ini tidak hanya memperkaya data sejarah, tetapi juga memberikan pemahaman yang lebih dalam tentang motivasi manusia dan sifat tak lekang oleh waktu dari pengalaman wisata, yang selalu menyertakan keinginan untuk dikenang dan meninggalkan tanda.