Wrexham, Wales – Chelsea berhasil mengamankan satu tempat di perempat final Piala FA setelah melalui laga dramatis dan penuh ketegangan melawan Wrexham. Bermain di kandang lawan, Stadion Racecourse Ground, pada Minggu dinihari WIB (8/2/2026), The Blues harus berjuang hingga babak perpanjangan waktu untuk menaklukkan tim League Two tersebut dengan skor tipis 3-2. Kemenangan ini tidak didapatkan dengan mudah, diwarnai dengan dua kali ketertinggalan, kartu merah untuk Wrexham, dan gol penentu di menit-menit krusial.

sulutnetwork.com – Pertandingan antara Wrexham dan Chelsea di putaran kelima Piala FA musim 2025/2026 ini bukan sekadar laga sepak bola biasa, melainkan representasi klasik dari "keajaiban Piala FA" yang selalu dinanti. Wrexham, klub yang kini menarik perhatian dunia berkat kepemilikan selebriti Hollywood Ryan Reynolds dan Rob McElhenney, tampil dengan semangat juang tinggi di hadapan pendukung fanatik mereka. Sementara itu, Chelsea datang dengan ambisi besar untuk meraih gelar di musim yang penuh tantangan, menjadikan Piala FA sebagai salah satu target realistis untuk mengakhiri puasa trofi dan mengembalikan kepercayaan diri tim. Tekanan untuk melaju bagi tim raksasa Premier League ini sangat besar, menghadapi tim underdog yang terkenal gigih dan memiliki sejarah panjang di kompetisi tertua di dunia tersebut.

Wrexham bukan lagi sekadar klub sepak bola dari kasta bawah. Sejak diakuisisi oleh Ryan Reynolds dan Rob McElhenney pada tahun 2021, klub ini telah mengalami transformasi luar biasa, tidak hanya dalam hal finansial dan infrastruktur, tetapi juga dalam popularitas global. Dokumenter "Welcome to Wrexham" telah memperkenalkan kisah perjuangan dan ambisi mereka kepada jutaan penonton di seluruh dunia, membangun basis penggemar yang solid bahkan hingga di luar Britania Raya. Promosi beruntun dari National League ke League Two, dan kini menantang tim raksasa Premier League di Piala FA, adalah bukti nyata dari kebangkitan mereka. Dukungan dari publik tuan rumah di Racecourse Ground, stadion tertua di dunia yang masih aktif menyelenggarakan pertandingan internasional, selalu menjadi faktor penting yang mampu membakar semangat para pemain Wrexham dan memberikan tekanan besar bagi setiap tim tamu yang datang. Atmosfer yang tercipta di sana dikenal sangat intimidatif, menjadi "pemain ke-12" yang tak ternilai bagi The Red Dragons.

Di sisi lain, Chelsea datang ke pertandingan ini dengan beban ekspektasi yang tinggi. Musim mereka seringkali diwarnai pasang surut, dengan performa yang belum konsisten di Premier League. Piala FA, dengan sejarah panjang dan gengsinya, menjadi kesempatan emas bagi skuad The Blues untuk menyelamatkan musim dan meraih gelar. Perjalanan di Piala FA selalu menjadi prioritas bagi klub sebesar Chelsea, yang haus akan trofi. Pelatih Chelsea diyakini telah melakukan rotasi, namun tetap menurunkan komposisi yang cukup kuat untuk menghindari kejutan dari tim non-liga. Mereka sadar betul bahwa "giant-killing" adalah esensi dari Piala FA, dan mereka tidak ingin menjadi korban berikutnya. Pertandingan ini juga menjadi panggung bagi beberapa pemain muda Chelsea untuk menunjukkan kualitas mereka dan membuktikan bahwa mereka layak mendapatkan tempat di skuad utama.

Peluit kick-off dibunyikan, menandai dimulainya pertarungan sengit di Racecourse Ground. Sejak awal, Wrexham menunjukkan keberanian yang luar biasa. Mereka tidak gentar menghadapi nama besar Chelsea, melainkan bermain dengan penuh semangat dan inisiatif. Strategi serangan balik cepat dan pressing ketat diterapkan oleh pasukan Phil Parkinson. Tekanan awal dari Wrexham tampaknya membuat Chelsea sedikit terkejut dan kesulitan mengembangkan permainan mereka. Aliran bola The Blues seringkali terputus di lini tengah, dan upaya mereka untuk menembus pertahanan rapat Wrexham kerap menemui jalan buntu.

Kejutan pun terjadi pada menit ke-18. Publik Racecourse Ground bergemuruh menyambut gol pembuka yang dicetak oleh penyerang andalan Wrexham, Sam Smith. Sebuah umpan panjang akurat dilepaskan dari lini belakang Wrexham, membelah pertahanan Chelsea. Smith, dengan kecerdikannya, berhasil lolos dari jebakan offside yang coba diterapkan bek-bek Chelsea. Berhadapan satu lawan satu dengan kiper Chelsea, Robert Sanchez, Smith menunjukkan ketenangan luar biasa. Dengan sontekan mendatar yang presisi, ia mengirim bola melewati jangkauan Sanchez dan bersarang mulus di sudut gawang. Wrexham memimpin 1-0, sebuah awal yang fantastis dan memicu euforia di tribun penonton. Gol ini seolah memberikan energi ekstra bagi tuan rumah, yang semakin bersemangat untuk mempertahankan keunggulan.

Tertinggal satu gol, Chelsea mencoba meningkatkan intensitas serangan mereka. Namun, Wrexham bertahan dengan disiplin tinggi, menutup ruang gerak para penyerang Chelsea dan meredam setiap upaya pembangunan serangan. Liam Delap, Alejandro Garnacho, dan Pedro Neto yang diandalkan di lini depan Chelsea tampak frustrasi dengan rapatnya barisan pertahanan Wrexham yang digalang oleh Dominic Hyam dan Callum Doyle. Beberapa kali percobaan tendangan dari luar kotak penalti dilepaskan, namun belum ada yang benar-benar mengancam gawang Arthur Okonkwo. Wrexham sendiri tidak hanya bertahan, mereka juga sesekali melancarkan serangan balik berbahaya yang memaksa pertahanan Chelsea untuk tetap waspada.

Upaya Chelsea untuk menyamakan kedudukan akhirnya membuahkan hasil, meskipun dengan sedikit keberuntungan, pada menit ke-40. Gol penyama kedudukan ini tercipta melalui gol bunuh diri yang dicetak oleh kiper Wrexham, Arthur Okonkwo. Berawal dari umpan terobosan cerdik yang dilepaskan Robert Sanchez dari lini belakang Chelsea, bola diterima dengan baik oleh Liam Delap. Delap kemudian menyodorkan bola ke sisi kiri untuk Alejandro Garnacho, yang tanpa ragu melepaskan tembakan mendatar ke arah gawang. Bola sepakan Garnacho sempat diblok oleh salah satu bek Wrexham di garis gawang, namun pantulan bola justru membentur Okonkwo yang mencoba menyelamatkan gawangnya. Bola kemudian berbalik arah dan masuk ke gawangnya sendiri. Skor berubah menjadi 1-1, dan gol ini sedikit meredakan tekanan yang dirasakan oleh para pemain Chelsea menjelang turun minum. Keberuntungan tampaknya berpihak pada The Blues di momen krusial ini, memberikan mereka momentum untuk memulai babak kedua dengan semangat yang lebih baru.

Memasuki babak kedua, Chelsea tampil dengan agresivitas yang lebih tinggi. Alejandro Garnacho, yang menunjukkan performa menjanjikan, menjadi motor serangan di sayap kiri. Beberapa menit setelah restart, Garnacho kembali menciptakan ancaman serius. Dengan liukan dribelnya yang memukau, ia berhasil menembus pertahanan Wrexham dan melepaskan tembakan mendatar ke arah tiang jauh. Sayangnya, bola sedikit melenceng dari sasaran, membuat suporter Chelsea harus menahan napas. Peluang emas lainnya untuk Chelsea tercipta setelah permainan melewati satu jam. Pedro Neto menunjukkan keahlian individunya dengan melakukan liukan-liukan lincah di sisi kiri kotak penalti Wrexham. Ia kemudian menyodorkan bola mendatar ke tengah, yang disambut oleh Jorrel Hato. Hato melepaskan sepakan mendatar dari sudut sempit, mengarah ke tiang jauh. Namun, bola bergulir tipis di luar garis gawang, lagi-lagi Chelsea gagal memaksimalkan kesempatan.

Secara mengejutkan, Wrexham kembali berhasil memimpin di menit ke-78. Kali ini, Callum Doyle menjadi pahlawan bagi The Red Dragons. Gol ini berawal dari sebuah situasi sepak pojok di sayap kiri. Josh Windass, yang masuk sebagai pemain pengganti, mengambil inisiatif dengan melepaskan tembakan keras dari depan area D. Bola sepakan Windass berhasil menembus kerumunan pemain di dalam kotak penalti. Di tengah kemelut, Doyle dengan sigap menyontek bola dari jarak dekat, mengirimnya meluncur masuk ke gawang Chelsea. Racecourse Ground kembali meledak dengan sorakan kegembiraan. Wrexham unggul 2-1, membuat Chelsea kembali berada di bawah tekanan besar dan waktu yang semakin menipis.

Namun, keunggulan Wrexham tidak bertahan lama. Hanya berselang empat menit, Chelsea kembali berhasil menyamakan kedudukan menjadi 2-2 melalui gol yang dicetak oleh Joshua Acheampong di menit ke-82. Gol ini menunjukkan ketangguhan mental para pemain Chelsea yang tidak menyerah. Bermula dari perebutan bola di depan area D, pemain pengganti Dario Essugo berhasil memenangkan duel dan menyodorkan bola ke dalam kotak penalti. Acheampong, yang bergerak cepat, menyambut operan tersebut dengan tembakan kaki kiri yang keras dan akurat. Bola melesat ke sudut atas gawang Wrexham, tak mampu dijangkau oleh Okonkwo. Kedudukan kembali imbang, 2-2, dan pertandingan semakin memanas dengan tensi yang tinggi.

Menjelang akhir waktu normal, kedua tim sama-sama berupaya mencari gol kemenangan. Wrexham terus menggedor pertahanan Chelsea, mencoba memanfaatkan momentum dari gol Doyle sebelumnya. Chelsea merespons dengan serangan balik cepat. Pedro Neto, dengan tendangan kerasnya dari luar kotak penalti, nyaris mencetak gol. Namun, bola sepakannya menghantam mistar gawang Wrexham, membuat kedua tim tetap dalam kedudukan imbang. Drama puncak di waktu normal terjadi di masa injury time. Bek Wrexham, George Dobson, melakukan tekel keras terhadap Alejandro Garnacho. Wasit tanpa ragu mengeluarkan kartu kuning kedua, yang berarti kartu merah, untuk Dobson. Pengusiran Dobson membuat Wrexham harus bermain dengan 10 pemain di sisa waktu injury time dan, yang terpenting, di babak perpanjangan waktu. Insiden ini menjadi titik balik krusial dalam pertandingan, memberikan keuntungan signifikan bagi Chelsea menjelang babak tambahan.

Dengan keunggulan jumlah pemain, Chelsea memasuki babak perpanjangan waktu dengan optimisme yang lebih tinggi. Mereka sadar bahwa ini adalah kesempatan terbaik mereka untuk memenangkan pertandingan dan lolos ke perempat final. Wrexham, meskipun bermain dengan 10 pemain, tidak menunjukkan tanda-tanda menyerah. Mereka tetap gigih dan berjuang keras untuk mempertahankan gawang mereka. Namun, keunggulan numerik Chelsea akhirnya terbukti decisive. Pada menit ke-96, atau menit keenam babak perpanjangan waktu, Alejandro Garnacho berhasil mencetak gol ketiga untuk Chelsea, membalikkan keadaan menjadi 3-2. Gol ini merupakan hasil kerja sama apik di lini serang Chelsea. Dario Essugo kembali menunjukkan kontribusinya dengan mengirimkan umpan lambung terukur ke dalam kotak penalti Wrexham. Garnacho, yang bergerak tanpa kawalan, menyambut bola tersebut dengan tembakan kaki kanan yang presisi, mengoyak jala gawang Okonkwo. Gol ini disambut dengan sorakan lega dari bangku cadangan Chelsea dan pendukung mereka yang hadir.

Di paruh kedua babak perpanjangan waktu, Wrexham, yang tertinggal satu gol dan bermain dengan sepuluh pemain, menunjukkan semangat juang yang luar biasa. Mereka terus mencoba mencari celah untuk menyamakan kedudukan, bahkan menciptakan beberapa peluang berbahaya. Salah satu momen paling mendebarkan terjadi ketika Lewis Brunt berhasil mencetak gol melalui sundulan dari depan gawang Chelsea. Namun, kegembiraan Wrexham hanya sesaat, karena wasit menganulir gol tersebut setelah bendera offside diangkat oleh asisten wasit. Keputusan ini, meskipun pahit bagi Wrexham, adalah keputusan yang tepat berdasarkan tayangan ulang. Setelahnya, Lewis O’Brien mencoba peruntungannya dengan melepaskan tembakan melengkung dari area D. Bola sepakannya melebar tipis dari tiang g