Kenyamanan selama penerbangan, terutama untuk perjalanan jarak jauh, seringkali menjadi tantangan. Berbagai keluhan seperti kaki terasa kram, pegal, atau bahkan nyeri adalah kondisi yang umum dialami penumpang, terutama jika ruang kaki yang tersedia sangat terbatas. Namun, di balik ketidaknyamanan minor tersebut, tersimpan risiko kesehatan yang lebih serius, salah satunya adalah pembekuan darah atau Deep Vein Thrombosis (DVT), yang bisa dipicu oleh kebiasaan duduk yang salah dan kurangnya gerakan.

sulutnetwork.com – Sebuah laporan dari Daily Post pada Jumat, 6 Februari 2026, menyoroti peringatan penting dari Dr. Neena Chandrasekaran, seorang dokter spesialis paru dan perawatan kritis yang aktif berbagi tips kesehatan melalui akun TikTok-nya @neenziemd. Dr. Neena mengungkapkan bahwa salah satu kesalahan paling umum yang dilakukan penumpang pesawat adalah menyilangkan kaki saat duduk, sebuah kebiasaan yang tampaknya sepele namun memiliki potensi dampak serius terhadap kesehatan pembuluh darah dan risiko pembekuan darah. Peringatan ini menjadi relevan mengingat banyak pelancong yang tidak menyadari bahwa kebiasaan sederhana ini dapat memperburuk kondisi kesehatan mereka di ketinggian.

Bahaya Tersembunyi Menyilangkan Kaki di Pesawat: Risiko Deep Vein Thrombosis (DVT)

Menurut Dr. Neena, "Posisi terburuk untuk meletakkan kaki adalah menyilang." Pernyataan ini bukan tanpa dasar. Ketika kaki disilangkan, terutama untuk jangka waktu yang lama, pembuluh darah di area paha dan betis akan saling tertekan. Tekanan yang berkelanjutan ini secara signifikan menghambat aliran darah kembali ke jantung, menciptakan kondisi stagnasi darah di bagian bawah tubuh. Aliran darah yang terganggu ini bukan hanya memicu rasa pegal atau kram, tetapi yang lebih krusial, meningkatkan risiko pembentukan gumpalan darah atau Deep Vein Thrombosis (DVT).

DVT adalah kondisi medis serius di mana gumpalan darah (trombus) terbentuk di salah satu vena dalam yang terletak jauh di dalam tubuh, paling sering di kaki. Gumpalan ini dapat menghalangi aliran darah normal dan menyebabkan pembengkakan, nyeri, atau kemerahan pada kaki. Namun, bahaya terbesar dari DVT adalah potensi gumpalan tersebut untuk terlepas dari dinding vena, berjalan melalui aliran darah, dan bersarang di paru-paru. Kondisi ini dikenal sebagai emboli paru (pulmonary embolism/PE), yang merupakan keadaan darurat medis yang dapat mengancam jiwa dan memerlukan penanganan segera.

Dr. Neena menjelaskan lebih lanjut mengenai mengapa risiko pembekuan darah meningkat saat berada di udara. "Anda berisiko lebih tinggi terkena pembekuan darah saat berada di udara. Tekanan barometrik memicu peradangan di tubuh kita, dan ini bisa menyebabkan pembekuan darah, terutama di kaki," ujarnya. Tekanan barometrik di ketinggian jelajah pesawat jauh berbeda dibandingkan di permukaan tanah. Perubahan tekanan ini, ditambah dengan kondisi kabin yang kering, kadar oksigen yang sedikit lebih rendah, dan durasi imobilitas yang lama, dapat memicu respons inflamasi dalam tubuh. Respons ini, bersama dengan sedikit peningkatan kekentalan darah dan perlambatan aliran darah akibat kurangnya gerakan, menciptakan lingkungan yang sangat kondusif bagi pembentukan gumpalan darah. Kondisi ini diperparah bagi individu dengan faktor risiko DVT lainnya, seperti riwayat keluarga, obesitas, penggunaan kontrasepsi hormonal, kehamilan, atau baru menjalani operasi.

Strategi Pencegahan DVT dan Menjaga Sirkulasi Darah Optimal Selama Penerbangan

Mengingat risiko yang tidak bisa diabaikan, Dr. Neena menekankan pentingnya mengambil langkah-langkah pencegahan. Salah satu rekomendasi utamanya adalah menggunakan stoking kompresi. Stoking kompresi dirancang khusus untuk memberikan tekanan lembut pada kaki dan pergelangan kaki, membantu memeras pembuluh darah di kaki dan mendorong darah kembali ke jantung. Tekanan bertahap ini, yang paling kuat di pergelangan kaki dan berkurang ke atas, membantu meningkatkan sirkulasi darah dan mencegah penumpukan cairan serta pembentukan gumpalan darah. Penggunaan stoking kompresi sangat dianjurkan untuk penerbangan jarak jauh, terutama bagi individu yang memiliki riwayat DVT atau faktor risiko lainnya.

Selain penggunaan stoking kompresi, Dr. Neena juga menyarankan agar penumpang tidak duduk diam terlalu lama. "Kalau bepergian, terutama ke luar negeri. Gerakkan tubuh supaya aliran darah lancar. Bisa berjalan di lorong atau sekadar melakukan gerakan kecil kaki Anda di bawah kursi," jelasnya. Imobilitas yang berkepanjangan adalah salah satu pemicu utama DVT, karena otot-otot betis yang tidak berkontraksi tidak dapat memompa darah secara efektif kembali ke jantung.

Untuk mengatasi hal ini, para ahli kesehatan merekomendasikan beberapa latihan sederhana yang dapat dilakukan di tempat duduk atau saat berjalan di lorong:

  1. Latihan Pergelangan Kaki (Ankle Circles): Putar pergelangan kaki searah jarum jam dan berlawanan arah jarum jam sebanyak 10-15 kali untuk setiap kaki.
  2. Pompa Kaki (Foot Pumps): Angkat jari kaki sambil menjaga tumit tetap di lantai, lalu angkat tumit sambil menjaga jari kaki tetap di lantai. Ulangi gerakan ini seperti memompa sebanyak 10-15 kali.
  3. Angkat Lutut (Knee Bends): Tekuk lutut dan angkat satu kaki dari lantai, lalu turunkan perlahan. Ulangi untuk kaki lainnya. Lakukan 10-15 kali untuk setiap kaki.
  4. Regangkan Betis (Calf Stretches): Dorong jari-jari kaki ke atas sambil menjaga tumit tetap di lantai untuk meregangkan otot betis.
  5. Berjalan di Lorong: Setiap satu atau dua jam, cobalah untuk berdiri dan berjalan-jalan sebentar di lorong pesawat jika memungkinkan dan aman. Gerakan ini sangat efektif untuk melancarkan sirkulasi darah di seluruh tubuh.

Selain gerakan fisik, hidrasi juga memainkan peran vital. Dehidrasi dapat menyebabkan darah sedikit mengental, meningkatkan risiko pembekuan. Oleh karena itu, minum banyak air putih selama penerbangan dan menghindari minuman beralkohol atau berkafein yang dapat menyebabkan dehidrasi adalah langkah pencegahan yang sangat penting. Pilihan kursi juga dapat berpengaruh; memilih kursi di lorong (aisle seat) dapat mempermudah penumpang untuk berdiri dan bergerak tanpa mengganggu penumpang lain. Selain itu, mengenakan pakaian yang longgar dan nyaman selama penerbangan juga disarankan untuk menghindari tekanan tambahan pada pembuluh darah.

Strategi Tidur Efektif di Pesawat: Tips dari Harvard Health untuk Menghindari Inersia Tidur

Selain masalah sirkulasi, tantangan lain yang sering dihadapi penumpang adalah tidur di pesawat dan mengatasi jet lag. Para ahli kesehatan dari Harvard Health memberikan tips berharga untuk menjaga tubuh tetap segar dan waspada setelah penerbangan, terutama terkait dengan tidur siang. Mereka menyarankan bahwa tidur siang singkat, jika dilakukan pada waktu yang tepat, dapat secara signifikan meningkatkan kewaspadaan dan mencegah kantuk berlebihan yang sering muncul setelah tidur terlalu lama atau tidak teratur.

Dua prinsip utama yang direkomendasikan para ahli adalah mengatur waktu tidur siang dengan tepat dan memastikan durasinya tidak terlalu lama. Tidur siang singkat yang ideal biasanya berlangsung sekitar 20 hingga 30 menit. Durasi ini cukup untuk memberikan efek penyegaran, meningkatkan fungsi kognitif, kewaspadaan, dan fokus tanpa menyebabkan efek samping negatif. Tidur singkat ini memungkinkan otak untuk memasuki tahap tidur ringan dan pulih tanpa masuk ke tahap tidur dalam yang lebih sulit untuk diakhiri.

Sebaliknya, tidur siang yang terlalu lama, terutama jika melebihi 30-45 menit, justru dapat menyebabkan fenomena yang dikenal sebagai inersia tidur. Inersia tidur adalah perasaan mengantuk, linglung, disorientasi, dan penurunan kinerja kognitif yang dialami seseorang segera setelah bangun dari tidur yang dalam. Efek ini bisa berlangsung selama 30 hingga 60 menit, atau bahkan lebih lama, membuat individu merasa lebih lelah daripada sebelum tidur. Hal ini terjadi karena otak belum sepenuhnya beralih dari keadaan tidur dalam ke keadaan terjaga penuh, dan sisa-sisa zat kimia tidur masih aktif di otak.

Untuk mengoptimalkan tidur di pesawat dan meminimalkan dampak jet lag, beberapa tips tambahan dari para ahli meliputi:

  1. Persiapan Sebelum Terbang: Pastikan tubuh cukup istirahat sebelum melakukan perjalanan panjang. Tidur yang cukup sebelum keberangkatan dapat membantu tubuh lebih siap menghadapi perubahan zona waktu.
  2. Ciptakan Lingkungan Tidur yang Nyaman: Gunakan masker mata untuk menghalangi cahaya, penutup telinga atau noise-cancelling headphones untuk meredam kebisingan, dan bantal leher yang nyaman untuk menopang kepala dan leher.
  3. Sesuaikan Jam Biologis: Segera setelah naik pesawat, cobalah untuk menyesuaikan jam tangan Anda ke zona waktu tujuan. Cobalah untuk makan dan tidur sesuai dengan jadwal di tempat tujuan, bahkan jika itu berarti melewatkan tidur atau makan di waktu yang biasanya.
  4. Hindari Layar Gadget: Paparan cahaya biru dari layar ponsel, tablet, atau laptop sebelum mencoba tidur dapat mengganggu produksi melatonin, hormon tidur. Sebaiknya hindari penggunaan gadget setidaknya satu jam sebelum ingin tidur.
  5. Pilih Makanan dan Minuman Ringan: Hindari makanan berat, pedas, atau berlemak sebelum tidur. Konsumsi teh herbal atau minuman hangat non-kafein dapat membantu relaksasi.

Dengan menerapkan tips-tips ini, penumpang dapat secara signifikan mengurangi risiko masalah kesehatan seperti DVT dan inersia tidur, memastikan perjalanan udara yang lebih aman, nyaman, dan menyegarkan. Kesadaran akan kebiasaan sederhana dan langkah pencegahan proaktif adalah kunci untuk menikmati setiap momen perjalanan tanpa mengorbankan kesehatan.

(upd/wsw)