Mojokerto, Jawa Timur, menyimpan sebuah permata spiritual yang memukau dan penuh misteri, yakni Masjid Agung Wisnu Manunggal Rahmatullah. Berlokasi di pinggiran Dusun Losari, Desa Pekukuhan, Mojosari, masjid ini bukan sekadar tempat ibadah biasa, melainkan sebuah kompleks arsitektur yang menggabungkan elemen unik, ornamen tak lazim, dan sebuah ruangan bawah tanah seluas 2.500 meter persegi yang dilengkapi enam musala, menjadikannya salah satu destinasi religi paling menarik dan penuh teka-teki di Jawa Timur. Keunikan masjid ini telah menarik perhatian banyak pihak, mulai dari jamaah lokal hingga para penelusur situs-situs bersejarah dan spiritual.

sulutnetwork.com – Keunikan Masjid Agung Wisnu Manunggal Rahmatullah tidak hanya terletak pada penamaan yang memadukan unsur-unsur lokal dan Islami, tetapi juga pada desain fisik bangunannya yang kaya akan simbolisme dan filosofi. Bangunan ini menonjol dengan arsitektur yang berbeda dari masjid pada umumnya, menawarkan pengalaman spiritual yang mendalam bagi para pengunjung dan jamaah. Sejak pertama kali menjejakkan kaki di area sekitar masjid, pengunjung akan langsung merasakan aura yang berbeda, seolah memasuki sebuah dimensi lain yang memadukan tradisi Islam dengan kearifan lokal Nusantara, terutama pengaruh kebudayaan Jawa yang kental.

Perjalanan menuju masjid unik ini dimulai dengan melewati dua gapura megah yang berbentuk kubah masjid. Gapura-gapura ini berdiri tegak di sisi selatan dan utara jalan, berfungsi sebagai penanda sekaligus gerbang menuju kompleks ibadah yang istimewa. Setiap gapura dihiasi dengan relief aksara Arab yang terpahat indah, memberikan kesan sakral dan artistik sejak pandangan pertama. Relief-relief tersebut bukan hanya sekadar hiasan, melainkan juga mengandung pesan-pesan religius yang mendalam, menyambut setiap tamu yang datang dengan lantunan spiritual yang terukir di batu.

Masjid Agung Wisnu Manunggal Rahmatullah memiliki karakteristik arsitektur yang cukup berbeda dari masjid-masjid pada umumnya, terutama karena ketiadaan serambi. Alih-alih serambi yang luas sebagai area transisi, pintu masuk utama masjid ini dirancang dengan sangat megah, menyerupai penampakan depan sebuah masjid lengkap dengan dua menara menjulang. Fasad utama ini didominasi oleh kekayaan ornamen relief dengan perpaduan warna putih, hijau, dan kuning yang mencolok, menciptakan kontras yang menarik dan memanjakan mata. Setiap detail ukiran pada fasad ini seolah bercerita, memadukan keindahan visual dengan makna-makna filosofis.

Pintu masuk ke dalam masjid juga dirancang secara unik. Terdapat dua lorong yang cukup rendah, mengharuskan setiap orang yang melaluinya untuk menundukkan kepala. Gerakan menunduk ini tidak hanya berfungsi sebagai aspek arsitektur, tetapi juga dapat diinterpretasikan sebagai simbol kerendahan hati dan penghormatan sebelum memasuki ruang suci. Lorong-lorong ini mengarahkan pengunjung ke dalam interior masjid yang penuh dengan kejutan. Dinding-dindingnya tebal dan kokoh, memberikan kesan perlindungan dan ketenangan, sekaligus memisahkan dunia luar yang ramai dengan kekhusyukan di dalamnya.

Ornamen dan relief yang menghiasi wajah depan masjid sangat beragam dan kaya akan simbolisme. Terukir dengan indah lafal "Ya Allah" dan "Ya Muhammad," yang merupakan dua kalimat agung dalam Islam. Selain itu, nama lengkap masjid, "Masjid Agung Wisnu Manunggal Rahmatullah," juga terpahat jelas. Yang lebih menarik, terdapat pula relief bertuliskan "Ponpes Sambung Sari Noto Prodjo Modjopahit Bangkit Nusantara Djaja" dan "Ganti Djamu Sakti." Frasa-frasa ini memadukan identitas pesantren, kebangkitan kejayaan Majapahit, dan elemen-elemen kearifan lokal yang mistis, semuanya menggunakan aksara Arab maupun Latin, menunjukkan perpaduan budaya yang harmonis dan unik.

Abdul Wahab Said (40), pemilik sekaligus pengelola masjid ini, menjelaskan makna di balik nama panjang tersebut kepada detikJatim. "Masjid Agung Wisnu Manunggal Rahmatullah. Maknanya kaum NU agar bersatu dan rukun dalam kasih sayang Allah SWT," terang Said. Penjelasan ini memberikan konteks penting mengenai identitas dan tujuan masjid, yaitu sebagai pusat persatuan dan kerukunan umat Islam, khususnya warga Nahdlatul Ulama (NU), yang dilandasi oleh rahmat dan kasih sayang Ilahi. Nama "Wisnu Manunggal" sendiri, meskipun mengandung unsur nama dewa dalam kepercayaan Hindu, dalam konteasi ini diinterpretasikan sebagai simbol persatuan dan keesaan, sejalan dengan nilai-nilai tauhid dalam Islam.

Setelah melewati lorong pintu masuk yang unik, pengunjung akan memasuki ruangan pertama masjid. Area ini dilapisi lantai keramik putih yang bersih dan terang, dihiasi dengan pilar-pilar besar yang kokoh menjulang. Pilar-pilar ini tidak hanya berfungsi sebagai penopang struktur bangunan, tetapi juga memberikan kesan monumental dan agung pada ruangan. Dari ruangan pertama ini, sebuah tangga menuntun pengunjung untuk menuruni ke ruangan kedua. Transisi ini menciptakan perubahan suasana yang signifikan, dari terang menuju area yang lebih redup.

Ruangan kedua, meskipun berada di atas tanah, terasa gelap karena hanya sedikit cahaya matahari yang mampu menembusnya. Suasana yang lebih remang ini menciptakan nuansa introspeksi dan ketenangan yang mendalam. Seperti ruangan pertama, ruangan kedua ini juga dihiasi dengan banyak pilar besar, yang secara fungsional membagi barisan shalat atau saf. Pilar-pilar ini membantu menjaga keteraturan dan kekhusyukan jamaah dalam menunaikan ibadah. Dari ruangan kedua, perjalanan berlanjut ke ruangan ketiga, yang merupakan bagian utama masjid. Di sinilah letak mihrab, tempat imam memimpin shalat, serta mimbar untuk khatib menyampaikan khutbah. Ruangan utama ini adalah jantung spiritual masjid, tempat doa-doa dipanjatkan dan khutbah disampaikan.

Selama bulan Ramadan, Masjid Agung Wisnu Manunggal Rahmatullah menjadi pusat aktivitas keagamaan yang semarak. Abdul Wahab Said menuturkan bahwa berbagai kegiatan rutin dilaksanakan di sini, mulai dari shalat lima waktu, shalat Jumat, shalat Tarawih, hingga tadarus Al-Qur’an. "Kegiatan rutin biasa, salat, tadarus, tarawih," ujarnya. Seperti masjid pada umumnya, azan berkumandang lima kali sehari dari masjid ini, memanggil umat Muslim untuk menunaikan ibadah. Lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an juga terdengar merdu ketika tadarus dilaksanakan setelah shalat Asar, menciptakan atmosfer spiritual yang kental dan penuh berkah selama bulan suci.

Akses menuju rumah Said yang berada di bagian selatan kompleks masjid juga dirancang dengan arsitektur yang tak kalah megahnya. Dinding bangunan ini sangat tebal, mengadopsi gaya kubah masjid, yang secara visual menyatu dengan desain keseluruhan kompleks. Bagian ini dihiasi dengan sejumlah relief lambang Nahdlatul Ulama (NU), menegaskan afiliasi dan identitas keorganisasian sang pemilik. Lebih dari itu, tiga tokoh pewayangan yang menonjol juga terpahat di dinding, memadukan simbolisme Islam dengan warisan budaya Jawa. Ditambah dengan berbagai kalimat bijak dalam bahasa Jawa maupun Indonesia, dinding ini menjadi galeri filosofis yang kaya akan makna, mencerminkan perpaduan antara spiritualitas, budaya, dan kearifan lokal.

Salah satu fitur paling misterius dan menakjubkan dari Masjid Agung Wisnu Manunggal Rahmatullah adalah ruang bawah tanahnya. Said mengungkapkan bahwa ruang bawah tanah ini memiliki luas yang sama dengan masjid dan tempat tinggalnya, yaitu sekitar 50×50 meter atau total 2.500 meter persegi. Sayangnya, pada saat kunjungan tim detikJatim, ia tidak mengizinkan akses ke ruang bawah tanah karena masih tergenang air hujan. Namun, Said memberikan gambaran yang cukup detail tentang isinya.

"Berupa lorong-lorong, di antara lorong ada ruangan. Panjang lorong kalau ditotal sekitar 400 meter, ada 6 ruangan berupa musala kecil-kecil, ada 2 sendang," jelas Said. Deskripsi ini membangkitkan imajinasi tentang sebuah labirin bawah tanah yang luas, dengan koridor-koridor panjang yang mengarah ke ruang-ruang ibadah yang lebih intim. Kehadiran dua "sendang" atau mata air kuno di dalam ruang bawah tanah menambah kesan mistis dan spiritual, seringkali dikaitkan dengan tempat-tempat suci untuk bersuci atau mencari ketenangan batin. Ruang-ruang musala kecil ini menjadi tempat ideal bagi mereka yang mencari kesunyian dan fokus dalam bermeditasi atau beribadah.

Ruang bawah tanah Masjid Agung Wisnu Manunggal Rahmatullah tidak digunakan setiap hari oleh jamaah umum. Said menjelaskan bahwa ia sendiri biasa melakukan meditasi di dalamnya apabila hatinya tergerak untuk melakukannya, dan para pengunjung yang diizinkan juga mengikuti pola serupa. "Tidak bisa memastikan (momen ramainya). Orang-orang kalau ke sini terserah orang yang mau ke sini. Kami tidak bisa menentukan karena tidak pernah punya acara rutinan. Yang jelas sekarang lebih sepi, tidak seperti dulu," ungkapnya. Hal ini menunjukkan bahwa kunjungan ke ruang bawah tanah lebih bersifat personal dan spiritual, bukan bagian dari jadwal ibadah rutin.

Untuk dapat memasuki ruang bawah tanah yang misterius ini, pengunjung harus mendapatkan izin langsung dari Abdul Wahab Said. Setelah izin diberikan, ia meminta pengunjung untuk lebih dulu bersuci, lalu membaca doa khusus sebelum melangkah masuk. Said juga memberikan peringatan tegas: bagi pengunjung yang merasa tidak kuat mental, ia tidak menyarankan untuk memasukinya. Hal ini mengisyaratkan bahwa pengalaman di dalam ruang bawah tanah bukan sekadar kunjungan biasa, melainkan sebuah perjalanan spiritual yang menuntut persiapan mental dan spiritual yang matang.

"Selama di dalam, setidaknya ada sesuatu yang didapat, tidak sekadar melihat-lihat saja, paling minim ingat kematian. Karena di dalam hanya tanah tanpa sesuatu apapun," tandas Said. Penjelasan ini semakin menegaskan bahwa ruang bawah tanah tersebut dirancang sebagai tempat kontemplasi yang mendalam, sebuah ruang hening yang memaksa individu untuk berhadapan dengan diri sendiri dan merenungkan eksistensi fana. Ketiadaan ornamen atau kemewahan di dalamnya justru menjadi kekuatan, mengarahkan fokus sepenuhnya pada esensi kehidupan dan kematian, jauh dari hiruk pikuk duniawi. Masjid Agung Wisnu Manunggal Rahmatullah, dengan segala keunikan arsitektur dan kedalaman spiritualnya, menjadi sebuah monumen yang tak hanya memperkaya khazanah keagamaan di Mojokerto, tetapi juga menawarkan pengalaman spiritual yang tak terlupakan bagi siapa pun yang bersedia menjelajahinya.