AC Milan terancam semakin jauh tertinggal dari rival sekota, Inter Milan, dalam perburuan gelar Serie A musim ini setelah serangkaian hasil mengecewakan. Performa skuad Rossoneri yang menurun drastis, khususnya di lini serang, kini menempatkan mereka dalam posisi yang sulit, dengan Christian Pulisic menjadi salah satu pemain kunci yang paling disorot akibat penurunan performanya. Situasi ini memicu kekhawatiran serius di kalangan tifosi dan manajemen klub mengenai prospek mereka di sisa musim kompetisi.
sulutnetwork.com – Kekalahan tipis 0-1 dari Parma di San Siro pada Senin (23/2/2026) dini hari WIB menjadi pukulan telak terbaru bagi ambisi AC Milan. Hasil pahit ini memperlebar jurang poin antara Milan dan Inter di puncak klasemen Serie A menjadi sepuluh poin. Jarak yang signifikan ini, dengan dua belas pekan tersisa, menimbulkan keraguan besar terhadap kemampuan tim asuhan Massimiliano Allegri untuk mengejar ketertinggalan dan kembali ke jalur perebutan Scudetto. Meskipun Serie A dikenal sering menyajikan kejutan, seperti Inter yang kehilangan gelar musim lalu setelah sempat unggul delapan poin pada bulan April, kondisi Milan saat ini menunjukkan bahwa mereka menghadapi tantangan yang jauh lebih berat.
Analisis mendalam terhadap performa AC Milan belakangan ini, terutama di sektor penyerangan, mengungkapkan gambaran yang mengkhawatirkan. Rossoneri baru mengemas 41 gol sepanjang musim, angka yang jauh tertinggal dari Inter Milan yang menunjukkan efisiensi mencetak gol yang jauh lebih superior, diperkirakan mencapai sekitar 60 gol atau lebih. Perbedaan hampir 20 gol ini bukan hanya sekadar statistik, melainkan cerminan dari daya gedor yang tumpul dan kurangnya kreativitas di sepertiga akhir lapangan. Fakta bahwa Milan belum pernah meraih kemenangan dengan mencetak lebih dari tiga gol musim ini semakin memperkuat argumen tentang masalah produktivitas mereka. Bahkan, sejak pergantian tahun, mereka hanya dua kali berhasil mencetak tiga gol dalam satu pertandingan, yakni saat menundukkan Como 3-1 di kandang lawan dan saat membungkam Bologna 3-0, juga di laga tandang.
Statistik gol yang lebih rinci menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Dalam sepuluh pertandingan terakhir, Milan hanya mampu mencetak total 14 gol. Angka rata-rata 1,4 gol per pertandingan dalam periode krusial ini jauh di bawah standar tim yang berambisi meraih gelar juara. Bandingkan dengan tim-tim papan atas lainnya yang secara konsisten mampu mencetak dua hingga tiga gol per laga. Kurangnya variasi dalam serangan, ketergantungan pada momen-momen individu, dan kesulitan dalam menembus pertahanan lawan yang rapat menjadi beberapa faktor yang disinyalir berkontribusi pada kemandulan ini. Di tengah krisis produktivitas ini, sorotan tajam tertuju pada Christian Pulisic, salah satu pilar utama yang diharapkan menjadi motor serangan tim.
Pulisic, yang memulai musim dengan gemilang, berhasil mencuri perhatian dengan delapan gol dan dua assist hanya dari sebelas penampilan awalnya. Kehadirannya memberikan dimensi baru pada serangan Milan, dengan kecepatan, dribel, dan kemampuan penyelesaian akhir yang memukau. Ia dengan cepat menjadi idola baru di San Siro, bahkan mendapat julukan "Captain America" dari para penggemar. Namun, performa cemerlang tersebut kini hanya tinggal kenangan. Dalam dua bulan terakhir, Pulisic belum sekalipun berhasil menjebol gawang lawan. Gol terakhirnya tercipta pada 28 Desember lalu saat Milan meraih kemenangan 3-0 atas Verona. Penurunan drastis ini menimbulkan pertanyaan besar mengenai kondisi fisik dan mental sang pemain.
Salah satu faktor utama yang disinyalir menjadi penyebab kemerosotan Pulisic adalah cedera hamstring yang berulang. Masalah cedera ini memaksanya bolak-balik ruang perawatan, mengganggu ritme permainannya, dan secara signifikan mengurangi kebugaran fisiknya. Dampak cedera bukan hanya pada kemampuan fisik, melainkan juga pada kepercayaan diri pemain. Ketakutan akan kambuhnya cedera dapat membuat seorang pemain enggan untuk mengeluarkan seluruh kemampuannya di lapangan, terutama dalam situasi-situasi krusial yang membutuhkan akselerasi atau gerakan eksplosif. Ketika Pulisic tidak berada dalam kondisi terbaiknya, dampaknya langsung terasa pada daya dobrak Milan. Kemampuannya untuk menciptakan peluang, menarik perhatian bek lawan, dan memberikan umpan kunci menjadi berkurang drastis, meninggalkan lubang besar di sisi sayap serangan Rossoneri.
Selain Pulisic, beberapa pemain depan Milan lainnya juga menunjukkan performa yang tidak konsisten atau di bawah ekspektasi. Rafael Leao, yang dikenal dengan kecepatan dan dribelnya yang mematikan, baru mengemas delapan gol di Serie A musim ini. Meskipun angka ini tidak terlalu buruk, namun Leao diharapkan dapat menjadi mesin gol utama tim, mengingat potensi dan kualitasnya sebagai salah satu winger terbaik di liga. Inkonsistensi dalam penyelesaian akhir dan keputusan di sepertiga akhir lapangan kerap menghambatnya untuk mencapai performa puncaknya secara reguler. Performa Leao yang fluktuatif membuat Milan kehilangan salah satu sumber gol dan kreativitas utamanya, terutama dalam pertandingan-pertandingan penting yang membutuhkan magis individu.
Lebih lanjut, para penyerang lain yang didatangkan atau diharapkan menjadi pelapis dan pemecah kebuntuan juga mengalami kesulitan signifikan. Santiago Gimenez, Christopher Nkunku, dan Nicolas Fullkrug, yang diharapkan dapat memberikan kontribusi gol yang substansial, justru belum mampu menunjukkan ketajaman yang diharapkan. Gimenez dan Fullkrug, misalnya, masing-masing baru mencetak satu gol di seluruh kompetisi. Angka ini sangat minim untuk seorang penyerang yang seharusnya menjadi tumpuan di lini depan. Keterbatasan dalam adaptasi dengan gaya bermain tim, kurangnya suplai bola yang memadai dari lini tengah, atau mungkin juga tekanan ekspektasi yang tinggi, bisa jadi menjadi penyebab utama di balik mandeknya produktivitas mereka. Nkunku, yang sering diplot sebagai penyerang lubang atau sayap, juga belum mampu menemukan sentuhan terbaiknya, membuat variasi serangan Milan menjadi terbatas dan mudah ditebak oleh lawan.
Kemandulan lini depan Milan ini tidak hanya disebabkan oleh performa individu, tetapi juga mungkin mencerminkan masalah yang lebih luas dalam sistem permainan Massimiliano Allegri. Apakah taktik yang diterapkan terlalu konservatif? Apakah ada kekurangan kreativitas dari lini tengah dalam menyuplai bola-bola matang ke depan? Atau apakah transisi dari pertahanan ke serangan kurang efektif? Pertanyaan-pertanyaan ini menjadi relevan mengingat Milan kesulitan untuk menciptakan peluang bersih secara konsisten, terutama saat menghadapi tim-tim dengan pertahanan yang terorganisir. Ketergantungan pada serangan balik cepat atau individual brilliance dari Leao dan Pulisic (saat dalam performa terbaik) tidak cukup untuk sustain performa tim dalam jangka panjang di liga yang kompetitif seperti Serie A.
Melihat ke belakang pada sejarah Inter Milan yang kehilangan gelar di musim sebelumnya setelah unggul delapan poin dari Napoli pada bulan April, tentu memberikan secercah harapan bagi Milan. Namun, konteksnya berbeda. Saat itu, Inter mengalami penurunan performa secara tim dan Napoli menunjukkan konsistensi luar biasa. Sementara itu, Milan saat ini justru yang sedang berjuang dengan performa tim yang merosot, terutama di lini depan, sementara Inter Milan sedang dalam performa puncak dengan konsistensi yang mengesankan di semua lini. Ini membuat tugas Milan untuk mengejar ketertinggalan menjadi jauh lebih sulit, bahkan hampir mustahil jika tren negatif ini terus berlanjut.
Tekanan kini berada di pundak Massimiliano Allegri dan staf pelatihnya untuk menemukan solusi cepat. Perubahan taktik, penyesuaian formasi, atau bahkan memberikan kesempatan lebih banyak kepada pemain muda yang lapar, mungkin perlu dipertimbangkan. Namun, dengan jadwal pertandingan yang semakin padat dan tekanan untuk meraih hasil, ruang untuk eksperimen menjadi terbatas. Jika tren buruk ini tidak segera diatasi, maka AC Milan bisa jadi harus lebih cepat mengucapkan selamat kepada rival sekotanya, Inter Milan, untuk gelar Scudetto musim ini. Mimpi untuk mengangkat trofi liga untuk kedua kalinya dalam beberapa tahun terakhir akan pupus, digantikan oleh kekecewaan dan pertanyaan besar tentang masa depan tim.
