Mojokerto, Jawa Timur, menyimpan sebuah warisan spiritual dan intelektual yang tak ternilai, terwujud dalam sebuah manuskrip Al-Qur’an berusia sekitar 170 tahun. Naskah kuno ini, yang menjadi saksi bisu perjalanan sejarah Islam di Nusantara, tersimpan rapi di Pondok Pesantren (Ponpes) As Sholichiyah, Kota Mojokerto. Di balik keagungan manuskrip tersebut, berdiri kokoh sosok seorang ulama besar, Kiai Sholeh Ilyas, yang bukan hanya penulis mahakarya itu, tetapi juga pendiri salah satu institusi pendidikan Islam tertua dan paling berpengaruh di Mojokerto. Perjalanannya, dari seorang yatim piatu di Pekalongan hingga menjadi kiai terkemuka yang mendirikan pesantren, adalah cerminan kegigihan dalam menuntut ilmu dan dedikasi dalam berdakwah.

sulutnetwork.com – Manuskrip Al-Qur’an kuno yang kini menjadi salah satu pusaka berharga Ponpes As Sholichiyah adalah buah dari ketekunan dan kesabaran Kiai Sholeh Ilyas. Pengasuh Ponpes As Sholichiyah saat ini, Mochammad Ilyasin (28), yang merupakan cicit buyut Kiai Sholeh, menuturkan bahwa kakek buyutnya lahir di Kesesi, Pekalongan, Jawa Tengah, sekitar tahun 1810 hingga 1820 Masehi. Sejak usia dini, Kiai Sholeh telah merasakan pahitnya hidup sebagai yatim piatu. Kondisi ini tidak menyurutkan semangatnya, justru mendorongnya untuk menimba ilmu agama ke berbagai pelosok negeri, sebuah tradisi yang kuat di kalangan ulama Nusantara pada masanya. Perjalanan menuntut ilmu inilah yang kelak membentuk karakter dan kedalaman spiritualnya, membawanya melintasi batas-batas geografis dan kultural demi mencapai pemahaman Islam yang komprehensif.

Langkah awal Kiai Sholeh dalam menuntut ilmu dimulai dengan pengiriman dirinya ke Kiai Asror di Cirebon, Jawa Barat. Di bawah bimbingan Kiai Asror, ia mempelajari dasar-dasar ilmu agama, memperdalam Al-Qur’an, dan menanamkan nilai-nilai keislaman yang kuat. Cirebon pada masa itu dikenal sebagai salah satu pusat pendidikan Islam yang penting di Jawa bagian barat, tempat berkumpulnya para ulama terkemuka dan santri dari berbagai daerah. Lingkungan intelektual yang subur ini menjadi fondasi bagi perjalanan keilmuan Kiai Sholeh selanjutnya. Setelah menyelesaikan masa pendidikannya di Cirebon, dahaga akan ilmu pengetahuan mendorong Kiai Sholeh untuk melanjutkan pengembaraannya. Ia berkelana ke sejumlah pesantren terkemuka di Jawa Tengah dan Jawa Timur, mencari guru-guru mumpuni dan memperluas cakrawala keilmuannya.

Pesantren-pesantren yang menjadi persinggahan Kiai Sholeh antara lain Pesantren Tegalsari di Desa Tegalsari, Jetis, Ponorogo; pesantren di Japanan, Pasuruan; dan Ponpes Siwalan Panji, Sidoarjo. Setiap pesantren memiliki kekhasan dan spesialisasi ilmunya masing-masing. Pesantren Tegalsari, misalnya, dikenal sebagai salah satu pusat tarekat dan ilmu tasawuf yang kuat pada abad ke-19, melahirkan banyak ulama besar dan pejuang kemerdekaan. Di Tegalsari, Kiai Sholeh tidak hanya mendalami ilmu fiqih dan tafsir, tetapi juga memperkuat spiritualitasnya melalui praktik-praktik tasawuf. Kemudian, di Japanan dan Siwalan Panji, ia mungkin mendalami ilmu-ilmu syariat lainnya seperti hadis, ushul fiqih, atau bahkan kaligrafi, sebuah seni yang kelak akan ia terapkan dalam penulisan manuskrip Al-Qur’an yang monumental. Pengembaraan ini menunjukkan komitmen Kiai Sholeh untuk tidak pernah berhenti belajar, menyerap ilmu dari berbagai sumber, dan membangun jaringan keulamaan yang luas.

Setelah menyelesaikan masa-masa menuntut ilmu di berbagai pesantren, Kiai Sholeh Ilyas memutuskan untuk berhijrah ke Mojokerto. Keputusan ini bukan tanpa alasan, sebab kakek buyut Gus Ilyasin tersebut diambil sebagai menantu oleh seorang tokoh terkemuka Mojokerto pada masa itu, Kiai Rofi’i. Kiai Rofi’i adalah sosok yang dihormati dan memiliki pengaruh besar di kalangan masyarakat Mojokerto. Pernikahan ini menjadi titik balik penting dalam kehidupan Kiai Sholeh, memberinya pijakan dan dukungan untuk memulai dakwah serta membangun komunitas di Mojokerto. Setelah wafat, Kiai Rofi’i dimakamkan di belakang Masjid Pekuncen, Kelurahan Surodinawan, Prajurit Kulon, Kota Mojokerto, sebuah lokasi yang menunjukkan kedudukannya yang terhormat di mata masyarakat.

Namun, awal perjalanan dakwah Kiai Sholeh di Mojokerto tidak selalu mulus. Sebelum berhasil mendirikan pesantren yang kokoh di Penarip, ia beberapa kali berpindah tempat untuk berdakwah, seperti di Sinoman dan Prajurit Kulon. Gus Ilyasin menjelaskan bahwa Kiai Sholeh menghadapi tantangan besar karena masyarakat pada saat itu cenderung "susah" atau dikenal sebagai kaum "abangan," yaitu masyarakat yang kurang mendalami ajaran Islam secara formal atau memiliki praktik keagamaan yang bercampur dengan tradisi lokal. Kondisi sosial-kultural ini memerlukan pendekatan dakwah yang sabar, bijaksana, dan adaptif. Kiai Sholeh tidak menyerah, terus berupaya mencari cara terbaik untuk menyampaikan ajaran Islam yang rahmatan lil alamin.

Titik terang muncul ketika Kiai Sholeh diberikan sebidang tanah oleh mertuanya, Kiai Rofi’i, di Penarip Gang 2, Kelurahan/Kecamatan Kranggan, Kota Mojokerto. Di atas tanah inilah, Kiai Sholeh mendirikan pesantren yang kelak akan menjadi pusat pendidikan Islam tertua di Mojokerto. Berdasarkan penuturan para alumni pesantren dan artikel-artikel sejarah tentang Kiai Sholeh, keberadaan pesantren milik kakek buyut Gus Ilyasin ini sudah ada di sekitar tahun 1880-an. Pendirian pesantren pada era kolonial Belanda merupakan sebuah upaya strategis untuk mempertahankan identitas keislaman dan menyediakan pendidikan alternatif bagi masyarakat yang kala itu didominasi oleh sistem pendidikan Barat. Pesantren ini menjadi mercusuar ilmu dan spiritualitas, menarik santri dari berbagai daerah untuk menimba ilmu dari Kiai Sholeh.

Keunggulan dan pengaruh Pesantren As Sholichiyah pada masanya tidak diragukan lagi. Pada zaman itu, santri-santri yang menimba ilmu di sana bukanlah orang sembarangan, melainkan para calon kiai yang kelak akan mendirikan pondok pesantren mereka sendiri di Mojokerto dan sekitarnya. Hal ini menjadi bukti kuat akan kualitas pendidikan dan kedalaman ilmu yang diajarkan oleh Kiai Sholeh. Di antara alumni terkemuka yang pernah nyantri di Pesantren As Sholichiyah adalah KH Ahmad Tamyiz, pendiri Ponpes Hidayatul Muwwafiq di Desa Penompo, Kecamatan Jetis; KH Achyat Chalimi, pendiri Ponpes Sabilul Muttaqin di Jalan KH Wahid Hasyim, Kota Mojokerto; KH Yahdi Matlab, pengasuh Pesantren Bidayatul Hidayah di Desa Mojogeneng, Kecamatan Jatirejo; KH Qusyairi Manshur, pendiri Pesantren Darul Hikmah di Sawahan, Kecamatan Mojosari; serta KH Umar Syahid Pacitan atau yang lebih dikenal dengan sebutan Mbah Umar Tumbu.

"Kalau di Mojokerto, seperti itu (pesantren Kiai Sholeh tertua). Karena para pendiri pesantren-pesantren di Mojokerto pernah nyantri di sini. Makanya ada yang mengatakan pondok ini tertua di Mojokerto," terang Gus Ilyasin, memperkuat klaim bahwa Ponpes As Sholichiyah memiliki posisi sentral dalam sejarah pendidikan Islam di Mojokerto. Kehadiran para alumni yang kemudian menjadi pendiri pesantren-pesantren berpengaruh ini menegaskan peran Kiai Sholeh sebagai guru para guru, seorang ulama yang melahirkan generasi penerus dakwah dan pendidikan. Pesantren As Sholichiyah menjadi kawah candradimuka bagi para pemimpin spiritual dan intelektual di Mojokerto.

Salah satu peninggalan paling berharga dari Kiai Sholeh Ilyas adalah manuskrip Al-Qur’an kuno yang kini tersimpan apik di rumah pengasuh Ponpes As Sholichiyah. Menurut Gus Ilyasin, manuskrip ini adalah tulisan tangan Kiai Sholeh sendiri, diperkirakan ditulis sekitar tahun 1850-1860 Masehi, saat beliau masih menimba ilmu di Pesantren Tegalsari. Periode penulisan ini menunjukkan bahwa Kiai Sholeh telah memiliki keahlian kaligrafi dan pemahaman mendalam tentang Al-Qur’an bahkan sejak masa mudanya. Menulis Al-Qur’an secara manual pada masa itu adalah sebuah bentuk ibadah, dedikasi, dan pengabdian yang sangat tinggi, membutuhkan ketelitian, kesabaran, dan ketajaman mata yang luar biasa.

Kitab suci berumur sekitar 170 tahun ini ditulis secara manual oleh Kiai Sholeh menggunakan pena celup dan tinta dengan pelarut air. Bahan kertas yang digunakan adalah serat kayu, menunjukkan ketersediaan material lokal pada zaman itu dan keahlian dalam mengolahnya menjadi media tulis yang tahan lama. Proses penulisan manuskrip ini tidaklah singkat; Kiai Sholeh membutuhkan waktu sekitar dua tahun untuk menyelesaikan seluruh Al-Qur’an, dari Surah Al Fatihah sampai Surah An Nas. Setiap huruf, setiap kata, dan setiap ayat ditulis dengan penuh penghayatan dan kehati-hatian. Mushaf ini memiliki ukuran panjang 32 cm dan lebar 20 cm, menjadikannya sebuah karya monumental yang memancarkan aura spiritual.

Berdasarkan cerita turun-temurun yang diterima Gus Ilyasin, kakek buyutnya kerap menerima pesanan menulis Al-Qur’an semasa hidupnya. Pesanan ini datang dari berbagai kalangan, baik dari bangsawan, pesantren lain, maupun pemerintah pada masa itu. Hal ini menunjukkan reputasi Kiai Sholeh sebagai seorang kaligrafer Al-Qur’an yang sangat dihormati dan dicari. Menulis Al-Qur’an secara manual dengan kualitas tinggi adalah sebuah keterampilan langka yang sangat dihargai. "Ketika menulis pasti ada upahnya mengingat Al-Qur’an kan 6.236 ayat, lembarannya 600 lembar lebih, penulisannya kurang lebih 2 tahun dari Surah Al Fatihah sampai Surah An Nas, zaman dulu diupah kurang lebih 2 ekor sapi," ungkap Gus Ilyasin. Nilai upah dua ekor sapi pada abad ke-19 adalah jumlah yang sangat signifikan, mencerminkan tingginya penghargaan terhadap karya seni dan spiritualitas Kiai Sholeh. Ini juga mengindikasikan bahwa penulisan mushaf bukan hanya sekadar pekerjaan, melainkan juga sebuah profesi yang diakui dan dihargai secara sosial dan ekonomi.

Kiai Sholeh Ilyas wafat pada tahun 1941, meninggalkan warisan ilmu, dakwah, dan sebuah pesantren yang terus berkembang. Jenazahnya dikebumikan di makam Muasis Ponpes As Sholichiyah, tempat ia mendirikan dan mengabdikan sebagian besar hidupnya. Setelah kepergiannya, pengasuhan pesantren dilanjutkan oleh putranya, Kiai Ismail, yang meneruskan jejak ayahnya dalam membimbing santri dan mengembangkan pendidikan Islam. Kemudian, estafet kepemimpinan berpindah kepada cucunya, Kiai Rofi’i Ismail. Kini, pengasuhan pesantren berada di tangan Mochammad Ilyasin, sebagai generasi keempat yang bertanggung jawab untuk menjaga dan mengembangkan amanah leluhurnya.

Nama "As Sholichiyah" sendiri, seperti yang dijelaskan Gus Ilyasin, diambil dari nama Kiai Sholeh Ilyas. Nama ini secara resmi mulai dipakai sekitar tahun 1970, sebagai bentuk penghormatan dan pengabadian nama pendiri pesantren yang telah memberikan fondasi kuat bagi lembaga pendidikan ini. Pergantian nama ini juga menandai babak baru dalam sejarah pesantren, di mana nilai-nilai dan ajaran Kiai Sholeh terus hidup dan diimplementasikan dalam setiap aspek kegiatan pesantren.

Saat ini, Ponpes As Sholichiyah terus berdenyut dengan kehidupan keilmuan dan spiritual. Pesantren ini menampung sekitar 25 santri yang bermukim, menjalani kehidupan sehari-hari yang didedikasikan untuk menuntut ilmu agama. Selain pesantren, Yayasan Pendidikan dan Sosial As Sholichiyah juga memiliki berbagai program pendidikan nonformal berupa madrasah diniyah ula dan wusto, serta Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) untuk anak-anak. Program-program ini bertujuan untuk memberikan pendidikan agama dasar dan menengah, memastikan bahwa santri memiliki pemahaman yang kuat tentang ajaran Islam sejak usia dini.

Tidak hanya fokus pada pendidikan nonformal, Ponpes As Sholichiyah juga telah mengembangkan pendidikan formal dari jenjang sekolah dasar (SD) sampai SMA. Institusi pendidikan formal yang berada di bawah naungan yayasan ini meliputi MI Ismailiyah Paradigma Baru (Mipaba), MTs Pesantren Terpadu Al Ismailiyah, serta MA Al Ismailiyah yang saat ini masih dalam tahap pengurusan izin operasional. Integrasi pendidikan formal dan nonformal ini mencerminkan visi pesantren untuk melahirkan generasi yang tidak hanya mumpuni dalam ilmu agama tetapi juga memiliki bekal pengetahuan umum yang relevan dengan perkembangan zaman. Nama "Paradigma Baru" pada MI Ismailiyah menunjukkan komitmen untuk inovasi dalam metode pengajaran, sementara "Pesantren Terpadu" pada MTs Al Ismailiyah menekankan perpaduan kurikulum pesantren dan kurikulum nasional.

Gus Ilyasin menegaskan komitmen mereka untuk melanjutkan cita-cita luhur para leluhur, yaitu dakwah Islam, menyediakan pendidikan yang layak bagi masyarakat, serta mampu membekali santri untuk menghadapi tantangan zaman dengan pendidikan agama yang kokoh. Visi ini menjadi pijakan bagi seluruh kegiatan di Ponpes As Sholichiyah, memastikan bahwa lembaga ini tidak hanya menjadi penjaga tradisi tetapi juga agen perubahan yang relevan dengan dinamika sosial-modern. Dengan semangat ini, Ponpes As Sholichiyah terus melangkah maju, menjaga warisan Kiai Sholeh Ilyas, dan terus berkontribusi dalam mencerdaskan kehidupan bangsa melalui pendidikan Islam.