Sebuah penemuan luar biasa telah mengguncang dunia konservasi laut, di mana kawanan dugong atau sapi laut terbesar yang pernah tercatat di Indonesia, bahkan berpotensi di dunia, berhasil diidentifikasi di perairan Maluku Barat Daya (MBD). Temuan ini, yang diumumkan oleh tim ekspedisi WWF Indonesia, tidak hanya memperkaya data keanekaragaman hayati Indonesia tetapi juga menjadi indikator vital bagi kesehatan ekosistem laut. Lebih dari 30 individu dugong terlihat berenang bebas di sekitar Pulau Romang, sebuah angka yang belum pernah terdokumentasi sebelumnya, mengukuhkan MBD sebagai salah satu permata konservasi laut global.
sulutnetwork.com – Penemuan fenomena alam yang menakjubkan ini berlangsung selama ekspedisi intensif yang dilakukan oleh WWF Indonesia, menyoroti kekayaan tak terhingga yang dimiliki oleh perairan nusantara. Keberadaan Indonesia yang strategis di garis khatulistiwa, menjadikannya salah satu episentrum keanekaragaman hayati terkaya di dunia. Wilayah ini adalah bagian integral dari gugus yang dikenal sebagai Coral Triangle, sebuah area yang diakui secara internasional sebagai pusat keanekaragaman hayati laut global, melampaui bahkan beberapa hotspot keanekaragaman hayati darat seperti Hutan Amazon dan Cekungan Kongo. Penemuan kawanan dugong dalam jumlah besar ini, bersama dengan spesies kunci lainnya, menegaskan peran krusial Indonesia dalam menjaga keseimbangan ekosistem planet.
Indonesia memang telah lama diakui sebagai salah satu negara dengan keanekaragaman hayati terbesar di dunia, baik di darat maupun di laut. Posisi geografisnya yang melintasi garis khatulistiwa memberikan iklim tropis yang stabil, mendukung pertumbuhan berbagai spesies. Namun, kekayaan hayati laut Indonesia, khususnya di wilayah Coral Triangle, seringkali menjadi sorotan utama. Coral Triangle meliputi perairan Indonesia, Malaysia, Filipina, Papua Nugini, Timor Leste, dan Kepulauan Solomon, namun Indonesia memiliki cakupan terluas dan kontribusi terbesar terhadap keanekaragaman hayati di dalamnya. Wilayah ini adalah rumah bagi 76% spesies karang dunia dan 37% spesies ikan karang global, menjadikannya "Amazon Lautan" yang tak ternilai. Berbeda dengan Hutan Amazon dan Cekungan Kongo yang kaya akan keanekaragaman hayati darat, Coral Triangle adalah satu-satunya dari tiga tempat tersebut yang secara eksklusif berfokus pada kekayaan biota laut, menjadikannya unik dan sangat penting untuk penelitian serta konservasi global.
Ekspedisi yang dipimpin oleh Ahmad Hafiz Adyas, Senior Manager Program WWF Indonesia-Expedition Lead, berhasil mendokumentasikan temuan yang mencengangkan. Selain kawanan dugong, tim juga menemukan lebih dari 200 spesies yang dikategorikan sebagai ETP (Endangered, Threatened, and Protected species) – spesies yang terancam punah, rentan, dan dilindungi oleh undang-undang. Ini termasuk berbagai jenis ikan, karang, dan invertebrata laut yang menunjukkan vitalitas ekosistem perairan MBD. Namun, yang paling menonjol adalah penampakan lebih dari 30 dugong dan beberapa individu paus orca. "Kita menemukan lebih dari 200 spesies, kita peneliti bilangnya ETP (Endangered, Threatened, and Protected species), spesies-spesies yang terancam punah, rentan, dan dilindungi oleh undang-undang," ujar Ahmad Hafiz Adyas dalam konferensi pers di Kantor Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Kamis (5/2/2026). Ia menekankan pentingnya spesies-spesies ini, khususnya dugong dan orca, sebagai spesies kunci. "Jadi kalau kita peneliti laut bilang, menjaga spesies ini, maka ekosistem lain ikut terjaga," lanjutnya, menyoroti efek domino yang positif dalam menjaga keberadaan mereka.
Penemuan 32 individu dugong di Pulau Romang, berdasarkan pantauan drone, menjadi titik fokus utama dari ekspedisi ini. Hafiz Adyas menjelaskan bahwa angka ini belum pernah tercatat sebelumnya di Indonesia. Dugong, sering dijuluki "sapi laut" karena kebiasaannya merumput lamun, adalah mamalia laut herbivora yang hidup di perairan dangkal pesisir. Mereka memiliki peran ekologis yang sangat penting sebagai "insinyur ekosistem" karena kebiasaan makannya membantu menjaga kesehatan padang lamun, habitat vital bagi banyak spesies laut lainnya, termasuk ikan-ikan muda dan penyu. Tanpa dugong, padang lamun bisa menjadi terlalu padat dan kurang produktif. Perbandingan dengan populasi dugong di negara lain semakin menggarisbawahi keunikan temuan ini; di India, jumlah yang terdokumentasi belum mencapai angka ini, dan bahkan di Thailand, hanya sekitar 26 individu dugong yang ditemukan. "Dan biasanya dugong itu selalu kalau ditemukan cuma satu, dua, paling banyak mungkin tiga. Jarang sekali banyak begini berkumpul," tegas Hafiz, menunjukkan bahwa penampakan kawanan sebesar ini adalah anomali yang sangat positif dan mengindikasikan kondisi ekosistem yang sangat mendukung.
Selain penemuan dugong, ekspedisi ini juga berhasil mendokumentasikan keberadaan paus orca, atau yang dikenal sebagai paus pembunuh, di perairan Kepulauan Romang-Demar. Orca adalah apex predator atau predator puncak dalam rantai makanan laut. Kehadiran predator puncak seperti orca adalah indikator kuat dari kesehatan ekosistem secara keseluruhan. "Dan orca ini dia itu adalah apex predator, jadi dia udah paling top di rantai makanan. Jadi kalau dia ada, itu indikator bahwa kondisi ekosistemnya masih sehat," ucap Hafiz. WWF Indonesia bahkan menduga bahwa orca yang ditemukan di sana adalah "resident orca", bukan hanya orca yang melintas dalam migrasi panjang. Dugaan ini diperkuat oleh wawancara dengan masyarakat lokal yang kerap melihat kemunculan paus-paus orca ini di wilayah tersebut. "Kita menduga orca yang kita temukan kemarin, resident orca kita bilangnya. Jadi orca kan migrasi ya, nah tapi karena dia dekat di sini (dengan pulau) dia mungkin migrasinya pendek dan akan reguler ditemukan di daerah situ," jelas Hafiz. Keberadaan orca yang "menetap" ini menunjukkan ketersediaan sumber daya makanan yang melimpah dan lingkungan laut yang stabil, memungkinkan mereka untuk mempertahankan populasi di area tersebut.
Perairan di wilayah Kepulauan Romang dan Damer, tempat penemuan-penemuan signifikan ini, memang merupakan area yang telah ditetapkan sebagai wilayah konservasi. Status ini menjadi semakin penting dengan adanya bukti konkret mengenai kekayaan hayati yang luar biasa. Oleh karenanya, Direktur Konservasi Ekosistem KKP, Firdaus Agung Kunto Kurniawan, dalam kesempatan yang sama, menyampaikan perlunya kerja sama semua pihak dalam menjaga keberlangsungan ekosistem laut ini. "Supaya ini menjadi perhatian dunia jadi eksotisme, keunikan, dan sebagainya itu bukan hanya menjadi kekayaan masyarakat di Maluku. Bukan menjadi kekayaan, kebanggaan di Maluku tapi menjadi kebanggaan Indonesia, menjadi warisan dunia," ujar Firdaus. Pernyataannya menekankan bahwa nilai penting dari penemuan ini bersifat multidimensional, tidak hanya terbatas pada aspek ekologis tetapi juga sosial, budaya, dan ekonomi bagi masyarakat lokal, regional, nasional, bahkan global.
Firdaus Agung Kunto Kurniawan lebih lanjut menegaskan bahwa menjaga dan melestarikan ekosistem laut di MBD adalah tanggung jawab bersama. "Nilai pentingnya itu sangat konkret, sangat aktual, dan juga sangat multidimensi. Dan itu menjadi tanggung jawab kita bersama untuk menjaga dan memastikan itu bisa kita kelola, kita lestarikan untuk kepentingan masyarakat, pembangunan kabupaten, provinsi, dan pembangunan rakyat bahkan untuk kepentingan masyarakat dunia," lengkapnya. Komitmen bersama dari pemerintah, masyarakat lokal, lembaga swadaya masyarakat, dan komunitas internasional menjadi kunci untuk memastikan bahwa kekayaan alam ini dapat dinikmati oleh generasi mendatang. Langkah-langkah konservasi yang efektif harus mencakup perlindungan habitat, pengurangan ancaman seperti penangkapan ikan ilegal dan polusi, serta peningkatan kesadaran masyarakat.
Penemuan kawanan dugong terbesar dan keberadaan orca resident di Maluku Barat Daya bukan hanya sebuah berita baik bagi ilmu pengetahuan dan konservasi, tetapi juga sebuah pengingat akan urgensi perlindungan lingkungan laut Indonesia. Wilayah MBD, dengan lokasinya yang terpencil dan keindahan alamnya yang belum banyak terjamah, memiliki potensi besar untuk menjadi model konservasi laut berkelanjutan. Dengan pengelolaan yang tepat, kekayaan hayati ini dapat menjadi aset berharga yang mendukung pembangunan ekonomi lokal melalui ekowisata dan penelitian, sekaligus menjaga keseimbangan ekologis global. Temuan ini sekali lagi menegaskan posisi Indonesia sebagai garda terdepan dalam upaya pelestarian keanekaragaman hayati dunia, sebuah warisan yang harus dijaga dengan sungguh-sungguh.
