Wakatobi, sebuah kepulauan indah di Sulawesi Tenggara, tidak hanya terkenal dengan keindahan bawah lautnya yang mendunia, tetapi juga menyimpan harta karun kuliner yang unik dan kaya akan sejarah. Di tengah gemuruh ombak dan semilir angin laut, masyarakat Wakatobi melestarikan Kasoami, hidangan berbahan dasar singkong yang telah menjadi tulang punggung pangan lokal selama berabad-abad, terutama sebagai pilihan mengenyangkan untuk berbuka puasa. Kelezatan dan nilai historisnya menjadikan Kasoami lebih dari sekadar makanan, melainkan cerminan adaptasi dan kearifan lokal dalam memanfaatkan sumber daya alam.

sulutnetwork.com – Dikenal sebagai salah satu destinasi menyelam terbaik di dunia, perairan Wakatobi, yang meliputi empat pulau utama yakni Wangi-Wangi (Wanci), Kaledupa, Tomia, dan Binongko, telah diakui secara global. Kawasan ini merupakan rumah bagi setidaknya 750 spesies terumbu karang yang menakjubkan, menjadikannya pusat keanekaragaman hayati laut dan telah ditetapkan sebagai Cagar Biosfer Bumi oleh UNESCO. Namun, di balik kemegahan bawah lautnya, Wakatobi juga menghadirkan kekayaan budaya dan kuliner yang tak kalah menarik. Salah satu warisan kuliner yang paling menonjol dan lekat dengan identitas masyarakatnya adalah Kasoami, sebuah hidangan pokok yang diolah dari singkong, atau yang oleh masyarakat setempat akrab disebut dengan "kayu Jawa".

Asal-usul singkong di Wakatobi memiliki cerita panjang yang berakar pada sejarah maritim Nusantara. Catatan sejarah menyebutkan bahwa bibit singkong pertama kali dibawa ke kepulauan ini oleh para pelaut Wakatobi dari Pulau Jawa sekitar abad ke-16. Kedatangan "kayu Jawa" ini bukanlah tanpa alasan. Meskipun Wakatobi diberkahi dengan kekayaan hasil laut yang melimpah, kondisi geografis kepulauan karang yang dominan membuat tanahnya kurang subur untuk penanaman padi dalam skala besar. Akibatnya, beras menjadi komoditas langka dan sulit dijangkau oleh sebagian besar masyarakat. Dalam menghadapi tantangan ini, singkong muncul sebagai solusi cerdas dan berkelanjutan untuk memenuhi kebutuhan karbohidrat utama penduduk. Kemampuannya tumbuh subur di lahan kering dan minim perawatan menjadikan singkong pilihan ideal, mengubah lanskap pertanian dan pola makan masyarakat Wakatobi secara signifikan. Sejak saat itu, singkong tidak hanya menjadi alternatif, melainkan telah berevolusi menjadi pondasi utama dalam pola makan harian dan tradisi kuliner lokal.

Proses pembuatan Kasoami sendiri mencerminkan kearifan lokal dalam mengolah bahan pangan secara sederhana namun efektif. Pada dasarnya, singkong yang telah dipanen akan dikupas, dicuci bersih, kemudian diparut hingga halus. Hasil parutan ini kemudian diperas untuk menghilangkan kadar air berlebih, sebuah langkah krusial untuk menghasilkan tekstur Kasoami yang kenyal dan padat setelah dikukus. Setelah proses pemerasan, ampas singkong yang telah kering dan padat inilah yang kemudian dibentuk dan dikukus hingga matang sempurna. Cara pengolahan yang minim bumbu ini memungkinkan cita rasa alami singkong tetap dominan, memberikan sensasi tawar dengan sedikit sentuhan manis alami yang lembut di lidah. Teksturnya yang kenyal dan berserat memberikan efek mengenyangkan yang tahan lama, menjadikannya pilihan ideal untuk mengembalikan energi setelah seharian berpuasa.

Kasoami umumnya tidak disantap sendirian. Kelezatan hidangan ini akan semakin sempurna ketika dipadukan dengan berbagai lauk pauk khas Wakatobi yang kaya rasa. Salah satu pasangan paling populer adalah Ikan Parende. Hidangan ini berupa ikan kuah yang kaya akan cita rasa asam, pedas, dan gurih, sebuah kombinasi yang sangat menyegarkan. Bumbu-bumbu seperti bawang merah, bawang putih, cabai, kunyit, jahe, dan asam jawa diolah bersama ikan segar, menciptakan kaldu yang membangkitkan selera. Rasa asam dari Ikan Parende sangat efektif memecah kekenyalan Kasoami, memberikan keseimbangan rasa yang harmonis.

Selain Ikan Parende, Kasoami juga sering dinikmati bersama Ikan Parape. Berbeda dengan Parende yang berkuah, Ikan Parape adalah hidangan ikan goreng yang kemudian ditaburi dengan bumbu pedas kaya rempah. Bumbu Parape umumnya terbuat dari racikan cabai rawit, bawang putih, bawang merah, tomat, dan bumbu-bumbu aromatik lainnya yang dihaluskan dan ditumis hingga harum. Ikan yang telah digoreng garing kemudian dilumuri atau disajikan dengan bumbu Parape yang pedas dan gurih, memberikan kontras tekstur dan rasa yang menarik ketika disantap bersama Kasoami yang tawar. Kombinasi renyahnya ikan goreng dan pedasnya bumbu Parape menjadi pelengkap yang sempurna untuk kelembutan Kasoami.

Tidak ketinggalan, Ikan Bakar khas Wakatobi juga menjadi pilihan favorit untuk mendampingi Kasoami. Dengan kekayaan laut yang luar biasa, masyarakat Wakatobi memiliki akses mudah terhadap berbagai jenis ikan segar. Ikan-ikan ini biasanya dibakar dengan bumbu sederhana namun meresap, seperti campuran bawang, cabai, kunyit, dan sedikit perasan jeruk nipis. Aroma smoky dari ikan bakar yang baru diangkat dari panggangan, berpadu dengan gurihnya bumbu dan kesegaran daging ikan, menciptakan pengalaman bersantap yang tak terlupakan saat dinikmati bersama Kasoami yang hangat. Perpaduan antara Kasoami yang netral dan hidangan ikan yang kaya bumbu ini menunjukkan bagaimana masyarakat Wakatobi secara kreatif memanfaatkan sumber daya alam mereka untuk menciptakan kuliner yang seimbang dan lezat.

Keragaman Kasoami tidak berhenti pada cara penyajiannya, melainkan juga pada varian-varian olahannya yang unik. Setiap jenis Kasoami memiliki karakteristik dan proses pembuatan yang sedikit berbeda, mencerminkan inovasi dan adaptasi masyarakat dalam mengolah singkong.

Kasoami Gunung: Varian ini dinamakan "gunung" karena bentuknya yang menyerupai kerucut atau gunung kecil. Pembuatannya melibatkan proses pengukusan singkong halus dalam wadah anyaman daun kelapa yang sengaja dibentuk kerucut. Wadah tradisional ini tidak hanya memberikan bentuk yang khas, tetapi juga dipercaya memberikan aroma alami yang sedikit berbeda pada Kasoami. Kasoami Gunung adalah bentuk yang paling klasik dan sering dijumpai, melambangkan kesederhanaan dan keaslian kuliner Wakatobi.

Kasoami Pepe: Jenis Kasoami ini menawarkan pengalaman rasa dan aroma yang lebih kaya. Dalam pembuatannya, singkong yang telah diproses dicampur dengan minyak kelapa murni dan irisan bawang goreng yang renyah sebelum dikukus. Penambahan minyak kelapa tidak hanya memberikan kelembutan ekstra pada tekstur, tetapi juga aroma yang lebih wangi dan cita rasa yang lebih gurih. Bawang goreng yang tercampur di dalamnya memberikan sentuhan rasa umami yang nikmat, menjadikan Kasoami Pepe cocok bagi mereka yang menginginkan sedikit lebih banyak "rasa" pada Kasoami mereka.

Kasoami Hitam: Ini adalah varian yang paling unik dan mungkin paling jarang ditemui di luar Wakatobi. Kasoami Hitam dibuat dari singkong yang melalui proses penjemuran ekstensif hingga warnanya berubah menjadi kehitaman. Proses penjemuran ini bisa memakan waktu berhari-hari, bahkan berminggu-minggu, tergantung pada intensitas matahari. Setelah singkong kering dan menghitam sempurna, barulah diiris tipis-tipis, dicuci bersih, dan kemudian dikukus dalam wadah anyaman. Proses pengeringan ini tidak hanya mengubah warna, tetapi juga memberikan tekstur dan aroma yang berbeda, cenderung lebih padat dan memiliki sentuhan rasa yang lebih dalam, seringkali sedikit asam fermentasi yang khas. Kasoami Hitam menunjukkan kearifan lokal dalam teknik pengawetan makanan tradisional, memungkinkan singkong dapat disimpan lebih lama dan dikonsumsi di kemudian hari.

Kasoami dengan Kacang Merah: Inovasi lain dalam kuliner Kasoami adalah penambahan kacang merah. Varian ini dibuat dengan mencampurkan kacang merah yang telah direbus empuk ke dalam adonan singkong sebelum dikukus. Penambahan kacang merah tidak hanya memperkaya tekstur dengan sensasi renyah dari butiran kacang, tetapi juga memberikan cita rasa gurih alami yang lebih kuat. Lebih dari itu, kacang merah juga menambah nilai gizi pada Kasoami, menjadikannya sumber protein dan serat yang lebih lengkap. Karena cita rasanya yang sudah gurih dari kacang merah, Kasoami jenis ini seringkali dapat dinikmati tanpa lauk tambahan sekalipun, menjadikannya pilihan praktis dan mengenyangkan.

Kasoami bukan hanya sekadar makanan pokok, melainkan juga bagian integral dari identitas budaya masyarakat Wakatobi. Keberadaannya mencerminkan adaptasi mereka terhadap lingkungan geografis yang unik dan kemampuan mereka untuk berinovasi dalam memenuhi kebutuhan pangan. Sebagai destinasi pariwisata bahari yang terus berkembang, Wakatobi tidak hanya menawarkan keindahan bawah lautnya, tetapi juga kekayaan kuliner tradisional yang patut dijelajahi. Bagi wisatawan yang berkunjung, mencicipi Kasoami adalah sebuah keharusan untuk merasakan esensi sejati dari kehidupan dan budaya masyarakat kepulauan ini. Dari sejarah panjang kedatangan singkong hingga beragam varian olahannya, Kasoami adalah bukti nyata dari warisan kuliner yang lestari dan menjadi bagian tak terpisahkan dari pesona Wakatobi yang mendunia.