Libur Tahun Baru Imlek 2026 diproyeksikan akan menjadi pemicu lonjakan signifikan dalam mobilitas wisatawan China, baik di dalam negeri maupun ke berbagai destinasi internasional. Meskipun sebagian besar negara bersiap menyambut gelombang turis ini dengan antusiasme, Jepang diperkirakan menjadi pengecualian yang mencolok, menghadapi penurunan minat akibat ketegangan politik yang terus membayangi hubungan bilateral. Fenomena ini menandai pergeseran preferensi destinasi dan menyoroti pengaruh geopolitik terhadap industri pariwisasa global.

sulutnetwork.com – Periode libur yang berlangsung selama sembilan hari mulai 15 Februari 2026, satu hari lebih panjang dari biasanya untuk menyambut Tahun Kuda, diharapkan akan memecahkan rekor perjalanan. Pemerintah China memproyeksikan total 9,5 miliar perjalanan penumpang selama puncak 40 hari, naik dari 9,02 miliar tahun sebelumnya, menandakan era baru mobilitas pascapandemi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Angka fantastis ini tidak hanya mencakup perjalanan mudik ke kampung halaman, tetapi juga gelombang besar wisatawan yang mencari pengalaman baru di luar negeri, didorong oleh berbagai faktor ekonomi dan sosial.

Momentum libur panjang ini, yang secara historis dikenal sebagai "Chunyun" atau migrasi tahunan terbesar di dunia, kini semakin diperkuat oleh keinginan warga China untuk menjelajahi dunia. Kombinasi tekanan ekonomi domestik seperti perlambatan pertumbuhan, fluktuasi pasar saham, dan tantangan di sektor real estat, bersama dengan kekhawatiran terkait lapangan kerja pascapandemi, mendorong sebagian besar warga untuk mencari pelarian atau pengalaman baru. Libur panjang ini menjadi kesempatan emas untuk sejenak melepaskan diri dari rutinitas dan tekanan, baik melalui kunjungan ke sanak saudara maupun berpetualang ke destinasi eksotis. Pemerintah sendiri secara aktif mendorong mobilitas ini, berharap dapat memacu konsumsi dan menggerakkan roda perekonomian, baik di tingkat domestik maupun melalui pengeluaran wisatawan di luar negeri.

Di antara berbagai destinasi yang menjadi incaran, Thailand sekali lagi mengukuhkan posisinya sebagai favorit abadi. Zhou Weihong dari Spring Tour, unit perjalanan maskapai Spring Airlines, menyoroti daya tarik utama Thailand berkat cuacanya yang hangat dan cerah, sangat kontras dengan sebagian besar wilayah Tiongkok yang masih diselimuti hawa dingin ekstrem selama musim dingin. Popularitas ini bukan hal baru; Thailand telah lama menjadi magnet bagi wisatawan China karena kombinasi budaya yang kaya, pantai-pantai indah di Phuket dan Krabi, kuliner lezat di Bangkok, serta keramahan penduduknya. Selain itu, kemudahan akses, biaya perjalanan yang relatif terjangkau, dan infrastruktur pariwisata yang sudah mapan semakin memperkuat daya tarik Negeri Gajah Putih ini. Dari hiruk-pikuk pasar malam, kuil-kuil megah, hingga pengalaman menyelam di laut biru, Thailand menawarkan spektrum pengalaman yang luas yang sulit ditolak.

Sementara itu, Rusia muncul sebagai bintang baru dengan peningkatan pemesanan yang signifikan, menunjukkan pergeseran menarik dalam preferensi perjalanan. Data dari Spring Tour menunjukkan kenaikan lebih dari dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya untuk perjalanan ke Rusia, termasuk rute-rute ke Eropa Utara. Sienna Parulis-Cook, Direktur Pemasaran dan Komunikasi Dragon Trail Research, menjelaskan bahwa tren ini adalah dampak langsung dari kebijakan bebas visa yang diberlakukan Moskow bagi wisatawan China sejak Desember 2025. Kebijakan ini secara efektif menghapus hambatan birokrasi, membuka pintu bagi lebih banyak warga China untuk menjelajahi keindahan arsitektur St. Petersburg, kekayaan sejarah Moskow, hingga keajaiban alam Danau Baikal. "Untuk sisa tahun ini, kita mungkin akan melihat peningkatan perjalanan wisatawan China ke Rusia yang berkelanjutan, seiring dengan semakin dikenalnya destinasi ini," tambah Parulis-Cook, menggarisbawahi potensi jangka panjang dari inisiatif bebas visa tersebut.

Wisata jarak jauh juga mengalami lonjakan yang patut diperhitungkan, menunjukkan bahwa segmen wisatawan China yang berani mengeluarkan lebih banyak untuk pengalaman yang lebih jauh tetap kuat. Trip.com Group melaporkan bahwa kunjungan ke Australia naik lebih dari 100% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Benua Kanguru ini menawarkan daya tarik yang unik dengan lanskap alam yang spektakuler, mulai dari pesona Sydney Opera House, keajaiban alam Great Barrier Reef, hingga lanskap gurun Outback yang luas, serta kota-kota modern dan pengalaman budaya yang beragam. Peningkatan ini menunjukkan bahwa meskipun ada ketidakpastian ekonomi di dalam negeri, sebagian warga China masih memiliki kapasitas dan keinginan untuk berinvestasi dalam perjalanan mewah dan pengalaman yang memperkaya.

Selain Thailand, Rusia, dan Australia, Korea Selatan juga tercatat sebagai salah satu destinasi favorit yang menarik minat wisatawan China. Meskipun detail peningkatannya tidak sejelas negara lain dalam laporan awal, posisinya sebagai pusat budaya pop K-pop, mode, dan kuliner di Asia Timur menjadikannya pilihan menarik, terutama bagi generasi muda. Kemudahan akses penerbangan dan daya tarik belanja juga menjadi faktor pendorong. Negara-negara Asia lainnya yang menawarkan kombinasi budaya, belanja, dan aksesibilitas, seperti Singapura, Malaysia, dan Vietnam, juga diperkirakan akan menikmati keuntungan dari gelombang perjalanan ini, memperkuat dominasi regional dalam preferensi wisatawan China.

Di tengah hiruk-pikuk perjalanan internasional, sektor domestik tetap menjadi pilihan utama bagi banyak warga China, terutama bagi mereka yang memilih untuk mudik atau menikmati liburan singkat tanpa perlu paspor. Permintaan wisata domestik terbagi antara destinasi hangat seperti Pulau Hainan, yang dijuluki "Hawaii dari China" dengan pantai-pantai tropisnya yang cocok untuk menyelam dan relaksasi, dan kawasan bersalju seperti Pegunungan Changbai di timur laut, yang menawarkan pemandangan musim dingin yang menakjubkan dan aktivitas olahraga salju seperti ski dan pemandian air panas alami. Pemerintah berharap tambahan hari libur akan mendorong lebih banyak perjalanan domestik, mendistribusikan manfaat ekonomi ke berbagai wilayah di dalam negeri dan menyeimbangkan pertumbuhan pariwisata.

Persiapan industri pariwisata global untuk menyambut gelombang ini juga terlihat jelas. Data dari perusahaan intelijen penerbangan IBA menggarisbawahi persiapan maskapai penerbangan dengan perkiraan peningkatan kapasitas kursi penerbangan internasional selama periode liburan sebesar 9% dibandingkan tahun lalu. Peningkatan kapasitas ini mencerminkan optimisme maskapai terhadap pemulihan dan pertumbuhan pasar perjalanan China. Namun, ini juga berarti potensi tantangan seperti kepadatan bandara, tekanan pada infrastruktur pariwisata di destinasi populer, dan fluktuasi harga tiket pesawat yang mungkin melonjak seiring dengan tingginya permintaan.

Namun, tidak semua destinasi dapat menikmati momentum positif ini. Di tengah euforia peningkatan perjalanan, Jepang justru menghadapi kenyataan pahit sebagai satu-satunya destinasi populer yang mengalami penurunan drastis. Sebelumnya, Jepang adalah magnet kuat bagi wisatawan China, dikenal dengan keindahan musim semi sakura, pegunungan salju di musim dingin, kuil-kuil kuno, kota-kota modern yang dinamis, serta pengalaman belanja dan kuliner kelas dunia. Namun, citra ini kini terganggu.

Ketegangan politik antara China dan Jepang menjadi penyebab utama di balik hilangnya pamor Jepang di mata wisatawan China. Isu-isu sensitif seperti sengketa wilayah, perbedaan pandangan mengenai sejarah perang, hingga keputusan politik terbaru yang memicu kontroversi, secara kolektif telah mengikis niat perjalanan. Data dari Flight Master menunjukkan bahwa penerbangan China-Jepang pada pekan yang dimulai 2 Februari 2026 turun drastis hingga 49,2% dibandingkan tahun sebelumnya. Lebih lanjut, sebanyak 58 rute penerbangan yang beroperasi selama Festival Musim Semi tahun lalu dilaporkan telah dibatalkan, sebuah indikasi kuat dari penurunan drastis minat. Ini merupakan pukulan telak, mengingat tahun lalu Jepang sempat masuk daftar destinasi luar negeri terpopuler, bersaing ketat dengan Thailand dan negara-negara Asia lainnya.

Dampak dari penurunan ini tidak hanya dirasakan oleh maskapai penerbangan yang terpaksa membatalkan rute, tetapi juga industri pariwisata Jepang secara keseluruhan. Mulai dari hotel, restoran, toko-toko suvenir, hingga operator tur, semuanya akan merasakan kerugian signifikan. Wisatawan China dikenal sebagai salah satu pembelanja terbesar di dunia, dan hilangnya sebagian besar dari mereka akan meninggalkan kekosongan ekonomi yang signifikan bagi sektor ritel dan jasa Jepang. Situasi ini menyoroti bagaimana sentimen geopolitik dapat secara langsung memengaruhi sektor ekonomi yang vital, mengubah preferensi konsumen dalam skala besar dan memaksa industri untuk beradaptasi dengan dinamika yang tidak terduga.

Secara keseluruhan, Tahun Baru Imlek 2026 diprediksi akan menjadi babak baru bagi pariwisata China, ditandai dengan mobilitas massal yang belum pernah terjadi sebelumnya. Dinamika preferensi destinasi, dari popularitas Thailand yang konsisten hingga kebangkitan Rusia dan Australia sebagai pemain baru, serta anomali Jepang yang mengalami penurunan drastis, mencerminkan kompleksitas pasar perjalanan terbesar di dunia ini. Dengan dukungan pemerintah dan adaptasi cepat dari industri, wisatawan China akan terus membentuk lanskap pariwisata global dalam tahun-tahun mendatang, dengan tren dan pilihan yang terus berevolusi seiring dengan perubahan ekonomi, sosial, dan geopolitik. Industri pariwisata dunia akan terus memantau dengan seksama pergerakan pasar yang dinamis ini, siap untuk menyesuaikan strategi demi menarik hati para pelancong China.