Api Abadi Mrapen, sebuah fenomena alam yang telah lama menjadi daya tarik utama dan simbol keunikan Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, kini tengah menghadapi masa yang menantang. Sumber api alami yang senantiasa berkobar di Desa Manggarmas, Kecamatan Godong, tersebut dilaporkan telah padam, meninggalkan kekosongan yang dirasakan oleh masyarakat lokal maupun wisatawan. Kejadian ini tidak hanya menyedot perhatian karena keunikan geologisnya, tetapi juga karena Mrapen menyimpan segudang legenda dan sejarah panjang yang terjalin erat dengan perjalanan salah satu tokoh Wali Songo paling berpengaruh, Sunan Kalijaga, serta perannya dalam berbagai peristiwa penting berskala nasional dan internasional.

sulutnetwork.com – Kondisi padamnya Api Abadi Mrapen diperkirakan terjadi akibat tersumbatnya pipa gas alam penyalur api oleh endapan lumpur, sebuah masalah teknis yang memerlukan penanganan khusus dan cermat. Annas Rofiqi, Penata Layanan Operasional Api Abadi Mrapen, pada Minggu (1/2/2026) menjelaskan bahwa laporan mengenai kondisi ini telah disampaikan kepada Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Dispora) sebagai pengelola utama. Selanjutnya, Dispora akan berkoordinasi dengan Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) untuk melakukan investigasi dan riset mendalam. Langkah ini krusial mengingat kompleksitas penanganan sumber gas alam dan potensi risiko yang mungkin timbul jika dilakukan tanpa keahlian teknis yang memadai. Sebelumnya, pada September 2020, Api Abadi Mrapen juga sempat padam, namun berhasil dinyalakan kembali pada April 2021 setelah penemuan dan penyambungan sumber gas baru, memberikan harapan bahwa fenomena alam ini dapat kembali berkobar.

Api Abadi Mrapen bukan sekadar titik geografis biasa; ia adalah palimpsest budaya dan sejarah yang mendalam. Kisah kemunculannya, yang tertulis dalam narasi lisan dan diabadikan dalam penelitian akademis seperti skripsi Siti Khofifah dari UIN Walisongo Semarang berjudul "Persepsi Masyarakat Terhadap Mitos Api Abadi Mrapen Kabupaten Grobogan," menunjuk pada peran sentral Sunan Kalijaga. Legenda ini mengisahkan bagaimana tongkat sang sunan, yang penuh karomah, menjadi titik awal kemunculan api yang tak pernah padam ini.

Kisah ini bermula pada masa-masa akhir kejayaan Kerajaan Majapahit, sebuah imperium Hindu-Buddha yang pernah merajai Nusantara. Di bawah kepemimpinan Prabu Brawijaya V, Majapahit mengalami keruntuhan dan kekuasaannya beralih ke Kerajaan Demak Bintoro, kerajaan Islam pertama di Jawa. Sebagai bagian dari transisi kekuasaan dan upaya penguatan Demak, Sunan Kalijaga memimpin rombongan besar untuk memboyong barang-barang berharga dan pusaka dari bekas pusat Majapahit ke Demak. Perjalanan ini, melintasi medan yang berat dan jarak yang sangat jauh, adalah sebuah ekspedisi yang menguras tenaga dan memerlukan ketahanan fisik serta spiritual yang luar biasa.

Di tengah perjalanan yang melelahkan, Sunan Kalijaga dan rombongannya tiba di suatu daerah yang masih berupa hutan belantara, jauh dari pemukiman penduduk. Rasa lelah, lapar, dan haus mulai mendera sebagian besar anggota rombongan. Mereka memutuskan untuk berhenti sejenak, mencari tempat beristirahat untuk mengisi kembali energi. Namun, tantangan baru muncul: tidak ada api untuk memasak makanan yang mereka bawa, dan tidak ada sumber air bersih untuk minum atau bersuci. Dalam situasi yang serba terbatas ini, Sunan Kalijaga, dengan kebijaksanaan dan keimanan yang mendalam, mengajak seluruh anggota rombongannya untuk memanjatkan doa bersama, memohon pertolongan dan petunjuk dari Allah SWT.

Setelah selesai berdoa, Sunan Kalijaga melakukan sebuah tindakan yang menjadi inti legenda. Ia menancapkan tongkatnya ke dalam tanah. Setelah beberapa saat, ia mencabut kembali tongkat tersebut. Sungguh ajaib, dari lubang bekas tancapan tongkat itu, tiba-tiba menyembur api yang berkobar-kobar. Api ini, yang kemudian dikenal sebagai Api Abadi Mrapen, bukanlah hasil sulap, melainkan manifestasi dari keberadaan gas alam yang melimpah di bawah permukaan tanah daerah tersebut. Gas ini, saat terpapar oksigen dan dipicu oleh suatu percikan awal (dalam legenda, tongkat Sunan Kalijaga), dapat terus menyala. Fenomena geologis ini memberikan dasar ilmiah bagi keajaiban yang diyakini masyarakat.

Meskipun disebut "api abadi," secara alami api ini bisa saja padam jika diterpa hujan deras atau angin kencang yang ekstrim. Namun, keistimewaannya terletak pada kemudahannya untuk dinyalakan kembali. Cukup dengan sedikit percikan, seperti dari korek api, api tersebut akan kembali berkobar, seolah-olah memang ditakdirkan untuk terus menyala. Inilah yang melahirkan sebutan "api abadi," sebuah simbol ketahanan dan keberlanjutan.

Tak berhenti di situ, Sunan Kalijaga kemudian bergeser sedikit ke arah timur dari lokasi api, sekitar 25 meter. Di sana, ia kembali menghujamkan tongkatnya ke tanah. Kali ini, yang keluar bukanlah api, melainkan semburan air jernih yang melimpah. Mata air ini kemudian dikenal sebagai Sendang Dudo. Pada awalnya, air di Sendang Dudo tampak mendidih, juga karena adanya gas alam yang keluar dari celah tanah, meskipun dalam konsentrasi yang berbeda. Seiring berjalannya waktu, intensitas keluarnya gas berkurang, sehingga air tidak lagi mendidih. Masyarakat setempat percaya bahwa air Sendang Dudo memiliki kandungan belerang yang bermanfaat untuk mengobati berbagai penyakit kulit, menjadikannya tidak hanya sumber air, tetapi juga sarana pengobatan tradisional.

Melanjutkan bingkai sejarah mitos yang kaya, Api Abadi Mrapen juga memiliki kaitan erat dengan seni tempa keris, sebuah warisan budaya adiluhung Nusantara. Conie Wishnu W, dalam bukunya "Kanjeng Sunan Kalijaga, Jejak-Jejak Sang Legenda," menguraikan bagaimana Api Abadi Mrapen pernah difungsikan sebagai tungku alami untuk menempa keris. Sosok penting di balik proses ini adalah Jaka Supa, yang kemudian lebih dikenal dengan gelar Mpu Supa Memadai, seorang empu keris ternama dan merupakan adik ipar Sunan Kalijaga.

Dikisahkan bahwa Sunan Kalijaga pernah meminta Mpu Supa untuk membuatkan sebilah keris istimewa. Bahan dasarnya pun tak kalah unik dan menantang, yaitu sepotong besi yang hanya sebesar biji asam atau "klungsu" dalam bahasa Jawa. Untuk menempa besi sekecil itu menjadi sebuah pusaka, Mpu Supa menggunakan Api Abadi Mrapen sebagai sumber panas yang tak pernah padam dan Watu Bobot sebagai landasan penempaan. Watu Bobot sendiri memiliki legendanya, konon adalah salah satu tiang penyangga Kerajaan Majapahit yang turut dibawa dalam rombongan Sunan Kalijaga menuju Demak. Namun, karena bobotnya yang luar biasa berat, Watu Bobot terpaksa ditinggalkan atau tertinggal secara tidak sengaja di lokasi tersebut. Keberadaannya di Mrapen menambahkan dimensi mistis pada proses penempaan.

Proses penempaan keris oleh Mpu Supa adalah sebuah ritual yang penuh ketekunan dan keahlian. Besi sebesar biji asam itu dibakar hingga membara dalam kobaran Api Abadi Mrapen. Setelah mencapai suhu yang tepat, besi merah membara itu kemudian ditempa berulang kali di atas Watu Bobot, dibentuk secara perlahan dan hati-hati. Setelah ditempa, keris setengah jadi itu dicelupkan ke dalam Sendang Dudo untuk proses pendinginan (penyepuhan), yang berfungsi untuk mengeraskan logam dan membentuk karakter baja. Proses pembakaran, penempaan, dan pencelupan ini diulang berkali-kali hingga keris mencapai bentuk, ketajaman, dan kualitas yang diinginkan.

Dampak dari proses penempaan ini tidak hanya menghasilkan keris yang ampuh, tetapi juga mengubah kondisi Sendang Dudo. Air Sendang Dudo yang awalnya jernih, seiring dengan seringnya keris dicelupkan, perlahan berubah warna menjadi kuning kecokelatan. Perubahan warna ini diyakini disebabkan oleh reaksi kimia antara air dengan residu besi dan logam dari keris yang ditempa. Berkat keahliannya dan keberhasilan menciptakan keris yang luar biasa, Mpu Supa kemudian diamanahi untuk membuat berbagai pusaka kerajaan yang terkenal. Di antara hasil karyanya yang legendaris adalah Kyai Crubuk, Kyai Nogososro, Kyai Nogosiluman, dan Kyai Nogowelang, keris-keris yang hingga kini masih menjadi bagian penting dari warisan budaya dan mitologi Jawa.

Di luar ranah legenda, Api Abadi Mrapen juga memiliki peran penting dalam sejarah modern Indonesia. Selama ratusan tahun eksistensinya, api ini telah berkontribusi dalam berbagai agenda besar, menjadi simbol semangat dan persatuan. Dokumen-dokumen yang diunggah di Repository UMY, misalnya, mencatat bagaimana Api Abadi Mrapen dipergunakan dalam seremoni pembukaan Asian Para Games 2011 di Solo. Dalam acara tersebut, api dari Mrapen diambil untuk dijadikan obor utama. Obor ini kemudian diarak melalui prosesi kirab budaya yang meriah, melintasi berbagai daerah sebelum tiba di stadion. Di dalam stadion, obor diserahterimakan dari satu atlet ke atlet lain, melambangkan semangat juang dan solidaritas, hingga akhirnya digunakan untuk menyulut kaldron, menandai dimulainya pesta olahraga disabilitas terbesar di Asia.

Keikutsertaan Api Abadi Mrapen dalam acara-acara berskala besar tidak berhenti pada Asian Para Games 2011. Api ini juga memiliki sejarah panjang dalam menyulut semangat olahraga dan kebangsaan. Pada tahun 1963, api ini digunakan dalam upacara pembukaan Games of the New Emerging Forces (Ganefo), sebuah ajang multi-olahraga internasional yang digagas oleh Presiden Soekarno sebagai tandingan Olimpiade yang dianggap berbau politik Barat. Ganefo merupakan manifestasi semangat bangsa-bangsa "Dunia Ketiga" yang baru merdeka, dan Api Abadi Mrapen menjadi simbol dari semangat baru yang membara.

Selain itu, Api Abadi Mrapen juga menjadi sumber obor untuk Pekan Olahraga Nasional (PON) pada tahun 1981 dan 1996. PON, sebagai ajang olahraga nasional terbesar di Indonesia, secara rutin mengambil api dari Mrapen untuk obor utamanya, menegaskan posisinya sebagai simbol olahraga dan persatuan bangsa. Tradisi ini berlanjut, dan pada Asian Para Games 2022, Api Abadi Mrapen kembali dipercaya untuk menyulut obor, menunjukkan konsistensi dalam perannya sebagai sumber inspirasi bagi ajang olahraga disabilitas.

Tidak hanya dalam konteks olahraga, Api Abadi Mrapen juga memiliki peran spiritual yang mendalam bagi umat Buddha di Indonesia. Dilansir dari laman resmi Kementerian Agama, api ini secara rutin menjadi tempat pengambilan Api Dharma Waisak. Sebelum ritual pengambilan api dimulai, para pemuka agama Buddha melakukan upacara dengan membakar kemenyan, memohon keberkahan dan kesucian. Api Dharma Waisak yang telah diambil dari Mrapen kemudian dibawa dalam prosesi khidmat menuju Candi Mendut, salah satu candi penting dalam perayaan Waisak, di mana api tersebut akan digunakan dalam rangkaian upacara utama sebagai simbol cahaya pencerahan dan ajaran Buddha.

Dengan demikian, Api Abadi Mrapen bukan hanya sebuah keajaiban geologis, melainkan sebuah entitas yang kaya akan narasi sejarah, legenda, dan spiritualitas. Perannya yang sentral dalam mitologi Sunan Kalijaga, proses penempaan keris legendaris oleh Mpu Supa, hingga kontribusinya dalam berbagai ajang olahraga dan keagamaan nasional maupun internasional, menegaskan posisinya sebagai warisan budaya yang tak ternilai. Padamnya api ini saat ini menjadi pengingat akan kerapuhan fenomena alam dan pentingnya upaya konservasi serta penelitian mendalam untuk memastikan bahwa "api abadi" ini dapat kembali berkobar, terus menceritakan kisahnya kepada generasi mendatang. Penantian akan pemeriksaan dan riset dari pihak berwenang menjadi harapan besar bagi masyarakat Grobogan dan seluruh masyarakat Indonesia untuk kembali menyaksikan keajaiban alam dan sejarah yang tak lekang oleh waktu ini.