Sulutnetwork.com – Sebagian publik di media sosial (medsos), sedang hangat membicarakan ihwal penyebab bencana longsor yang terjadi di Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, pada 24 Januari 2026.

Kini, seorang pegiat lingkungan sekaligus warga Cisarua, Siti Aisyah Novitri menuturkan pandangannya tentang bencana longsor yang melanda kampung halamannya.

“Kampung halamanku dilanda longsor dan banjir bandang,” kata Aisyah melalui akun Instagram pribadinya @aisyahbertani, pada Sabtu, 31 Januari 2026.

Melalui unggahannya, Aisyah turut menyoroti dugaan penyebab utama dalam insiden itu, yakni tentang alih fungsi lahan yang marak terjadi di daerah hulu.

Kendati demikian, warga Cisarua itu justru menampik aktivitas alih fungsi lahan sebagai penyebab utama atas hadirnya bencana tersebut.

Terlebih, Aisyah menilai para petani justru yang acapkali dijadikan ‘kambing hitam’ atau disalahkan atas musibah yang melanda Cisarua itu.

“Jangan salahkan petani, longsor Cisarua bukan semata soal alih fungsi lahan. Ini tentang climate justice,” tegasnya.

“Petani justru dijadikan kambing hitam. Mereka dituduh sebagai penyebab bencana karena alih fungsi lahan,” imbuh Aisyah.

Di samping itu, Aisyah mengaku hingga kini masih berupaya mencari para korban yang hilang.

“Sementara kami masih berusaha bertahan, mencari, dan berduka atas kehilangan saudara-saudara kami,” ungkapnya.

Berkaca dari hal tersebut, Aisyah lantas menuturkan analisa mendalam terkait bencana longsor yang terjadi di Cisarua, Bandung Barat.

Alih Fungsi Lahan Bukan Faktor Utama

Dalam pernyataannya, Aisyah berpandangan, alih fungsi lahan menjadi salah satu faktor penyebab bencana, namun publik perlu tahu ihwal aliran air yang meluncur dari puncak daerah tersebut.

“Titik awal longsor berasal dari puncak Gunung Burangrang yang masih rimbun, pemicunya, hujan berintensitas tinggi,” terangnya.

Aisyah menyebutkan, longsoran menutup jalur air di puncak, sehingga hal itu membentuk bendungan alami.

“Air bercampur sedimen lalu jebol, diperparah oleh kemiringan lereng 20-25 persen,” sebutnya.

“Aliran air lumpur, batu, dan pasir meluncur deras dan menghantam rumah-rumah warga,” tambah Aisyah.

Oleh sebab itu, Aisyah memastikan, hutan lebat pun kini tak lagi sepenuhnya mampu menahan cuaca ekstrem.

“Apalagi jika alam terus dikorbankan,” imbuhnya.

Cuaca Ekstrem dan Perubahan Iklim

Aisyah turut menyoroti pemanasan global yang tergolong dapat menaikkan suhu udara dalam sebuah wilayah.

“Udara yang lebih panas, mampu menampung lebih banyak uap air,” jelasnya.

“Saat hujan turun, air yang dilepaskan menjadi lebih deras dan berlangsung lebih lama,” sambung Aisyah.

Akibatnya, hujan berintensitas tinggi semakin sering terjadi dan dinilai dapat meningkatkan risiko longsor dan banjir bandang.

“Bencana di Cisarua, hal yang kami alami ini adalah perubahan iklim,” tegas Aisyah.

Aisyah: Petani Bukan Penyebab, Mereka Korban

Dalam pernyataan yang sama, Aisyah menilai para petani setempat bukanlah sebagai sumber dari penyebab longsor di Cisarua, melainkan justru sebagai korban.

“Petani tidak memiliki banyak pilihan. Untuk hidup sejahtera, idealnya seorang petani membutuhkan sekitar 2 hektar lahan,” tuturnya.

Aisyah mengatakan, pada kenyataannya, di Desa Pasirlangu, Cisarua, jika luas lahan dibandingkan dengan jumlah penduduk, maka rata-rata kepemilikan tanah hanya sekitar 0,3 hektar.

“Banyak petani tidak memiliki lahan sama sekali,” terang Aisyah.

“Meskipun alih fungsi lahan bukan faktor utama, kejadian longsor yang terjadi pada 24 Januari lalu, tetap berpotensi mengalami longsor akibat kurangnya resapan air,” tutupnya.***